Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembukaan!
Masa kini....
Rian melangkah menyusuri area parkir basement B3 dengan langkah tenang. Cahaya lampu berwarna putih redup menggantung di langit-langit beton, beberapa di antaranya berkedip pelan seolah sebentar lagi akan mati.
Suasana di sana begitu sunyi. Hanya terdengar gema langkah sepatunya yang memantul di antara deretan mobil yang terparkir rapi.
Tangannya menggenggam kunci mobil sambil sesekali menekan tombol pembuka, membuat lampu mobilnya berkedip dua kali dari kejauhan.
Rian mempercepat langkah. Yang ia inginkan saat itu hanyalah segera pulang dan bertemu dengan pacarnya.
Begitu tiba di samping mobil, Rian mengulurkan tangan untuk membuka pintu. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu, tubuhnya mendadak menegang. Bulu kuduknya berdiri, rasa dingin menjalar perlahan dari tengkuk hingga ke punggungnya.
Perasaan itu datang begitu saja, tanpa sebab yang jelas. Seolah-olah, baru saja ada seseorang yang melintas tepat di belakangnya.
Refleks, tangan Rian berhenti di udara. Ia tidak berani langsung menoleh. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat, sementara telinganya berusaha menangkap suara sekecil apa pun di tengah keheningan basement.
Tok...
Suara langkah kaki terdengar samar, Rian segera membalikkan badan.
Lorong parkir di belakangnya hanya dipenuhi deretan pilar beton dan mobil-mobil yang diam membisu. Tidak ada siapa pun. Bahkan suara langkah tadi pun lenyap begitu saja, seolah tidak pernah ada.
Rian mengembuskan napas panjang sambil menggeleng pelan. Mungkin hanya perasaannya yang terlalu lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.
Lagi pula, basement seluas ini memang sering menimbulkan gema yang menipu pendengaran.
Ia memilih mengabaikan firasat aneh itu. Dengan cepat Rian membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalam. Begitu pintu tertutup, ia langsung mengunci seluruh pintu secara otomatis.
Mesin mobil dinyalakan, disusul suara pendingin udara yang mulai berembus pelan memenuhi kabin.
Rian menyandarkan punggungnya ke jok. Matanya sempat memandang ke kaca spion tengah. Pantulan kursi belakang tampak kosong. Tidak ada siapa pun.
"Dasar... kebanyakan pikiran," gumamnya lirih.
Ia meraih ponsel yang tergeletak di konsol tengah, lalu mencari nama seseorang di daftar kontak. Senyum tipis mulai terukir di wajahnya ketika menemukan nama yang dicarinya.
Larasati..
Tanpa berpikir lama, Rian menekan tombol panggil. Baru dua kali nada sambung terdengar, panggilan itu langsung diangkat.
"Halo, sayanggg..." suara Larasati terdengar manja dan mendayu-dayu dari seberang, menyapa dengan nada centil khasnya.
"Kamu lagi di rumah, hm?" tanya Rian.
"Iya, bebe... Aku lagi bosan banget tahu di rumah, sendirian terus," sahut Larasati sambil terkekeh pelan, nada suaranya dibuat-buat agak merajuk.
"Kenapa, ih? Kangen ya sama aku?"
Rian tersenyum tipis mendengar respons kekasihnya itu.
"Malam ini ikut aku, yuk."
"Emmm... mau diajak ke mana sih, bebe? Jangan bilang cuma makan biasa ya, aku bosan tahu."
"Kita ke diskotik," jawab Rian mantap.
"Lalu habis puas joget dan minum-minum... kita lanjut main di tempatku semalaman. Gimana?"
Larasati tertawa manja, terdengar sangat senang dengan ajakan tersebut.
"Aww... nakal banget sih! Tapi aku suka, ih. Serius nih kita mau pesta terus lanjut main di ranjang?"
"Serius, sayang. Aku lagi butuh pelampiasan penat. Capek sih habis kerja, tapi kalau bayangin bakal di kamar sama kamu semalaman, capeknya langsung hilang."
"Ih, pinter banget ambil hati aku! Yaudah deh, aku mau siap-siap dulu pakai baju paling seksi malam ini khusus buat kamu," balas Larasati centil, diakhiri dengan tawa kecilnya yang menggoda.
"Siap. Dua jam lagi aku jemput kamu ya."
"Oke bebe! Jangan lama-lama ya, aku udah nggak sabar nih. Mwah! Hati-hati di jalan sayanggg..."
Panggilan pun berakhir. Rian meletakkan ponselnya kembali, lalu memasukkan gigi mobil ke posisi mundur.
Tanpa menyadari, dari balik salah satu pilar beton yang remang, sepasang mata memandang ke arah mobilnya tanpa berkedip sedikit pun, mengikuti kendaraan itu hingga perlahan meninggalkan basement B3.
****
Larasati berdiri di depan pintu apartemen Rian dengan wajah dipenuhi amarah.
Tangannya berkali-kali menggedor pintu hingga suaranya bergema di lorong yang masih lengang pada pagi itu.
Brak! Brak! Brak!
"Rian! Buka pintunya!" teriaknya dengan nada kesal.
Tak ada jawaban. Larasati kembali menggedor pintu lebih keras.
Kesabarannya benar-benar habis.
Semalam Rian telah berjanji akan menjemputnya tepat dua jam setelah menelepon untuk pergi ke diskotik dan menghabiskan malam bersama.
Karena percaya pada ucapan kekasihnya itu, Larasati bahkan sudah berdandan sangat seksi sejak sore.
Satu jam berlalu.
Dua jam.
Tiga jam.
Rian tak kunjung datang.
Awalnya Larasati berpikir Rian terjebak macet. Namun, ketika berkali-kali menghubungi nomor Rian, telepon itu hanya berdering panjang tanpa pernah diangkat.
"Rian! Buka pintunya!" teriak Larasati sambil menggedor pintu apartemen berkali-kali.
Brak! Brak! Brak!
Suaranya menggema di lorong, tetapi tak ada jawaban dari dalam. Larasati mengembuskan napas kasar, berusaha menahan amarah yang sejak semalam terus memuncak.
Dengan kesal, ia mengeluarkan kartu akses yang pernah diberikan Rian kepadanya. Rian memang sengaja memberikan satu kartu cadangan agar Larasati bisa masuk kapan saja.Larasati menempelkan kartu itu pada panel pemindai.
Bip.
Kunci elektronik berbunyi pelan, lalu pintu apartemen terbuka.
"Rian?" panggilnya sambil melangkah masuk.
Apartemen itu sunyi. Pendingin ruangan masih menyala, tetapi tidak terdengar suara televisi, musik, ataupun aktivitas apa pun. Hanya keheningan yang menyambut kedatangannya.
Larasati menutup pintu, lalu berjalan cepat menuju kamar tidur. Ia yakin Rian sengaja mengabaikannya karena masih tertidur, mungkin pacarnya itu bersenang-senang semalam tanpa dirinya, atau mungkin saat ini ada perempuan lain yang tidur di sampingnya. Pikir Larasati.
Sesampainya di depan pintu kamar, Larasati kembali mengetuk dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
"Rian! Bangun! Ini aku!"
Tak ada sahutan. Kesabarannya habis. Ia mulai memukul pintu dengan kepalan tangan.
Brak! Brak!
"Rian! Cepat buka pintunya!"
Lagipula, tidak mungkin pergi, karena mobilnya masih terparkir di basement apartemen.
Kesabaran Larasati sudah berada di batas puncak. Ketukan beruntun pada pintu kayu di hadapannya tak kunjung membuahkan hasil.
Dengan napas terengah menahan kejengkelan, ia menggeledah isi tasnya secara kasar hingga jemarinya menemukan kunci cadangan.
"Awas aja kamu ya, Rian!" gumam Larasati sengit dengan gigi mengatup rapat.
Rasa jengkel membakar dadanya. Rian benar-benar keterlaluan. Kekasihnya itu sudah membuatnya menunggu semalam hingga larut dengan pakaian seksi, mengabaikan belasan panggilan telepon, dan sekarang, pria itu pasti sedang enak-enakan tidur nyenyak di dalam tanpa rasa bersalah sedikit pun. Atau bahkan dia sedang di temani perempuan lain yang tidur disebelahnya.
"Dasar brengsek! Awas aja kamu kalau ada cewek di dalam!" Kesalnya.
Dengan emosi, Larasati memasukkan mata kunci ke dalam lubangnya. Suara klek, terdengar nyaring. Ia memutar gagang pintu dan mendorongnya lebar-lebar, siap menyemburkan amarah yang sudah tersusun rapi di kepalanya.
Namun, kalimat makian itu mendadak mati di tenggorokan. Pemandangan di hadapannya meremukkan seluruh emosi Larasati, menyisakan kepanikan yang membuat darahnya berdesir dingin.
Di tengah ruangan yang remang-remang, sosok Rian tergantung kaku. Tubuhnya berayun sangat pelan, terjerat kabel lampu yang melilit lehernya dan terikat kuat pada langit-langit kamarnya.
Pria itu masih mengenakan handuk putih yang melilit pinggangnya. Dan matanya terbuka.
"Argh......!!! " Teriakannya menggema menatap ngeri pada Rian yang sudah menjadi mayat.