Malam itu, semuanya berubah. Kegelapan yang seharusnya membaw kedamaian, justru menjadi saksi bisu atas kekerasan yang tak terkatakan.
Indira perempuan malang. Dia harus kehilangan kehormatannya yang di renggut paksa dari seseorang yang tidak di kenalinya. Hidupnya berubah drastis setelah mengalami musibah itu, dia di usir sama tetangganya karena tidak mau nama baik lingkungannya tercoreng karena keberadaannya.
Angksa Bagaskara. Harus memilih antara menerima perjodohan dari orang tuanya atau di coret dari hak waris keluarganya.
Simak ceritanya yu jangan sampai ketinggalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Memberi Ancaman
Indira terdiam jantungnya berdegup kencang mendengar ucapan wanita yang lagi memeluknya, pikirannya tiba-tiba blank tidak bisa mencerna apa maksud dari ucapannya barusan? Ucapan maaf dan menyuruh dirinya untuk menikah dengan putranya. Indira terhenyak dia langsung melepaskan pelukannya, dia menyadari maksud dari semua ucapan wanita di depannya.
Nyonya Aura memandangi wajah cantik perempuan di depannya sisa air mata masih membekas di kedua pipinya tatapannya terlihat begitu sendu, beliau tersenyum kecil mengulurkan tangannya dan mengelus pipi mulus Indira dengan sangat lembut. Nyonya Aura tersenyum hambar saat perempuan di depannya malah membelakanginya, beliau tidak marah karena, Nyonya Aura tau betul apa yang di rasakan Indira saat ini.
Indira berdiri membelakangi, Nyonya Aura tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia tidak suka dengan tatapan, Nyonya Aura padanya tatapan seseorang yang menatapnya penuh dengan kasian, Indira tidak mungkin menyalahkan seseorang atas kesalahan yang tidak di perbuat tapi mau bagaimana lagi menyuruh dirinya untuk menikah dengan putranya jelas dirinya tidak mau.
"Atas nama anak saya, saya bener-bener minta maaf karena dia sudah membuat hidupmu hancur. Nak, itu sebabnya saya sangat memohon padamu terimalah pertanggung jawaban dari anak saya," ucap, Nyonya Aura mendekati Indira.
"Saya tidak bisa, saya tidak mau menikah sama laki-laki yang enggak saya cintai." jawab Indira membalas tatapan, Nyonya Aura.
"Saya tau, kamu tidak mencintai anak saya, tapi biar bagaimanapun dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat sama kamu. Karena dialah orang pertama yang sudah merenggut kebahagiaan kamu, jadi saya enggak mungkin membiarkannya dia lepas dari tanggung jawabnya," Nyonya Aura menggenggam tangan Indira.
"Saya enggak butuh tanggung jawab darinya, jadi kalian tidak perlu repot-repot meminta saya menerima permintaan kalian," sahut Indira menarik tangannya dari genggaman, Nyonya Aura.
"Saya enggak peduli dengan penolakan kamu Indira, mohon maaf saya harus memaksa kamu. Bersiaplah karena sebentar lagi akan ada MUA yang mau meriasmu." Nyonya Aura menajamkan tatapannya.
"Saya...."
"Sudah saya katakan, saya tidak terima penolakan kamu jadi bersiaplah." Nyonya Aura memotong ucapan Indira begitu saja.
Nyonya Aura meninggalkan Indira, beliau terpaksa harus memaksa Indira, agar perempuan itu mau menikah dengan putranya. Biar bagaimana pun Angkasa bersalah dan sudah seharuanya putranya itu yang menjadi suami untuk Indira.
Akh!!!
Indira berteriak keras dia mengeluarkan semua kekesalannya tidak mengerti pemikiran semua orang-orang di sekitarnya, dia merasa kalau tidak ada satu orang pun yang mengerti soal keadaan dirinya. Dan sekarang di tambah dua orang yang tidak di kenalinya kini memaksa dirinya untuk menerima pernikahan yang sama sekali tidak di inginkan, Indira terduduk di lantai mengacak-acak hijabnya dia merasa kini beben hidupnya semakin bertambah.
"Kenapa mereka harus memaksa aku untuk menerima pernikahan ini! Sedangkan aku tidak mencintai laki-laki brengsek itu! Sunggu aku sangat membencinya. Sangat membencinya! Gara-gara dia hidupku sekarang hancur!" Indira menangis menelungkupkan kepalanya di kedua kakinya.
Di luar, Nyonya Aura masih berdiri di depan pintu beliau menghela nafasnya beliau merasa menjadi wanita yang egois karena tidak mengerti perasaan orang lain, di sisi lain beliau merasa sangat bersalah tapi tidak ada pilihan lain demi kebaikan Indira.
"Maafkan tante, tante terpaksa harus memaksamu ini semua demi kebaikan kamu Indira. Karena putra tante yang sudah mengambil kesucian kamu," ucap, Nyonya Aura mengusap air matanya.
****
"Angkasa, kamu harus menemui keluarga, Indira. Karena mereka harus menjadi wali untuk pernikahan putrinya," ucap nyonya Aura melihat putranya.
"Semuanya sudah beres, Mah, kita tinggal menunggu perempuan itu menerima pernikahan ini." sahut Angkasa.
"Benarkah? Memangnya kamu sudah menemui mereka?" tanya, Nyonya Aura tidak percaya.
"Iya." jawab Angkasa berdiri dari duduknya membelakangi ibunya.
"Sebelum aku menemui perempuan itu, aku lebih dulu mendatangi rumahnya," Angkasa melanjutkan ucapannya.
"Terus gimana? Apa mereka setuju?" Nyonya Aura kembali bertanya beliau tidak sabaran mendengar jawaban putranya.
Angkasa menganggukan kepalanya. Satu jam yang lalu saat mendapatkan kabar dari anak buahnya yang sudah berhasil membawa Indira, Angkasa dan Candra bergegas mendatangi rumah orang tua Indira, dia meminta agar keduanya mau menjadi wali di pernikahan dirinya dan juga Indira. Mungkin, Allah, lagi berpihak padanya saat dirinya datang ternyata ada beberapa orang mengusir kedua orang tua Indira, dari rumah kontrakannya dan Angkasa menjadikan itu kesempatan untuk dirinya agar mereka berdua menyetujuinya.
"Nak, terimakasih karena kamu sudah mau menolong kami," ucap, Bu Sukma melihat Angkasa dan Candra.
"Tidak masalah, anggap saja itu sebagai mahar saya untuk putri kalian," jawab Angkasa dengan tatapan tajamnya.
"Maksud kamu apa? Mahar? Mahar apa yang kamu maksud saya tidak mengerti?" tanya, pak Harry menegakkan badannya.
"Ya, saya mau bertanggung jawab atas yang terjadi sama putri kalian dan saya mau menikahinya." jawaban Angkasa membuat kedua orang tua Indira terperanjat kaget.
Pak Harry dan Bu Sukma, mereka saling berpandangan satu sama lain masih bingung sama apa yang di katakan laki-laki di depannya itu, Bu Sukma menutup mulutnya menyadari ucapan laki-laki di depannya sedangkan, Pak Harry mengeraskan rahangnya tangannya terkepal kuat melihat Angkasa.
Bug!
Bug!
Tanpa aba-aba, Pak Harry berdiri dari duduknya dan menarik kemeja Angkasa, beliau memberi pukulan di wajah Angkasa dengan membabi buta setelah mengetahui kalau, Angkasa yang sudah mengambil kesucian putrinya.
Angkasa yang mendapatkan serangan mendadak tidak bisa menghindari pukulan, Pak Harry bahkan dia membiarkan, Pak Harry memukuli dirinya tanpa mau melawannya dia memahami kemarahannya.
Candra, yang melihat tuan mudanya di hajar habis-habisan langsung bergerak mau membantunya, tapi Angkasa mengangkat tangannya agar dirinya tidak ikut campur. Candra mengurungkan niatnya untuk memisahkan pak Harry, sedangkan, Bu Sukma membiarkan suaminya memukuli laki-laki yang sudah membuat hidup putrinya hancur.
"Jadi kamu laki-laki brengsek itu! Kau bajingan itu! Laki-laki yang sudah menodai putri saya! Saya tidak akan membiarkan kamu hidup!" teriak, Pak Harry begitu menggelegar.
"Tuan, saya mohon hentikan! Tuan muda bisa meninggal!" Candra terpaksa menarik paksa, pak Harry.
"Saya tidak peduli!" seru pak Harry lagi.
"Tuan, tapi tuan muda tidak sengaja melakukannya, seseorang telah menjebaknya!" Candra menahan tangan pak Harry.
Setelah mendengar cerita Candra, pak Dirga dan Bu Sukma terdiam tapi mereka masih tidak terima perbuatan Angkasa terhadap putrinya.
Wajah Angkasa sudah terlihar babak belur tapi dia terlihat biasa saja seakan tidak merasakan sakit, Candra meringis melihat kondisi tuan mudanya.
"Saya ingin bertanggung jawab terhadap putri kalian," ucap Angkasa.
"Tidak bisa! Saya tidak akan pernah mengizinkan putri saya menikah sama laki-laki biadab seperti kamu!" seru, Pak Harry masih dengan keputusan yang sama.
"Terserah anda pak tua, apa anda sadar perbuatan anda bisa saya laporkan sama pihak yang berwajib karena anda sudah menyerang saya, bukan cuma itu saja saya juga bisa melaporkan keluarga kalian atas kasus penipuan." ujar Angkasa memberi ancaman.
"Apa maksud kamu? Keluarga saya tidak pernah menipumu!" teriak pak Harry kembali terpancing emosi mendengar perkataan Angkasa.
Angkasa menujukan rekaman cctv kejadian waktu di hotel sama kedua orang di depannya, dia yakin dengan rekaman itu rencananya akan berhasil.
"Saya bisa melaporkan putri kalian, saya yakin dengan bukti cctv ini maka putri kalian akan di penjara dengan waktu yang sangat lama. Jadi pikirkan baik-baik ucapan saya barusan saya tunggu jawaban kalian malam ini juga, kalau tidak ada jawaban maka....," Angkasa tersenyum smirk melihat wajah marah kedua orang tua Indira.
Angkasa dan Candra langsung meninggalkan rumah orang tua Indira, Angkasa meminta Candra untuk mempersiapkan semuanya karena dirinya yakin pak Harry bakalan menyetujuinya.
"Dan aku berhasil, Mah," ujar Angkasa mengakhiri ceritanya.
"Kamu, mengancamnya sayang," Nyonya Aura berdiri menarik pundak Angkasa agar melihatnya.
"Mengancam apa, Mah?" tanya seseorang tiba-tiba.
*****
Bersambung........