Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertolongan pertama Ala Warga +62
"Kalau di sebelah kanan dipasang lampu gantung kristal minimalis, pasti suasananya makin estetik, Pak. Bagaimana menurut..."
Shella menghentikan kalimatnya di udara. Ia menoleh ke kanan, lalu ke kiri. Kosong.
"Loh, Pak Reygan mana?" tanya Shella bingung.
Perasaan baru dua menit lalu bos bermulut cabe itu berdiri di sampingnya sambil mendengus sombong. Shella mengernyitkan dahi, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh area sekitar ruko kosong tersebut.
Matanya mendadak menangkap sebuah kerumunan kecil yang mencurigakan di dekat area parkir. Beberapa abang ojek online, penjual gorengan, hingga ibu-ibu komplek tampak sedang berkumpul dan heboh mengerumuni kap depan mobil SUV milik Reygan.
Karena penasaran, Shella melangkah mendekat. Samar-samar, ia mendengar suara riuh rendah dari arah kerumunan tersebut.
"Aduh, Mas! Istigfar, Mas! Jangan pingsan di sini, ruko ini memang agak angker!"
"Ini kayaknya masuk angin duduk, ini! Cepetan ambil minyak kayu putih!"
"Bukan, ini kurang darah! Kasih teh manis anget dulu, woi!"
Shella langsung menyibak kerumunan itu dengan paksa. "Permisi, permisi! Kasih jalan!"
Begitu berhasil merangsek ke barisan paling depan, mata Shella seketika membelalak sempurna. Pemandangan di depannya benar-benar konyol sekaligus mengenaskan.
Reygan—sang CEO angkuh, miliarder tampan dengan gaya cool ala film Hollywood—kini sedang terduduk lemas di atas aspal sambil bersandar pada ban mobil. Wajah tampannya pucat pasi bak mayat hidup, bibirnya membiru, dan tangannya mencengkeram dadanya sendiri sambil bersusah payah menghirup oksigen.
Namun, yang membuat situasi menjadi luar biasa konyol adalah aksi heroik para warga sekitar.
Seorang abang ojol dengan sangat telaten sedang mengipasi wajah Reygan menggunakan selembar kardus bekas mie instan.
Seorang ibu-ibu dasteran sibuk menyodorkan sebotol minyak angin aromaterapi tepat di bawah lubang hidung Reygan.
Seorang penjual gorengan sudah bersiap-siap memegang koin seribuan, hendak mengeksekusi punggung mahal Reygan untuk dikerok.
"A-Jauh... j-jauhkan minyak itu..." bisik Reygan super lirih, tangannya melambai lemah, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur di hadapan publik jelata.
"Astaga, Pak Reygan!" Shella langsung berlutut di samping bosnya. Ia menyentuh kening Reygan yang sudah dibanjiri keringat dingin. Mendengar suara napas Reygan yang berbunyi "ngiiik... ngiiik..."cukup nyaring, Shella langsung paham. "Ini bukan kesambet atau masuk angin, Ibu-Ibu, Bapak-Bapak! Ini asma!"
"Oh, asma toh? Kirain fajar sadboy jilid dua, Mbak, mukanya melas banget," celetuk salah satu abang ojol polos.
Tanpa membuang waktu, Shella langsung merogoh saku celana Reygan dengan beringas untuk mencari kunci mobil. Reygan yang sudah setengah sadar hanya bisa pasrah tubuhnya "digerayangi" oleh asisten cuci piringnya itu.
"Mana inhaler Bapak?!" tanya Shella panik
"D-Di... rumah..." jawab Reygan terbata-bata, napasnya semakin pendek.
"Sialan, bisa-bisanya asma kronis tapi tidak bawa obat!" rutuk Shella habis-habisan.
Ia langsung meminta bantuan dua abang ojol untuk memapah tubuh jangkung Reygan masuk ke dalam kursi penumpang depan. Setelah Reygan terkapar lemas di sana, Shella langsung berlari memutari mobil dan melompat ke kursi kemudi.
Meskipun statusnya sekarang adalah orang miskin, jangan lupa bahwa Shella adalah mantan wanita sosialita yang sudah sangat terbiasa menyetir mobil-mobil mewah ber-cc besar.
"Awas saja ya kamu kalau berani mati malam ini, Pak Reygan! Utang penjelasan ciuman tadi siang belum lunas!" batin Shella sengit.
BRUMMM!
Shella menginjak pedal gas SUV mewah itu hingga mesinnya menggerung keras. Tanpa ampun, ia memutar setir dengan gerakan ekstrem, membelah jalanan ibu kota yang mulai padat dengan kecepatan di atas rata-rata.
Sepanjang jalan menuju rumah sakit terdekat, Shella menyetir kesetanan bak pembalap Formula 1 tersesat, mengabaikan klakson kendaraan lain, sementara Reygan di sampingnya hanya bisa memejamkan mata erat-erat—bukan cuma karena menahan sesak di dadanya, tapi juga karena syok melihat cara menyetir Shella yang jauh lebih mencabut nyawa ketimbang penyakit asmanya sendiri!
"Aku akan mati, bukan karna asma, tapi ulah wanita gila ini." Gumam nya terbata-bata.