setiap hari aku harus melihat pemandangan yang tak mengenakkan mataku. ya melihat suamiku mesra-measraan dengan wanita lain. kalau dibilang orang ketiga sebenarnya akulah yang orang ketiga, karna aku masuk dan mengacau hubungan mereka.
tetapi posisiku disini adalah istri sahnya bagas, ya meskipun pernikahan kami terjadi karna perjodohan. tapi setidaknya dia menghargaiku layaknya seorang istri bukan.? entahlah aku sendiri juga bingung, sebenarnya bagas menganggapku seorang istri atau tidak karna selama ini bagas selalu bersikap dingin terhadapku. atau jangan-jangan dia menganggapku hanya sebuah bayangan saja, bayangan yang tak pernah ia lihat. menyedihkan sekali diriku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aprilia frahesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menginap
setelah sampai dirumah mertuaku, aku segera menuju kamar. aku segera membereskan semua barang-barangku.
"sudah kan, ayo kita pulang sekarang"
aku hanya bisa mengikuti bagas dari belakang.
"ma, kami pamit pulang kesurabaya ya"
"apa kalian tidak menginap barang sehari lagi nak"
"tidak bisa ma, raisa hanya ambil cuti selama dua hari"
"baiklah, kalau begitu kalian hati-hati ya. kalian berdua yang akur, jangan berantem-berantem, trus cepat kasih mama cucu yang lucu. mama berharap hubungan kalian bisa langgeng sampai ajal memisahkan kalian"
"iya ma, kami pamit dulu" ucap bagas sembari mencium tangan mama.
"mama sehat-sehat ya ma, kalau ada waktu luang aku dan bagas akan sering kemari mengunjungi mama" ucapku setelah mencium tangan beliau.
"iya nduk, kamu juga jaga kesehatan ya"
"iya ma, raisa pamit ma. asalamualaikum"
"walikumsalam"
aku segera masuk kedalam mobil dan bagas pun segera melajukan mobilnya. sepanjang perjalanan kami lagi-lagi hanya saling terdiam. hingga akhirnya bagas terlebih dulu membuka pembicaraan.
"kamu dengar sendirikan pesan mama tadi apa"
"pesan yang mana.?"
"mama ingin kita terus bersama, maka dari itu sekarang aku sudah memutuskan. kalau aku tidak akan menceraikanmu"
"kamu jangan egois bagas"
"aku tidak egois, aku hanya ingin membahagiakan mama. memangnya salah jika seorang anak membahagiakan orang tuanya"
"niatmu memang bagus, tidak ada yang salah dengan niatmu. tapi kenapa kamu tidak bisa sedikit saja memikirkan persaanku bagas. aku ini hanya manusia biasa, aku juga punya batas kesabaran bagas."
"lalu kamu mau apa raisa.? kamu mau aku menganggapmu sebagai istriku"
"tapi faktanya aku memang istrimu gas"
"lalu kamu ingin aku memperlakukanmu seperti aku memperlakukan farah.?"
"kalau iya kenapa. bukannya sudah menjadi tugasmu untuk berlaku adil kepada kami berdua"
"jangan mimpi raisa" ketus bagas.
"kalau kamu tidak bisa memperlakukan kami secara adil, lebih baik kita pisah saja"
"aku tidak mau pisah"
"lalu untuk apa kita mempertahankan ini semua gas.? apa belum puas kamu menyiksa perasaanku"
"aku tidak menyiksamu, kamu sendiri yang telah menjerumuskan diri dalam kehidupanku. maka sekarang nikmatilah"
aku hanya bisa diam mendengar penuturan bagas. aku tidak ingin berdebat dengannya lagi. sebenarnya rasanya ingin sekali aku memakinya sampai aku kehabisan kata-kata dan sampai aku tak punya apa-apa lagi untuk kuungkapkan.
aku melihat kesamping kearah jendela mobil. kupandangi langit yang mendung dalam hati aku berkata lirih "Tuhan, jika luka ini akan menyembuhkanku lagi, maka biarkan aku terluka sedalam-dalamnya Tuhan. aku akan ikhlas menerimanya"
air mataku masih saja setia jatuh membasahi pipiku. suara isakanku memenuhi mobil itu dan memecah kesunyian diantara kami. bagas apa salahku kepadamu.? kenapa kamu setega ini kepadaku.? ya pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berlarian dikepalaku.
**********
setelah kejadian itu entah mengapa bagas selalu saja sok romantis dengan farah, dia akan selalu menempel dimanapun farah berada, aku sampai bosan melihatnya.
seperti pagi ini kami tengah asik menikmati sarapan kami. tapi kulihat bagas terus saja menempel pada farah, apa dia sengaja bersikap seperti itu, karna ada aku.
dapat kulihat kalau farah mulai risih dengan tingkah manja bagas. hal itu terlihat jelas dari mimik wajahnya.
"bagas lepasin. kamu tuh kenapa sih.? kenapa jadi manja seperti ini.?"
"memangnya aku salah ya kalau aku manja kepada istriku sendiri.?"
"tidak, tapi bersikaplah normal bagas. disini juga ada istrimu yang lain"
"biarkan saja sayang, anggap saja dia tidak ada"
mendengar jawaban bagas itu membuat hatiku semakin sakit, ingin rasanya aku menangis. tapi sekuat tenaga aku tahan air mataku, aku tidak mau terlihat lemah didepan maduku.
"bagas yang sopan, bagaimanapun raisa juga istrimu"
"sudah jangan bahas dia lagi. aku ingin menyuapimu sayang"
"aku bisa makan sendiri" jawab farah dingin.
"tapi aku ingin menyuapimu sayang. aaaaa,,,,, buka mulutnya sayang"
dan dengan terpaksa farah menuruti permintaan bagas. aku benar-benar muak melihat semua ini. aku segera menenggak susuku dan ingin segera pergi dari meja makan terkutuk ini.
"sa kamu mau kemana.?"
"aku mau berangkat kerja"
"tapi sarapanmu belum habis sa, bahkan kamu baru memakannya sedikit saja"
"aku sudah kenyang far, aku pergi dulu. asalamualaikum"
"walaikumsalam, hati-hati sa"
segera kupacu mobilku ketempat diriku bekerja, sepanjang perjalanan aku masih berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mataku, aku tidak bisa menangis sekarang, dan masuk kedalam rumah sakit dengan keadaan yang memprihatinkan.
setelah sampai dirumah sakit aku segera memarkir mobilku dengan benar, dan bergegas masuk kedalam ruanganku. sesampainya disana air mataku sudah jatuh membanjiri pipiku, aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya.
"apa lebih baik aku mengontrak saja, dari pada aku tinggal disitu dan terus-terusan menyiksa diriku sendiri"
ya aku rasa aku perlu pergi dari rumah itu. aku akan mencari rumah yang dikontrakkan, aku akan meminta bantuan bunga nanti.
"pagi kak"
aku masih saja menunduk dan menyembunyikan wajahku yang masih senantiasa dihiasi oleh air mata.
"kakak kenapa.? kakak menangis lagi.? apa semua ini perbuatan suami kakak.? kurang ajar sekali dia, berani-beraninya dia membuat kakakku menangis sepanjang hari"
dapat ku dengar dari nada bicara bunga mengandung luapan emosi, aku segera menghapus air mataku.
"dek nanti bantu kakak cari rumah yang dikontrakkan ya"
"kak mau pindah.?"
"iya dek, aku benar-benar sudah tidak kuat lagi. semakin lama aku disana, maka akan semakin sakit hatiku"
"kakak tinggal saja dirumahku"
"tidak dek, kakak tidak mau merepotkanmu"
"tidak sama sekali kak. dirumahku hanya ada aku saja, kalau kakak tinggal bersamaku maka aku akan senang, dan aku akan lebih lega, karna aku bisa terus memantau keadaan kakak"
"tapi aku ingin mengontrak saja dek"
"aku tidak menerima penolakan kak. pokoknya kakak harus tinggal bersamaku, lalu kapan kakak akan pindah.?"
"lusa"
"baiklah, aku akan menunggunya. tapi malam ini aku ingin menginap dirumah kakak"
"mau ngapain dek"
"pokoknya aku ingin menginap dirumah kakak, aku ingin melihat seberapa tampan suami kurang ajar kakak, apa dia lebih tampan dari dokter brayen. bisa-bisanya dia tidak bisa menerima kakak cantikku ini, sedangkan dokter brayen yang super tampan saja begitu mencintai kakak"
"tidak perlu dek"
"aku tidak menerima penolakan kak, setelah pulang kerja aku akan ikut dengan kakak. aku sudah tidak bisa menahan diriku lagi"
aku hanya bisa pasrah menerima keputusan bunga, aku memang tidak pernah bisa membantah kemauannya, karna memang aku sangat menyayangi bunga, aku sudah menganggapnya seperti adik kandungku sendiri, begitu pula dengan bunga, dia juga sangat menyayangi diriku.
*********
"ini rumah kakak ?"
"bukan rumah kakak, tapi rumah bagas"
"kaya juga dia, memang kerja apa dia kak.?"
"CEO di sanjaya group" jawabku singkat.
"sanjaya group, awas saja kau" gumam bunga lirih namun aku masih dapat mendengarnya.
"kamu bilang apa tadi dek.?"
"ahh tidak kak, aku tidak bilang apa-apa. orang aku diam saja, kakak salah dengar mungkin"
"oh yasudah, ayo kita masuk"
aku segera menggandeng tangan bunga menuju kedalam kamarku.
"mandilah dulu, bersihkan badanmu dek"
"aku pinjam baju kakak ya"
"iya, pakailah"
karna kamar mandiku dipakai oleh bunga maka dengan sangat terpaksa aku mandi dikamar mandi bawah.
"kakak kemana saja sih, aku cariin juga.?"
"maaf dek, aku tadi mandi di kamar mandi bawah"
"aku fikir kakak kemana"
"yasudah ambil air wudhu, kita solat berjamaah"
"iya kak"
seperti biasa setelah solat aku membaca Al-Qur'an untuk menenangkan hatiku. setelah selesai aku segera menghampiri bunga yang sedang duduk diatas ranjang.
"kakak kenapa selalu cantik sih.?"
"kenapa kamu bisa bicara seperti itu dek.?"
"iya pakai jilbab ataupun tidak, kakak tetap cantik. bukan cuma cantik luarnya saja, tetapi juga cantik hatinya"
"udah pandai gombal ya sekarang"
"aku tidak ngegombal kak, memang itu kenyataannya"
entah mengapa kalau ada bunga didekatku aku selalu melupakan semua masalahku, dia membawa kebahagiaan tersendiri untukku.
"kak laper, mau makan"
"oh astaga kakak lupa dek. yasudah ayo kita masak, kamu mau makan apa.?"
"kakak mau masak untukku.?"
"iya dong. kamu mau makan apa sayang.?"
"apa ya.?" ucap bunga sembari memutar otaknya untuk berfikir.
"aku ingin sup ayam, dan perkedel kak"
"oke baiklah. ayo kita masak sekarang"
"siap kak"
aku segera mengajaknya kedapur untuk memasak makanan yang dia inginkan.
"uhh harum sekali kak, kelihatannya rasanya enak"
"itu sudah pasti, siapa dulu dong yang masak"
"iya-iya percaya deh"
"sa kamu lagi masak apa.?" tanya farah yang baru saja masuk kedapur.
"aku masak sup. kamu sudah makan.?"
"sudah, tadi pulang kerja makan sekalian. loh ini siapa sa.?"
"oh iya aku sampai lupa memperkenalkan bunga padamu. ini bunga far dia teman kerjaku, dan bunga ini farah istrinya suamiku"
"hai aku farah" ucap farah dengan mengulurkan tangannya.
"bunga" dengan sangat terpaksa bunga menjabat tangan itu.
"sudah matang belum kak.? bunga lapar sekali"
"iya sudah dek"
aku segera menuang sup yang kumasak kedalam mangkuk dan menyiapkannya dimeja makan, mengambilkan nasi untuk bunga, dan juga untuk diriku sendiri.
"kamu nggak ikut makan far.?"
"tidak sa, aku masih kenyang"
"sayang kamu ngapain disini.?"
"aku kesepian bagas, tadi aku mencari raisa dikamarnya namun tidak ada jadi aku kesini, karna aku tau raisa pasti sedang di dapur. dan aku sangat senang ternyata temannya raisa menginap disini, jadi rumah kita lebih ramai"
*"oh jadi ini suaminya kakak tampan sih, tapi gila"* gumam bunga dalam hati.
"ayo masuk kekamar. nganapain juga disini"
"tapi aku ingin mengobrol dengan raisa dan bunga gas"
"kekamar saja buang-buang waktu saja disini, nggak guna banget sayang"
"iya-iya jangan menarikku seperti ini"
dapat kulihat dari ekspresi wajah farah kalau dia kesal kepada bagas.
"raisa, bunga. aku pergi dulu ya"
"iya"
"pergisana yang jauh ya kalau perlu samudra hindia" ucab bunga ketika farah dan bagas sudah tidak terlihat lagi.
lepaskan sj bagas