Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 - MIMPI DICEKIK EKOR
Semalaman Kirana tidur tidak nyenyak. Ia bermimpi aneh: di tengah kabut tebal, sosok kecil Rangga yang polos dan manja menggenggam ujung bajunya erat-erat, sementara sebatang ekor naga bersisik melilit pelan ke arah lehernya. Betapapun kecil dan polosnya wujudnya dalam krisis, makhluk di sampingnya tetaplah manusia naga pewaris darah tua yang tidak bisa diremehkan.
Dalam mimpi itu, ekor tersebut tidak terasa menyakitkan — tetapi tetap saja mencekik, membuat napasnya sesak. Ia berusaha meraih sosok kecil itu, namun kabut semakin pekat memisahkan mereka. Begitu terbangun, Kirana mendapati selimutnya benar-benar terlilit di lehernya sendiri. Padahal tadi malam ia telah menyanyikan Kidung Penenang sampai suaranya serak.
"Untung saja hanya mimpi," desahnya sambil menggelengkan kepala. "Kalau ekor naganya sungguhan melilit leherku seperti itu, besok aku tidak akan sanggup menjalani hari." Ia tertawa geli membayangkan wajah polos Rangga ketika terbangun dan mendapati ulahnya sendiri semalam.
---
Baru saja selesai bersiap, Kirana dihadang oleh suara langkah pincang dari ujung koridor. Sekar datang lagi, wajahnya masih sembab karena menangis semalam. Kali ini ia datang membawa wajah paling pilu yang bisa ia perlihatkan.
Kirana tersenyum ramah, lalu berkata dengan nada yang sangat serius: "Mungkin juga benar, tapi aku sudah memikirkannya — Sekar, kali ini Danendra menyelamatkanmu, apa kau sanggup menikah dengannya? Kalau tidak, kau saja yang menikah dengannya. Dengan begitu, hubungan kedua keluarga kita tetap terjaga baik, bukan? Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui." Kata-kata itu diucapkan dengan wajah paling polos yang bisa Kirana perlihatkan, padahal di belakangnya sedang berdiri rencana yang rapi.
Melihat senyum tulus yang tersungging di wajah Kirana, Sekar justru mundur dua langkah.
Kenapa jalan ceritanya berbeda dari yang ia bayangkan?!
Seharusnya Kirana marah dan memakinya, lalu membangkitkan kemarahan keluarga Wijaya terhadap dirinya.
Saat itu, bukankah seluruh keluarga Wijaya akan ikut menghakimi Kirana?
Tetapi yang ia lihat justru kasih sayang seorang kakak di mata Kirana. Sekar benar-benar tertegun, kehilangan kata-kata, tidak tahu lagi harus memainkan lakon apa.
Akhirnya, karena kaki yang luka itu terlalu sakit untuk berdiri lama, Sekar hanya bisa dibantu kembali ke kamarnya oleh seorang pelayan.
Setelah Sekar pergi, sudut bibir Kirana melengkung membentuk senyum dingin. Ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerja Ki Ageng untuk membicarakan sesuatu yang lebih penting. Menjaga kepercayaan keluarga lebih penting daripada memanjakan drama yang tidak ada habisnya.
"Kek, apakah keluarga Prasaja akan menyerang usaha keluarga kita?"
Bertahun-tahun ini, keluarga Wijaya dan keluarga Prasaja bekerja sama dan saling menguntungkan. Tetapi sebenarnya, keluarga Wijaya lah yang paling diuntungkan. Bagaimanapun, keluarga Wijaya memonopoli usaha makanan di seluruh Kekaisaran Cakrawala, dari rumah makan besar hingga kedai ramuan di sudut-sudut kota. Rasa yang diciptakan tangan-tangan keluarga Wijaya selalu dicari, dan nama mereka sudah melampaui batas Provinsi Seruni.
Sedangkan keluarga Prasaja? Keuntungan dari Kompanye Angin mereka bahkan tidak sampai sepertiga dari pendapatan keluarga Wijaya.
Untuk waktu yang lama, keluarga Prasaja menyimpan ambisi besar, dan tentu saja mereka tidak rela. Dalam pernikahan kali ini, mereka sengaja membiarkan kesalahan Danendra terjadi — boleh dikata mereka sedang menguji keluarga Wijaya di depan mata. Mereka ingin melihat seberapa jauh keluarga Wijaya bisa ditahan, dan seberapa cepat keduanya akan menyerah.
Ki Ageng tentu paling mengenal watak sahabat lamanya itu. Ia bertanya kepada Kirana: "Kalau mereka benar-benar memutus pasokan sayur dan rempah kita, apa menurutmu, Rara?"
"Kita harus bersiap lebih awal agar tidak terhambat sepenuhnya oleh mereka. Aku pernah mendengar dari Ayah, kapal terbang pengangkut kita pernah dihadang bajak langit. Saat itu, ada seorang petinggi yang membantu menangani urusan sayur-mayur kita. Kek, bisakah kita meminta bantuan petinggi itu lagi?"
Dalam dua tahun sejak terbangun dari Peti Kaca Rembulan, meskipun Kirana hanya berdiam di rumah, ia tidak pernah menganggur. Telinganya selalu terbuka untuk setiap berita, baik yang besar maupun yang remeh.
Ia tahu betul semua kejadian besar yang menimpa keluarganya selama lima tahun ia tertidur.
Termasuk soal bantuan misterius yang datang tanpa diduga itu. Kabar bahwa kapal terbang keluarga Wijaya pernah dihadang bajak langit sempat membuat seluruh rumah cemas, sebelum seorang petinggi tanpa nama datang menyelamatkan muatannya.
Sejak kejadian itu, jalan untuk menghubungi petinggi tersebut disimpan rapat seperti harta karun, dan hanya Ki Ageng yang memegang kuncinya.
Ki Ageng mengusap dagunya, akhirnya berkata: "Petinggi itu, aku sendiri tidak tahu mengapa ia mau menolong kita. Aku hanya tahu ia bekerja di istana, tetapi posisinya tidak pernah diketahui. Yang tersedia hanyalah satu jalan untuk menghubunginya." Sang kakek berpikir lama, menimbang-nimbang sesuatu di balik matanya yang tajam.
"Istana?" Begitu kata itu terucap, pikiran Kirana langsung melayang kepada sosok Rangga. Tidak ada jalan lain — setiap kali mendengar kata "istana", ia pasti teringat kepada suaminya sendiri.
Bahkan dalam mimpi buruknya sekalipun, ia selalu bermimpi si Rangga kecil yang lembut dan menggemaskan itu memeluknya erat, sementara ekor naganya melilit lehernya dan mencekiknya pelan!
Tentu saja Ki Ageng tidak tahu bahwa cucunya sedang mengingat mimpi buruk semalam. Ia melanjutkan: "Pihak lain adalah petinggi istana, dan aku tidak yakin apakah ia bersedia membantu lagi. Aku akan memberikanmu jalan untuk menghubunginya. Urusan ini kau yang memegang."
Kirana terdiam, akhirnya mengangguk.
Tetapi setelah menerima cara menghubungi itu, ia merasa gelisah. Ada kehangatan aneh yang menjalari ujung jarinya, seolah sesuatu yang samar tengah menggelitik pikirannya tanpa henti. Ia memejamkan mata, dan yang muncul di benaknya justru wajah Rangga lagi.
Semoga ia terlalu banyak berpikir. Semoga petinggi istana itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Rangga.
Kakek dan cucu itu mengobrol cukup lama membahas berbagai kemungkinan. Tak lama kemudian, Bawono datang ke ruang kerja itu.
Ia ternyata pergi menjenguk Sekar yang terluka terlebih dahulu, barulah buru-buru mencari Kirana. "Rara, keluar! Ayah ada sesuatu yang ingin disampaikan!" Suaranya terdengar tergesa, seolah urusan yang dibawanya tidak bisa ditunda lagi.
Menyadari bahwa ayahnya lebih memedulikan anak orang lain daripada anak kandungnya sendiri, Kirana tidak terlalu menghiraukan. Ia menjawab dengan serius: "Ayah, ada apa sampai Ayah harus membicarakannya di belakang Kek?"
Ki Ageng menatap putranya dengan dingin. Bawono tersedak, tidak sanggup melanjutkan panggilannya. Ia mengerutkan kening: "Bukan salahmu! Danendra tidak sengaja tidak datang hari itu, dan ia juga telah memohon kepadamu — kenapa kau tidak memaafkannya? Nah sekarang, keluarga Prasaja ingin mempertimbangkan kembali kemitraan kedua keluarga kita!" Kirana mendengar semuanya tanpa berkata, tetapi di balik kelopak matanya yang tenang, sudah tersusun rencana yang tidak akan ia bagikan kepada siapa pun.