NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Hari yang ditentukan untuk mediasi akhirnya tiba.

Gedung pengadilan sudah mulai ramai sejak pagi. Aurel datang lebih awal. Ia mengenakan kemeja putih dipadukan blazer berwarna cokelat muda. Wajahnya tampak tenang, meski di dalam hatinya masih berkecamuk berbagai perasaan.

Tak lama kemudian, Arya Aditia datang menyusul. "Selamat pagi, Bu Aurel."

"Selamat pagi, Pak Arya."

Arya memperhatikan raut wajah Aurel. "Gugup?" tanya Arya.

Aurel tersenyum tipis. "Sedikit."

"Itu wajar."

"Tapi ingat, hari ini bukan untuk mencari siapa yang menang atau kalah."

"Hari ini hanya menjalani proses." kata Arya dan Ucapan Arya berhasil membuat Aurel sedikit lebih tenang.

Beberapa menit kemudian, Najwa juga datang untuk memberikan semangat kepada sahabatnya.

"Aku nggak ikut masuk."

"Tapi aku tunggu kamu selesai." ucap Najwa.

Aurel mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih." jawab Aurel.

Tak lama kemudian Mahesa datang. Ia datang sendirian.

Tatapan matanya langsung mencari sosok Aurel.

Saat mata mereka bertemu, Aurel segera mengalihkan pandangannya. Baginya, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan di luar persidangan.

Mahesa berjalan mendekat.

"Rel..."

Belum sempat Mahesa melanjutkan ucapannya, Arya melangkah satu langkah ke depan.

"Selamat pagi."

"Saya Arya Aditia."

"Kuasa hukum Ibu Aurel."

Mahesa mengangguk singkat. "Mahesa." ucap Mahesa memperkenalkan diri.

Arya membalas dengan sopan. "Hari ini mari kita ikuti proses dengan baik."

Mahesa hanya mengangguk pelan.

Tak lama kemudian, proses mediasi dimulai. Mediator mempersilakan kedua belah pihak duduk berhadapan.

Suasana ruangan begitu tenang. Setelah menjelaskan tujuan mediasi, mediator mulai bertanya kepada Mahesa.

"Saudara Mahesa."

"Apakah Saudara bersedia bercerai?"

Mahesa menjawab tanpa ragu. "Tidak."

Mediator mengangguk. "Lalu apa yang Saudara inginkan?"

"Saya ingin mempertahankan rumah tangga saya." jawab Mahesa.

Mediator kemudian beralih kepada Aurel. "Bagaimana dengan Ibu Aurel?"

Aurel menarik napas panjang. "Saya tetap ingin bercerai."

Mediator kembali mencoba mencari jalan tengah.

"Apakah masih ada kemungkinan untuk berdamai?"

Mahesa langsung menjawab.

"Masih."

"Saya siap berubah."

"Saya siap memperbaiki semuanya."

Aurel menatap Mahesa beberapa detik. Tatapan yang dulu penuh cinta. Kini hanya menyisakan kelelahan.

"Kamu sudah diberi waktu tujuh tahun, Mahesa." Suara Aurel terdengar pelan.

"Tujuh tahun aku hidup bersama seseorang yang ternyata setiap hari membohongiku."

Mahesa menundukkan kepala.

Mediator kembali mencoba. "Bagaimana jika diberi kesempatan sekali lagi?"

Aurel menggeleng.

"Tidak."

"Keputusan saya sudah bulat." jawab Aurel dengan yakin.

Mahesa kembali berbicara.

"Rel..."

"Aku mohon."

"Jangan lakukan ini."

"Aku nggak sanggup kehilangan kamu."

Aurel menatap Mahesa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Kalau memang kamu tidak sanggup kehilangan aku..."

"Seharusnya dulu kamu tidak mengkhianatiku."

Ruangan kembali hening. Mahesa kehilangan kata-kata. Mediator masih berusaha menengahi. Namun setiap kali Aurel menyampaikan alasannya, Mahesa tetap menjawab dengan satu kalimat.

"Saya tidak mau bercerai."

Hampir satu jam berlalu. Tidak ada titik temu. Arya yang sejak tadi lebih banyak mendengarkan akhirnya berbicara.

"Pak Mahesa."

Mahesa menoleh.

"Saya menghargai keinginan Bapak untuk mempertahankan rumah tangga."

"Tetapi dalam mediasi, keberhasilan hanya mungkin terjadi jika kedua belah pihak sama-sama memiliki keinginan untuk berdamai."

Arya berhenti sejenak. "Dari penjelasan Ibu Aurel, posisi beliau sudah sangat jelas."

"Beliau tetap pada keputusannya."

Mahesa mengepalkan tangan. "Saya tetap tidak setuju."

Arya mengangguk sopan. "Itu adalah hak Bapak."

"Tetapi penolakan tersebut juga berarti proses perkara akan berlanjut sesuai ketentuan yang berlaku."

Mediator akhirnya menutup berkas di hadapannya. "Karena tidak tercapai kesepakatan damai, mediasi dinyatakan tidak berhasil."

Kalimat mediator membuat Aurel mengembuskan napas panjang. Bukan karena lega. Melainkan karena satu tahapan yang menurutnya hanya memperlambat proses akhirnya selesai.

Begitu keluar dari ruang mediasi, Mahesa kembali berusaha mengejar Aurel.

"Rel, tunggu."

Namun Aurel berhenti tanpa menoleh. "Apa lagi, Mahesa?"

"Aku masih akan berusaha." ujar Mahesa.

Aurel memejamkan mata sejenak. Saat berbalik, tatapannya begitu tegas.

"Silakan kalau itu yang kamu inginkan."

"Tapi ketahuilah satu hal."

"Apa pun yang kamu lakukan..."

"...keputusanku tidak akan berubah." Setelah mengucapkan kalimat itu, Aurel berjalan meninggalkan lorong pengadilan bersama Arya.

Sementara Mahesa tetap berdiri di tempatnya. Ia sadar, hari itu bukan hanya mediasi yang gagal. Harapan terakhirnya untuk mempertahankan Aurel juga mulai runtuh sedikit demi sedikit.

Keluar dari ruang mediasi, Aurel berjalan dengan langkah cepat. Udara di lorong pengadilan terasa begitu pengap baginya. Dadanya sesak karena emosi yang sejak tadi ia tahan. Bukan karena Mahesa marah. Bukan pula karena proses mediasi gagal. Melainkan karena Mahesa masih terus menolak kenyataan bahwa keputusan Aurel sudah tidak bisa diubah.

"Bu Aurel." Suara Arya memanggil dengan tenang.

Aurel berhenti sejenak.

Arya berjalan mendekat. "Saya tahu hari ini cukup melelahkan."

"Kalau Ibu tidak keberatan, bagaimana kalau kita mampir sebentar?"

Aurel mengernyit. "Mampir ke mana?"

"Ada kafe tidak jauh dari sini."

"Kita bisa duduk sebentar sambil minum es kopi."

"Sekadar mendinginkan pikiran sebelum Ibu pulang."

Aurel terdiam beberapa detik. Sebenarnya ia ingin langsung pulang. Namun kepalanya terasa penuh. Ia membutuhkan waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum kembali menghadapi rutinitas.

"Baik." Jawab Aurel akhirnya.

Kafe yang dipilih Arya tidak terlalu ramai. Tempatnya sederhana, dengan pencahayaan hangat dan alunan musik pelan.

Mereka memilih duduk di sudut ruangan yang cukup tenang.

"Ibu mau pesan apa?" Tanya Arya sambil melihat menu.

"Es kopi susu saja."

"Sama." kata Arya ke pelayan.

Setelah pesanan datang, Aurel menggenggam gelas dingin di hadapannya. Butiran air di permukaan gelas terasa sejuk di telapak tangannya.

"Hari ini pasti berat untuk Ibu." Kata Arya pelan.

Aurel tersenyum tipis. "Lebih melelahkan daripada yang saya bayangkan."

"Saya pikir setelah saya menyampaikan keputusan dengan jelas, Mahesa akan mengerti."

"Ternyata tidak."

Arya mengangguk. "Dalam proses perceraian, penolakan seperti itu memang bisa terjadi."

"Terutama ketika salah satu pihak belum siap menerima perubahan."

Aurel mengaduk pelan minumannya. "Tapi saya sudah sangat yakin dengan keputusan ini."

"Saya tidak ingin kembali ke rumah tangga yang dibangun di atas kebohongan."

Arya menatap Aurel dengan penuh perhatian.

"Dan keyakinan itu sudah terlihat jelas dalam mediasi tadi."

"Itu akan menjadi catatan penting dalam proses selanjutnya."

Aurel mengangguk. Ia merasa sedikit lebih tenang setelah mendengar penjelasan Arya.

Pria itu tidak berusaha membujuknya untuk berdamai.

Tidak pula memaksanya untuk bersikap lunak kepada Mahesa.

Arya hanya menjelaskan proses hukum dengan tenang dan profesional.

Beberapa saat mereka menikmati minuman masing-masing.

Suasana yang tadinya tegang perlahan menjadi lebih ringan.

Aurel mulai merasa nyaman berbicara dengan Arya.

"Pak Arya sudah lama menjadi pengacara?" Tanya Aurel.

"Kurang lebih sepuluh tahun."

"Awalnya saya bergabung dengan firma ini sebagai associate."

"Lalu beberapa tahun kemudian dipercaya memimpin."

Aurel tampak kagum. "Berarti Bapak masih muda sekali untuk posisi itu."

Arya tersenyum kecil. "Mungkin karena saya mulai bekerja cukup cepat."

Aurel mengangguk. "Kemarin saya sempat mengira Bapak sudah berumur."

Arya tertawa pelan. "Saya sudah mendengar pengakuan itu dari Najwa."

Aurel langsung tersipu malu. "Aduh... Najwa memang suka begitu."

"Tidak apa-apa."

"Saya anggap itu berarti saya terlihat cukup berwibawa."

Aurel ikut tertawa kecil. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa tertawa tanpa merasa bersalah.

Obrolan mereka berlanjut ke hal-hal ringan. Tentang pekerjaan. Tentang rutinitas sehari-hari. Tentang bagaimana Arya sering menghabiskan waktu luangnya dengan membaca atau berolahraga.

Hingga tanpa sengaja, Aurel bertanya, "Keluarga Bapak tinggal di sini juga?"

Arya menggeleng pelan. "Orang tua saya tinggal di luar kota."

"Kalau keluarga inti Bapak?"

Arya tersenyum tipis. "Belum ada."

Aurel sedikit bingung. "Maksudnya?"

"Saya masih single." Jawaban Arya membuat Aurel terdiam sejenak.

Entah mengapa, Aurel merasa sedikit malu. Bukan karena jawaban Arya. Melainkan karena baru menyadari bahwa pria yang duduk di hadapannya ternyata belum menikah.

"Oh." Ucap Aurel singkat sambil menunduk menyesap minumannya.

Arya tampak menyadari perubahan ekspresi Aurel.

"Kenapa?" tanya Arya.

"Tidak apa-apa."

"Saya hanya baru tahu."

Arya tersenyum ringan. "Pekerjaan cukup menyita waktu."

"Jadi sampai sekarang saya belum menemukan pasangan yang tepat."

Aurel mengangguk pelan. Dalam hati, ia merasa sedikit heran. Arya terlihat mapan, dewasa, dan memiliki pembawaan yang baik. Namun ia memilih menyimpan keheranan itu untuk dirinya sendiri.

Arya kemudian kembali mengalihkan pembicaraan.

"Baik, Bu Aurel."

"Untuk proses selanjutnya, kita akan menunggu jadwal sidang berikutnya."

"Saya akan terus mengabari perkembangan perkara ini." kata Arya.

"Terima kasih, Pak Arya." jawab Aurel.

"Sama-sama."

Aurel menatap sisa es kopi di gelasnya. Rasa dingin minuman itu sedikit membantu menenangkan pikirannya. Hari itu memang tidak berjalan sesuai harapannya. Mediasi gagal. Mahesa tetap menolak bercerai. Namun setidaknya, Aurel pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan. Dan tanpa ia sadari, pertemuan sederhana di sebuah kafe itu menjadi awal dari pengenalan yang lebih jauh antara dirinya dan Arya Aditia.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!