NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kota Awal dan Akhir, Panggung Sang Legenda

​Api hitam legam itu menari-nari dalam keheningan yang mencekam. Di bawah langit malam Kepulauan Conomi, reruntuhan Arlong Park—yang dulunya menjadi simbol ketakutan dan tirani absolut bagi penduduk Desa Cocoyasi—kini tak lebih dari tumpukan arang yang membara.

​Nami jatuh berlutut di atas pasir pantai. Tangannya mencengkeram tanah dengan kuat, bahunya bergetar hebat. Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya, namun kali ini bukan air mata keputusasaan, melainkan air mata kebebasan yang tidak bisa ia percayai.

​Di depannya, Monkey D. Luffy berdiri dengan wajah yang tidak biasa. Topi jeraminya menutupi sebagian matanya. Ia tidak tertawa. Ia menatap sisa-sisa api hitam yang perlahan memudar ke udara kosong, meninggalkan ketiadaan mutlak.

​"Api hitam..." bisik Zoro, memegangi dadanya yang masih terbalut perban tebal akibat tebasan Dracule Mihawk. Ingatannya langsung melayang pada pria berseragam militer di Desa Syrup. "Apakah ini ulah pria itu? Kolonel Mustang? Tidak... pola kerusakannya berbeda. Ini bukan ledakan oksigen. Ini adalah api yang membakar segalanya hingga menjadi ketiadaan."

​Sanji menyalakan rokoknya dengan tangan yang sedikit gemetar, menghembuskan asap ke udara malam. "Siapapun yang melakukannya, dia menyelamatkan Nami-san dari monster-monster itu. Tapi... meninggalkan jejak pembantaian semacam ini... Faksi Erebus yang kau ceritakan itu, Zoro. Mereka bukanlah pahlawan yang bergerak karena belas kasihan."

​"Mereka adalah predator," potong Zoro tajam. "Predator yang memangsa predator lain."

​Luffy perlahan berbalik, berjalan menghampiri Nami dan meletakkan tangan di atas kepala gadis itu. "Nami! Kau sudah bebas! Sekarang, kau adalah navigator kapal kami!"

​Nami menangis tersedu-sedu, memeluk kaki Luffy. Penduduk Desa Cocoyasi yang berani keluar dari persembunyian mereka mulai berdatangan ke pantai, menatap tak percaya pada istana yang telah runtuh itu, sebelum akhirnya sorak-sorai kebahagiaan meledak memecah malam.

​Di tengah perayaan kebebasan itu, Zoro menatap ke arah lautan lepas yang gelap. Instingnya mengatakan bahwa bayangan yang meruntuhkan tempat ini belum pergi terlalu jauh. Erebus. Kita pasti akan bertemu lagi di Grand Line.

​Jauh dari hiruk-pikuk Kepulauan Conomi, sebuah perahu layar kecil meluncur mulus membelah ombak Laut Timur.

​Muzan Kibutsi duduk bersila di bagian buritan perahu. Matanya terpejam, menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahnya. Di dalam pembuluh darahnya, kekuatan yang baru saja ia peroleh berdenyut dengan ritme yang menenangkan namun mengerikan.

​104 Poin Kekuatan Fisik. 105 Poin Kecepatan. 103 Poin Ketahanan.

​Muzan mengepalkan tangan kanannya perlahan. Ia tidak perlu lagi merasa cemas saat memindahkan kesadarannya ke dalam boneka-bonekanya. Jika sebelumnya tubuh aslinya adalah titik lemah yang harus dilindungi dengan harga mati, kini tubuh aslinya adalah senjata yang tak kalah mematikan.

​Tiba-tiba, permukaan laut di depan perahu layarnya bergolak hebat. Air laut menyembur ke udara membentuk pilar setinggi belasan meter. Dari dalam kedalaman yang gelap, muncul seekor Raja Laut (Sea King) berbentuk ular bersisik hijau dengan taring-taring tajam yang meneteskan air liur. Monster raksasa itu mengaum marah, merasa wilayah perburuannya diganggu oleh sebuah perahu kecil.

​Muzan tidak berdiri. Ia tidak memanggil Giyu Tomioka, Zenitsu, ataupun Itachi. Ia hanya membuka kelopak matanya secara perlahan.

​Mata hitam legam Muzan menatap lurus ke arah pupil reptil raksasa tersebut.

​Haoshoku Haki.

​Sebuah gelombang energi spiritual yang tidak terlihat meledak dari tubuh Muzan. Itu bukanlah kekuatan fisik, melainkan manifestasi murni dari tekad dan dominasi seorang raja. Hawa di atas perahu itu mendadak menjadi sangat berat hingga kayu geladaknya berderit.

​Gelombang Haki Penakluk itu menghantam Raja Laut tersebut layaknya palu godam tak kasat mata.

​Raungan monster raksasa itu terputus seketika di tenggorokan. Matanya memutih. Seluruh otot di tubuh raksasanya kehilangan tenaga secara serentak. Dengan suara deburan yang menggetarkan perairan, Raja Laut itu jatuh pingsan, tubuhnya mengambang pasrah di atas ombak, membiarkan perahu layar Muzan melewatinya tanpa halangan.

​Muzan menghela napas panjang, menekan kembali Haki-nya ke dalam tubuh.

​"Kontrolnya masih sangat kasar," evaluasi Muzan dengan pikiran yang dingin. "Level 1 Haoshoku Haki memungkinkanku untuk menumbangkan makhluk bermental lemah, tapi aku belum bisa memfokuskannya pada target spesifik tanpa menyapu area di sekitarnya. Jika aku menggunakannya di kota yang padat, ribuan warga sipil akan pingsan. Aku harus melatihnya sebelum memasuki Grand Line."

​Muzan memanggil panel antarmuka sistemnya.

​«"Saldo Belly: 45.369.850 Belly."»

​Dengan uang sebanyak ini, Muzan memiliki banyak pilihan. Namun, menyeberangi lautan menuju Grand Line membutuhkan lebih dari sekadar perahu layar curian yang ia tumpangi saat ini. Ia membutuhkan sebuah kapal besar, kuat, dan dirancang khusus untuk menghadapi cuaca ekstrem serta arus Reverse Mountain yang mematikan.

​Ia membutuhkan markas berjalan.

​"Sistem," panggil Muzan. "Tampilkan opsi kendaraan laut di dalam Shop: Black Market Tier 1."

​Layar holografik berubah warna menjadi hitam dan merah. Beberapa daftar item muncul, namun hanya ada satu yang menarik perhatian Muzan.

​«"Kapsul Kapal Galleon Otomatis (Shadow-Wood Class)"» - Harga: 20.000.000 Belly.

Deskripsi: Kapsul praktis yang berisi kapal galleon berukuran sedang, terbuat dari Kayu Bayangan yang sangat ringan namun memiliki ketahanan setara baja. Kapal ini tidak membutuhkan layar yang dioperasikan manual atau awak kapal manusia; sistem kemudi dan perawatannya terhubung langsung dengan sistem pikiran Host. Memiliki fungsi penyelamatan diri dan lapisan pelindung anti-radar dasar.

​Muzan menyeringai tipis. "Dua puluh juta Belly. Separuh dari kekayaanku saat ini. Tapi memiliki kapal yang bisa bergerak sendiri tanpa awak manusia adalah keharusan. Jika aku menyewa pelaut biasa, mereka hanya akan menjadi beban dan saksi mata dari rahasia boneka-bonekaku."

​"Beli item tersebut," perintah Muzan tanpa keraguan.

​«"Transaksi berhasil. 20.000.000 Belly telah dipotong. Kapsul Kapal Galleon (Shadow-Wood) telah dimasukkan ke dalam Inventory."»

«"Saldo Belly saat ini: 25.369.850 Belly."»

​Muzan mengambil sebuah kapsul perak kecil dari dalam Inventory-nya. Benda seukuran ibu jari itu terasa dingin di telapak tangannya. Ia tidak akan menggunakannya sekarang. Mengeluarkan kapal hitam raksasa di tengah laut tanpa identitas pelabuhan hanya akan mengundang kecurigaan Angkatan Laut yang berpatroli. Ia akan mendarat di kota pelabuhan terakhir East Blue, menyewa galangan kapal tertutup, dan "mengubah" perahu kecilnya menjadi kapal raksasa ini sebagai kedok.

​"Tujuan selanjutnya... Loguetown. Kota Awal dan Akhir."

​Muzan menatap konstelasi bintang di langit, menyesuaikan arah layarnya. Loguetown adalah tempat di mana Raja Bajak Laut Gol D. Roger dieksekusi. Itu juga merupakan titik kumpul terakhir bagi semua pelaut, pedagang, dan bajak laut yang berniat memasuki Grand Line.

​Di tempat seperti itu, informasi mengalir deras layaknya sungai. Muzan membutuhkan informasi tentang rute navigasi, Log Pose, dan pergerakan Angkatan Laut. Dan untuk bergerak bebas di kota yang dijaga ketat oleh Kapten Smoker—perwira Angkatan Laut pemakan Buah Iblis tipe Logia—Muzan membutuhkan wajah yang bisa mengalihkan perhatian dari dirinya sendiri.

​"Roy Mustang," gumam Muzan, mengingat kembali sosok kolonel arogan yang kini memiliki jiwa otonom. "Saat kita tiba di Loguetown, panggung adalah milikmu, Kolonel."

​Tiga hari kemudian.

​Langit di atas Loguetown tertutup oleh awan kelabu yang tebal. Rintik hujan mulai turun, membasahi jalanan berbatu yang dipenuhi oleh ribuan manusia dari berbagai ras dan profesi. Kota ini sangat besar, megah, dan sibuk. Arsitektur bangunannya mencerminkan kekayaan sebuah kota pelabuhan utama, dipenuhi pertokoan senjata, bar, pasar gelap, dan galangan kapal.

​Namun, terlepas dari kemegahannya, ada hawa kedisiplinan yang sangat kental di udara. Angkatan Laut berpatroli di setiap sudut jalan. Mereka bergerak dalam formasi rapi, membawa senapan dan pedang panjang.

​Di sebuah dermaga komersial yang cukup terpencil, sebuah perahu layar kecil bersandar.

​Muzan Kibutsi melangkah turun ke atas dermaga kayu, mengenakan jubah hitamnya yang biasa. Tudung kepalanya menutupi sebagian besar wajahnya. Ia berjalan menuju sebuah galangan kapal penyewaan tertutup yang sering digunakan oleh para bangsawan atau pedagang kaya untuk memperbaiki kapal mereka secara pribadi.

​Muzan membayar penyewaan dok raksasa itu dengan beberapa gepok Belly tunai kepada penjaga yang tidak banyak bertanya, lalu mengunci gerbang besinya dari dalam.

​Di dalam dok kering yang luas dan tertutup atap seng itu, Muzan berdiri sendirian. Ia mengeluarkan kapsul perak dari sakunya dan melemparkannya ke tengah area dok.

​POOF!

​Kepulan asap putih yang tebal meledak, menutupi seluruh pandangan. Ketika asap itu memudar beberapa detik kemudian, napas Muzan nyaris tertahan karena takjub.

​Di hadapannya, berdiri sebuah kapal galleon berukuran sedang yang sangat menawan. Seluruh lambung kapalnya terbuat dari kayu yang berwarna hitam kelam, namun permukaannya memantulkan cahaya layaknya logam yang dipoles. Layarnya berwarna hitam pekat tanpa lambang apapun. Bentuknya ramping dan aerodinamis, didesain untuk membelah ombak dengan kecepatan maksimal.

​Muzan melompat naik ke atas geladaknya. Ia meletakkan tangannya di atas kemudi kayu di ruang kapten.

​«"Sinkronisasi saraf dengan Kapal Shadow-Wood berhasil. Host dapat memberikan perintah navigasi mental."»

​"Sempurna," bisik Muzan. "Mulai sekarang, kau akan bernama Tartarus. Sang neraka di bawah neraka."

​Kini, setelah transportasinya aman, Muzan melangkah kembali ke daratan dok. Ia harus berbelanja perbekalan yang sangat banyak, Log Pose, dan mengumpulkan informasi.

​Muzan mengangkat tangannya. Pilar cahaya ungu menyala, memunculkan Roy Mustang.

​Mustang mendarat dengan anggun. Seragam militernya telah diperbaiki secara otomatis oleh sistem ketika ia disimpan di dalam Storage. Ia menatap Muzan, lalu memberikan hormat militer yang presisi.

​"Loguetown, saya asumsikan?" tanya Mustang, melirik ke arah atap seng yang terkena rintik hujan.

​"Benar," jawab Muzan, menatap lurus ke mata Mustang. "Di kota ini, kau adalah 'Kapten Mustang', pemimpin dari kelompok kontraktor bayaran Erebus. Wajahmu tidak ada di poster buronan manapun, dan kau tidak memiliki sejarah kejahatan di dunia ini. Gunakan status itu untuk berbaur, berbelanja perbekalan berkualitas tinggi, dan kumpulkan informasi tentang Grand Line di pasar gelap."

​"Dan Anda, Tuan?"

​"Aku adalah asisten bisumu. Pelayan rendahan yang mengurus dokumen dan membawakan barang-barangmu," Muzan menurunkan tudung kepalanya sedikit. "Ingat, Mustang. Komandan pangkalan Angkatan Laut di sini bernama Smoker. Dia pengguna Buah Iblis Logia Moku Moku no Mi (Asap). Jangan mencari masalah dengannya kecuali keadaan memaksa. Asap tidak mudah dibakar jika kau tidak mengendalikan udaranya dengan tepat."

​Mustang menyeringai lebar, merapikan kerah bajunya. "Jangan khawatirkan saya, Tuan. Mengatur logistik dan bersosialisasi di tengah kota metropolitan adalah keahlian saya selain membakar sesuatu."

​Sepuluh menit kemudian, pintu gerbang dok itu terbuka. Roy Mustang berjalan keluar dengan langkah tegap yang memancarkan karisma dan otoritas seorang perwira tinggi. Di belakangnya, Muzan berjalan dengan kepala menunduk, bahunya sedikit ditekuk, memainkan peran seorang pelayan yang patuh dan tak terlihat.

​Mereka menyusuri jalanan utama Loguetown. Hujan yang turun rintik-rintik tidak mengurangi kepadatan pasar.

​Mustang dengan cepat menarik perhatian. Seragam birunya yang dihiasi aksen emas, posturnya yang gagah, dan ketampanannya membuat beberapa wanita di jalanan menoleh dua kali. Mustang membalas tatapan mereka dengan senyum yang menawan, sebuah keterampilan sosial yang membuat Muzan di belakangnya diam-diam memutar bola mata.

​Mereka memasuki sebuah bar mewah yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya para pedagang informasi dan kapten kapal dagang kelas atas.

​Begitu Mustang masuk, suasana bar yang berisik sedikit mereda. Penampilannya yang terlalu bersih dan berwibawa membuat para preman pasar gelap waspada. Mustang berjalan santai menuju meja bartender, sementara Muzan berdiri mematung di sudut ruangan yang gelap, mengawasi setiap sudut ruangan dengan indera supernya.

​"Satu gelas Bourbon terbaik yang kau miliki," pesan Mustang, meletakkan selembar uang pecahan besar di atas meja kayu.

​Bartender itu menelan ludah, segera menuangkan minuman amber ke dalam gelas kristal. "A-Anda bukan orang sini, Tuan. Seragam militer asing?"

​"Hanya seorang penjelajah yang menyukai keteraturan," Mustang menyesap minumannya. "Aku butuh sebuah Log Pose dan beberapa peta arus laut dari Reverse Mountain. Kudengar tempat ini memiliki barang-barang yang tidak dijual di toko biasa."

​Bartender itu menatap Mustang dengan curiga, namun matanya melirik pada lembaran uang di atas meja. "Log Pose adalah barang yang diatur ketat oleh Angkatan Laut di sini. Kapten Smoker menindak tegas penjualan ilegal. Tapi... jika Anda berani pergi ke Gang Nomor 4 di distrik barat setelah tengah malam, Anda mungkin menemukan seseorang bernama 'Old Jack'. Dia punya apa yang Anda cari."

​"Terima kasih atas informasinya," Mustang tersenyum, meninggalkan sisa minumannya dan melangkah keluar dari bar.

​Sementara Mustang menjalankan perannya dengan sempurna, Muzan yang berjalan mengikutinya di jalanan mulai merasakan ada sesuatu yang salah.

​Naluri bertarungnya—yang telah diasah oleh kekuatan setara ratusan poin fisik dan Haki Penakluk yang tertanam di jiwanya—berkedut pelan. Ia tidak menoleh, namun ia memfokuskan pendengaran dan perasaannya.

​Ada seseorang yang mengawasi mereka.

​Bukan dari Angkatan Laut. Pasukan Smoker memiliki pola baris yang teratur dan hawa keberadaan yang mencolok. Pengawasan ini berbeda. Hawa keberadaannya sangat tipis, nyaris menyatu dengan rintik hujan dan hembusan angin.

​Muzan memberi isyarat tangan kecil dari balik jubahnya yang langsung ditangkap oleh mata Mustang tanpa perlu menoleh.

​"Kita diawasi," perintah telepati Muzan masuk ke dalam pikiran Mustang. "Berjalanlah ke arah alun-alun eksekusi. Tempat terbuka adalah tempat terbaik untuk memancing tikus keluar."

​Mustang mengangguk samar. Ia membelokkan langkahnya dari distrik pasar menuju pusat kota.

​Alun-alun eksekusi Loguetown adalah sebuah lapangan batu yang luas, dikelilingi oleh bangunan-bangunan bata merah kuno. Di tengah lapangan tersebut, menjulang tinggi sebuah menara baja dan kayu yang membentuk perancah eksekusi. Di sanalah, lebih dari dua puluh tahun yang lalu, Gol D. Roger, Sang Raja Bajak Laut, tersenyum sebelum pedang algojo memenggal kepalanya, mengawali Era Bajak Laut Hebat.

​Karena hujan mulai turun lebih deras, alun-alun itu nyaris kosong. Hanya ada beberapa orang yang lewat dengan payung terburu-buru.

​Mustang berjalan mendekati perancah eksekusi tersebut, berhenti beberapa meter di depannya, menatap ke atas dengan kedua tangan di belakang punggung. Muzan berdiri diam di belakangnya, tudung jubahnya menyembunyikan wajahnya yang kini waspada.

​"Tempat di mana sebuah legenda berakhir, dan mimpi buruk yang baru dimulai," ucap Mustang memecah suara rintik hujan, suaranya menggema di alun-alun kosong. "Apakah kau setuju, Tuan Pengawas?"

​Keheningan menyelimuti alun-alun. Hanya suara hujan yang mengenai bebatuan yang terdengar.

​Lalu, dari balik sebuah gang gelap di sebelah kanan perancah, suara langkah kaki yang sangat tenang terdengar.

​Sesosok tubuh tinggi besar melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia mengenakan jubah hijau tua yang sangat tebal, menutupi seluruh tubuh dan sebagian besar wajahnya. Hujan yang turun seolah enggan menyentuh kain jubah tersebut, terbelah oleh tekanan udara tak kasat mata di sekitar pria itu.

​Di wajahnya, terlihat samar sebuah tato berwarna merah dengan pola silang dan berlian yang menutupi sisi kiri wajahnya.

​Muzan Kibutsi mengencangkan otot-otot di seluruh tubuh aslinya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia langsung mengenali pria itu, meskipun ini adalah pertama kalinya ia melihatnya secara langsung.

​Monkey D. Dragon. Pemimpin Pasukan Revolusioner. Pria paling dicari di seluruh dunia.

​Apa yang dilakukan Dragon di sini? Muzan tahu dari alur aslinya bahwa Dragon memang berada di Loguetown untuk melihat putranya (Luffy) berangkat ke Grand Line dan melindunginya dari Smoker. Namun, Luffy dan kru Topi Jerami bahkan belum tiba di pulau ini!

​Dragon berhenti melangkah, berdiri berhadapan dengan Mustang yang mewakili Erebus. Mata Dragon yang tajam dan tak terduga tidak menatap Mustang. Matanya meluncur melewati sang Kolonel, dan terkunci langsung pada sosok anak kecil berjubah hitam yang berdiri di belakangnya.

​"Kalian," suara Dragon berat dan serak, seolah membawa gema badai di dalamnya, "bukanlah orang-orang yang berlayar untuk mencari harta karun di Grand Line. Dan kalian juga bukan anjing pemerintah."

​Mustang menyeringai, menyembunyikan ketegangan yang ia rasakan. "Kami adalah apa yang kau lihat. Dan siapa kau, pria berjubah?"

​Dragon mengabaikan pertanyaan Mustang. Tatapannya masih terkunci pada Muzan.

​"Dunia ini sedang berada di ambang pergolakan yang luar biasa. Arus takdir mengalir deras menuju Grand Line. Namun," Dragon melangkah maju satu langkah, dan seketika, tekanan udara di alun-alun itu melonjak drastis. Sebuah Haki Penakluk yang jauh lebih matang, lebih dalam, dan lebih mematikan dari milik Muzan menekan ruang di sekitar mereka.

​"Namun... ada sebuah anomali yang mengubah arah angin di East Blue baru-baru ini," lanjut Dragon, suaranya semakin rendah. "Markas Arlong hancur terbakar tanpa sisa. Don Krieg menghilang tanpa jejak. Dan sebuah nama baru terdengar di telinga para elang yang mengintai. Erebus."

​Muzan Kibutsi tidak mundur satu inci pun. Haki Penakluk yang baru saja ia terima dari sistem bereaksi secara naluriah untuk melindungi tuannya, memancarkan perisai energi tipis yang menahan aura dominasi Dragon agar tidak meremukkan kesadarannya.

​Mata Dragon sedikit melebar menyadari perlawanan aura tersebut dari seorang remaja yang tampaknya hanya pelayan.

​"Kau..." bisik Dragon, hembusan angin tiba-tiba berputar liar di sekelilingnya, menyingkap sebagian jubah hijaunya. "Haki Raja. Di dalam tubuh seorang anak kecil yang menyembunyikan dirinya di balik punggung seorang prajurit. Siapa kau sebenarnya?"

​Di dalam tudung jubahnya, Muzan menyunggingkan senyum yang tidak bisa dilihat oleh Dragon.

​Dia menyadarinya, pikir Muzan dingin. Monkey D. Dragon, sang pembawa badai. Dia bisa merasakan bahwa Mustang bukanlah dalang utamanya.

​Muzan memberi isyarat mental kepada Mustang.

​Mustang melangkah menyamping, menempatkan dirinya tepat di depan Muzan, menghalangi pandangan Dragon. Tangan kanan Mustang diangkat, sarung tangannya bergesekan pelan menciptakan suara mendesis di tengah hujan.

​"Kau terlalu banyak bertanya, pria berjubah," ucap Mustang dengan nada mengancam, siap untuk meledakkan oksigen di alun-alun itu.

​"Hentikan, Mustang."

​Sebuah suara yang tenang, dewasa melampaui usianya, dan penuh dengan kalkulasi absolut terdengar dari balik punggung Mustang. Muzan Kibutsi akhirnya membuka suara, memecah penyamarannya.

​Muzan melangkah ke depan, berdiri sejajar dengan Mustang. Ia menatap lurus ke dalam mata sang Pemimpin Revolusioner, mengabaikan badai aura yang memancar dari pria itu.

​"Kami adalah Erebus," ucap Muzan perlahan, suaranya diatur sedemikian rupa agar menggema dengan ketenangan yang mengerikan. "Kau berusaha mengubah dunia dengan revolusi, Dragon. Kau mencoba membebaskan orang-orang dari tirani Pemerintah Dunia. Tapi revolusimu memakan waktu, mengalirkan darah orang-orang yang tidak bersalah, dan terlalu bergantung pada harapan."

​Mata Dragon menyipit tajam. "Kau tahu namaku. Darimana kau—"

​"Aku tahu banyak hal," potong Muzan dengan senyum tipis. "Kami tidak peduli dengan Pemerintah Dunia, dan kami tidak peduli dengan impian bodoh menjadi Raja Bajak Laut. Kami ada untuk mengendalikan bayangan. Jika tujuanmu adalah menghancurkan Tenryuubito (Naga Langit), mungkin suatu saat nanti jalan kita akan bersilangan."

​Angin di alun-alun tiba-tiba berhembus sangat kencang. Hujan mulai turun menyerupai badai kecil, menyapu wajah mereka berdua.

​Dragon menatap Muzan lama. Haki Penakluknya ditarik kembali, menyatu kembali ke dalam tubuhnya yang tegap.

​"Mengendalikan bayangan," gumam Dragon, membalikkan badannya. Jubah hijaunya berkibar liar. "Sikap arogan yang luar biasa dari seorang anak yang bahkan belum memasuki Grand Line. Lautan di depan sana tidak bisa dikendalikan. Ia hanya bisa ditaklukkan atau menghancurkanmu."

​Dragon melangkah kembali ke dalam kegelapan gang tempat ia pertama kali muncul.

​"Berhati-hatilah dengan badai yang kau ciptakan sendiri, Erebus. Karena saat Angkatan Laut dan Pemerintah Dunia menyadari eksistensimu... tidak akan ada tempat bersembunyi di dunia ini."

​Bayangan Dragon memudar, menyisakan alun-alun eksekusi yang kembali kosong dan hanya diisi oleh suara hujan lebat.

​Mustang menurunkan tangannya, menghela napas pendek. "Pria itu... hawa keberadaannya jauh lebih berbahaya dari pendekar pedang yang kita temui di pantai sebelumnya. Dia bisa membunuh kita jika dia mau."

​Muzan mengangguk pelan, menatap titik di mana Dragon menghilang. "Ya. Monkey D. Dragon. Pria paling dicari di dunia. Dia tidak akan menyerang kita tanpa alasan yang jelas, karena dia bukan bajak laut haus darah. Tapi pertemuan ini menegaskan satu hal padaku."

​Muzan memutar tubuhnya, berjalan menjauhi perancah eksekusi menuju pelabuhan rahasianya.

​"Dunia ini tidak akan membiarkan kita bersembunyi selamanya," lanjut Muzan, matanya berkilat di bawah bayangan tudungnya. "Jika kita ingin bertahan hidup di Grand Line dan mencapai puncak, kita membutuhkan pasukan yang jauh lebih kuat dari ini. Kita butuh benteng. Kita butuh intelijen absolut."

​Muzan menyentuh kartu emas di dalam sistemnya secara mental. Uchiha Itachi.

​"Bersiaplah, Mustang. Malam ini kita selesaikan transaksi Log Pose di pasar gelap. Besok pagi, kita akan berlayar menembus Reverse Mountain. Biarkan kelompok Topi Jerami dan Angkatan Laut bermain di kota ini. Panggung kita yang sebenarnya ada di surga yang disebut Grand Line."

​Di tengah badai yang mulai mengamuk di Loguetown, Sang Dalang dan komandannya melangkah kembali ke dalam bayang-bayang, siap untuk membelah takdir dunia yang lebih besar.

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!