NovelToon NovelToon
The Ghost Of Uchiha In One Piece

The Ghost Of Uchiha In One Piece

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Naruto / One Piece
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.

​Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.

​Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Susanoo Pertama

Geladak kapal perang utama Angkatan Laut terasa seperti kuburan massal yang mengambang di atas lautan.

Ribuan prajurit elit yang sebelumnya bersorak merayakan keadilan kini terkapar tidak bernyawa di atas lantai kayu yang retak. Senapan laras panjang berserakan tanpa tuan. Hawa membunuh yang sangat pekat dan berat masih menggantung di udara, menekan setiap molekul oksigen hingga membuat napas terasa menyakitkan.

Di tengah lautan tubuh yang pingsan itu, Laksamana Muda Onigumo berlutut dengan satu kaki.

Kedua tangannya mencengkeram erat gagang pedang yang menancap di lantai geladak. Urat-urat nadi di punggung tangannya menonjol keluar seperti cacing yang meronta di bawah kulit. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya, membasahi wajah kasarnya dan menetes jatuh ke atas genangan darah di bawahnya.

Onigumo menarik napas dengan suara berderak yang sangat kasar.

Paru-parunya seolah ditindih oleh jangkar kapal seberat puluhan ton. Tekanan spiritual dari Haoshoku Haki yang dilepaskan oleh pemuda berarmor merah di depannya benar-benar berada di luar batas nalar. Ini bukanlah sekadar intimidasi. Ini adalah sebuah gravitasi mutlak yang memaksa setiap jiwa di sekitarnya untuk tunduk atau hancur.

'Bagaimana ini mungkin,' batin Onigumo dengan pikiran yang kacau balau.

Mata Onigumo yang merah karena pembuluh darah yang pecah menatap ke arah depan.

Pemuda itu masih berdiri di sana. Jubah hitam dan pelindung dada merahnya berkibar pelan di tengah pusaran angin spiritual yang dia ciptakan sendiri. Tidak ada senjata di tangannya. Sabit besinya telah hancur menjadi rongsokan. Pemuda itu bahkan sedang terluka, dengan darah yang mengering di sudut bibir dan dada.

Namun, postur tubuh pemuda itu memancarkan keagungan dari seorang dewa kematian yang sedang menatap seekor serangga.

Rasa takut purba yang belum pernah Onigumo rasakan sepanjang karier militernya mulai merayap naik dari ujung kakinya, menyebar ke tulang belakang, dan mencengkeram jantungnya.

Dia telah menghadapi banyak monster di lautan Grand Line. Dia telah melihat bajak laut kejam, raksasa, dan pengguna Buah Iblis yang mengerikan. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki aura seketika membekukan jiwa seperti ini.

Ini adalah teror murni.

Sebuah suara peringatan berteriak di dalam kepala Onigumo. Insting bertahan hidup yang ditempa dari ribuan medan perang memperingatkannya bahwa jika dia terus berlutut di sini, tekanan spiritual ini akan menghancurkan organ dalamnya satu per satu tanpa perlu disentuh.

Dia akan mati konyol tanpa perlawanan.

'Keadilan tidak boleh hancur di tanganku,' teriak Onigumo di dalam hatinya, menolak untuk menyerah pada keputusasaan.

Dia adalah Laksamana Muda. Dia mewakili markas besar. Jika dia mati di sini tanpa memberikan perlawanan, nama Angkatan Laut akan menjadi bahan tertawaan di seluruh dunia. Harga dirinya sebagai seorang prajurit menolak keras kenyataan bahwa dia sedang diintimidasi oleh seorang remaja.

Onigumo menggertakkan giginya hingga mengeluarkan suara gemeretak yang keras. Gusi di dalam mulutnya berdarah akibat tekanan rahangnya sendiri.

Dia memaksakan tubuh besarnya untuk bergerak melawan arus gravitasi Haki Penakluk tersebut.

Kekuatan dari Buah Iblis Zoan laba-laba miliknya diaktifkan hingga batas maksimal. Rambut hitam panjang di belakang kepalanya kembali bergerak hidup. Enam untaian rambut yang sangat tebal merayap seperti tentakel, memungut enam bilah pedang baja yang sebelumnya jatuh ke lantai geladak.

Bersama dengan dua tangan aslinya yang memegang pedang, Onigumo kembali mempersenjatai dirinya dengan 8 pedang mematikan.

Tetapi dia tahu itu tidak cukup.

Menghadapi monster yang bisa mengeluarkan Haoshoku Haki sekuat ini, serangan biasa hanya akan menjadi lelucon. Dia harus mempertaruhkan seluruh sisa nyawanya dalam satu serangan tunggal. Sebuah serangan bunuh diri yang membuang seluruh pertahanan fisik demi mencapai daya hancur maksimal.

Onigumo memusatkan seluruh sisa energi spiritualnya.

Warna hitam pekat mulai menyelimuti kedelapan bilah pedangnya. Busoshoku Haki tingkat menengah miliknya dipadatkan hingga batas kritis, membuat pedang-pedang itu terlihat seperti potongan bayangan malam yang sangat mengilap.

Dia juga mengalirkan energi Busoshoku Haki ke seluruh otot kakinya, bersiap menggunakan teknik pergerakan tingkat tinggi.

“Aku tidak akan membiarkan kejahatan tertawa di atasku!” raung Onigumo dengan suara serak yang dipaksakan keluar dari tenggorokannya yang tercekik.

Dia mencabut kedua pedang utamanya dari lantai geladak.

“Soru.”

Satu kata itu terucap bersamaan dengan ledakan udara di bawah kaki sang Laksamana Muda. Lantai kayu jati di tempatnya berdiri hancur menjadi kawah kecil akibat daya tolak yang luar biasa brutal.

Tubuh Onigumo menghilang dari tempatnya.

Dia memaksakan teknik Soru miliknya melewati batas aman. Otot-otot kakinya merobek kulit dari dalam akibat gesekan yang terlalu cepat. Darah menyembur dari betisnya, namun dia mengabaikan rasa sakit itu sepenuhnya.

Di bawah tekanan Haoshoku Haki yang berat, pergerakan Onigumo seharusnya melambat. Tetapi dorongan adrenalin dan keputusasaan membuatnya bergerak bagaikan kilatan petir hitam.

Dia melesat dalam pola zig-zag yang sangat tidak beraturan, memantul dari dinding kabin, tiang layar, dan pagar pembatas kapal. Dia menciptakan belasan bayangan ilusi optik di udara, mengepung posisi Madara dari segala arah.

Target Onigumo hanya satu.

Leher pemuda berarmor merah itu.

Dia akan memenggal kepala sang iblis sebelum tekanan spiritual ini membunuhnya.

Di tengah badai kecepatan dan kilatan pedang hitam tersebut, Uchiha Madara berdiri mematung.

Dada Madara naik turun dengan berat. Tubuh fisik remajanya benar-benar menahan beban yang sangat menyiksa. Mengeluarkan Haoshoku Haki dalam skala besar dengan wadah tubuh yang belum sempurna memberikan efek samping yang setara dengan racun yang membakar jalur tenketsu-nya dari dalam.

Setiap otot di tubuhnya terasa berteriak meminta istirahat. Sendi-sendinya terasa kaku.

Melalui Kenbunshoku Haki miliknya, Madara bisa melihat pergerakan Onigumo dengan sangat jelas. Dia bisa melihat 8 pedang berlapis Haki Persenjataan itu mengarah dari 8 sudut yang berbeda, menutup seluruh titik buta dan jalur pelarian.

Pikiran taktis Madara membaca arah serangan itu dengan sempurna. Jika dia menggeser kaki kirinya, pedang ketiga akan memotong pinggangnya. Jika dia menunduk, pedang kelima dan keenam akan menghancurkan tengkoraknya.

Ini adalah serangan multi-arah yang dirancang untuk membunuh tanpa celah.

Dalam kondisi normal, Madara hanya perlu menggunakan teknik Shunshin untuk berpindah tempat, atau menggunakan seni Taijutsu tingkat lanjut untuk menangkis dan mematahkan lengan musuh.

Tetapi saat ini, senjata Kama miliknya telah hancur. Dia tidak memiliki benda fisik untuk menangkis 8 pedang berlapis Haki tersebut.

Dan yang paling krusial, tubuh remajanya tidak merespons perintah dari otaknya dengan cukup cepat. Kelelahan fisik telah memperlambat waktu reaksi ototnya.

'Tubuh yang sangat menyedihkan,' batin Madara dengan rasa frustrasi yang sangat dalam.

Jarak Onigumo kini tersisa kurang dari dua meter.

Wajah Laksamana Muda itu terlihat sangat buas dan putus asa. Mulutnya terbuka lebar memperlihatkan giginya yang berlumuran darah. Kedelapan pedang hitamnya siap memotong daging dan tulang Madara dalam hitungan milidetik.

Bagi siapa pun yang melihat pemandangan ini, nasib sang dewa perang sudah tamat. Tidak ada manusia yang bisa selamat dari tebasan 8 pedang Haki tanpa menggunakan senjata atau menghindar.

Namun, di detik paling kritis di mana ujung pedang Onigumo hampir menyentuh kulit leher Madara, sebuah fenomena di luar nalar manusia terjadi.

Di mata Madara, dunia mendadak melambat.

Bukan melambat karena teknik kecepatan, melainkan melambat karena persepsi waktunya ditarik paksa menjadi sangat panjang.

Debu-debu serpihan kayu yang melayang di udara tampak berhenti bergerak. Kilatan cahaya matahari yang memantul di mata pedang Onigumo terlihat membeku. Bahkan tetesan darah yang jatuh dari bibir Madara seolah menggantung di tengah udara.

Di dalam kesunyian waktu yang membeku itu, suara dentingan mekanis dari dalam jiwanya meledak dengan sangat keras.

Antarmuka layar biru transparan muncul bertumpuk-tumpuk di depan pandangan Madara. Teks berwarna putih terang mengalir dengan kecepatan gila-gilaan, merespons ancaman fatal yang sedang mendekati nyawa inangnya.

[Peringatan Kritis. Ancaman fatal terdeteksi mengarah ke titik vital.]

[Batas fisik wadah telah terlampaui. Menolak fungsi menghindar.]

[Mendeteksi fluktuasi energi spiritual tingkat tinggi dari pengguna.]

[Mengaktifkan protokol perlindungan absolut.]

[Membuka segel pertahanan spiritual terdalam.]

[Memaksa evolusi mata tahap lanjut...]

Sederet pemberitahuan itu menghilang seketika.

Tepat saat layar biru itu lenyap, sebuah rasa sakit yang luar biasa dahsyat menyengat kedua bola mata Madara.

Rasa sakit itu tidak seperti luka sayatan atau pukulan fisik. Rasa sakit itu berasal dari kedalaman saraf optiknya, seolah-olah ada sebuah tangan berapi yang mencengkeram otaknya dari dalam dan menariknya keluar melalui matanya.

Madara tidak berteriak. Dia hanya mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri.

Di dalam kedua mata hitamnya, sebuah transformasi genetik dan spiritual sedang dipaksakan terjadi.

Warna hitam kelam di iris matanya tersapu habis oleh warna merah darah yang sangat pekat dan menyala terang. Jauh lebih terang dari Sharingan biasa yang pernah dia tunjukkan sebelumnya.

Tiga tanda koma hitam, tiga Tomoe, muncul di sekitar pupil matanya.

Tiga Tomoe itu mulai berputar. Awalnya putaran itu pelan, lalu berubah menjadi sangat cepat dan liar hingga bentuk koma itu mengabur menjadi lingkaran hitam.

Putaran itu menyerap seluruh chakra khusus yang berada di dalam otak Madara.

Ini adalah momen evolusi. Momen di mana keputusasaan, kemarahan, dan energi spiritual murni menyatu menjadi satu titik fokus yang mampu mengubah struktur realitas di sekitar penggunanya.

Tiga Tomoe yang berputar liar itu tiba-tiba berhenti.

Bentuk ketiga koma itu tidak lagi terpisah. Mereka telah memanjang dan saling menyambung, membentuk tiga garis kurva hitam yang melengkung elegan dari tepi iris menuju pupil mata di tengahnya.

Sebuah pola geometris yang sangat rumit dan indah. Pola yang menjadi simbol dari kekuatan dewa dan kutukan kebutaan pada saat yang bersamaan.

Mangekyou Sharingan telah terbuka.

Tekanan pembuluh darah di sekitar saraf optik Madara mencapai batas maksimal akibat evolusi paksa dari Sistem ini.

Setetes cairan merah yang hangat mengalir keluar dari sudut mata kanan Madara. Darah segar itu menetes perlahan melewati tulang pipinya, memberikan kontras yang sangat mengerikan pada wajah remajanya yang pucat pasi.

Aroma karat besi dari darahnya sendiri menguar pelan, menyadarkan Madara dari rasa sakit yang menyiksa.

Waktu di dunia nyata kembali berdetak.

Kedelapan pedang berlapis Haki hitam milik Onigumo telah berjarak beberapa milimeter dari leher, dada, dan pinggang Madara. Hawa dingin dari logam tajam itu sudah menyentuh kulit remajanya.

Kemenangan terasa begitu dekat di tangan sang Laksamana Muda.

Namun, sebelum mata pedang itu berhasil merobek satu milimeter pun kulit Madara, sebuah suara bisikan pelan menghentikan segalanya.

“Jangan terlalu sombong, Serangga.”

Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada berteriak. Madara mendesis pelan, suaranya dipenuhi oleh rasa jijik yang sangat absolut. Suara itu keluar tepat saat darah segar menetes dari mata Mangekyou kanannya.

Ledakan terjadi.

Bukan ledakan udara atau ledakan api fisik biasa.

Sebuah ledakan api spiritual berwarna biru terang menyembur keluar dari seluruh pori-pori kulit tubuh Madara.

Api biru itu sangat padat, menyala-nyala dengan sangat buas ke segala arah. Hawa yang dipancarkan oleh api biru itu bukanlah hawa panas yang membakar kulit, melainkan hawa dingin yang membekukan jiwa. Itu adalah perwujudan fisik dari chakra yang sangat gelap dan terkonsentrasi.

Api spiritual biru itu menabrak tubuh Onigumo dan kedelapan pedangnya dengan kekuatan gaya tolak yang luar biasa besar.

Onigumo melebarkan matanya. Dia merasa seperti baru saja menabrak sebuah dinding gunung yang terbuat dari energi murni. Dorongan dari api biru itu menghentikan momentum larinya secara instan.

Tetapi fenomena itu tidak berhenti sampai di sana.

Api biru yang menyelimuti tubuh Madara mulai memadat dan membentuk sebuah struktur fisik di dunia nyata.

Cahaya biru itu membentuk lekukan-lekukan yang sangat jelas. Struktur itu mengeras dalam hitungan seperseribu detik.

Dari dalam api biru tersebut, muncul deretan tulang rusuk raksasa yang transparan. Tulang-tulang itu melengkung melindungi seluruh tubuh Madara dari segala arah. Ukuran setiap batang tulang rusuk itu lebih besar dari tubuh manusia dewasa. Di bagian belakang tulang rusuk tersebut, terbentuk sebuah struktur tulang belakang yang sangat tebal dan berduri tajam.

Ini adalah perisai absolut dari klan Uchiha. Bentuk awal dari sang dewa kehancuran.

Susanoo.

Kedelapan pedang hitam Onigumo yang diayunkan dengan seluruh sisa tenaga dan niat membunuh sang Laksamana Muda, menghantam keras permukaan tulang rusuk biru transparan tersebut.

Trang. Trang. Trang.

Suara benturan yang terjadi sangat berbeda dengan saat pedang itu beradu dengan sabit baja Madara sebelumnya.

Kali ini, tidak ada suara logam yang menahan beban. Tidak ada suara gesekan yang seimbang.

Yang ada hanyalah suara benda keras yang menghantam dinding absolut yang tidak bisa dihancurkan.

Busoshoku Haki tingkat menengah yang melapisi kedelapan pedang Onigumo tidak mampu menembus kepadatan chakra Susanoo. Energi Haki itu justru terpantul kembali ke arah asalnya akibat perbedaan kelas kekuatan spiritual yang sangat jauh.

Sebuah pemandangan yang menghancurkan seluruh logika pertarungan di lautan Grand Line terpampang dengan sangat nyata.

Pedang baja kualitas tinggi milik Angkatan Laut, yang dipegang oleh seorang perwira veteran dan dilapisi oleh Haki Persenjataan hitam, tiba-tiba mengeluarkan suara retakan yang sangat menyedihkan.

Krak. Krak. Krak.

Retakan itu menyebar dengan sangat cepat dari bagian mata pedang hingga ke gagangnya.

Dalam detik berikutnya, kedelapan pedang kebanggaan Onigumo hancur berkeping-keping secara bersamaan.

Serpihan logam hitam berhamburan ke segala arah seperti pecahan kaca yang dilemparkan ke dinding batu. Beberapa serpihan logam itu memantul dan menyayat lengan serta wajah Onigumo sendiri, meninggalkan garis-garis luka berdarah di kulit sang Laksamana Muda.

Lengan-lengan rambut laba-laba yang memegang enam pedang tambahan itu ikut terhempas mundur, sebagian rambutnya hangus terbakar oleh sentuhan api spiritual biru dari Susanoo.

Onigumo terdorong mundur beberapa langkah.

Pria besar itu kehilangan keseimbangannya dan jatuh terduduk di atas lantai geladak yang hancur. Tangannya yang masih memegang sisa gagang pedang bergetar dengan sangat hebat. Darah mengalir dari berbagai luka sayatan di tubuhnya.

Dia mendongakkan kepalanya dengan napas yang terputus-putus.

Mata Onigumo membelalak lebar, memancarkan keputusasaan dan horor yang sangat murni. Akal sehatnya menolak untuk memproses apa yang sedang berdiri di hadapannya.

Di depan sang Laksamana Muda, Uchiha Madara berdiri dengan sangat tenang.

Pemuda itu berada di dalam lindungan kurungan tulang rusuk raksasa berwarna biru terang. Api chakra masih menyala-nyala di sekitar tulang-tulang tersebut, memberikan penerangan yang sangat angker di tengah langit siang yang mendung akibat Haoshoku Haki.

Mata kanan Madara yang meneteskan darah menatap lurus ke arah Onigumo. Pola tiga kurva melengkung dari Mangekyou Sharingan berputar pelan di dalam matanya, seolah sedang menghisap sisa-sisa keberanian dari jiwa sang Laksamana Muda.

Aura iblis raksasa berwarna biru kini menaungi seluruh kapal perang Angkatan Laut.

Bayangan dari tulang rusuk raksasa itu jatuh menutupi tubuh Onigumo, membuatnya terlihat sangat kecil dan tidak berarti.

Tekanan yang diberikan oleh wujud Susanoo ini jauh melampaui tekanan Haoshoku Haki sebelumnya. Jika Haoshoku Haki membuat orang pingsan karena ketakutan, maka hawa dari Susanoo ini membuat orang merasa bahwa kematian adalah sebuah anugerah yang lebih baik daripada harus berhadapan dengan monster ini.

“A-Apa kau... manusia?” rintih Onigumo dengan suara bergetar. Keadilan absolut yang selalu dia agungkan kini hancur lebur di bawah kaki tulang biru tersebut.

Madara tidak menjawab pertanyaan bodoh itu.

Dia hanya memandang ke bawah. Hawa dingin yang mematikan menguar dari tubuhnya. Di dalam kubah tulang biru itu, Madara telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak akan pernah bisa menghentikan seorang dewa perang untuk memanggil kembali kekuatan aslinya, dan menghancurkan siapa pun yang berani mengklaim kemenangan sebelum pertarungan benar-benar berakhir.

Susanoo pertama telah bangkit di lautan ini, dan dunia tidak akan pernah sama lagi.

1
Pi Xi
aku tunggu
Pi Xi
hahahaha
Pi Xi
semangat
Pi Xi
lanjut
Pi Xi
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!