NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Asido Harus Kembali Lagi

"Elisya masih mandi ya?" tanya Elora pada dirinya sendiri.

Ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di dinding kontrakan mereka sambil merapikan penampilannya. Seragamnya sudah rapi, rambutnya sudah diikat, dan sekarang ia hanya menambahkan sedikit bedak serta lip balm.

Biasanya pada jam seperti ini mereka sudah siap berangkat. Atau paling tidak, Elisya sudah keluar kamar membawa tas dan mengingatkannya agar tidak terlalu lama di depan cermin.

Namun pagi itu berbeda.

Elora melirik jam dinding. Dia juga memastikan jam di hpnya.

"Benar..... Udah jam segini....." gumamnya, dahinya mulai berkerut.

Biasanya Elisya selalu tepat waktu, takut terlambat ke sekolah. Karna memang dia orang yang disiplin soal waktu. Kalau ada yang terlambat, biasanya justru Elora yang menjadi penyebabnya.

Elora menoleh ke arah kamar Elisya. Masih tertutup.

"Jangan jangan....."

Elora langsung menggeleng.

"Tidak..... Tidak!! Kenapa aku jadi mikir yang aneh-aneh.... "

Akhirnya, Elora berjalan mendekati kamar Elisya.

"Sya?" panggilnya pelan sambil mengetuk pintu.

Tidak ada jawaban.

"Elisya.....?" panggilnya lebih keras.

Masih tetap tanpa jawaban.

"Sya, kau baik-baik saja?"

Dan kali ini terdengar suara dari dalam.

"Hah?"

Elora menghela napas lega, "bukain dong....."

Pintu itupun akhirnya terbuka.

"Ya ampun, kukira kau kenapa....." ucap Elora terdengar khawatir.

"Kenapa emang?"

"Kau kok gak keluar- keluar sih?" tanya Elora.

Kamar itu sunyi sesaat. Lalu tak lama terdengar jawaban yang sedikit gugup.

"Engga......engga lama juga kok...."

Elora melirik jam lagi.

"Itu kalau lima belas menit mungkin tidak lama. Ini hampir setengah jam loh....." gerutunya.

Elisya terdiam dan hal itu diperhatikan oleh Elora. Pagi ini sahabatnya terlihat berbeda, agak aneh. Elora menyipitkan matanya.

"Ada yang sedang dipikirkan?" tanyanya.

Elisya langsung menatap Elora cukup dalam.

"Kenapa?" tanya Elora heran.

Elisya masih menatapnya. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Atau jangan-jangan ada yang kau sem...."

Belum sempat Elora menyelesaikan kalimatnya, Elisya langsung berdiri tegak.

"Sudah....."

"Hah?" seru Elora heran.

"Kita berangkat sekarang."

Elisya meraih tasnya dengan cepat.

"Sya??"

"Cepat...... Mau telat ya,"

Elisya melangkah lebih dulu, meninggalkan sahabatnya di kamarnya.

"Elisya Mayura Pasaribu....." panggil Elora sambil berjalan cepat mengejar Elisya.

"Apa?" jawab Elisya santai.

"Kau mencurigakan sekali pagi ini...."

Elisya tertawa kecil. Dia berusaha memasang wajah biasa saja.

Begitu mereka keluar dari kontrakan, Elisya kembali menarik lengan sahabatnya.

"Sudah. Fokus ke sekolah....Ayok!!" mintanya.

Di rumah keluarga Asido pagi itu tetap ramai. Cukup repot juga. Jika kemarin repot karna martuppol, kali ini kesibukan terjadi karna Asido akan kembali ke perantauannya.

Di ruang makan, ibunya sudah sibuk sejak subuh. Beberapa jenis makanan sudah tersedia di atas meja.

Asido yang baru turun dari kamar langsung berhenti di anak tangga.

"Omak??" panggilnya.

"Eh...... Udah bangun kau rupanya Mang?"

"Ini kok banyak kali Mak? Ada acara lagi pagi ini?" tanyanya heran sambil memandangi makanan itu.

"Untukmu..... Bawa pulang,"

Asido menghela napas.

"Astaga, Mak. Tak usah repot-repot."

"Apanya kau ini?? Repot gimana?"

Logat Batak ibunya langsung keluar dengan wajah cemberut. Jelas tak suka dengan jawaban itu. Dan Asido langsung menyadarinya.

"Bukan gitu, Mak....." ucap Asido sambil memeluk tangan ibunya. "Maksudku nanti tak habis, kalo terlalu banyak begini....."

"Jadi maksudmu nggak usah ini?? Biar tau membalikkan ke piring lagi....." jawab ibunya sinis.

Ayahnya yang sedang membaca koran hanya tertawa meliat mereka.

"Sudah bawa saja. Nanti ngambek Omakmu itu.....bisa jadi sama Bapak dilampiaskan...." ucap ayahnya menyindir.

"Maksud Bapak apa?" jawab istrinya menatap serius suaminya.

"Itukan Mang....." ucap ayahnya sambil meletakkan korannya.

"Astaga..... Sudah, sudah. Asido bawa kok....."

Asido akhirnya menyerah, mengikuti kata ibunya.

Setelah sarapan bersama, waktunya benar-benar tiba. Tas sudah diletakkan di dekat pintu.

"Mang, jaga kesehatan ya...." ucap ibunya menggenggam tangan Asido.

"Iya, Mak..."

"Jangan terlalu capek kerja....."

"Iyaaaa"

"Jangan telat makan...."

"Iya, Mak....."

Asido selalu menjawab perkataan ibunya penuh yakin, supaya ibunya tak kepikiran berlebihan. Seperti biasanya mamak mamak Batak dengan segala cara perhatiannya.

Ayahnya mendekat lalu menepuk bahu Asido.

"Hati-hati di jalan ya, Mang...."

"Iya Pak...."

"Kalau sudah sampai langsung kabari,"lanjut ayahnya.

" Siap." jawab Asido tegas.

Seperti laki-laki Batak, mereka tidak terlalu banyak mengucapkan kata-kata panjang. Tetapi perhatian itu selalu terasa.

Abangnya mendekat dan berdiri di sampingnya.

"Terimakasih ya."

Asido menoleh heran.

"Untuk apa?"

"Sudah pulang untuk acara kemarin."

Asido tertawa kecil.

Abangnya lalu menepuk bahu Asido pelan.

"Nanti pesta pun kau tetap hadir kan?"

"Diusahakan ya, Bang." Jawab Asido.

"Harus lah!!" sahut ibunya.

Mendengar itu mereka berdua saling tertawa pelan sambil berbisik pelan.

"Lihat tu....." ucap abangnya.

"Jangan gitu lah sama Omak kalian....." ucap Ayahnya mulai mengompori istrinya iseng.

"Bapak??" jawab istrinya memukul lengannya.

Bus yang akan ditumpangi Asido akhirnya tiba di depan rumah. Suara musiknya terdengar cukup keras hingga menarik perhatian beberapa tetangga yang kebetulan sedang berada di luar rumah.

"Ma, sudah datang itu mobilnya...." ucap anak kecil, anaknya Nantulang Asido.

"Sebentar ya, Lae!" teriak abangnya Asido sambil mengangkat tangan pada supirnya.

Supir itu mengangkat tangan santai.

Asido kemudian menarik dompetnya dari saku jaketnya.

Melihat itu beberapa sepupunya langsung saling pandang.

"Wah....."

"Dapat uang ini....."

Asido yang mendengarnya tersenyum.

Satu per satu ia menyalami keluarganya. Ia pamit pada para Tulang, Nantulang, Om, Tante, dan kerabat yang sejak pagi sengaja datang kesana.

Setiap menyalami, ia menyelipkan sejumlah uang ke tangan mereka.

"Untuk beli kopi, Tulang."

"Ah, tidak usah....."

"Terima lah....." goda Nantulangnya.

Mereka semua tertawa nyaring.

"Mauliate lah...." ucap Tulangnya akhirnya.

Ia menyalami semua Tulang, Nantulangnya dan kerabat dekatnya.

Kemudian dia berpindah ke baris anak-anak, para sepupunya dan juga para anak tetangganya.

"Ini abang bagi jajan ya...... Tapi jangan banyak banyak makan permen......" ucap Asido sebelum memberikannya.

"Iya, Bang. Biar nggak SAKIT GIGI." jawab mereka serentak.

Mendengar itu Asido sedikit terkejut, kenapa bisa mereka menjawab serentak dengan jawab yang sama.

Asido tersenyum sambil memberikan uang itu kepada satu per satu anak anak itu.

Tradisi seperti itu sudah biasa dalam keluarga Batak. Saat ingin pulang, selalu memberi sedikit uang kepada kerabatnya. Itu sering dianggap sebagai bentuk perhatian dan berbagi rezeki.

Yang paling bersemangat sudah tentu anak anak. Begitu melihat uang berpindah tangan, mereka langsung mendekat dengan mata berbinar.

"Amangboru, aku belum dikasi!" ucap sepupu Asido pelan pada Amangborunya.

Tawa langsung pecah.

"Engga cukup," jawab Amangborunya sengaja iseng.

Asido mendekat dan mengacak rambut keponakannya sebelum menyelipkan uang ke tangannya.

"Jangan habiskan buat jajan semua ya....."

"Iya" jawabnya.

Padahal semua orang tau uang itu kemungkinan besar akan berubah jadi eskrim sebelum sore.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!