NovelToon NovelToon
Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BumbleBee

Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Magan & Paula

Tok! Tok!

​"Masuk," sahut Paula datar tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen butik di atas mejanya.

​"Kau sibuk?"

​Paula tersentak. Suara bariton yang sangat ia benci sekaligus ia rindukan setengah mati mengudara di ambang pintu. Aaron berdiri di sana, mengulas senyum menawan yang seketika mengacaukan ritme jantung Paula. Paula ingin membalas senyum itu, namun ego membekukan bibirnya.

​"Kau bisa melihatnya sendiri," ketus Paula, kembali menyibukkan diri dengan berkas.

​"Laporan bulanan? Perlu bantuan?" Aaron melangkah mendekat, mengikis jarak hingga berdiri tepat di belakang kursi Paula. Aroma maskulin pria itu langsung menyerbu, menguapkan seluruh fokus kerja Paula dalam sekejap.

​"Tidak perlu. Katakan, ada apa kau datang kemari?"

​"Hanya mampir untuk melihatmu." Suara Aaron melembut, berbahaya bagi pertahanan Paula.

​"Kau sudah melihatku. Sekarang pergilah."

​"Lala..."

​"Paula!" potong wanita itu tajam, berbalik sengit. Dulu, Aaron yang menciptakan nama panggilan manis itu sebelum diadopsi oleh seluruh keluarga Willson. Namun sekarang, mendengar nama itu meluncur dari bibir Aaron hanya mendatangkan rasa sakit yang pekat.

​Aaron mengembuskan napas berat. "Baiklah, aku pergi." Ia menunduk, mengecup kilat puncak kepala Paula sebelum berbalik arah.

​Tepat saat Aaron menarik gagang pintu, daun pintu tersebut didorong dari luar.

​"Kak Aaron?!" Pekikan seorang wanita membuat Aaron mengernyit. Butuh beberapa detik bagi Aaron untuk mengenali wajah cantik di hadapannya.

​"Megan?" tebak Aaron ragu. Begitu wanita itu mengangguk, mata Aaron membola sempurna. "Astaga, aku hampir tidak mengenali dirimu!"

​Aaron langsung merentangkan kedua tangannya, menyambut Megan dalam pelukan hangat yang singkat.

​"Ck! Apa aku dulu begitu mengerikan?" Megan terkekeh. Dulu, penampilannya memang sangat cupu, berkacamata tebal, dan tertutup.

​"Bukan mengerikan. Dulu kau sangat manis, dan sekarang... oh astaga, apa kau melakukan operasi plastik?"

​Megan melotot jenaka, memukul pelan lengan berotot Aaron. "Aku tidak melakukan hal semacam itu!"

​"Jadi, ke mana saja kau selama beberapa tahun ini?" tanya Aaron di sela tawa mereka.

​"Mencari sesuap nasi," sahut Megan santai. Kepulangannya ke negara ini sebenarnya murni untuk meresmikan cabang agensi real estate-nya. Pertemuannya dengan klien asing misterius bernama Alena beberapa hari lalu adalah urusan terakhirnya sebelum ia memutuskan menemui Paula.

​"Jika daftar pertanyaanmu masih panjang, sebaiknya kalian masuk dan aku akan menyuguhkan kopi," sindir Paula ketus dari balik mejanya, membuat keduanya kompak menoleh.

​Aaron tergelak, sama sekali tidak tersinggung dengan ketajaman lidah adiknya. "Baiklah, aku pergi. Meg, lain kali aku akan mengundangmu makan siang." Aaron menepuk sekilas lengan Megan lalu melangkah pergi.

​Megan melangkah masuk ke kamar Paula, mengedarkan pandangan. Semuanya masih sama, termasuk riak ketegangan yang belum tuntas di antara sahabatnya dan Aaron.

​"Hubunganmu dengan Kak Aaron masih belum membaik?" Megan mengambil tempat di samping meja kerja Paula.

​"Tidak akan pernah," jawab Paula pendek, lalu menutup semua dokumennya dengan gerakan konklusif. "Lupakan pria itu. Aku sudah tidak sabar ingin menunjukkan koleksi terbaru dari butikku padamu."

​Dua puluh menit membelah jalanan kota dengan mobil Megan, keduanya akhirnya sampai di depan sebuah butik mewah yang berdiri megah di kawasan elite. Para karyawan langsung membungkuk hormat begitu Paula dan Megan melangkah masuk menuju lift pribadi.

​"Bagaimana kabar Pax?" tanya Megan memecah keheningan lift.

​"Masih bajingan seperti biasa. Kau tahu sendiri saudaraku itu sangat ahli menikmati hidup."

​"Maksudku... apa dia sudah keluar dari sel tahanan? Saat di pemakaman istri Pollux kemarin, aku melihat polisi menggiringnya," Megan tertawa renyah mengingat insiden konyol itu.

​Paula mendengus tepat saat pintu lift berdenting terbuka. "Dia memang pantas mendapatkannya. Membuat keributan di bar dan seorang wanita mengaku telah dilecehkan olehnya. Aku tidak akan terkejut jika besok ada selusin wanita datang ke rumah dengan perut buncit. Tapi kuharap itu benar-benar terjadi, agar Mom tidak ragu untuk mengebirinya sekalian."

"Kenapa kau tidak bertanya tentang Pollux? kenapa hanya menanyakan Pax?" Paula membuka pintu ruangannya, disambut dengan salah satu saudaranya yang sedang dilayani oleh karyawannya.

Pax benar-benar panjang umur.

"Kenapa kau di sini?" Paula memutar bola mata jengah, melihat Pax yang terlihat sangat santai di dalam ruangan seakan ruangan itu miliknya.

"Untuk bermain badminton," sahut pria itu lempeng dengan tatapan yang tertuju pada wanita yang ada di samping adik bungsunya itu.

Paula mendengus melihat mulut Pax yang menganga lebar dan mata yang tidak berkedip sama sekali. Benar-benar playboy sejati yang tidak bisa melihat wanita bening sedikit saja.

"Tutup mulutmu sebelum lalat menggerayanginya. Dan Pax, kau menjijikkan, air telingamu keluar!" Paula melempar tasnya yang ditangkap Pax dengan sempurna.

"Kau tidak asing," Pax menyipitkan matanya. Megan tersenyum.

"Oh astaga, Megan si bintik merah, gadis kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu. Ini sungguh dirimu?" Pax berdiri dari kursinya.

"Hais, kupikir dia tidak mengenalimu," tukas Paula dengan wajah jengkel. Tadinya ia bermaksud ingin membuat Pax malu.

Pax, pria casanova yang akan selalu penasaran dengan wanita cantik. Ia sangat berniat ingin membuat Pax mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Megan, gadis yang selalu menempel di sampingnya saat mereka remaja.

"Setidaknya kau mengenaliku, tidak seperti kak Aaron yang menuduhku melakukan operasi plastik," Megan menimpali.

"Berikan aku pelukan, ini sudah berapa tahun berlalu, haruskah aku menikahimu. Oh Tuhan, aku akan betah di rumah jika memiliki istri sepertimu, kemari lah, peluk aku."

Megan tergelak, tanpa berkomentar ia pun menyambut pelukan Pax.

"Rambutmu wangi," ujar Pax dengan bodohnya yang membuat Megan tertawa di dalam pelukannya.

"Apa wanita yang kau kencani rambutnya tidak wangi?" goda Megan begitu pelukan mereka terlepas.

"Aku tidak pernah menciumnya," Pax mempersilakan Megan untuk duduk di sampingnya.

"Aku tidak percaya itu," sergah Megan dengan tatapan menyelidik.

"Lupakan tentang wanita-wanita itu, bagaimana kabarmu?" Pax menggenggam tangan Megan, mengusapnya dengan lembut.

"Seperti yang kau lihat, aku tumbuh dengan baik."

Pax menganggukkan kepalanya. "Aku senang mendengarnya."

Keduanya saling menatap untuk sesaat lalu tertawa. Paula berdecak membuat mereka menoleh.

"Suasana hatiku sedang tidak bagus, Pax. Pergilah. Aku ingin berduaan bersama Megan."

"Kenapa aku selalu di usir?" Pax terlihat jengkel. Ansel, sepupunya juga mengusirnya dengan cara yang sama, seakan ia adalah lalat hijau penyebar penyakit.

"Megan, apa kau sudah makan siang."

"Pax, keluarlah!" Paula berkacak pinggang dengan wajah garang, membuat Megan tertawa renyah. Ternyata bukan hanya perasaannya yang tidak berubah, ulah Pax dan Paula juga ternyata masih sama. Selalu ribut disaat mereka berada di satu tempat.

"Untung saja kau adikku!" Pax segera berdiri dari kursinya. Ia mengeluarkan kartu nama dan memberikannya pada Megan.

"Ya, untung kau saudaraku. Jika tidak, kau pasti mengincarku seperti wanita-wanita di luar sana. Entah kapan kau sadar, Pax."

Pax tergelak, "Kau tidak cukup cantik di mataku, Lala. Dan mungkin aku akan segera mensucikan diri jika Megan bersedia menikah denganku, dan Megan, jangan lupa hubungi aku." Paxa mengerling jenaka. Ia pun beringsut mendekati Paula, dan menariknya untuk memberikan kecupan di puncak kepala adiknya itu. "Aku pergi gadis manja, hubungi Pollux, tanyakan apa ia baik-baik saja." Pax mengacak rambut Paula, lalu meletakkan tas gadis itu di atas meja.

"Kalian tidak berubah sama sekali," ucap Megan begitu Pax sudah tidak berada di ruangan lagi.

"Ya, hanya Pax dan Pollux yang mencintaiku. Sayang sekali aku tidak bisa menikahi salah satunya," ucapan Paula mengandung makna tersirat, bahwa ia merasa ia tidak layak untuk dicintai.

Berulang kali menjalin kasih, selalu berakhir dengan pengkhianatan. Beruntung ia juga tidak serius dengan semua pria yang mengencaninya, tapi bukan berarti ia membenarkan pengkhianatan.

"Bagaimana denganmu, Meg? Apa kau sudah memutuskan untuk menetap di sini?"

"Aku tidak tahu."

"Apa yang dikatakan hatimu?"

"Masih sama," sahut Megan.

"Kenapa kita tidak beruntung dalam urusan percintaan, disaat kita sudah memiliki segalanya. Usia kita juga sudah tidak muda lagi. Haruskah kita menikah dengan suami bayaran, aku mendengar ide itu lagi trend saat ini. Dan jika beruntung kita bisa mendapatkan pria tampan, mapan dan baik hati," cetus Paula dengan sangat konyol.

Megan membenarkan sepenggal pernyataan Paula, tapi menolak untuk ide konyol sahabatnya itu, walau ia tahu Paula juga tidak serius mengatakannya. Posisinya dan Paula tidak jauh berbeda. Menyimpan perasaan pada seseorang yang tidak akan pernah melihat mereka sebagai wanita.

"Tidak semua orang beruntung dalam urusan cinta. Tidak sedikit yang perasaannya bertepuk sebelah tangan seperti yang kita alami, tapi yang berawal bahagia bisa berakhir kecewa. Yang terlihat indah, belum tentu demikian," Megan menarik napas panjang. Dadanya merasakan sesak, mengingat betapa lamanya ia memendam perasaannya.

"Kau benar. Pollux bukti nyata dari pernyataanmu yang terakhir. Saudaraku yang malang." Paula dan Megan kompak mendesah.

"Keadaan kita tidak lebih baik darinya, Paula."

"Ya, Jomblo sejak lahir. Ck! Kutukan macam apa ini."

"Kau menyindirku, Lala."

"Tidak, Meg. Yang kumaksud adalah kita berdua."

"Kau beberapa kali berkencan."

"Aku tidak mencintai mereka."

"Tetap saja kau pernah berciuman."

"Aku tidak akan membantah soal itu. Apa bibirmu masih suci?" Paula dengan konyol menatap bibir Megan.

"Ambilkan bajunya, aku tidak sabar untuk mencobanya," Megan melempar bantal kursi ke arahnya.

"Kenapa cinta sangat menyakitkan, Meg." Paula kembali mengembuskan napas panjang.

"Cinta tidak lah menyakitkan, tapi jatuh cinta kepada orang yang salah dan tidak tepat lah yang menyakitkan. Sudahi pembicaraan yang membuat kita terlihat semakin merana, ambilkan bajuku."

1
lyani
jodoh tapi tak bersatu
lyani
ciyeeeee yg perhatian
lyani
🤣
lyani
iy bnr
iis nuriyah
lanjut kak seru🥰🥰🥰
BumbleBee: siap kakak😍
total 1 replies
lyani
wihhhh
lyani
🤣
lyani
kamu jahat Alena..kesian ntu megan😄
lyani
sampai release lagi pun saya masih penasaran....berusaha mengingat kejadian yg menimpa ayah Alena bang iky
lyani
tujuan jelas utk menjauhkan Luna dari paula
lyani
hentikan mulut beracunmu Luna
lyani
kagak ada yg sanggup
lyani
bodyguard gratisan
lyani
🤣
lyani
CK
lyani
kabur dari tugas y🤣
lyani
jangan tutupi rasamu Ar
lyani
Pau yg malang
lyani
fokus Meg... jadilah yg terbaik dari versi dirimu sendiri
lyani
ada yg nukar suratnya nggak si?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!