"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Warung Bakpao Bardi
Malam pertama pengintaian, Bakpao Surya terlihat seperti warung paling tidak berbahaya di Distrik Surya.
Lampunya hangat. Kukusan bambu tersusun rapi. Bardi melayani pelanggan dengan senyum yang sama: sabar, ramah, sedikit menunduk, seperti paman baik hati yang hafal selera semua orang.
Seorang anak kecil datang membawa uang receh.
Bardi memberinya bakpao lebih besar dari pesanan.
"Biar kuat sekolah," katanya.
Dari mobil pengintaian di seberang jalan, Dimas menggumam, "Kalau kau salah, kita sedang mengawasi orang paling ramah di pasar."
Raka tidak melepas pandangan dari warung itu. "Aku berharap aku salah."
Ia sungguh berharap begitu.
Tapi aura hitam yang ia lihat saat berjabat tangan dengan Bardi masih tinggal di ingatannya seperti bau minyak lama. Terlalu pekat. Terlalu cocok. Tidak ada keraguan dari sistem.
Masalahnya, sistem bukan barang bukti.
Yudha sudah mengatakannya di kantor: "Kau boleh yakin. Tapi pengadilan tidak menerima keyakinanmu. Aku perlu rekaman, saksi, transaksi, barang, atau jejak fisik."
Maka mereka mengawasi.
Kribo memasang kamera kecil dari area publik, diarahkan ke jalan depan warung dan tempat sampah umum di ujung blok. Tidak masuk properti pribadi, tidak melanggar pagar, tidak menyentuh ruang tertutup. Andi memeriksa pemasangannya lalu hanya berkata, "Legal. Hampir mengesankan."
Kribo langsung tersenyum. "Bang Andi, dari mulutmu itu seperti lagu cinta."
"Jangan membuatku menyesal memujimu."
Selama dua puluh empat jam pertama, pola Bardi terlihat membosankan.
Itu justru membuat Raka gelisah. Pelaku ceroboh biasanya meninggalkan ledakan kecil: marah pada pelanggan, tergesa-gesa menutup toko, membuang barang sembarangan. Bardi tidak. Ia bergerak seperti orang yang sudah melatih rutinitas sampai setiap kebiasaan tampak alami.
Dimas mencatat jam. Bayu memotret pengiriman. Andi membandingkan nomor kendaraan. Raka memeriksa setiap detail yang terlihat tidak penting, karena pada orang seperti Bardi, celah besar mungkin tidak pernah ada.
Ia membuka warung pukul enam pagi.
Membuat adonan sendiri.
Menerima pelanggan.
Menutup sebentar setelah siang.
Membuka lagi menjelang malam.
Tidak ada pegawai. Tidak ada keluarga. Tidak ada teman yang duduk lama. Pengiriman bahan datang tanpa logo perusahaan, dibawa motor boks putih tanpa nama. Bardi menerima paket daging dan bumbu di pintu samping, membayar tunai, lalu membawa semuanya ke ruang belakang.
Andi menelusuri nomor polisi motor boks itu.
Palsu.
Atau setidaknya terdaftar pada kendaraan lain yang sudah tidak aktif.
"Supplier daging tidak resmi," kata Andi di briefing kecil. "Bukan dari pasar, bukan distributor legal. Kalau warung kecil, itu mungkin penghematan. Kalau tersangka pembunuhan berantai, itu masalah."
Yudha menatap layar. "Catat. Tapi belum cukup."
Andi juga menggali latar belakang Bardi.
Bardi Sucipto. Empat puluh delapan tahun. Pindah ke Distrik Surya empat tahun lalu dari kota kecil di luar provinsi. Tidak menikah. Tidak ada keluarga tercatat di kota. Tidak ada catatan kriminal. Izin usaha kecil lengkap. Pajak tidak menunggak. Tetangga mengenalnya sebagai orang sopan yang kadang memberi makanan gratis.
Profil yang terlalu bersih.
"Orang tanpa masa lalu lokal," kata Raka. "Lebih mudah membangun wajah baru."
Dimas mengangguk. "Atau dia memang cuma pedagang penyendiri."
"Kau masih berharap aku salah?"
"Aku berharap semua orang salah. Tapi aku tidak bertaruh pada harapan."
Malam kedua, Raka dan Kribo mendekati belakang warung dari gang samping. Mereka tidak melewati pagar. Tidak membuka pintu. Hanya berdiri di area umum yang berbatasan dengan dinding belakang Bakpao Surya.
Bau busuk samar merayap dari ventilasi kecil.
Tertutup rempah, bawang, dan adonan kukus.
Tapi ada.
Kribo menutup hidung. "Bro... itu bukan bau bakpao basi."
Raka mengaktifkan Mata Dosa.
Dinding belakang warung berubah seperti dilumuri bayangan hitam. Aura dosa menumpuk di satu titik, di balik lantai atau ruang bawah, pekat seperti noda yang tidak bisa dicuci. Tempat itu lebih dari dapur dan ruang penyimpanan bahan.
Tempat itu pernah menjadi pusat ketakutan.
【Aura dosa lokasi: sangat tinggi.】
【Kemungkinan lokasi pembunuhan/pemotongan: kuat.】
Raka mundur setengah langkah.
Kribo melihat wajahnya. "Separah itu?"
"Lebih buruk."
Mereka kembali tanpa menyentuh apa pun.
Bukti legal datang beberapa jam kemudian.
Kamera kecil Kribo menangkap Bardi keluar pukul 01.13. Ia membawa kantong plastik hitam tebal, jenis yang sama dengan pembungkus mayat. Alih-alih memakai tempat sampah depan warung, ia berjalan hampir lima ratus meter ke tempat sampah umum di dekat jalan kecil, menunggu motor lewat, lalu melemparkannya cepat dan kembali.
Tidak cukup untuk membuktikan pembunuhan.
Cukup untuk surat penggeledahan jika digabung dengan plastik TKP, supplier gelap, petunjuk rempah, dan aura... bukan, dugaan kuat lokasi.
Yudha meminta semuanya dirapikan seperti berkas yang siap ditendang jaksa paling galak sekalipun. Rekaman kamera diberi waktu, lokasi, dan sudut pengambilan. Foto kantong plastik dari TKP disandingkan dengan kantong yang dibuang Bardi. Catatan supplier palsu diberi lampiran. Tidak ada kalimat "Raka merasa" di dalamnya. Hanya fakta yang bisa berdiri sendiri.
Raka melihat berkas itu dan paham lagi: sistem bisa menunjukkan arah, tapi manusia harus membangun jembatannya batu demi batu.
Nadia dihubungi lewat telepon malam itu.
"Jika pelaku menggunakan pisau dapur profesional dan memotong dengan presisi," katanya, "kemungkinan besar ada peralatan khusus. Cari meja potong stainless steel, penggiling daging, freezer besar yang tidak proporsional untuk skala warung, dan area yang bisa dicuci tanpa meninggalkan bau ke ruang depan."
Kribo yang mendengar dari speaker langsung memucat. "Freezer besar. Penggiling daging. Kenapa daftar belanja ini membuatku ingin pindah planet?"
Nadia menjawab datar, "Karena kamu masih sehat secara psikologis."
Yudha menutup map bukti. "Cukup. Aku urus surat penggeledahan besok pagi. Sampai itu keluar, tidak ada yang mendekati Bardi. Dia tidak boleh curiga."
Malam itu, Raka tidak tidur.
Ia duduk di kasur kos, menatap dinding, merasakan kembali adonan hangat yang ia gigit di Bakpao Surya. Rasa rempahnya seperti masih menempel di lidah meski ia sudah berkali-kali menyikat gigi.
Kribo berbaring di lantai, juga tidak tidur.
"Bro," kata Kribo akhirnya, "kau serius mikirin itu?"
Raka diam.
"Jangan. Aku tahu otakmu. Kau lagi menghubungkan bakpao, freezer, penggiling daging, dan korban. Jangan dilanjutkan."
Raka menutup mata.
"Kalau isi bakpao itu ternyata..."
"JANGAN dilanjutin. Aku mohon sebagai saudara sepanti, sebagai partner teknis, dan sebagai manusia yang masih ingin makan karbohidrat tanpa trauma."
Raka hampir tertawa, tapi tidak keluar.
Di atas meja, Buku Penghakiman tetap tertutup.
Poinnya nol.
Besok mereka harus menangkap Bardi dengan hukum manusia lebih dulu.
Dan jika pintu belakang warung itu benar menyimpan apa yang ia takutkan, tidak ada satu pun dari mereka yang akan keluar dari sana sebagai orang yang sama.