Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Angin malam berhembus cukup kencang saat Deni memacu motor maticnya meninggalkan gedung megah Grup Nirvana.
Jalanan ibukota masih terlihat sangat ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang menembus dinginnya malam.
Vroom!
Motor butut berwarna hitam itu meliuk-liuk dengan lincah menyalip deretan mobil yang terjebak kemacetan.
Tiga puluh menit kemudian Deni sudah sampai di depan restoran Rasa Nusantara milik Rina.
Restoran itu sudah terlihat sepi dan papan penanda di depannya sudah dibalik menjadi tulisan tutup.
Deni memarkir motornya di halaman depan lalu berjalan santai mendekati pintu kaca restoran.
Dia melihat dari luar Rina sedang sibuk mengelap meja sendirian menggunakan kain bersih.
Tok tok tok!
Deni mengetuk pintu kaca itu tiga kali sambil tersenyum lebar ke arah dalam.
Rina yang sedang mengelap meja langsung menoleh dan wajahnya seketika berubah menjadi sangat cerah.
Wanita cantik bercelemek itu buru-buru berlari kecil ke arah pintu dan membukakan kuncinya dari dalam.
"Syukurlah Mas Deni datang juga, saya kira Mas Deni lupa sama janji telepon tadi," ucap Rina dengan nada lega.
"Tentu saja saya tidak mungkin lupa janji dengan Nona Rina yang baik hati," jawab Deni sambil melangkah masuk.
"Lagi pula bos saya di kantor sudah mengizinkan saya pergi ke sini kok setelah makan martabak."
Rina menutup kembali pintu kacanya dan mengajak Deni duduk di salah satu kursi kayu yang sudah dibersihkan.
"Karyawan saya sudah pada pulang semua dari tadi sore karena takut ada preman datang memalak lagi," cerita Rina sedih.
"Makanya saya harus beres-beres restoran ini sendirian sampai larut malam begini."
Deni mengangguk paham mendengar keluhan dari wanita pemilik restoran tersebut.
"Tidak usah takut Nona Rina, sekarang ada saya di sini yang akan menjaga Nona dari nyamuk-nyamuk nakal," hibur Deni santai.
"Ngomong-ngomong saya belum makan malam nih, apakah masih ada sisa makanan di dapur untuk pelanggan kelaparan?"
Rina tertawa kecil menutupi mulutnya mendengar permintaan polos pemuda berjaket oranye itu.
"Tentu saja ada Mas Deni, saya memang sengaja menyisakan satu porsi ayam geprek spesial khusus buat Mas," jawab Rina riang.
"Biar saya ambilkan ke dapur dulu ya, Mas Deni tunggu saja di sini sebentar dan jangan ke mana-mana."
Deni mengacungkan jempol kanannya ke udara dengan penuh semangat.
"Siap Nona Rina, tapi jangan lupa pesanannya diinput ke aplikasi ya biar saya bisa dapat ulasan," teriak Deni mengingatkan.
Rina hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum lalu berjalan masuk ke area dapur belakang.
Deni duduk bersandar di kursi kayu sambil memperhatikan sekeliling restoran yang cukup luas dan rapi itu.
Tiba-tiba telinga Deni yang sangat tajam menangkap suara deru mesin motor yang kasar dari arah luar jalanan.
Brum brum brum!
Suara knalpot bising itu berhenti tepat di halaman depan restoran Rasa Nusantara.
Deni menoleh ke arah jendela kaca dan melihat ada tiga buah motor besar parkir sembarangan menghalangi jalan.
Enam orang pria berwajah sangar turun dari motor mereka sambil menenteng balok kayu tebal di tangan.
"Wah sepertinya tamu tak diundang yang Nona Rina bicarakan sudah datang berkunjung," gumam Deni bangkit dari kursinya.
Brak!
Pintu kaca restoran itu didorong dengan sangat kasar dari luar hingga hampir lepas dari engsel kayunya.
Seorang pria bertubuh kurus kering dengan rambut dicat pirang masuk memimpin rombongan tersebut dengan gaya sombong.
"Hei Rina, cepat keluar kau sekarang juga! Waktunya bayar uang keamanan bulan ini!" teriak preman berambut pirang itu nyaring.
Deni melipat tangannya di dada dan berdiri menghalangi jalan masuk keenam preman kampung tersebut.
"Maaf Paman, restorannya sudah tutup dan Nona Rina sedang memasak di dapur," ucap Deni dengan nada datar tanpa emosi.
Preman pirang itu melotot menatap Deni dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kau siapa hah? Berani-beraninya kurir gembel menghalangi jalan kami!" bentak preman pirang itu marah besar.
"Aku ini pelanggan super V I P di restoran ini, jadi tolong jangan berisik karena aku mau makan malam," balas Deni tenang.
Rina yang mendengar suara keributan di depan langsung berlari keluar dari dapur membawa nampan berisi makanan.
Wajah cantiknya seketika berubah pucat pasi melihat enam preman bersenjata sudah berdiri di dalam restorannya.
"Bang Jali, tolong beri saya waktu beberapa hari lagi, restoran saya belakangan ini sangat sepi," mohon Rina dengan suara bergetar.
Preman pirang bernama Jali itu tertawa sangat keras mendengar permohonan memelas dari Rina.
"Tidak ada waktu lagi Rina manis, kau harus bayar lima juta sekarang juga atau restoran ini kami ratakan dengan tanah!" ancam Jali kejam.
Deni menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya merasa bosan dengan ancaman klise di kota besar.
"Paman Jali yang rambutnya seperti sapu ijuk, kalian ini benar-benar tidak tahu sopan santun sama sekali ya," tegur Deni melangkah maju satu tindak.
"Sudah kubilang aku mau makan, kalau kalian memukul barang di tempat ini nanti debunya bisa masuk ke makananku."
Jali menggeram penuh amarah karena merasa sangat dihina oleh seorang kurir rendahan di depan anak buahnya.
"Kurang ajar, hajar kurir banyak bacot ini sampai mati sekarang juga!" perintah Jali menunjuk tepat ke wajah Deni.
Dua orang preman bertubuh gempal langsung maju mengayunkan balok kayu ke arah kepala Deni.
Wush! Wush!
Ayunan balok kayu tebal itu membelah udara dengan sangat kencang dan mematikan.
Deni sama sekali tidak panik, dia hanya memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang sangat rileks.
Syut! Syut!
Kedua balok kayu itu hanya memukul angin kosong dan gagal mengenai tubuh Deni walau hanya seujung kuku.
"Loh kok pukulanku bisa meleset begitu?" gumam salah satu preman gempal itu dengan wajah kebingungan.
"Karena kalian bergeraknya lambat sekali seperti keong di sawah kakekku," ejek Deni tersenyum tipis meremehkan.
Tangan kanan Deni tiba-tiba melesat ke depan meraih kerah kemeja kedua preman itu sekaligus dengan cengkeraman kuat.
Lalu dengan tenaga dalam yang dialirkan tipis ke lengannya, Deni membenturkan kepala kedua preman itu satu sama lain.
Tuk!
"Aduh sakit!" teriak kedua preman itu serempak sebelum akhirnya mata mereka berputar ke atas dan jatuh pingsan di lantai.
Jali dan tiga preman sisanya membelalakkan mata tidak percaya melihat dua teman terkuat mereka tumbang dalam satu detik.
"Bocah ini ternyata jago bela diri, serang dia bersama-sama dari segala arah!" teriak Jali mulai panik dan mundur selangkah.
Empat preman yang tersisa langsung menyerbu Deni secara serentak dari arah depan dan samping.
Mereka mengayunkan balok kayu secara membabi buta berniat menghancurkan tulang-tulang pemuda kurir tersebut.
Deni tidak mundur sedikitpun dari posisinya, dia malah menyambut serangan keroyokan itu hanya dengan tangan kosong.
Plak! Plak! Plak!
Deni menangkis setiap ayunan balok kayu itu menggunakan punggung tangannya dengan sangat presisi.
Balok kayu yang keras itu langsung retak dan patah menjadi dua bagian saat berbenturan dengan kulit tangan Deni yang sekeras baja.
Krak!
"Ah tanganku kesemutan semua!" teriak para preman itu saat balok kayu mereka hancur berantakan di tangan.
Deni tidak membuang kesempatan emas itu dan langsung melancarkan tendangan berputar ke arah dada mereka bertiga.
Duag! Duag! Duag!
Tiga preman langsung terpental mundur ke belakang dan menabrak deretan meja kosong hingga hancur berantakan.
Brak! Prang!
Kini di tengah ruangan hanya tersisa Jali sendirian yang berdiri gemetar memegang setengah balok kayu yang sudah patah.
"Tolong jangan pukul aku Mas kurir, aku cuma menjalankan tugas dari bos rentenir," mohon Jali ketakutan hingga pipis di celana.
Deni menatap genangan air kecil berwarna kuning di bawah kaki Jali dengan pandangan sangat jijik.
"Kau ini preman tapi penakut sekali sampai mengompol di restoran orang yang bersih ini," ejek Deni sambil menutup hidungnya.
"Cepat bawa teman-temanmu pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi atau aku patahkan leher kalian satu per satu!"
Jali mengangguk cepat berkali-kali dan langsung membangunkan teman-temannya yang sedang mengerang kesakitan di lantai.
Mereka saling memapah dan memeluk bahu berlari keluar restoran dengan langkah terpincang-pincang menahan sakit dada.
Brum brum brum!
Suara mesin motor mereka menjauh dengan sangat cepat meninggalkan halaman restoran seolah dikejar hantu.
Suasana restoran kembali hening menyisakan beberapa meja kayu yang rusak berantakan di sudut ruangan.
Deni berbalik badan dan tersenyum menatap Rina yang masih mematung memegang nampan makanan dengan mulut terbuka.
"Tuh kan Nona Rina, saya bilang juga apa, preman-preman itu cuma nyamuk kecil yang numpang lewat saja," ucap Deni santai berjalan mendekat.
Rina segera meletakkan nampannya di atas meja terdekat lalu berlari menghampiri Deni.
Tanpa disangka oleh Deni, Rina langsung memeluk erat tubuh pemuda itu sambil menangis tersedu-sedu meluapkan ketakutannya.
"Terima kasih banyak Mas Deni, kalau tidak ada Mas Deni saya tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi mereka," isak Rina menyandarkan kepalanya di dada Deni.
Deni merasa sangat canggung dan kaku dipeluk oleh wanita cantik untuk pertama kalinya seumur hidupnya.
Kedua tangannya menggantung di udara tidak tahu harus membalas pelukan hangat itu atau membiarkannya saja.
"Eh iya Nona Rina sama-sama, tapi tolong jangan nangis terus nanti air matanya membasahi jaket seragam saya," ucap Deni dengan polosnya.
Rina seketika tersadar dan segera melepaskan pelukannya lalu menyeka air matanya sambil tersipu sangat malu.
"Maaf Mas Deni saya terlalu terbawa emosi ketakutan jadi tidak sopan memeluk sembarangan," kata Rina dengan pipi merona merah seperti kepiting rebus.
"Tidak apa-apa Nona, yang penting sekarang restorannya sudah aman seratus persen dari gangguan preman kampung itu," hibur Deni merapikan kerahnya.
Deni kemudian berjalan mendekati meja tempat Rina meletakkan nampan makanannya tadi.
Mata Deni berbinar terang melihat ayam geprek dengan sambal matah yang sangat menggoda dan porsinya dua kali lipat lebih banyak dari biasanya.
"Wah kelihatannya enak sekali ini, saya izin makan sekarang ya Nona Rina," seru Deni langsung duduk manis dan mengambil sendok garpu.
"Silakan Mas Deni makan yang banyak, itu menu spesial khusus saya buatkan untuk pahlawan restoran ini," ucap Rina tersenyum manis menatap Deni.
Rina menarik kursi dan duduk di seberang Deni menopang dagunya memperhatikan pemuda itu makan dengan sangat lahap.
Dalam hatinya Rina merasa semakin kagum dan nyaman berada di dekat kurir makanan yang sangat tangguh dan selalu melindunginya ini.
Lima belas menit kemudian piring besar di depan Deni sudah bersih mengkilap tanpa sisa sedikitpun.
"Alhamdulillah kenyang sekali, masakan Nona Rina memang juara satu di kota ini tidak ada tandingannya," puji Deni sambil mengusap perutnya yang penuh.
"Oh iya Nona Rina, tolong buka aplikasinya dong dan selesaikan pesanan saya biar segera dapat ulasan dari Nona."
Rina tertawa pelan mendengarnya dan langsung mengeluarkan ponsel dari saku celemeknya.
"Iya Mas Deni yang gigih bekerja, ini saya kasih ulasan bintang lima beserta komentar yang paling bagus untuk Mas," jawab Rina mengetik lincah di layarnya.
Ting!
Suara notifikasi sistem yang sangat merdu langsung berbunyi bergema di dalam kepala Deni.
[Sistem Raja Kurir Merespon: Selamat Tuan mendapatkan 5 dari seribu ulasan bintang lima]
[Syarat Membuka Kunci Kekuatan Tingkat Satu: Tuan harus mengumpulkan sisa sembilan ratus sembilan puluh lima ulasan lagi]
Deni tersenyum sangat lebar melihat progres misinya berjalan sangat lancar hari ini tanpa halangan berarti.
"Terima kasih banyak Nona Rina, ulasan dari Nona sangat berarti untuk kelangsungan hidup dan masa depan saya," ucap Deni dengan nada yang tiba-tiba serius.
"Sama-sama Mas Deni, mulai besok kalau malam restoran ini sepi saya minta tolong ditemani lagi boleh kan?" pinta Rina dengan tatapan mata penuh harap.
Deni mengangguk mantap tanpa ragu karena menjaga Rina juga berarti mengamankan jatah makan malam gratisnya setiap hari.
"Tentu saja Nona Rina, saya berjanji akan mampir ke sini setiap malam setelah urusan dengan bos saya di kantor selesai," janji Deni menepuk dadanya.
Malam itu hubungan antara Deni dan Rina semakin dekat dan sebuah ikatan saling membutuhkan telah terbentuk kuat di kerasnya ibukota.