Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Telepon pertama berdering pukul 08.01.
Telepon kedua masuk sebelum resepsionis sempat menutup gagang.
Pukul 08.17, meja depan Kantor Hukum Adiwangsa sudah berubah menjadi posko kecil.
"Pak Alexander, ada direktur HR dari perusahaan logistik minta konsultasi."
"Catat."
"Ada serikat pekerja gudang dari Kota Pelabuhan."
"Catat."
"Ada ibu-ibu dari luar kota, katanya anaknya ditahan karena salah orang. Dia menangis."
Alexander berhenti menandai berkas.
"Sambungkan ke saya setelah ini."
Gunawan Kusuma, yang berdiri di pintu ruang kerja, langsung menatapnya.
"Kau belum menyelesaikan daftar klien korporat."
"Saya tahu, Pak."
"Honor mereka besar."
"Saya juga tahu."
"Dan kantor ini bukan lembaga amal."
Alexander mengangkat kepala. "Tapi kalau orang salah ditahan, dia tidak boleh menunggu sampai perusahaan besar selesai minum kopi."
Resepsionis di depan pura-pura tidak mendengar.
Gunawan diam beberapa detik, lalu meletakkan satu map tebal di meja Alexander.
"Bagus. Berarti mulai hari ini kau belajar mengatur waktu, bukan memilih mati heroik setiap pagi."
Map itu berisi daftar calon klien baru.
Ada perusahaan tambang yang meminta pendapat hukum kontrak.
Ada jaringan restoran yang ingin menghindari sengketa pekerja.
Ada pengembang properti yang menulis honor awal dengan angka yang dulu membuat Alexander memikirkan harga rumah.
Dan di bagian bawah, ada tiga catatan kecil dari resepsionis: buruh gudang, keluarga tahanan salah tangkap, pedagang kaki lima yang digusur tanpa surat peringatan.
Alexander mengambil spidol merah.
Ia membagi kertas itu menjadi dua kolom.
Korporat.
Darurat.
Gunawan menyipitkan mata. "Kau menamai kolomnya begitu?"
"Supaya saya ingat mana yang bisa menjadwalkan ulang dan mana yang hidupnya sedang jatuh hari ini."
"Kau sadar klien korporat bisa membayar gaji staf?"
"Sadar."
"Kau juga sadar kasus kecil bisa menghabiskan energi tanpa membayar sepadan?"
"Sadar."
Gunawan menarik kursi, duduk, lalu menatapnya seperti sedang menguji saksi.
"Lalu rencanamu?"
"Pagi untuk konsultasi yang sudah terjadwal. Siang dua jam untuk kasus darurat yang tidak mampu bayar penuh. Sore untuk rapat berbayar. Malam untuk berkas."
"Tidur?"
Alexander berhenti.
Gunawan mengetuk meja.
"Masukkan tidur."
Alexander menulis di bagian paling bawah: tidur minimal empat jam.
Gunawan membaca tulisan itu, lalu menghela napas.
"Enam."
"Pak."
"Lima setengah, dan kau jangan tawar seperti pedagang pasar."
Alexander mengubah angka itu.
Siang harinya, setelah menerima dua perusahaan dan satu serikat pekerja, ia pergi ke sekolah Nathan.
Nathan sedang berdiri di depan ruang tata usaha dengan seragam yang sudah terlalu pendek di pergelangan tangan.
"Bang Alex?" Nathan kaget. "Kamu ngapain ke sini?"
Alexander mengangkat amplop pembayaran.
"Membayar utang yang terlalu lama duduk di meja orang lain."
Wajah Nathan berubah.
"SPP?"
"Lunas."
"Semua?"
"Semua tunggakan. Termasuk biaya ujian."
Nathan menatap amplop itu seperti benda asing.
"Kita punya uang sebanyak itu?"
"Belum banyak. Tapi cukup untuk membuat kamu tidak dipanggil tata usaha setiap bulan."
Nathan menunduk cepat. Ia pura-pura mengikat tali sepatu, padahal sepatunya tidak lepas.
Alexander membiarkannya.
Beberapa kemenangan tidak perlu ditonton terlalu dekat.
Ketika mereka keluar dari sekolah, Herlina menelepon. Suaranya lebih ringan daripada minggu-minggu sebelumnya.
"Tadi tata usaha mengabari Ibu."
"Mereka cepat sekali."
"Kamu juga cepat sekali kalau menyembunyikan sesuatu dari Ibu."
Alexander tersenyum. "Bukan menyembunyikan. Mau memberi kabar setelah selesai."
"Alex."
"Ya, Bu?"
"Terima kasih."
Dua kata itu membuat langkahnya berhenti di trotoar.
Herlina jarang mengucapkan terima kasih untuk hal yang seharusnya ia terima sebagai ibu. Selama ini ia lebih sering meminta maaf karena tidak bisa memberi cukup.
"Bu, ini baru awal."
"Ibu tahu. Karena itu Ibu tidak akan berhenti menjahit hari ini."
"Bu."
"Tenang. Sedikit saja. Kali ini bukan karena takut tidak makan. Hanya karena Ibu tidak suka diam."
Nathan, yang berjalan di samping Alexander, berbisik, "Kali ini biarkan."
Alexander menatap adiknya.
Anak itu sekarang berani memberi nasihat.
Sore itu, kantor menerima tamu yang berbeda.
Pria itu datang dengan jas mahal, arloji tipis, dan dua asisten yang membawa koper dokumen. Ia memperkenalkan diri sebagai perwakilan sebuah grup investasi transportasi.
"Kami mengikuti perkara MakanYuk," katanya. "Kemampuan Saudara Alexander mengelola isu pekerja platform sangat menarik bagi kami."
Gunawan tidak ikut bicara. Ia membiarkan Alexander memimpin pertemuan.
Pria itu meletakkan proposal honor di atas meja.
Angkanya cukup untuk membayar kontrakan keluarga Alexander setahun penuh, sekolah Nathan, dan biaya hidup Herlina tanpa mesin jahit.
"Kami ingin Saudara membantu menyusun strategi hukum untuk menghadapi keluhan para mitra pengemudi kami," kata pria itu. "Perkaranya tidak besar. Kami hanya ingin memastikan mereka tidak bisa menggabungkan tuntutan seperti MakanYuk."
Alexander tidak menyentuh proposal itu.
"Keluhan mereka soal apa?"
"Hal-hal biasa. Insentif berubah, akses kerja dinonaktifkan, beberapa kecelakaan kerja. Mereka terlalu emosional."
"Apakah ada dokumen perlindungan risiko?"
Pria itu tersenyum. "Itu yang kami ingin Saudara bantu rapikan."
"Rapikan ke depan atau rapikan ke belakang?"
Senyum pria itu berkurang satu garis.
"Saudara Alexander, dunia bisnis membutuhkan kepastian. Kalau setiap pengemudi bisa menggugat, inovasi akan mati."
"Kalau setiap perusahaan bisa mengalihkan risiko begitu saja, manusia yang mati."
Ruangan menjadi sangat tenang.
Asisten pria itu menatap Gunawan, mungkin mencari orang yang lebih tua dan lebih bisa diajak menghitung.
Gunawan hanya meminum tehnya.
Pria itu mendorong proposal lebih dekat.
"Angka ini masih bisa naik."
Alexander akhirnya mengambil proposal itu.
Ia menutupnya.
Lalu mengembalikannya.
"Kantor kami bisa membantu perusahaan membangun kepatuhan hukum yang benar. Kami bisa mengaudit kontrak, memperbaiki perlindungan, dan mencegah sengketa dengan cara yang sah. Tetapi kami tidak akan membantu menyusun cara agar pekerja yang lemah tidak bisa bersuara."
Wajah pria itu dingin.
"Saudara tahu berapa banyak kantor hukum yang bersedia menerima kami?"
"Saya tahu."
"Lalu mengapa menolak?"
Alexander berdiri.
"Karena saya baru memenangkan perkara yang mengajarkan satu hal kepada kota ini: kata-kata indah di kontrak tidak boleh menjadi tempat bersembunyi. Saya tidak akan menjual pelajaran itu sore ini."
Pria itu mengambil proposalnya kembali.
Pertemuan selesai kurang dari sepuluh menit setelah itu.
Begitu pintu tertutup, Gunawan berkata, "Itu honor terbesar yang datang ke meja ini minggu ini."
"Saya tahu."
"Kau menolaknya tanpa minta pendapat saya."
Alexander menegang. "Maaf, Pak. Kalau Bapak menilai saya melewati batas..."
"Saya menilai kau baru saja menghemat waktu saya."
Alexander menoleh.
Gunawan meletakkan cangkir teh.
"Kalau kantor ini menerima perkara seperti itu, kau akan pergi. Kalau kau pergi, saya harus mencari anak muda keras kepala lain. Merepotkan."
Untuk pertama kali hari itu, Alexander tertawa.
Panel Status menyala.
Ting!
Misi lanjutan: menjaga arah setelah kemenangan besar, selesai.
Level meningkat: Lv16 Advokat Pemula.
Malamnya, Alexander membawa tanda terima SPP Nathan pulang.
Kos lama mereka masih sempit, tetapi di meja kecil sudah ada brosur kontrakan sederhana yang Herlina kumpulkan diam-diam. Tidak mewah. Hanya dua kamar, ventilasi lebih baik, dan jarak yang tidak terlalu jauh dari sekolah Nathan.
"Kita lihat akhir bulan," kata Alexander.
Nathan memegang tanda terima SPP seperti sertifikat juara.
"Bang, nanti kalau pindah, aku boleh punya meja belajar sendiri?"
"Boleh."
"Yang tidak goyang?"
"Yang tidak goyang."
Herlina menunduk, pura-pura merapikan benang.
Alexander tahu ia sedang menahan air mata.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari kantor:
Undangan acara networking hukum Kota Cahaya besok malam. Pak Gunawan meminta Bapak hadir sebagai Advokat Tetap KH Adiwangsa.
Di bawah pesan itu, ada daftar tamu sementara.
Nama kelima membuat jari Alexander berhenti.
Priscilla Salim.
Nathan melihat wajah kakaknya.
"Ada apa?"
Alexander mengunci layar.
"Wajah lama."
Ia memasukkan tanda terima SPP ke map keluarga, tepat di samping lencana Herman Wijaya.
Kemenangan membuat pintu besar terbuka.
Ternyata beberapa pintu lama juga ikut terbuka.