Sebuah kabar mengejutkan hadir menghampiri hari bahagia Mentari kala itu.
Bintang yang merupakan calon suaminya, mengalami kecelakaan disaat mereka akan meresmikan hubungan mereka menuju halal.
Mentari pun menangis dengan gaun pengantin yang masih membalut tubuhnya.
dan...
Mentari kembali terkejut, sebuah permintaan terakhir terucap dari mulut Bintang. Memintnya untuk menikah dengan pria lain, bukan dengan dirinya.
Langit nama pria itu, yang sesungguhnya juga mencintai Mentari dalam diam.
"Nikahilah Mentari, jadikan dia istrimu." pinta Bintang.
Apakah Langit mampu membuat Mentari bahagia, menghapus kesedihan yang begitu menumpuk.
"Izinkan aku untuk Menggenggam mu Mentari." ucap Langit di saat hari pernikahan mereka.
Yuk.. kepoin Ceritanya, jangan lupa dukungan terbaiknya😚🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dengan Syarat
🌿Selamat membaca.
🌿Semoga suka dan terus ikuti kisahnya.
🌿Like dan komen baiknya selalu dinanti 🤗.
...----------------...
"Kita pulang setelah ini." ucap Langit mengingatkan.
"Aku tak mau pulang."
"Baiklah.."jawab Langit dan membuat Mentari menatapnya.
"Kenapa kau tak marah?"
"Kenapa aku harus marah?"
"Ya.. mungkin saja karena aku tak menurutimu.." jawab Tari ragu dan membuat Langit tersenyum.
"Aku tak akan marah.., kau tak berbuat salah apapun." ucap Langit dengan tetap menatap Mentari.
Melihat Langit tersenyum dengan terus menatap dirinya. Membuat Mentari menjadi salah tingkah sendiri.
"Kita pulang saja kalau begitu.." ucap Mentari memutuskan.
"Bukannya kau tak mau pulang."
"Aku berubah pikiran.." jawab Tari asal.
"Baiklah.." jawab Langit dan tersenyum kembali.
Setelah menghabiskan pesanannya, Langit dan Mentari melangkah ke luar dari Kafe. Langit terlihat begitu menikmati langkahnya, sedangkan Mentari tampak berpikir, kenapa pria ini begitu sabar menanggapi permintaanya yang berubah-ubah. Permintaan yang sengaja dibuat untuk membuat Langit marah.
Sampailah mereka di dalam mobil, Mentari menatap Langit kembali.
"Tiara bilang, kau sudah mulai masuk kerja hari ini."
"Ya.." jawab Langit bersamaan dengan terpakainya sabuk pengaman. "Kapan rencananya kau akan ke kantor?" tanya Langit kemudian.
"Setelah kita menikah pastinya." ucap Mentari dan membuat Langit terdiam terkejut menatap tak percaya.
"Apa maksud ucapan Mentari barusan, apa ini artinya dia menyetujuinya." gumam Langit dan masih terus menatap Mentari menunggu penjelasan.
"Kita menikah karena sebuah janji." lanjut Mentari tersenyum miris dengan tatapan fokus ke depan. Entah apa yang dilihatnya saat ini. Yang pasti kedua matanya kembali berkaca-kaca jika mengingat itu semua.
"Kau membenciku?"
"Ya.. aku sangat membencimu dan sangat membenci diriku, kenapa harus kamu mas? Kenapa aku harus menikah dengan mu?, dan kenapa juga kau harus mencintaiku?" ucap Mentari dengan air mata yang sudah menetes perlahan di pipi dan Mentari menghapusnya dengan cepat.
"Maafkan aku.."
"Kau tau kenapa aku sangat membenci diriku saat ini? Langit diam dan Mentari melanjutkan kalimatnya. "Karena janji pernikahan ini membuat ku berpikir buruk tentangmu. Aku merasa orang yang paling diuntungkan di sini adalah kamu. Kau bilang kau mencintaiku dan sekarang kau bisa mendapatkan ku setelah kepergian Mas Bintang." ucap Mentari dengan terisak.
Langit masih diam, mencoba memahami ucapan Mentari, rasanya ia tak terima dengan tuduhan itu. Namun ia tak bisa menyangkal semuanya, ia memang paling diuntungkan saat ini. Ia bisa mendapatkan Mentari setelah sekian lama ia berharap. Tapi.. bukan seperti ini takdir yang diharapkannya.
"Berkali-kali aku menyangkal itu semua mas. Aku mengenalmu seiring aku mengenal Mas Bintang. Aku tahu kamu juga begitu terpuruk atas kepergian Mas Bintang. Aku tau kau juga pasti tak berharap seperti ini jalannya. Tapi.., karena janji ini aku jadi membencimu, membenci diriku, membenci semuanya." ucap Tari kembali dengan tangis yang kian menjadi.
Langit tarik tubuh Mentari, ia peluk dengan cepat mencoba menenangkannya.
"Cukup kau membenciku, cukup aku saja yang kau salahkan." Bisik Langit yang juga ikut menenangkan perasaannya.
Setengah jam lebih, Langit dan Mentari mencoba memahami takdir yang menghampiri keduanya. Mencoba menenangkan perasaan mereka masing-masing.
"Mas.. aku setuju kita menikah." ucap Mentari tiba-tiba. "Tapi dengan syarat." Lanjutnya dan pandangan mereka bertemu.
.
.
.
.
Hari yang dinanti oleh Senja dan Rubi akhirnya pun tiba. Rubi tampak begitu bersemangat menyambut datangnya hari ini.
Bagaimana ia tak bahagia, apa yang diharapkan putranya sejak lama kini sebentar lagi akan terwujud.
"Bagaimana penampilan ibu?" tanya Rubi pada Langit dan Surya.
Surya hanya menggelengkan kepalanya, melihat aksi istri tercintanya itu, yang hampir menghabiskan waktu satu jam menatap cermin.
"Sudah cantik Bu.." ucap Langit tersenyum.
Rubi ikut tersenyum mendengarnya. Perlahan ia hampiri putra satu-satunya itu.
"Kamu juga tampan sekali hari ini, pasti Mentari menyukainya." ucap Rubi yang kini menjadi sibuk merapikan kemeja yang dikenakan Langit.
Mungkin senyum sang ibu tak akan secerah saat ini ketika mendengar syarat yang akan diajukan Mentari untuk pernikahannya nanti.
"Ayo kita jalan, nanti kita telat." ucap Surya mengingatkan.
Sejam berlalu dengan pikiran masing-masing. Akhirnya Langit dengan Rubi dan Surya tiba di rumah Mentari.
Melangkah perlahan dengan senyum yang tak kunjung sirna dari wajah ke dua orang tua Langit.
Senja yang sudah menanti kedatangan Langit beserta keluarganya sejak tadi dengan rasa kegugupan yang begitu tinggi, akhirnya ia tersenyum dengan rasa tenang saat melihat kedatangan mereka.
"Ayo silakan masuk." pinta Senja kemudian.
Ditempat lain, di sebuah ruang kamar dengan sinar matahari yang perlahan masuk melalui celah kecil jendela kamarnya. Mentari tengah begitu gugup. Momen seperti ini terulang kembali untuknya. Tapi ini begitu berbeda, pria yang akan dinikahinya nanti adalah pria yang tidak dicintainya.
Ketukan pintu terdengar kemudian, mengejutkan Mentari dalam lamunannya.
"Non, Mas Langit dan orang tuanya sudah datang, Non ditunggu di bawah." ucap seorang wanita paruh baya yang biasa di sapa bibi Una oleh Mentari dan Ibunya.
"Iya Bi, Mentari segera turun ke bawah." jawab Mentari dan kemudian bersiap.
Ia tatap cermin besar di hadapannya lagi, entah sudah berapa kali ia melakukan ini. Lalu ia tersenyum.
"Mas Bintang, aku akan tepati janjiku hari ini." ucap Mentari dan kemudian melangkah pergi meninggalkan kamarnya.
Perlahan menuruni anak tangga satu persatu, matanya mulai sibuk mencari dan memperhatikan Mas Langit dengan kedua orang tuanya. Setelah menyapa kehadiran mereka. Mentari kini telah duduk bersama mereka.
"Apa kabarmu Mentari?" tanya Rubi sambil menatap kagum sosok Mentari yang kini berada di hadapannya.
"Baik Bu.."
Tanpa panjang lebar, Senja yang merupakan orang tua tunggal dari Mentari memulai percakapan ke intinya. Mengenai pernikahan Mentari dengan Langit dan tujuan Rubi dan Surya datang hari ini yaitu untuk melamar Mentari.
Mentari diam begitu pun dengan Langit, sampai saat pembahasan mengenai pernikahan mereka akhirnya ikut bersuara.
"Untuk pernikahan kalian mau seperti apa?" tanya Rubi kemudian menatap Langit dan Mentari secara bergantian.
"Yang sederhana saja Bu, cukup keluarga dekat saja yang hadir, dan tidak perlu ada pesta setelahnya."
Deg.. semua terdiam, mencoba mencerna maksud perkataan Langit barusan dan semua mata menatap Langit seorang.
"Pernikahan sesuatu hal yang penting, dan kami berharap menjadi kenangan terindah buat kalian."
"Ijab kabul saja sudah cukup Bu, dan itu juga sudah menunjukkan kalau kami telah menikah."
Senja terdiam, tadinya ia terus menatap Langit, kini pandangannya menuju Mentari. Rasanya tak mungkin Langit seorang yang mengharapkan ini. Pasti Mentari ikut andil dalam hal ini.
"Tapi Nak.."
"Boleh seperti itukan Bu, Ayah.." ucap Langit memotong dan memohon kepada ke dua orang tuanya dan kepada Senja.
"Kalau ini yang kalian mau, Ayah dan Ibu tidak akan memaksa. Pesta pernikahan bisa dilakukan kapanpun." ucap Surya mencoba menenangkan keduanya.
"Ya.. yang penting mereka menikah dulu, pesta pernikahan bisa kita lakukan nanti." ucap Senja yang ikut menerima keputusan yang baru saja terjadi.
.
.
.
.
Semangat...🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️
belum saya baca habis ada waktu luang nanti saya mampir baca ya thor 🤗
tetap semangat berkarya sukses selalu🙏
temen mentqri😅😅
🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️