NovelToon NovelToon
MENANTU YANG TAK DIINGINKAN

MENANTU YANG TAK DIINGINKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYESALAN DATANG TERLAMBAT

Sejak Alena pergi, rumah itu terasa berubah menjadi tempat yang sunyi dan dingin. Tidak ada lagi suara sapu yang menyapu halaman pagi-pagi, tidak ada lagi aroma masakan yang harum menyebar ke seluruh ruangan, dan tidak ada lagi baju yang tersusun rapi di lemari.

Pagi itu Ibu Sari berjalan keluar dari kamar dengan wajah kesal. Ia melihat meja makan masih kosong melompong.

"Hendra! Kenapa belum ada sarapan di meja? Ke mana saja Alena pagi-pagi begini?" teriak Ibu Sari keras.

Hendra keluar dari kamarnya sambil mengancingkan kemejanya dengan terburu-buru.

"Alena kan sudah nggak ada Bu. bukannya Ibu sendiri yang menyuruhnya pergi ?" jawab Hendra dengan nada dingin.

Ibu Sari terdiam sejenak, lalu duduk di kursi dengan wajah cemberut.

"Ya sudah, kalau begitu kamu pergi saja beli di luar. nanti kamu terlambat kerja," sahut Ibu Sari ketus.

Hendra hanya menghela napas panjang. Ia mengambil tas kerjanya lalu berjalan keluar rumah. Sepanjang perjalanan ke kantor, pikirannya terus melayang pada wajah Alena yang penuh kesedihan saat meninggalkan rumah itu.

Sesampainya di kantor, Siska sudah menunggunya di meja depan dengan senyum manis.

"Pagi Kak Hendra. Aku sudah belikan kopi dan roti kesukaan Kakak," sapa Siska ramah.

"Terima kasih Siska, tapi aku lagi nggak selera makan pagi ini," jawab Hendra singkat sambil duduk di kursinya.

Siska duduk di kursi depan meja Hendra dengan wajah cemberut.

"Kak kenapa akhir-akhir ini kakak selalu murung ? Apa Kakak masih kepikiran sama istri Kakak yang pergi itu?" tanya Siska dengan nada cemburu.

"Itu bukan urusanmu Siska. Jangan terlalu ikut campur urusan rumah tanggaku," jawab Hendra agak ketus.

Siska tersenyum sinis. "Aku kan cuma sayang sama Kakak. Lagipula apa sih yang istri Kakak itu punya? Dia cuma wanita miskin yang nggak bisa ngasi apa-apa. Kalau sama aku, Kakak bisa dapat apa saja yang diinginkan."

Hendra menatap Siska tajam. "Kamu nggak tahu apa-apa tentang Alena. Jangan sembarangan bicara soal dia."

Siska terkejut mendengar nada bicara Hendra yang tinggi. Ia langsung berdiri.

"Kakak kenapa begini? Aku cuma ingin yang terbaik buat Kakak!" seru Siska.

"Sudahlah, aku mau bekerja. Tolong keluar dari ruanganku," usir Hendra singkat.

Siska pergi dengan wajah kesal. Sepanjang hari itu Hendra tak bisa berkonsentrasi bekerja. Pikirannya terus kembali pada momen-momen bersama Alena.

Saat jam istirahat tiba, Budi rekan kerjanya datang menghampiri.

"Ndra, kamu kenapa keliatan galau sekali hari ini?" tanya Budi sambil duduk di kursi depan.

"Aku nggak tahu Bud. Rasanya ada yang hilang dari hidupku sejak Alena pergi," jawab Hendra jujur.

"Kamu menyesal sudah menyuruhnya pergi kan?" tebak Budi pelan.

Hendra mengangguk pelan. "Iya Bud. Aku baru sadar betapa berharganya dia saat dia sudah tidak ada di sisiku."

"Lalu kenapa kamu tidak menjemputnya pulang? Sebelum dia benar-benar melupakanmu," saran Budi.

"Aku takut dia nggak mau kembali. Apalagi Ibu yang selalu menekan dia," jawab Hendra lemas.

"Kamu harus berani mengambil keputusan sendiri Ndra. Kamu ini suaminya, bukan anak kecil yang selalu harus menuruti perkataan ibumu saja," nasihat Budi tegas.

Kata-kata Budi terus berputar di kepala Hendra sepanjang hari. Sore itu sepulang kerja, ia sengaja memutar jalan melewati toko tempat Alena bekerja.

Dari kejauhan ia melihat Alena sedang tersenyum ramah melayani seorang pembeli. Senyum yang sudah lama tak pernah ia lihat di rumah. Hati Hendra terasa perih sekali.

Malamnya di rumah, suasana semakin panas.

"Hendra, besok suruh Siska datang ke rumah ya. Ibu sudah rindu ingin bertemu dia lagi," kata Ibu Sari sambil makan malam.

Hendra meletakkan sendoknya kasar.

"Bu, kenapa Ibu selalu memaksaku bersama Siska? Aku nggak cinta sama wanita itu!" bentak Hendra tiba-tiba.

Ibu Sari terkejut hingga mulutnya terbuka lebar.

"Kamu bicara apa sih? Siska itu wanita yang baik, kaya, dan terpandang! Berbeda jauh dengan istri miskinmu itu!" balas Ibu Sari marah.

"Alena wanita yang jauh lebih baik dari Siska! Dia tulus mencintaiku, dia merawatku, dia mengurus rumah ini tanpa pernah mengeluh! Dan aku baru menyadarinya saat dia sudah pergi!" teriak Hendra tak tahan lagi.

"Kamu ini sudah gila ya Hendra! Kamu lupa siapa yang melahirkanmu?" bentak Ibu Sari berdiri dari kursinya.

"Aku tidak lupa Bu. Tapi Ibu juga jangan lupa kalau Alena adalah istriku yang sah! Ibu yang selalu menghinanya, Ibu yang menyuruhnya pergi! Sekarang Ibu lihat sendiri betapa sepinya rumah ini tanpa dia!" balas Hendra tak mau kalah.

"Jadi kamu menyalahkan Ibu sekarang? Dasar anak durhaka!" Ibu Sari memukul meja dengan tangan gemetar.

"Aku hanya minta keadilan Bu. Aku ingin menjemput Alena pulang," kata Hendra tegas.

"Jangan harap! Selama Ibu masih hidup, wanita itu tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" ancam Ibu Sari.

Malam itu Hendra tidak tidur. Ia duduk di teras sampai pagi memikirkan nasib rumah tangganya.

Keesokan harinya, dengan tekad yang bulat, Hendra pergi ke toko tempat Alena bekerja. Saat melihat Alena sedang menyusun barang, hatinya berdebar kencang.

"Alena..." panggil Hendra pelan.

Alena menoleh, wajahnya tampak terkejut melihat suaminya datang.

"Mas... ada perlu apa ke sini?" tanya Alena tenang.

"Bolehkah kita bicara sebentar?" pinta Hendra.

Mereka duduk di bangku kayu di belakang toko.

"Lena... aku minta maaf atas semua perbuatanku selama ini. Aku menyesal sudah menyakiti hatimu," ucap Hendra dengan suara lembut penuh penyesalan.

Alena hanya diam menunduk.

"Aku ingin kamu pulang ke rumah lagi Lena. Aku janji akan membela kamu dari Ibu. Aku janji nggak akan menyakitimu lagi," pinta Hendra memohon.

Alena mengangkat wajahnya menatap suaminya. Matanya tenang, tak ada lagi harap yang berlebihan seperti dulu.

"Terima kasih permintaan maafmu Mas. Tapi aku nggak bisa kembali lagi ke sana," jawab Alena pelan.

"Kenapa Lena? Kamu masih marah sama aku?" tanya Hendra sedih.

"Bukan marah Mas. Aku sudah lelah selalu dihina, selalu dianggap tidak berguna, dan selalu diposisikan sebagai orang asing di rumah suamiku. Aku sudah mulai tenang hidup sendiri," jelas Alena jujur.

"Tapi aku mencintaimu Lena. Aku sadar sekarang kalau hanya kamu wanita yang tulus sama aku," kata Hendra memegang tangan Alena.

Alena melepaskan tangan suaminya pelan.

"Terlambat Mas. Rasa sakit yang kalian berikan sudah terlalu dalam. Aku nggak mau merusak ketenanganku yang baru saja kubangun," tolak Alena tegas.

Hendra menatap istrinya tak percaya. "Jadi kamu menolaknya?"

"Ya Mas. Tolong jangan ganggu hidupku lagi," jawab Alena, lalu berdiri dan kembali masuk ke dalam toko.

Hendra duduk terpaku di bangku itu. Air mata penyesalan mulai menetes membasahi pipinya. Ia baru sadar betapa berharganya berlian itu saat berlian itu sudah tidak ada di genggamannya.

1
Thewie
jangan keluarkan airmatamu buat suami keparat itu ya alena
Thewie
terlalu lemah kau Alena. jadi agak gak suka lihat otor🤣🤣
Thewie
kapan Alena bahagia thorrrrr...
Nuna_Pena: ditunggu aja ya hehe,
total 1 replies
Thewie
5 tahun Alena... salut buatmu hidup dengan caci maki keluarga mertua .. luarbiasa kamu Alena..
Nuna_Pena: sprti diriku 7 tahun lbih bertahan dn sekarang menjauh dulu dri mereka😌😌😌.. hehe ngemeng2 makasi sudah mampir
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Cha Libra
jngan biarkan s alena d tindas mlu thour scpetnya cerai..semoga ja ada karma buat keluarga dajjal
Nuna_Pena: 😁😁😁... sabar sayang...
total 1 replies
Cha Libra
thour klo bsa hruf kapitalnya yg biasa ja jdi enak bacanya..
Nuna_Pena: makasi sudah mampir, nanti saya buat huruf biasa aja
total 1 replies
..
keren!
..
Hai kak, semangat yah. aku sudah bom like karya kamu. jangan lupa like balik karya aku juga yah. mari saling dukung!
Himna Mohamad
lanjut
..
semangat, kak. jangan lupa like balik dan saling dukung yah💪💪💪
SRIANA
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!