Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada aja kelakuannya
Bagi Alistair Thorne, ruang bawah tanah mansionnya adalah tempat suci yang berisi teknologi pengintaian terbaru dan koleksi senjata api yang dikalibrasi dengan sempurna. Tempat itu memiliki kode akses tiga lapis, pemindai retina, dan sensor gerak. Alistair yakin, tidak ada satu pun makhluk hidup yang bisa masuk ke sana tanpa izinnya.
Namun, Alistair lupa akan satu hal: Sloane Sterling tidak peduli pada protokol keamanan jika ia mencium aroma debu yang sudah mengendap lebih dari dua puluh empat jam.
Pagi itu, Alistair turun ke ruang bawah tanah untuk mengambil sebuah koper enkripsi sebelum berangkat ke pertemuan bisnis di distrik keuangan. Saat pintu baja terbuka, ia hampir menjatuhkan ponselnya karena terkejut.
Sloane sedang berdiri di atas meja rakitan senjatanya, mengenakan masker kain bermotif bunga-bunga, dan sedang menyemprotkan cairan pembersih kaca ke arah layar monitor pusat kendali yang bernilai jutaan poundsterling.
"Nona Sterling! Apa yang... bagaimana Anda bisa masuk ke sini?!" Alistair bersuara dengan nada yang sangat kaget—sebuah emosi yang jarang ia tunjukkan.
Sloane menoleh, menurunkan maskernya ke dagu. "Kode aksesmu terlalu mudah, Tuan Kaku! Kau menggunakan tanggal lahir anjing peliharaan pertamamu, kan? Aku menemukannya di buku harian lama di perpustakaan. Dan astaga, tempat ini menyeramkan! Banyak sekali barang besi hitam yang berdebu di sini!"
Alistair melangkah maju dengan cepat. "Itu bukan 'barang besi hitam'. Itu adalah senapan presisi tinggi. Dan layar itu tidak boleh terkena cairan pembersih berbahan alkohol!"
"Terlambat! Layarnya sudah mengkilap sekarang!" Sloane melompat turun dari meja dengan lincah, meskipun ia hampir terpeleset kabel data yang melintang. "Dan kenapa kau menyimpan begitu banyak senjata? Kau mau perang melawan alien atau apa? Lihat ini!"
Sloane mengambil sebuah pistol Glock 17 yang sedang dibongkar Alistair tadi malam. Ia memegangnya seperti memegang sepotong tulang ayam yang kotor. "Bagian dalamnya berminyak sekali! Aku tadi mencoba mengelapnya dengan tisu basah agar tidak licin saat kau pegang."
Alistair merasa jantungnya hampir berhenti. "Jangan... jangan dibersihkan dengan tisu basah! Minyak itu adalah pelumas mesin! Tanpa minyak itu, senjatanya akan macet dan bisa meledak di tangan saya!"
Sloane tertegun, lalu menatap pistol itu dengan wajah bersalah. "Oh... aku tidak tahu. Aku pikir kau hanya malas membersihkannya."
Alistair mengambil pistol itu dengan hati-hati dari tangan Sloane. Ia menatap Sloane, ingin marah, tapi ia melihat mata cokelat Sloane yang tampak tulus ingin membantu. Alistair menghela napas panjang, mencoba menenangkan saraf perfeksionisnya.
"Nona Sterling, saya menghargai dedikasi Anda terhadap kebersihan. Namun, area ini adalah zona terlarang. Di sini ada hal-hal yang... tidak seharusnya Anda sentuh demi keselamatan Anda sendiri," suara Alistair merendah, terdengar lebih seperti peringatan yang lembut daripada perintah.
Sloane mencibir, meskipun wajahnya sedikit memerah. "Cih, bilang saja kau takut aku menemukan rahasiamu yang memalukan! Tapi baiklah, aku akan keluar. Ruangan ini terlalu bau besi, aku benci baunya!"
Sloane berjalan menuju pintu, namun ia berhenti dan berbalik. "Dan satu hal lagi, Tuan Thorne. Kau punya janji."
Alistair mengernyit. "Janji apa secara administratif?"
"Kau bilang kau akan membantuku masak hari ini! Aku ingin membuat pasta, dan aku tidak mau pasta itu berakhir menjadi arang hitam lagi!" Sloane berkacak pinggang. "Jika kau tidak datang ke dapur dalam sepuluh menit, aku akan merendam semua jas mahalamu di air sabun!"
Alistair mematung. Ancaman soal jas adalah senjata nuklir di mata Alistair. "Sepuluh menit. Saya akan... menyelesaikan kalibrasi ini dulu."
Tepat sepuluh menit kemudian, Alistair sudah berada di dapur, menggulung lengan kemejanya. Ia melihat Sloane sedang menatap sebuah panci berisi air mendidih seolah-olah panci itu adalah musuh yang harus dihancurkan.
"Kenapa airnya berteriak seperti itu?!" Sloane menunjuk gelembung air yang mendidih dengan spatula.
"Itu namanya mendidih, Nona Sterling," jawab Alistair datar. "Masukkan garamnya sekarang. Satu sendok teh saja."
Sloane mengambil garam, tapi karena tangannya sedikit gemetar karena gugup (atau mungkin terlalu bersemangat), ia justru menuangkan hampir setengah botol garam ke dalam panci.
"UPS!"
Alistair segera merebut botol garam itu. "Secara statistik, pasta ini sekarang memiliki kadar natrium yang cukup untuk membuat seluruh penduduk London mengalami hipertensi."
"Maaf! Tanganku tadi... terpeleset!" Sloane menutupi wajahnya yang panas dengan tangan. "Sudah kubilang aku payah! Kenapa kau masih mau membantuku?"
Alistair terdiam sebentar. Ia membuang air asin itu dan mengisinya kembali dengan air baru. "Karena jika saya tidak membantu, asisten rumah tangga saya mungkin akan mati karena malnutrisi masakan sendiri. Itu akan menurunkan produktivitas pembersihan rumah saya."
Sloane menatap punggung Alistair yang sedang sibuk menyiapkan saus pasta. "Kau selalu punya alasan logis untuk segala hal, ya? Tidak bisakah kau bilang 'aku ingin membantumu karena aku peduli'?"
Tangan Alistair yang sedang memotong tomat berhenti sejenak. Bahunya tampak kaku. Ia berdeham cukup keras. "Kepedulian adalah variabel emosional yang sulit untuk dikuantifikasi dalam kontrak kerja kita."
Sloane tertawa kecil, suara tawa yang membuat Alistair diam-diam tersenyum di balik wajah kakunya. Sloane mendekat, berdiri tepat di samping Alistair, mengamati cara pria itu mengaduk saus.
"Baunya enak sekali..." gumam Sloane. Ia secara alami menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Alistair untuk melihat ke dalam panci.
Alistair membeku. Seluruh otot tubuhnya menegang. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Sloane dan aroma rambutnya yang berbau sabun apel. Baginya, momen ini lebih menegangkan daripada negosiasi senjata dengan mafia Rusia.
"Nona... Sterling... harap jaga jarak keamanan operasional," suara Alistair bergetar tipis.
"Sst, diamlah. Aku hanya sedang melakukan inspeksi visual terhadap sausnya," Sloane membalas dengan nada menggoda, meskipun hatinya juga berdegup sangat kencang.
Saat mereka sedang dalam momen domestik yang manis itu, Sloane tiba-tiba melihat jaket jas Alistair yang digantung di... tunggu sebentar.
"ALISTAIR THORNE! KAU MENARUH JAKETMU DI ATAS MEJA MAKAN?!"
Alistair tersentak, refleks menjauh dari Sloane. "Saya... saya baru saja meletakkannya karena tadi terburu-buru ke dapur—"
"TIDAK ADA ALASAN! Meja makan adalah tempat suci untuk makanan! Bukan untuk jas yang baru saja kau bawa dari ruang bawah tanah yang berdebu itu!" Sloane menyambar jas itu dengan gerakan kasar namun tetap hati-hati agar tidak lecek. "Gantung sekarang! Atau aku tidak akan mau memakan pastamu!"
Alistair menghela napas, ia mengambil jasnya dengan wajah pasrah. "Saya akan segera melaksanakannya."
Sloane mengangguk puas. "Bagus. Disiplin adalah kunci, Tuan Bos!"
Alistair melangkah keluar dapur untuk menggantung jasnya, menyadari bahwa meskipun ia adalah raja di dunia luar, di dalam rumah ini, ia hanyalah seorang koki yang harus tunduk pada perintah "Sang Ratu Kebersihan". Namun anehnya, Alistair tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.
To be continued.....