#tamat
Follow Instagram jane_marry03
Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Andrea berlari tanpa arah. Isak tangisnya tenggelam dalam deru angin malam dan bisingnya lalu lintas kota. Gaun tipis dan flatshoes yang ia kenakan sama sekali tak mampu menahan dinginnya angin yang menusuk tulang, namun dingin itu tak ada apa-apanya dibandingkan rasa hampa yang membakar dadanya.
Langkahnya terhenti di sebuah taman kota yang sepi. Andrea ambruk di atas bangku kayu, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan membiarkan tangisnya pecah sejadi-jadinya. Bayangan ciuman Bara dan Angel di bawah lampu sirkuit terus berputar seperti rekaman rusak yang menyiksa jiwanya.
"Perasaanku semalam ... itu nyata, Andrea. Aku melakukan semua itu karena rasa cintaku ke kamu."
Kata-kata manis itu kini berubah menjadi racun mematikan. Andrea merasa sangat bodoh. Ia merasa begitu murahan dan hina karena telah menyerahkan segalanya. Kehormatannya, hatinya, dan juga seluruh jiwanya pada seorang pria yang dalam hitungan hari memperlakukannya seperti sampah tak berharga.
Jelang dini hari, Andrea akhirnya tiba di rumah dengan tubuh gemetar dan mata yang membengkak.
Ketika pintu depan terbuka, sosok Selina sudah berdiri di ruang tengah. Wajah ibunya yang penuh kecemasan langsung berubah panik begitu melihat kondisi putri tunggalnya.
"Andrea?! Kamu dari mana saja, Nak? Mama cariin dari sore ...." Suara Selina terhenti saat Andrea mengangkat wajahnya.
Mata Selina membelalak. Ia melihat tatapan putrinya yang kosong, pipinya yang basah oleh air mata, serta pakaiannya yang berantakan. Tanpa bertanya lagi, Selina langsung merengkuh tubuh Andrea ke dalam pelukannya.
"Mama ...." bisik Andrea, suaranya parau dan nyaris hilang. "Sakit banget, Ma ... dada Andrea sakit banget ...."
Andrea tak sanggup menceritakan detailnya. Ia ingat janjinya pada Bara untuk merahasiankan segalanya. Sebuah janji konyol yang masih saja ia pegang walau hatinya sudah hancur. Namun, pelukan ibunya mendadak runtuh ketika Andrea pingsan di dalam pelukan Selina karena kelelahan emosional yang amat sangat.
Malam itu, rumah mewah tersebut dipenuhi kepanikan. Selina menuntun putrinya ke kamar, memeluknya sepanjang malam sambil meneteskan air mata. Melihat putri kecilnya yang dulu ceria kini hancur seperti cangkang kosong, hati Selina teriris-iris.
Dendam Bara berhasil. Tanpa perlu menyentuh Selina, pria itu telah berhasil menghancurkan jiwa wanita itu lewat penderitaan anak kandungnya.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di pusat kota ....
Bara berdiri di balkon, memandangi kerlap-kerlip lampu kota Jakarta dari ketinggian. Di tangannya, segelas wiski dingin perlahan mencair. Seharusnya ia merayakan kemenangannya. Rencananya berjalan sempurna. Andrea hancur, dan tak lama lagi Selina akan menderita melihat kondisi anaknya.
Namun, tidak ada rasa puas yang hadir.
Bayangan wajah Andrea saat melihatnya mencium Angel terus terbayang. Tatapan mata terkhianati, keputusasaan, dan pecahan hati gadis itu seolah tertancap di benak Bara.
Bara mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga gelas kaca di genggamannya berderit.
"Ini memang yang seharusnya terjadi," bisik Bara pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang mendadak gelisah. "Dia cuma anak dari wanita yang sudah merusak keluargaku. Dia tak lebih dari alat."
Namun, sekeras apa pun Bara mencoba merasionalkan tindakannya, keheningan apartemen itu justru terasa mencekik. Untuk pertama kalinya, Bara merasakan desiran aneh di dadanya. Sebuah rasa bersalah yang tajam dan tak diundang, menyusup masuk perlahan di antara batas dendam yang mulai goyah.
Hari-hari terus berganti. Minggu demi minggu, dan Bara memilih untuk tetap mengeraskan hatinya rapat-rapat. Rasa bersalah yang sempat menyusup malam itu ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan ambisi dan rasa dendam yang sudah menahannya bertahun-tahun. Bagi Bara, Andrea hanyalah kerikil kecil yang berpotensi merusak fokusnya, dan ia menolak keras untuk kalah oleh perasaannya sendiri.
Bara mulai menarik garis batas yang teramat tegas. Ia benar-benar memutus seluruh akses kontak dengan Andrea. Jika ada urusan bisnis keluarga atau laporan aset yang mewajibkannya berinteraksi dengan Selina, Bara memastikannya dilakukan di luar rumah atau melalui kuasa hukumnya. Ia tak pernah lagi melangkahkan kaki ke rumah utama. Bahkan di lingkungan kampus, Bara sengaja mengatur jadwal kuliah, bimbingan, hingga agenda organisasi agar tidak berada di area yang sama dengan Andrea. Ia menghilang sesempurna mungkin dari hidup gadis itu.
Sementara itu, kondisi Andrea kian memprihatinkan.
Setelah malam tragis di sirkuit tersebut, Andrea berubah menjadi bayangan dari dirinya yang dulu. Gadis yang biasanya hangat dan penuh tawa itu kini lebih banyak berdiam diri di kamar. Tatapannya sering kali kosong menatap ke luar jendela, tenggelam dalam kehampaan yang tak bertepi.
Hati Selina hancur meratapi perubahan dramatis pada putri tunggalnya. Berulang kali Selina mencoba mengajak Andrea bicara, merengkuh tubuh ringkih itu, dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun Andrea hanya bungkam, menggeleng pelan dengan mata berkaca-kaca. Andrea terikat oleh janjinya pada Bara. Sebuah janji yang ironisnya masih ia jaga walau pria itu telah meremukkan hidupnya.
"Nggak apa-apa, Ma ... Andrea cuma lagi capek," hanya itu jawaban berulang yang keluar dari bibirnya yang pucat.
Melihat kondisi Andrea yang makin mengurus dan kehilangan gairah hidup, Selina diliputi rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam. Ia merasa gagal melindungi anaknya, persis seperti yang diharapkan oleh Bara dalam skenario dendamnya.
Di sisi lain, Bara menenggelamkan dirinya sepenuhnya dalam pertempuran takhta perusahaan. Dengan pikiran yang tajam dan tanpa beban emosi, ia berhasil mengambil alih beberapa proyek vital, menyudutkan posisi Selina di jajaran direksi sedikit demi sedikit.
Namun, mengubur perasaan nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Setiap kali Bara duduk sendirian di meja kerjanya yang luas saat larut malam, atau saat ia meletakkan jaket kulitnya di sofa apartemen, ingatan tentang malam itu selalu datang mengetuk tanpa izin. Kehangatan tubuh Andrea, kelembutan bisikannya saat menyatakan cinta, serta tatapan keputusasaan di sirkuit terus membayangi pikirannya.
Bara menatap pantulan dirinya di kaca jendela apartemennya yang tinggi. Ia mengepalkan tangan erat-erat hingga buku jarinya memutih, mencoba mengusir wajah Andrea dari benaknya.
"Aku nggak boleh lemah," batin Bara dingin, mengukir jarak yang semakin lebar dan tak terjangkau di antara mereka berdua.