Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Desa yang Berubah Pandangan
Selama tiga hari setelah perburuan, pagar rumah kontrakan hampir tidak pernah sepi.
Mbah Parti datang membawa telur sebagai ucapan terima kasih karena kebunnya selamat. Ibu Darto mengirim pisang. Para petani yang menerima daging bergantian menawarkan bantuan memperbaiki atap dan saluran air.
Laras menerima ucapan mereka, tetapi menolak pemberian yang terlalu banyak.
“Kalau semua sayur ditinggal di sini, besok satu rumah harus makan seperti kambing,” candanya.
Orang-orang tertawa. Mereka pulang dengan perasaan dihargai, bukan ditolak.
Bu Marni melewati halaman tanpa menyindir. Ucok pun berhenti di jalan dan menunggu izin sebelum menyapa Sekar. Kekalahan di rumah Pak Waluyo dan pembagian daging yang tetap adil membuat keluarga itu kehilangan alasan untuk mengganggu.
Perubahan paling terasa pada Guntur.
Beliau mulai duduk di teras setiap pagi, membantu petani membaca surat pupuk atau menghitung kebutuhan bibit. Ia tidak memakai pangkat dan tidak membicarakan perkara, tetapi warga memanggilnya Pak Guntur dengan hormat, bukan dengan rasa ingin tahu yang menusuk.
Seorang lelaki tua meminta pendapat tentang sengketa batas kecil. Guntur menolak memutuskan dan menyarankan mereka mengukur bersama perangkat desa.
“Saya bukan pejabat di sini,” katanya. “Saya hanya bisa membantu kalian membuat pertanyaan yang tepat.”
Sikap itu justru membuat orang semakin percaya.
Pakde Karyo sesekali duduk menemaninya. Mereka tidak banyak membicarakan kesatuan. Kadang hanya cuaca, harga solar, atau cara menjaga lutut tetap hangat. Namun Laras melihat Guntur mulai tertawa lagi, pendek dan serak, setiap Pakde Karyo mengeluh tentang penumpang yang menawar ongkos setelah sampai tujuan.
Suatu pagi, seorang anak membawa buku matematika dan meminta bantuan. Guntur memanggil Sekar, lalu keduanya mengajari anak itu menghitung pecahan dengan potongan daun pisang. Dua anak lain ikut datang. Teras yang dulu dipenuhi kardus kini berubah menjadi tempat belajar kecil.
“Bapak cocok jadi guru,” kata Laras.
“Jangan tambah pekerjaan saya.”
Namun keesokan hari, beliau sudah menyiapkan kertas bekas yang sisi belakangnya masih kosong.
Perubahan itu tidak menghapus ketidakadilan yang menimpanya. Surat pemeriksaan masih datang, dan beberapa malam Arya membantu beliau menyusun jawaban sampai larut. Tetapi setidaknya Guntur kembali merasa kemampuannya berguna bagi orang lain. Harga dirinya tidak lagi bergantung sepenuhnya pada seragam yang sedang ditanggalkan.
Laras menjaga agar warga tidak melihat dokumen perkara. Semua surat tetap disimpan terpisah dari buku anak-anak. Kehormatan baru yang mereka bangun di desa tidak boleh mengorbankan kehati-hatian terhadap kasus lama.
Sore hari, Guntur memanggil Laras ke teras. Di meja ada mangkuk sup ayam buatan Rukmini.
“Makan dulu,” katanya.
“Aku baru makan singkong di rumah Ningsih.”
“Itu camilan.”
Laras duduk. Guntur mendorong mangkuk lebih dekat, lalu berkata tanpa menatapnya, “Bapak salah menilaimu.”
Sendok Laras berhenti.
“Saat kamu memilih ikut, Bapak pikir kamu akan menyerah setelah seminggu. Sekarang rumah ini berdiri karena kamu mengatur banyak hal yang tidak kami lihat.”
“Arya yang menghentikan celeng.”
“Dan kamu yang memastikan ia tidak berjalan sendiri.”
Guntur menarik napas. “Apa pun yang terjadi pada perkara Bapak, kamu dan anakmu adalah keluarga kami. Bukan karena kamu bertahan saat susah. Karena kamu memang anak kami.”
Mata Laras memanas. Ia memiliki ayah di atas kertas, tetapi jarang mendengar kalimat yang begitu sederhana tanpa syarat.
Rukmini keluar sambil membawa vitamin. “Kalau sudah membuat menantu Ibu menangis, Bapak yang bujuk.”
“Saya tidak menangis,” bantah Laras.
Sekar muncul dari pintu. “Mbak Laras selalu bilang begitu saat matanya merah.”
Itu pertama kalinya sapaan tersebut terdengar tanpa sindiran atau kewajiban. Sekar duduk di sampingnya dan menyodorkan saputangan.
“Mbak harus sehat,” katanya. “Keponakanku belum boleh lahir sebelum waktunya.”
Arya pulang saat tiga orang sedang mengawasi Laras menghabiskan sup. Ia bersandar di pagar, tampak puas.
“Mas, tolong aku,” keluh Laras.
“Saya mendukung mereka.”
“Pengkhianat.”
“Suami yang takut pada tiga orang sekaligus.”
Tawa memenuhi teras.
Perubahan hubungan keluarga berjalan bersama perubahan penghidupan. Pesanan jahit Ningsih bertambah menjadi dua puluh empat potong setelah istri petani melihat daster menyusui contoh. Laras tidak menerima semuanya sekaligus. Ia membagi tenggat, uang muka, dan kapasitas agar mereka tidak bekerja sampai larut.
Seorang pemilik warung meminta Laras membuat daftar harga lauk bungkus mingguan. Pakde Karyo memberi kabar pasar dan menawarkan membawa barang dengan ongkos tetap. Seluruh peluang itu kecil, sah, dan tercatat.
Pak Waluyo datang membawa surat RT yang sebelumnya tertunda. Kali ini ia duduk sopan dan meminum teh tanpa menyinggung masa lalu keluarga.
“Kalau ada kegiatan desa, keluarga Pak Guntur kami harap ikut memberi saran,” katanya.
“Kami ikut sesuai kemampuan,” jawab Laras. “Bapak masih perlu banyak istirahat dan aku tidak boleh kerja berat.”
“Tentu, tentu.”
Pak Waluyo juga menyebut sekolah dasar akan mencari guru honorer setelah masa panen selesai. Belum ada pengumuman resmi, tetapi Laras menyimpan informasi itu.
“Mbak Laras cocok mengajar,” kata Sekar setelah kepala desa pergi.
“Kalau ada proses terbuka, aku akan mencoba.”
Arya menatapnya. “Saya bantu kamu belajar.”
“Mas yang bantu aku?”
“Saya pernah mengajar prajurit yang jauh lebih keras kepala daripada murid sekolah dasar.”
“Itu bukan kualifikasi guru.”
“Tapi cukup untuk menguji kesabaranmu.”
Malamnya, beberapa ibu datang menanyakan pola baju dan jadwal pesanan. Ada pula yang bercanda ingin menjodohkan Sekar dengan keponakan mereka. Sekar melarikan diri ke dapur dengan wajah merah.
Rukmini menolak semua pembicaraan serius dengan halus. “Anak saya belum mencari jodoh. Biarkan dia mencari hidupnya dulu.”
Laras mengingat cara keluarga Wijaya memperlakukan anak perempuan sebagai alat hubungan. Jawaban Rukmini terasa seperti hadiah lain yang tidak dapat dihitung dalam buku kas.
Saat pagar akhirnya ditutup, Arya memijat kaki Laras yang sedikit bengkak setelah banyak duduk menerima tamu.
“Desa menyukaimu,” katanya.
“Mereka menyukai Mas yang menembak celeng.”
“Rencana pembagian daging milikmu.”
“Mas yang membuat semua orang pulang.”
Arya menatapnya. “Berarti kita berhenti berebut siapa yang berjasa.”
“Kita bagi dua?”
“Tidak. Saya tetap memberi bagian lebih besar kepada istri saya.”
Laras tertawa, lalu menyandarkan kepala pada bahunya.
Di luar, orang-orang mulai menyebut rumah kontrakan itu bila membutuhkan bantuan atau pekerjaan. Di dalam, Laras tidak lagi merasa sebagai tamu yang harus terus membuktikan haknya untuk tinggal.
Namun di rumah Pak Waluyo, Melati terus menghitung semua perubahan yang tidak mampu ia hentikan.
Setiap ucapan terima kasih yang tiba di pagar Laras terdengar baginya seperti satu halaman lain dari masa depan yang disobek perlahan tepat di depan matanya sendiri setiap hari, tanpa bisa ia rebut kembali.