NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENOLONG

Menjelang malam, Joe perlahan tersadar. Sebagian darah sudah mengering di wajahnya, menempel kasar di kulit yang kini terasa kaku dan perih. Seluruh tubuhnya terasa remuk seakan setiap tulang dan ototnya dipukuli habis-habisan akibat hantaman para bodyguard tadi siang. Ia berbaring di lantai yang dingin dan keras, sendirian di ruangan yang luas namun remang-remang. Setiap kali mencoba menggerakkan sedikit saja, rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Napasnya terasa berat, seakan dadanya ditekan benda berat. Dalam kesunyian yang mencekam itu, pikirannya mulai berputar pelan namun berat dan penuh kegelisahan.

Apakah ini akhir buatku? batinnya sambil menatap langit-langit yang samar-samar terlihat. Apakah semuanya berakhir begitu saja di tempat asing ini, tanpa aku sempat membongkar kebenaran dan membalaskan dendam ayah serta ibuku? Apakah keadilan yang kucari selama bertahun-tahun hanya akan lenyap begitu saja bersama nyawaku?

Pikiran itu membuat dadanya sesak bukan karena luka, melainkan karena rasa putus asa yang perlahan mulai merayap masuk. Namun ia segera menggeleng pelan, menepis pikiran lemah itu. Ayah dan ibunya telah dikhianati, dibunuh dengan kejam — dan ia tidak boleh menyerah sebelum semua pelakunya mendapatkan balasan setimpal.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka lebar. Cahaya lampu terang dari luar langsung menyilaukan matanya yang sudah lama terbiasa dengan kegelapan. Berdiri di ambang pintu adalah Mama Billy, mengenakan gaun malam yang mewah dan berhias, wajahnya tampak tenang namun matanya menyimpan kilat tajam yang tak bisa disembunyikan. Di belakangnya berdiri dua orang bodyguard berbadan tegap, berjalan tegak dengan wajah kaku tanpa ekspresi. Mereka masuk ke dalam ruangan yang luas itu — ruangan yang tampak seperti ruang tamu hotel mewah namun kini berfungsi sebagai tempat penahanan yang sunyi dan mengerikan.

Mama Billy memberi isyarat pada bodyguard itu dengan tangan. "Letakkan makan malamnya di meja," perintahnya dengan nada tenang dan berwibawa. "Kemarilah, Joe. Makanlah. Kau butuh tenaga."

Joe mengangkat kepalanya perlahan, meski gerakan itu saja terasa sangat menyakitkan. Ia menatap wanita itu dengan pandangan yang penuh kebencian dan ketidakpercayaan. Ia tidak bergerak sedikit pun dari posisinya berbaring.

"Jangan berpura-pura baik di depanku," ucap Joe dengan suara serak dan lemah namun tegas, penuh penolakan. "Aku tahu betul siapa kalian sebenarnya. Aku tahu kejahatan apa yang kalian sembunyikan di balik kemewahan ini."

Mama Billy tersenyum lebar, senyum yang terlihat menggoda namun menyembunyikan ketajaman serta bahaya yang besar. Ia melangkah perlahan mendekat, lalu berdiri tepat di samping tempat Joe berbaring di lantai. Aroma parfum mahal wanita itu tercium jelas, namun bagi Joe itu hanya bau yang menjijikkan.

"Walaupun kau adalah anak musuhku," ucapnya pelan namun jelas, suaranya terdengar lembut namun penuh makna tersembunyi, "Tante tidak mau kau mati duluan. Belum saatnya. Sebelum kau mati, Tante masih ingin menikmati waktu denganmu — bahkan menidurimu, jika kau tahu maksudku."

Joe menatapnya tajam tanpa takut sedikit pun, lalu tersenyum tipis yang penuh arti. "Kau pikir kau tahu segalanya tentangku? Padahal aku pun tahu rahasia terbesarmu. Rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan seluruh kehidupanmu yang terlihat sempurna ini."

Wajah Mama Billy seketika berubah pucat. Ia menunduk menatap Joe dengan mata yang melebar, penuh keterkejutan sekaligus kewaspadaan yang mendesak. Segera ia menoleh ke kedua bodyguard yang berdiri menunggu di dekat pintu.

"Kalian berdua, tunggu di luar sekarang," perintahnya singkat dan tegas, nada lembutnya hilang seketika berubah menjadi dingin dan mengancam. "Tutup pintunya rapat-rapat. Jangan ada satu pun yang mencoba menguping pembicaraan."

Setelah kedua pria itu keluar dan pintu ditutup, Mama Billy kembali berbalik menatap Joe. Suaranya kini berubah lebih rendah dan dingin, seakan udara di ruangan itu ikut mendingin.

"Baiklah," ucapnya pelan namun penuh ancaman. "Sekarang cuma kita berdua. Tidak ada orang lain. Apa rahasia yang kau maksud? Katakan."

Joe tertawa pelan, meski tertawa saja terasa menyakitkan karena luka di seluruh tubuhnya. "Aku tahu hubunganmu dengan Rey," ucapnya lantang namun tenang, menatap lurus ke mata wanita itu. "Hubungan yang seharusnya tidak pernah ada. Hubungan yang jika diketahui orang lain, terutama Billy, akan menghancurkan segalanya."

Wajah Mama Billy seketika benar-benar pucat. Ia mundur selangkah, tak mampu menyembunyikan keterkejutan dan kegelisahannya. Mulutnya sedikit terbuka, seakan ingin berkata sesuatu namun kata-katanya tertahan di tenggorokan.

Joe melihat reaksi itu dan melanjutkan dengan nada yang lebih tegas. "Bagaimana kalau Billy tahu? Bagaimana perasaannya mendengar apa yang dilakukan ibunya di belakang punggungnya bersama sahabatnya sendiri? Bagaimana jika semua orang tahu siapa sebenarnya wanita yang mereka hormati selama ini?"

Mama Billy menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya yang sempat kacau. Perlahan ia kembali tenang, namun senyum di wajahnya kini berubah menjadi senyum yang jauh lebih dingin dan mengancam daripada sebelumnya. Ia tertawa kecil tanpa suara, tawa yang terasa mengerikan.

"Kau tidak akan pernah punya kesempatan untuk bicara dengan Billy," ucapnya pelan namun tegas dan meyakinkan. "Tidak akan ada yang mempunyai kesempatan untuk mendengar kalian karena kalian akan segera mati."

Ia lalu berbalik melangkah ke pintu, membukanya sedikit, dan memanggil salah satu bodyguard yang menunggu di luar.

"Bawa dia ke sini," perintahnya singkat. "Bawa Arthur."

Tak lama kemudian, pintu terbuka lebar lagi. Dua orang bodyguard masuk sambil menyeret tubuh Arthur yang terkulai lemah di lantai. Kakinya menyeret di lantai kasar, wajahnya tertunduk tak berdaya. Mereka melemparkannya ke lantai tepat di samping Joe dengan kasar, lalu berbalik pergi dan menutup pintu kembali.

Mama Billy tertawa melihat mereka berdua terbaring lemah di lantai, tak berdaya sama sekali. Sebelum keluar dari ruangan, ia berhenti sejenak di ambang pintu dan menoleh ke belakang sambil tersenyum manis namun mengerikan.

"Nikmati waktu berhargamu bersama temanmu ini," ucapnya dengan nada yang penuh makna. "Karena waktu kalian tidak akan lama lagi."

Pintu tertutup rapat. Ruangan kembali sunyi sepi, hanya terdengar suara napas berat mereka berdua yang saling bersahutan.

Joe segera menoleh ke arah sahabatnya dengan susah payah. Matanya membelalak melihat keadaan Arthur yang sungguh mengenaskan. Wajahnya penuh luka — ada sayatan pisau yang melintas dari pelipis hingga pipi, lukanya mulai mengering namun terlihat sangat dalam. Tangan kirinya tergantung lemas di samping tubuh, jelas sekali tulangnya patah dan tak lagi berfungsi. Pakaiannya robek-robek dan kotor berlumuran darah serta debu.

"Arthur..." panggil Joe pelan dengan suara bergetar karena terharu dan marah sekaligus. "Apa yang terjadi sama loe? Siapa yang bikin loe begini?"

Arthur tersenyum miring meski wajahnya jelas sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. "Pertanyaan bodoh," jawabnya singkat dengan suara yang lemah namun tetap tenang. "Gua cuma kalah jackpot."

Ia menghela napas panjang, berusaha mengatur napasnya yang terputus-putus sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Ini lembur gua, dan harus dihitung. Mahal bayarannya nanti."

Joe ikut tersenyum tipis meski hatinya terasa perih dan berat melihat sahabatnya terluka begitu parah demi dirinya. Di tengah situasi yang mengancam nyawa sekalipun, Arthur masih saja bersikap tenang dan bercanda seperti biasa. Itulah yang membuatnya menjadi sahabat yang paling berharga bagi Joe.

Arthur lalu menatapnya dengan tatapan serius namun lembut, berusaha menahan rasa sakit sambil berbicara pelan. "Kalau... kalau kita masih bisa selamat dari sini," ucapnya dengan susah payah, "Gua minta bayaran tambahan. Beli gua mobil matic. Tangan kiri gua patah, gua nggak bisa nyetir mobil manual dulu."

Joe tersenyum pahit dan mengangguk pelan. "Oke, gue janji. Tapi semoga ada yang datang sebelum semuanya telat," gumamnya pelan lebih kepada dirinya sendiri.

Belum lama kata-kata itu terucap, tiba-tiba terdengar suara pintu didorong terbuka dengan cepat dan kasar, seakan seseorang mendesak untuk segera masuk. Bukaan pintu itu memperlihatkan sosok seseorang yang bergerak masuk dengan tergesa-gesa. Seorang wanita mengenakan seragam pelayan hotel yang rapi namun sedikit kusut, wajahnya tertutup masker kain hingga hanya matanya yang terlihat, dan gerakannya cepat serta sangat waspada. Ia menutup pintu dengan cepat di belakangnya lalu berdiri di depan mereka, menatap sekilas ke arah pintu lalu kembali menatap Joe dan Arthur.

"Cepat," ucapnya dengan suara yang rendah namun tegas dan mendesak. "Bangun dan ikut aku. Keluar dari sini sekarang, kalau kalian masih ingin hidup."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!