Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Ancaman dari Masa Lalu Kak Anin
Malam setelah hari pertama kerja, Bima duduk bersila di lantai kamar kos.
Lampu dimatikan. Jendela dibuka sedikit agar udara bergerak. Ia menarik napas dalam hitungan teratur, menahan, lalu melepaskannya perlahan.
Aji Surya Candra bergerak mengikuti ritme itu.
Panas tipis berawal dari dada, menyebar ke bahu, perut, lalu seluruh anggota tubuh. Tenaga dalam tidak meledak seperti saat bertarung. Ia mengalir, membersihkan sisa ketegangan dan memulihkan otot yang lelah.
Setelah hampir satu jam, keringat kehitaman muncul di kulit Bima. Bau logam samar memenuhi kamar. Itu bukan racun gaib yang hilang seketika, melainkan hasil latihan panjang: metabolisme, napas, dan tenaga tubuh dipaksa bekerja lebih efisien untuk membuang sisa zat yang tidak diperlukan.
Aji Surya Candra membuat daya tahan Bima jauh di atas manusia biasa dan jarang sakit selama bertahun-tahun. Namun ilmu itu bukan obat untuk segala penyakit. Tulang yang patah tetap perlu menyatu. Luka dalam tetap memerlukan waktu. Dan dinding menuju Manunggal tidak akan runtuh hanya karena ia duduk bernapas sepanjang malam.
Bima membuka mata.
Bayangan Anindya muncul tanpa diundang. Ia masih sedikit kecewa karena tawaran kerja ditarik, meski memahami alasannya. Hubungan mereka juga belum kembali seringan sebelum insiden polisi.
Ponselnya tetap sunyi malam itu.
Keesokan pagi, justru nama Kak Anin yang membangunkannya sebelum alarm kedua.
"Bima." Suara Anindya panik. "Kamu bisa datang ke apartemen?"
Bima langsung duduk. "Apa yang terjadi?"
"Reno menghubungiku lagi. Dia menunggu di luar."
Nama mantan suami itu pernah disebut Anindya dengan nada yang lebih dingin daripada marah.
"Dia mengancam?"
"Utang judinya puluhan juta. Dia bilang kalau aku nggak membayar, dia akan membuat keributan di kantor, mengambil Sasa, bahkan menyerahkanku kepada orang-orang yang menagihnya sebagai jaminan." Napas Anindya patah. "Dia tahu Sasa sedang bersama pengasuh. Aku takut dia mencari alamatnya."
"Jangan keluar unit. Hubungi pengasuh dan pastikan Sasa tetap di dalam bersama orang dewasa. Simpan semua pesan dan rekam panggilan berikutnya. Saya datang."
"Kamu sedang kerja?"
"Belum mulai shift."
Bima menelepon pengawas Larissa, menjelaskan ada keadaan darurat keamanan yang melibatkan kenalannya, dan meminta izin datang terlambat. Ia mengirim perkiraan waktu serta menawarkan mengganti jam. Setelah izin dicatat, ia berangkat.
Di lobi Danau Utara, Doni menyambutnya dengan wajah lega.
"Bang, kabar bagus. Jarot resmi dipecat. Pengelola juga melarang dia masuk area staf tanpa izin."
"Bagus. Kalau dia datang, jangan hadapi sendiri. Hubungi pengelola dan polisi."
"Bang ke sini karena Kak Anin? Tadi ada mobil mencurigakan menunggu dekat gerbang."
Bima melihat ke luar. Sebuah mobil hitam terparkir di bahu jalan, mesinnya menyala.
"Simpan rekaman gerbang mulai sekarang."
Anindya turun beberapa menit kemudian. Ia membawa tas kerja, tetapi wajahnya pucat. Di tangannya ada cetakan tangkapan layar ancaman Reno.
"Sasa aman," katanya. "Pengasuh sudah mengunci rumah dan aku minta dia tidak menerima siapa pun."
"Kirim salinan pesan ke penyimpanan lain. Setelah ini kita buat laporan tambahan kalau Reno mengulang ancaman."
Anindya mengangguk. "Dulu aku ingin jadi putri dalam rumah tangga sendiri. Ternyata aku cuma memilih orang yang pandai berpura-pura jadi pangeran."
Bima tidak memberi kalimat penghiburan murah. Ia membuka pintu sedan putih Anindya dan memastikan area sekitar sebelum mempersilakannya masuk.
Mobil hitam di luar gerbang tiba-tiba bergerak.
Kendaraan itu memotong jalur keluar sedan dan berhenti melintang. Reno turun dari sisi pengemudi. Tubuhnya kurus, wajahnya tampak kurang tidur, dan kemeja mahal yang dikenakannya sudah kusut.
Tiga pria keluar dari pintu lain.
Yang paling depan bertubuh lebar dengan ikat pinggang kulit tebal. Dua anak buahnya membawa tongkat pendek yang disembunyikan di balik paha.
"Akhirnya keluar juga," kata Reno. "Aku telepon baik-baik, kamu malah panggil pacar satpam."
Anindya tetap di dekat mobil. "Aku tidak punya kewajiban membayar utang judimu. Nafkah Sasa saja tidak pernah kamu kirim."
"Sasa anakku juga. Aku bisa ambil kapan saja."
"Hak bertemu anak bukan hak menculik," kata Bima. "Dan ancamanmu sudah disimpan."
Reno meludah ke jalan. "Kau pikir karena bisa pukul satpam lain, kau hebat? Kenalkan, ini Bang Gopar. Orang yang kau sentuh biasanya nggak bisa kerja lagi."
Gopar maju. "Aku nggak peduli urusan rumah tangga kalian. Utang Reno harus dibayar. Perempuan itu punya gaji dan mobil."
"Tagih orang yang berutang," jawab Bima. "Bukan mantan istrinya."
"Kalau dia nggak mau bayar, kami bawa dia menemui bos. Biar bos yang menentukan cara melunasi."
Anindya memucat.
Bima berdiri di antara mereka. "Coba."
Dua anak buah Gopar bergerak bersamaan.
Pria pertama mengayunkan tongkat ke kepala. Bima masuk ke dalam jarak pukul, menangkap pergelangan, lalu mengunci siku. Tongkat jatuh. Satu dorongan bahu membuat penyerang terjerembap di kap mobil hitam.
Pria kedua menyerang dari samping. Tendangan Bima menghantam bagian luar lututnya, cukup untuk merobohkan tanpa merusak sendi. Saat pria itu jatuh, Bima menekan bahunya ke aspal dan menendang tongkat menjauh.
Semuanya selesai sebelum Reno sempat mundur.
Gopar tidak panik. Ia menurunkan posisi tubuh, kedua tangan membentuk kuda-kuda silat.
"Aku belajar dari keluarga sejak kecil," katanya. "Jangan samakan aku dengan mereka."
Ia melangkah cepat dan melepaskan pukulan lurus ke dada. Tenaganya lebih padat daripada preman biasa.
Bima menangkis dengan telapak.
Benturan pendek membuat Gopar terkejut. Sebelum ia menarik tangan, tamparan Bima mendarat di wajahnya dan memaksanya mundur tiga langkah.
"Dasar ada," kata Bima. "Tapi kamu menjualnya terlalu murah."
Gopar meraung dan mencoba mencengkeram leher. Bima memutar lengannya ke luar, mengunci telapak, lalu menambah tekanan.
KRAK.
Pergelangan Gopar patah.
Ia jatuh berlutut sambil berteriak. Bima segera melepaskan kuncian agar kerusakan tidak bertambah.
"Cari rumah sakit," katanya. "Tulang itu masih bisa ditangani kalau kamu berhenti memakainya untuk mengancam orang."
Reno berbalik hendak lari. Bima menangkap kerah belakangnya dan menariknya kembali.
"Dengar. Utangmu tanggung jawabmu. Hak kunjung Sasa harus melalui kesepakatan dan keselamatan anak, bukan ancaman. Kalau kamu menghubungi pengasuh, datang ke sekolah, membuat laporan palsu, atau menyerahkan informasi Anindya kepada penagih, semua pesan dan rekaman ini masuk ke polisi."
Reno gemetar. "Kau mengancamku?"
"Saya menjelaskan akibat. Kalau kamu menyerang lagi, saya hentikan lagi."
Tatapan Bima membuat sisa keberanian Reno runtuh. Ia membantu Gopar masuk ke mobil, sementara dua anak buah tertatih mengikuti. Mobil hitam mundur lalu pergi dengan ban berdecit.
Anindya bertahan sampai kendaraan itu menghilang.
Setelah itu air matanya jatuh.
Bima yang mampu menghadapi senjata tanpa berkedip justru berdiri kaku di depan perempuan menangis.
"Maaf," katanya.
Anindya menyeka pipi. "Kamu minta maaf untuk apa?"
"Saya nggak tahu. Biasanya orang bilang begitu saat perempuan menangis."
Di antara air mata, Anindya tertawa kecil.
"Bodoh."
"Itu berarti sudah lebih baik?"
Anindya tidak menjawab. Ia masuk ke sedan, menutup pintu, lalu menunduk beberapa saat untuk mengatur napas. Bima berdiri di samping mobil sampai tangisnya mereda.
Jauh dari gerbang, Reno menghentikan mobil di sebuah gang sempit agar Gopar bisa membalut tangan. Ketakutan masih membuat lututnya lemah, tetapi kebencian menahan dirinya agar tidak menyerah.
"Satpam sialan," bisiknya. "Kalau Gopar nggak cukup, aku cari orang yang lebih berkuasa. Aku akan hancurkan dia."