NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUNGAN

Menjelang sore hari, setelah jam perkuliahan usai, Alex, Rey, dan Billy menunggu di area parkir kampus yang mulai sepi. Matahari perlahan turun ke arah barat, menyisakan cahaya kemerahan yang menyinari deretan kendaraan yang masih tersisa. Mereka bertiga berdiri di tempat yang agak tersembunyi, matanya terus meneliti setiap arah jalan, berharap segera melihat sosok Joe muncul dari kerumunan mahasiswa yang pulang. Niat mereka sungguh-sungguh — ingin membalas perlakuan Joe di kelas tadi siang, yang menurut mereka adalah penghinaan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Namun waktu berlalu cukup lama, dan Joe belum juga terlihat. Kesabaran mereka perlahan menipis. Billy mulai gelisah sambil memandangi jam di pergelangan tangannya.

"Bagaimana ini, Lex? Si Joe itu sepertinya tidak akan muncul. Kakiku sudah terasa pegal menunggu terlalu lama di sini tanpa hasil," keluh Billy sambil menghentakkan kakinya pelan ke tanah.

Rey menyandarkan tubuhnya ke tembok pembatas sambil tertawa meremehkan. "Menurutku, dia tidak berani menghadapi kita bertiga. Apalagi kalau dia tahu siapa sebenarnya keluarga dan latar belakang kita — pasti dia sudah lari ketakutan jauh-jauh tanpa berani menampakkan wajahnya lagi di kampus ini."

Sementara itu, Alex berdiri tegak sambil terus memandangi setiap mahasiswa yang melintas di kejauhan. Wajahnya masih tampak kesal dan penuh amarah yang belum tersalurkan.

"Diam saja kalian berdua," tegur Alex singkat. "Aku belum merasa puas kalau belum memberinya pelajaran yang pantas. Jadi tunggu saja sampai dia muncul — aku pastikan dia tidak akan berani bersikap lancang lagi setelah ini."

Tiba-tiba, mata Billy menyipit melihat seseorang berjalan santai menuju arah parkir tempat mereka berdiri. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, seakan tidak ada beban sedikit pun di pundaknya.

"Itu dia si Joe, Lex! Cepat, mari kita beri pelajaran kepada bocah itu!" seru Billy sambil menunjuk ke arah pemuda yang baru saja ia kenali.

Alex langsung tersenyum lebar penuh ancaman. "Ayo, kita bergerak sekarang!" ajaknya kepada kedua temannya dengan suara tegas.

Mereka bertiga segera berjalan cepat mendekati Joe yang sedang berjalan sendirian. Joe tampak santai, seakan tidak menyadari bahwa ada tiga orang yang sedang menunggunya dengan niat buruk. Saat mereka sudah cukup dekat, Alex berdiri menghalangi jalan Joe sambil tersenyum sinis.

"Hei, bocah. Aku kira kau sudah kabur takut menghadapi kami. Ternyata kau juga punya nyali untuk tetap muncul di sini," ucap Alex dengan nada merendahkan.

Joe berhenti berjalan, menatap mereka bertiga dengan tenang tanpa sedikit pun terlihat takut.

"Aku tidak punya banyak waktu untuk dibuang-buang," jawab Joe dengan suara yang tetap datar. "Kalau memang kalian ingin menyelesaikan masalah ini, ikutlah ke gudang tua di belakang gedung utama. Di sana sepi, tidak ada orang yang akan melihat atau mengganggu kita."

Billy tertawa keras mendengar tantangan itu. "Wah, dia justru menantang kita duluan! Cepatlah berjalan, biar kita urus urusanmu di sana sekaligus sampai selesai!"

Alex yang merasa ditantang dan tidak dihargai langsung melangkah cepat tanpa menunggu lebih lama. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hendak memukul wajah Joe dengan keras seketika. Namun Joe tidak panik — ia segera menundukkan kepalanya dengan gerakan cepat, lalu dengan tenang melayangkan kepalan tangannya kuat ke arah rusuk samping tubuh Alex.

Alex sama sekali tidak menyangka serangan balasan itu datang begitu cepat. Ia tersentak hebat, tubuhnya terhuyung mundur sambil memegangi bagian rusuknya yang terasa sakit sekali. Napasnya menjadi berat dan terputus-putus karena rasa nyeri yang tajam.

"Brengsek! Pukulanmu ternyata cukup keras juga. Kau ternyata biasa bertinju ya?" ucap Alex sambil meringis menahan sakit, wajahnya memerah bukan hanya karena marah melainkan juga karena rasa sakit yang luar biasa.

Melihat Alex dipukul dan mundur, Rey dan Billy serentak maju bersama-sama untuk mengeroyok Joe dari dua arah. Rey mengayunkan tangannya kuat ke arah wajah Joe, sementara Billy berusaha menendang bagian perutnya agar ia jatuh. Namun Joe ternyata jauh lebih lincah dari yang mereka kira — ia dengan tenang menghindari kedua serangan itu hampir di saat yang bersamaan. Tanpa memberi mereka kesempatan untuk menyerang lagi, Joe langsung memukul rahang Rey dengan satu pukulan yang keras dan tepat, lalu segera menendang dengan kuat ke bagian tulang kering kaki kanan Billy.

Rey langsung terhuyung dan jatuh terduduk karena rasa sakit yang menjalar dari rahangnya hingga ke kepala. Billy pun tidak jauh berbeda — ia mengerang kesakitan sambil memegangi kakinya yang ditendang begitu keras hingga terasa mati rasa.

"Arrrggghh! Anjing! Dasar bajingan kau!" teriak Billy dengan suara penuh kemarahan meski masih meringis menahan sakit. "Kali ini kau memang lolos, tapi jangan pernah berharap kau akan aman di kemudian hari! Kami tidak akan membiarkan hal ini berakhir di sini!"

Tiba-tiba, Joe justru mengulurkan tangannya dengan sopan untuk membantu Billy berdiri. Wajahnya tidak lagi menantang, melainkan tampak serius namun tidak bermusuhan.

"Aku sebenarnya tidak bermaksud mencari musuh dengan siapa pun," ucap Joe dengan nada tenang. "Aku hanya ingin kalian mengerti — jangan semena-mena menindas mahasiswa lain di kelas. Maafkan aku karena harus melakukan ini kepada kalian. Tapi kumohon, jangan memaksaku melakukan hal yang sama lagi di kemudian hari."

"Diam saja kau, bajingan!" bentak Alex dengan nada yang masih penuh kebencian meski tubuhnya masih terasa sakit sekali. "Sampai kapan pun aku tidak akan mau diperintah atau dinasihati oleh orang sepertimu! Kau harus berhati-hati di mana pun kau berada!"

"Itu sepenuhnya hakmu untuk berpikir begitu. Aku hanya menyampaikan apa yang perlu kukatakan," jawab Joe dengan sikap yang seakan tidak peduli lagi dengan ancaman mereka. Setelah berkata demikian, ia berbalik perlahan dan pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih duduk menahan rasa sakit di tempat itu.

Alex menatap punggung Joe yang menjauh dengan wajah penuh kemarahan dan rasa malu yang mendalam. "Brengsek! Sepanjang hidupku belum pernah aku diperlakukan seperti ini oleh siapa pun. Tunggu saja, Joe — aku pasti akan membalas ini dan membuatmu menyesal telah berani melukai kami!"

Billy yang sudah mulai bisa berdiri mengusap debu di bajunya sambil berpikir sejenak. "Lebih baik kita bicarakan hal ini nanti saat berkumpul di pesta rumah Rey hari Sabtu, Lex. Lagipula kalau kita membalasnya sekarang juga, takutnya orang tua kita mengetahui keributan ini dan urusan bisnis mereka akan terganggu. Kita harus berhati-hati."

Rey pun setuju dengan pendapat itu sambil mengusap rahangnya yang masih terasa nyeri. "Benar kata Billy. Mungkin malam ini kita pergi saja ke klub milik keluargamu untuk menenangkan pikiran, Bil. Aku butuh tempat yang nyaman setelah dipermalukan begini."

"Setuju," jawab Billy. "Di sana orang-orang kepercayaan ayahku yang akan mengurus segalanya. Sekalian kita cari tahu siapa sebenarnya Joe itu — di mana tinggalnya, keluarganya siapa, dan apa saja yang ia miliki. Kita harus tahu segalanya sebelum bertindak lebih jauh."

Alex dan Rey mengangguk setuju. Tanpa berkata-kata lagi, mereka bertiga pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing — membawa rasa sakit sekaligus dendam yang baru saja tumbuh, sambil menantikan pertemuan mereka kembali nanti malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!