NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

​Dugh!

​Michelle meringis saat punggungnya membentur tembok di belakangnya, cewek itu menatap tiga cewek yang tadi menariknya ke tempat ini.

​"Lo sebenarnya siapa sih?" tanya cewek berambut curly gantung itu.

​Michelle memerhatikan setiap wajah di depannya, perasaannya mengatakan kalau ini bukan hal baik. Sepertinya mereka sejenis dengan Helena, cewek-cewek yang terobsesi pada Alvin.

​Michelle berdehem. "Hai, Kak," sapanya ramah. "Gue Michelle, gue—"

​"Gue nggak nanya nama lo!"

​Michelle tersentak, seketika langsung menutup mulutnya. Kedua tangan cewek itu terkepal di samping badan, takut.

​"Heh, lo!"

​"Aduh, Kak, sakit," rintih Michelle merasakan perih pada kepalanya karena rambutnya ditarik paksa.

​"Gue bukan Kakak lo!" bentak cewek itu.

​Michelle memilih bungkam dengan tangan bergetar takut, ternyata ini lebih mengerikan dari yang ia bayangkan. Pertama kali dalam perjalanan 16 tahun hidupnya Michelle mendapat perlakuan seperti ini.

​Selama di Belanda tidak ada yang berani bersikap seenaknya pada Michelle karena Ayah Michelle merupakan orang tersohor di sana, dan dulu saat di Indonesia Michelle selalu merasa aman karena keberadaan dua orang yang selalu melindunginya.

​Tapi sekarang? Michelle hanya bisa berharap Alvin segera datang dan menyelamatkannya, atau setidaknya ada teman Alvin yang melihat hal ini.

​"Siapa lo berani-beraninya deketin Devis?!"

​Devis? Cewek ini bukan penggemar Alvin? Michelle hanya bisa menunduk saat Kakak kelasnya itu membentaknya, sekilas Michelle melihat name tag dari cewek bersurai sebahu yang masih menarik rambutnya itu. Ariska Winata, dari kelas XI-IPS1.

​Kedua mata Michelle tertutup saat Kirana menarik rambutnya lebih kencang hingga ia memekik tertahan, tidak ada yang akan mendengarnya walau Michelle berteriak minta tolong.

​Kirana dan teman-temannya membawa cewek itu ke ruang musik yang kedap suara, dan mengunci pintunya. Apalagi ruangan musik ini berada jauh dari lorong-lorong kelas, kecil harapan untuk Michelle mendapat pertolongan.

​"Diem aja punya mulut nggak lo?!"

​PLAK!

​Kepala Michelle tertoleh ke kanan setelah menerima tamparan pada pipi kirinya yang menyisakan bekas merah, rasa panas mulai menjalar ke seluruh wajahnya.

​"Gue peringatin, jangan deket-deket Devis kalau lo mau sekolah dengan tenang di sini! Devis itu punya gue!"

​"Bukannya udah putus, Na?" tanya teman Kirana, membuat cewek itu menoleh dengan tatapan tajam.

​"Diem lo!" desis Kirana.

​Cewek berkuncir kuda dengan ponytail maju dan menarik bagian lengan kemeja Michelle.

​"Masih kelas sepuluh aja belagu lo!" ujar cewek itu, menghempaskan kerah kemeja Michelle.

​Kirana menarik temannya agar mundur, lalu kembali menghadap Michelle. Cewek itu merenggut dagu Michelle, memaksa untuk menegakkan wajah.

​"Gue peringatin sama lo, jadi cewek jangan kecentilan! Lo juga kan yang masuk akun gossip sekolah gara-gara berangkat sekolah bareng Alvin, nggak tau lo Alvin udah pacaran sama Nara?"

​"Bukan cuma nggak tau, Na, tapi emang nggak tau malu aja dia!" sahut teman Kirana, lalu tiga cewek itu tertawa.

​Kirana menarik ujung bibirnya. "Murahan banget sih jadi cewek? Deketin semua cowok populer di sekolah emang udah kerjaan lo ya?" tanyanya.

​"Lo nyari apanya sih? Buat pansos? Apa karena duit mereka?"

​"Enggak, Kak," geleng Michelle dengan kepala tertunduk.

​"Lihat gue!" bentak Kirana. "Sama Kakak kelas nggak ada sopan-sopannya!"

​"Udahlah, Na, habisin aja."

​Kedua mata Michelle membulat mendengar teman Kirana mengatakan hal itu, Kirana menoleh pada temannya yang tampak menyeringai, dan seringai itu seolah menular pada Kirana juga temannya yang lain.

​Michelle hanya menatap bingung tiga cewek itu, mereka seolah sedang mengobrol lewat tatapan. Sampai akhirnya Michelle bisa mengerti apa yang mereka pikirkan saat Kirana mengeluarkan sebuah gunting.

​"Ayo kita bersenang-senang dulu."

​Michelle meringsut menjauh dari Kirana dan teman-temannya saat cewek itu mendekat. "Kak, gue mohon jangan, Kak," ujar Michelle takut-takut sambil menggeleng, menatap memohon pada Kakak kelasnya itu.

​Kirana memiringkan kepala. "Kenapa? Nggak akan sakit kok," jawab cewek itu, lalu tatapannya berubah datar. "Pegangin dia," perintahnya yang langsung dituruti oleh teman-temannya.

​Michelle hanya bisa memberontak namun hal itu sia-sia karena pergerakannya dikunci, sementara Kirana mulai melancarkan aksinya.

​"Kak Alvin, tolongin Michelle," rintih Michelle dalam hati.

​.

.

.

.

.

​"Anjing! Kaget gue!" seru Azra spontan saat Arga tiba-tiba merentangkan tangannya menghalangi jalan.

​"Ada apa sih?"

​Arga berbalik badan, cowok itu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir seolah memberi isyarat agar dua temannya itu diam.

​"Kalian denger sesuatu nggak?" tanya Arga.

​Azra dan Devis bertatapan, dua cowok itu berusaha tenang dan mendengarkan apa yang didengar Arga, namun tidak mendengar apa pun, keduanya menggeleng.

​Arga berdecak. "Gue denger suara orang nangis, suara cewek!" ujar cowok itu.

​Kening Azra berkerut, sekali lagi mencoba menajamkan pendengaran, namun tidak mendengar apa pun.

​"Lo indihom?" tanya Devis.

​"Indigo, bego!" sahut Azra, membuat Devis mendelik.

​Arga menggeleng. "Serius deh, ini suara manusia! Dari dalem sana!" Cowok itu menunjuk ruang musik yang pintunya tidak tertutup sempurna.

​Mendengar penuturan Arga membuat Azra mengusap lengan atasnya, bola mata cowok itu menjelajah setiap sudut ruangan ini.

​"Jangan nakut-nakutin gue lo, Go, gue nggak takut!"

​Arga menghela napas. "Masih muda masa pada bud—"

​"Tunggu."

​Azra dan Arga langsung menoleh saat Devis bersuara, kening cowok itu berkerut sambil memiringkan kepala ke arah ruang musik, seolah berusaha mendengarkan suara yang Arga maksud.

​"Gue denger."

​"Nah kan! Gue— Vis!"

​Devis langsung bergerak cepat dan membuka kasar pintu ruang musik yang tidak sepenuhnya tertutup itu, dan saat itu juga ia melihat seorang cewek duduk meringkuk di dekat drum sambil memeluk tubuhnya.

​Kening Devis berkerut. "Michelle?" Bibirnya bergerak tanpa keluar suara.

​"Vis, ada apa— anjir! Kenapa pintunya ditutup woi?!"

​Devis mengunci pintu ruang musik dari dalam, tidak peduli dengan protesan dua temannya. Cowok itu berbalik badan dengan ragu, menatap cewek itu kini menatapnya terkejut.

​Tatapan cewek itu perlahan berubah, pipi yang belum kering karena air mata kini kembali dilewati bulir bening itu dengan isakkan tertahan.

​"Devis...."

​Devis langsung menghampiri cewek itu, sambil melepas kemeja sekolah yang ia kenakan, menyisakan kaos hitam polos yang menutup tubuh atletisnya.

​"Lo ngapain di sini?" tanya Devis.

​Michelle menunduk dalam, merasakan sebuah kain tersampir di tubuhnya yang kedinginan. Cewek itu masih menutup tubuhnya yang kacau dengan pakaian compang-camping karena ulah Kirana dan teman-temannya.

​"Michelle, jawab gue!"

​Michelle tersentak karena suara Devis meninggi, isakan cewek itu malah semakin menjadi. Devis yang melihatnya tertegun, tidak tahu harus berbuat apa. Tangan cowok itu terulur, menyibak surai acak-acakan Michelle.

​"Siapa yang ngelakuin ini?" tanya Devis saat melihat bekas merah di pipi kiri cewek itu.

​"Jawab gue, Michelle," suara Devis merendah, namun cewek itu belum juga memberi jawaban.

​Devis menghela napas, menyerah. Cowok itu bergerak maju, menarik Michelle ke dalam rengkuhannya. Membiarkan cewek itu terisak bahkan sampai membuat kaos hitamnya basah.

​"Gue takut banget, Vis, mereka ngancem gue," ucap Michelle dengan suara bergetar.

​Tangan Devis bergerak mengusap punggung Michelle, mencoba menenangkan cewek itu. Keningnya berkerut, berpikir keras menebak siapa yang melakukan hal ini pada Michelle.

​Gerakan tangan Devis terhenti karena merasa cengkeraman Michelle pada kaos hitamnya mengendur. "Michelle?"

​Tidak ada sahutan, Devis memberi jarak antara tubuhnya dan Michelle untuk memastikan, cewek itu terlihat menutup kedua matanya dengan napas teratur.

​"Michelle?"

​Michelle tetap bergeming, membuat Devis mulai panik. Devis menepuki pelan pipi Michelle beberapa kali, namun tetap tidak ada respon.

​Devis mengerang frustasi, lalu beranjak untuk membuka pintu. Tepat saat itu Arga dan Azra bergerak maju seolah akan mendobrak pintu itu bersamaan, namun keduanya langsung tertahan dan alhasil saling dorong hingga terjatuh.

​"Minggir kalian berdua!"

​Devis kembali pada Michelle dan langsung memindahkan cewek itu ke gendongannya, Azra dan Arga yang tidak tahu apa-apa hanya menurut. Mereka terdiam membeku melihat Devis yang menggendong seseorang, dan lebih terkejut lagi setelah tahu siapa orang itu.

​"Michelle bukan sih?" tanya Arga yang diangguki Azra.

​"Anjing itu apaan lagi! Ayo kejar keburu jadi gosip!"

​Tapi telat, seseorang sudah menangkap gambar pemandangan ini dan tidak lama pasti akan ada postingan baru di akun gossip sekolah yang akan menggemparkan seisi SMA Lentera Bangsa.

...​☆☆☆...

​Devan dan Raskal melirik Shena yang entah sudah berapa lama masih melakukan kegiatan yang sama di dalam ruang ganti olahraga ini, mengambil foto dengan bantuan sebuah kaca besar atau biasa disebut mirror selfie.

​Sepuluh menit lagi latihan futsal akan dimulai, tapi Shena masih belum bersiap. Cowok itu memang sudah mengganti seragam sekolahnya dengan jersey futsal, tapi masih belum lengkap karena sepatu orange milik cowok itu masih tergeletak di samping kursi.

​"Aduh!" pekik Shena karena sebuah atasan jersey mendarat tepat di wajahnya. "Heh punya siapa nih!"

​"Punya gue," jawab seorang cowok dengan setelan jersey futsal yang baru memasuki ruangan ini. "Yang lain udah nunggu buat mulai latihan, lo malah narsis di sini. Ngerti disiplin nggak lo?"

​Shena meringis sambil menggaruk tengkuk belakangnya, nada bicara dan tatapan Alvin sudah terlihat tidak bersahabat, tandanya cowok itu memang sedang tidak bercanda. Dalam mode senggol bacok.

​Shena melirik Raskal dan Devan yang tampak menahan tawa, bahkan Devan mengejeknya lewat ekspresi wajah yang membuat Shena ingin sekali melempar salah satu loker pada cowok itu.

​Tring!

1
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!