Geraldi Wahab harus menerima perjodohan orang tuanya dengan anak sahabat ayahnya yang bernama Leli Sagita. Padahal Gerald tak pernah sedikitpun jatuh cinta kepada Leli. Selama ini Gerald selalu bersifat dingin kepada Leli. Karena dia tak menyukai wanita yang cerewet dan manja. Terlebih mereka kini masih duduk di bangku SMA. Tak bisa dibayangkan bagaimana kehidupan rumah tangga dua orang yang bertolak belakang itu.
Mampukah cinta hadir diantara dua insan yang memiliki karakter yang berbeda? Bagaimana kisah mereka? Mampukah Leli menaklukkan sosok Gerald yang dingin seperti kulkas? Ikuti kisahnya di karya "Pernikahan Karena Perjodohan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SyaSyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan Sekaligus Bulan Madu
Leli bangun lebih dulu dan langsung beranjak turun untuk mandi dan segera sholat subuh. Dia sengaja tak membangunkan suaminya dulu. Merasa Leli tak ada di sampingnya, Gerald pun akhirnya ikut membuka matanya. Ternyata dia sudah mulai kecanduan wangi tubuh istrinya.
"Kemana ya Leli? Mengapa tak ada?" Gerald bermonolog. Dia terlihat panik, takut kalau Leli pergi meninggalkan dirinya.
Gerald langsung melompat dari ranjang dan ingin mencari keberadaan istrinya. Dia langsung membuka pintu kamarnya, ternyata berpapasan dengan Leli yang baru saja keluar dari kamar mandi yang hanya menggunakan setengah tubuhnya, karena dia tak memakai handuk ukuran jumbo. Lagi pula ukuran payu*dara Leli cukup besar.
Gerald di buat melongo, dia tampak menelan salivanya. Membuat Leli tersenyum nakal. Dia berjalan menghampiri suaminya.
"Lihatnya biasa aja dong! Kenapa? Terpesona ya melihat tubuh aku yang seksi?" goda Leli.
"Kata siapa? Geer saja," sahut Gerald ketus. Dia langsung pergi meninggalkan istrinya begitu saja. Menutupi perasaan malu dan groginya.
Sedangkan Leli bersikap tak peduli. Dia sekarang tak mau ambil pusing dengan sikap suaminya kepadanya. Dia memilih untuk sholat subuh dan membuat mie instant untuk sarapan pagi ini.
Gerald keluar dari kamar mandi, dia masih merasa malu dengan sikap bodohnya tadi. Padahal Leli bersikap cuek, dan bahkan tak mengingatnya. Mereka akan berangkat naik pesawat jam 09.00 pagi ini. Setelah sarapan mereka akan langsung bersiap-siap berangkat.
Setelah selesai sholat, Gerald keluar menemui istrinya yang sedang membuatkan mie instant dan juga teh manis hangat untuk mereka berdua. Dia memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Berpura-pura cuek dengan apa yang dilakukan istrinya, padahal perutnya terasa keroncongan mencium harumnya wangi indomie.
"Ayo kita sarapan dulu Ral! Setelah itu kita langsung siap-siap berangkat, agar tak telat," ujar Leli sambil meletakkan mangkuk berisi mie instant dan juga gelas berisi teh manis hangat.
Gerald masih bersikap cuek, seolah tak peduli dengan ucapan istrinya. Membuat Leli merasa kesal.
Kamu itu dengar enggak si sama ucapan aku? Ya sudah kalau kamu enggak mau makan, jangan salahkan aku kalau kamu kelaparan. Yang penting aku sudah berusaha untuk membuatkan kamu sarapan, menjalankan tugas aku sebagai seorang istri yang baik," cerocos Leli, seperti petasan di malam tahun baru. Mulut Leli terus mengumpat suaminya, yang membuat dia naik pitam.
Setelah selesai makan, dia langsung memilih untuk bersiap-siap untuk berangkat. Dress berwarna pink menjadi pilihan Leli, menambah kesan girly. Untuk rambutnya Leli membiarkan tergerai begitu saja. Leli memiliki rambut yang panjang sepunggung. Dia juga memiliki bibir mungil berwarna pink, kulit putih seputih susu, dan body yang begitu seksi. Dia tampak sempurna.
Di luar sana, Gerald baru saja selesai makan dan mencuci piring bekas makannya.
"Ayo cepat ganti baju! Kita harus segera berangkat," ujar Leli yang baru saja keluar dari kamar.
"Kamu yakin mau pergi pakai baju itu?" tanya Gerald membuat Leli memperhatikan pakaian yang dia kenakan, dan dia tampak mengerutkan keningnya. Karena baginya, tak ada yang aneh.
"Sudah sana ganti! Kalau tidak, kita batalkan saja keberangkatan kita," ujar Gerald.
"Kamu itu kenapa si? Memangnya kenapa si? Aku bingung deh cara pikir kamu. Selalu saja protes pakaian aku," sahut Leli ketus. Dia juga tampak menyilangkan tangannya di dadanya. Dia terlihat sinis memandang suaminya.
"Bagaimana aku enggak protes si? Kita ini mau berangkat liburan, bukan ke acara pesta. Sekarang lebih baik kamu ganti pakaian kamu dengan pakaian casual," jelas Gerald.
"Sudahlah, kita batalkan saja kepergian kita! Aku malas terus menerus berdebat sama kamu," ujar Leli yang langsung meninggalkan suaminya dan membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Aku mau telepon Papa, batalkan kepergian kita," teriak Leli dalam kamar.
Mendengar akan di batalkan, Gerald langsung berlari masuk ke kamar dan mencoba merebut ponsel Leli.
"Apaan sih? Lepasin aku! Ini yang kamu minta? Ok, aku akan mewujudkannya. Meskipun aku harus memendam perasaan kecewa aku," ucap Leli.
Gerald justru memeluk Leli dan berniat untuk mengambil ponsel Leli. Dia tak ingin Leli membatalkan kepergiannya.
"Kalau kamu masih berniat membatalkan kepergian kita, aku akan memperko*sa kamu sekarang juga," ancam Gerald. Bukan hanya sekedar ucapan, Gerald pun langsung membuktikannya dengan perbuatan.
Gerald langsung mencium bibir Leli, sepertinya dia sudah mulai kecanduan bibir Leli. Kemudian Gerald menarik tubuh Leli, membuat tubuh Leli kini berada di atas tubuhnya. Ciuman mereka semakin bergairah. Tangan Gerald meraba mencari resleting dress Leli dan membukanya. Membuat jantung Leli berdegup kencang.
Leli mendorong tubuh Gerald dan berusaha untuk menghentikannya. Hingga akhirnya Gerald menghentikannya. Kini netra mereka saling bertemu.
"Aku takut. Aku takut hamil. Aku ingin menyelesaikan sekolah aku dulu," pinta Leli dengan wajah penuh iba. Bagi Gerald wajah istrinya sangat imut dan menggemaskan.
"Iya. Ayo kita siap-siap! Maafin aku ya," ucap Gerald, tetapi tetap saja tanpa ekspresi.
Dia bangkit dan langsung bergegas memakai pakaiannya. Mengenakan celana panjang jeans berwarna biru, kaos tanpa kerah berwarna biru muda, dan hoodie berwarna navy. Tak lupa memakai topi untuk menambah kesan keren penampilannya.
"Maaf ya, karena membuat dress kamu kusut. Aku tunggu kamu di luar," ujar Gerald sambil menarik dua buah koper. Milik dia dan juga Leli.
Dengan perasaan kesal, Leli akhirnya mengganti pakaian yang warnanya senada dengan pakaian Gerald. Memakai jeans berwarna navy dan juga kaos berwarna biru muda.
"Kamu pakai hoodie aku, untuk menutupi tubuh kamu," ucap Gerald sambil memberikan hoodie yang di miliki kepada istrinya. Gerald memiliki banyak koleksi hoodie.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju bandara dengan menggunakan taksi online. Seperti biasa, tak ada sepatah katapun terlontar dari bibir Gerald. Tampangnya selalu serius. Hingga akhirnya Leli memilih memainkan ponselnya, untuk mengurangi rasa bete selama perjalanan.
Mereka sudah sampai di bandar udara Soekarno-Hatta, mereka turun dari mobil. Gerald menurunkan dua koper dari dalam mobil. Mereka membawa masing-masing. Tak butuh waktu lama, mereka kini sudah melakukan penerbangan menuju Bali. Kini mereka sudah sampai di Bali, dan akan menuju hotel tempat Papanya Leli sudah memesan untuk mereka.
"Ya ampun Papa," ucap Leli. Leli begitu terharu dan bahkan sampai meneteskan air matanya.
Karena sang Papa sudah menyiapkan kamar untuk mereka berbulan madu, yang sudah di dekor begitu indah, dan bertaburan bunga mawar di ranjang. Leli juga berjalan memasuki kamar mandi, terdapat bathtub di kamar mandinya. Kemudian Leli berjalan menuju pintu kamar hotel yang mengakses keluar. Papanya memang luar biasa, ini bukan nominal yang murah untuk menyewa kamar hotel semewah ini. Bahkan kamar tersebut memiliki kolam renang sendiri.
"Aku pengen langsung berenang," ujar Leli Dengan percaya diri dia membuka pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian renang yang begitu seksi di depan mata suaminya.
leli marah dan ngambek saat dia kira suami dekat dengan wanita lain
tapi disini leli jelas dekat dan dengan sengaja buat suaminya cemburu dan ujung2 dia balik yang marah dan suami juga akhir minta maaf, bagi sebagian ini lucu lucuan tapi bagi aku ini menunjukkan begitu egoisnya leli sebagai istri