Ayu Lestari, gadis cantik yang ditinggal menikah oleh kekasihnya saat ini sadar kenapa pacaran dilarang, dan ia menyadari jika memang pacaran hanya membuang waktu dan tidak bermanfaat sama sekali, bahkan membuat pikirannya kacau.
Perlahan Ayu mulai memperbaiki diri. Hijrah menuju hal yang lebih baik, belajar tentang bagaimana cara menyalurkan fitrahnya sesuai dengan syari'at. Apakah Ayu akan menemukan pasangan yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eh ... Bertemu Lagi
"Kenapa ih?" Ajeng heran melihat tingkah Ayu yang terlihat terkejut dan takut. Ayu malah membenamkan wajahnya di punggung Ajeng.
"Ayu, ih makanya kalau mau tidur baca doa dulu, bangun-bangun malah gini," ledek Ajeng. Ayu mencubit pinggang sahabatnya hingga Ajeng mengaduh.
"Diem deh, jangan bergerak, udah dengerin tuh dosen ngomong," ucap Ayu. Ajeng malah jadi tidak konsen karena Ayu bersembunyi di belakang punggungnya.
"Rugi lhoo Yu kalau nggak dengerin, melototin, tuh yang lain sampai nggak pada berkedip semua, suaranya lakiable, postur tubuhnya tegap kaya papan tulis, senyumnya kaya kurma tunisia, manis-manis kres, tata bahasanya kaya operator telkomsel, enak didengar." Ajeng terus saja memuji dosen ganteng yang bernama Bhumi Prayoga itu. Sementara Ayu malah geleng kepala mendengar Ajeng yang terus memuji.
Haduh, tiba-tiba Ayu ingin buang air, padahal tadi sudah dari toilet, gara-gara grogi membuatnya ingin buang air lagi. Ayu pamit ke toilet pada Ajeng, setelah Ajeng mengiyakan, ia langsung bergegas ke toilet.
Sesampainya di toilet, ayu membuka peniti yang terpasang di jilbabnya, lalu membasuh muka perlahan agar kantuknya hilang, ah dari tadi juga sudah hilang gara-gara penampakan mas Bhumi di panggung.
Ayu merapikan kembali jilbabnya, lalu menuntaskan hajatnya, setelah itu kembali lagi ke ruangan seminar. Ia sedikit menghilangkan rasa gugupnya, melihat mas Bhumi dari kejauhan, benar kata Ajeng, terlihat begitu gagah dan smart.
Mas Bhumi sedang membicarakan tentang kesehatan mental yang penting untuk dijaga, tidak boleh diabaikan, apalagi saat ini kondisi akhir zaman, ada berbagai hal begitu mudah menghancurkan mental seseorang. Kesehatan mental yang baik mampu menciptakan pandangan yang positif, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Karena kesehatan mental berkaitan dengan kesehatan fisik, seorang dengan mental yang sehat lebih mampu untuk sembuh dari penyakit. Terdapat tiga cara penting untuk meningkatkan serta menjaga mental yaitu dengan berolahraga, makan dengan benar, dan mengendalikan stres.
"Tahu saja kalau mahasiswa seperti kita jarang olahraga, makan tidak teratur, tapi stres berkepanjangan," celetuk Ayu yang kini sudah duduk di sebelah Ajeng.
"Kamu kali yang stres berkepanjangan, mengerjakan tugas sampai subuh," sindir Ajeng. Ayu hanya terkekeh mendengar sindiran sahabatnya.
"Udah nggak ngantuk?"
Ayu menggeleng, "Bagaimana bisa mengantuk, gara-gara kamu sih Jeng, bangunin aku, suruh lihat ke sana, langsung deh kaget."
"Memangnya kenapa sih?"
Ayu menutup wajahnya dengan telapak tangan, "Dia mas Bhumi yang baru saja aku ceritakan di kantin tadi."
"What? yang katamu tengil itu?"
Ayu menggeleng, Ajeng juga ikut menggeleng, tidak habis fikir, manusia seperti pak Bhumi dianggap tengil oleh sahabatnya.
"Mana aku tahu kalau dia dosen dan jadi pembicara di sini, tadi dia ngomongnya mau cari jodoh di sini, jalan-jalan aja di kampus kita," ucap Ayu.
Ajeng kini tergelak, ia membayangkan betapa malunya Ayu, pantas saja tadi langsung bersembunyi di balik punggungnya.
"Tapi serius, ganteng deh Yu, ah jadi nyesel tadi di kantin sempat bilang kalian berjodoh," canda Ajeng. Ayu malah menepuk lengan Ajeng.
"His, sudah anggap saja bukan dia," celetuk Ayu. Ia berharap semoga saja tidak bertemu lagi dengan mas Bhumi, mau di taruh di mana nanti mukanya.
Ajeng dan Ayu melupakan sejenak siapa itu pak Bhumi, mereka fokus mengikuti seminar hingga selesai.
☘️☘️☘️
"Mau makan apa?" tanya Ajeng yang tengah berdiri hendak memesan makanan ke pegawai kantin.
"Pengen mie, yang pedes banget," jawab Ayu, Ajeng memicingkan matanya, sahabatnya itu memang paling hobi membuat penyakit. Nanti sampai kos saja langsung ritual sakit perut.
"Nggak boleh."
"Udah lama nih, cuma sekali ini, pusing banget nahan kantuk, makan mie pedas kayanya mantap," ucap Ayu sambil nyengir kuda.
Ajeng menghela nafas, kalah dengan argumen Ayu, sahabatnya memang tipe orang yang suka sakit berkali-kali, termasuk disakiti lelaki juga, kalau belum sakit sekali ya masih saja terus mengorbankan hati sendiri.
Ayu memasang wajah penuh harap agar Ajeng mengabulkan permintaannya, walaupun nanti pastinya akan merepotkan sahabat setianya itu. Tanpa jawaban Ajeng bergegas menghampiri pegawai kantin, memesan makanan untuknya juga untuk Ayu. Setelah itu ia kembali duduk di sebelah Ayu.
"Ih, ayah dari tadi telfon terus, eh sekarang malah kirim pesan, katanya besok wajib pulang, dih mendadak sekali," cerocos Ajeng sambil membaca pesan dari ayahnya.
"Kangen kali ayahmu Jeng, apa ada keperluan penting?"
Ajeng mengendikan bahunya, "Nggak ah, ayahku nggak yang kangen-kangenan gitu, keperluan penting apa yah."
"Nikahan saudara kali," ucap Ayu. Ajeng menggeleng, sepertinya tidak mungkin, jika ada pernikahan saudara pasti saudaranya lebih dulu menghubunginya.
"Udah turutin aja, sebentar aja gitu, izin sebentar," usul Ayu. Terkadang orangtua memang suka seperti itu, ingin mengutarakan langsung, tidak suka lewat telepon.
"Ih Tapi ..."
"Maaf boleh duduk di sini?" ucap seorang lelaki bertubuh tegap dengan aroma tubuh maskulin sedang berdiri tepat di sebelah Ayu.
Ayu langsung menengoknya. Dalam hatinya beristighfar, kenapa harus bertemu lagi dengan lelaki yang satu ini. Dunia ini kan luas.
"Boleh dong," ucap Ajeng. Ayu langsung mirik Ajeng, eh Ajeng malah sengaja mempersilahkan lelaki itu duduk.
"Duduk aja depan Ayu sini pak Bhumi." Bhumi menuruti, ia duduk tepat di depan Ayu.
"Pak Bhumi mau pesan makanan juga? biar nanti saya yang pesankan?" ucap Ayu basa basi. Ajeng diam-diam menyenggol kaki Ayu, namun Ayu balas lagi.
"Mas aja, seperti biasanya Yu, jangan pak segala, kamu bukan mahasiswa saya," ucap Bhumi. Panggilan pak terlalu formal untuk orang yang bukan muridnya.
"Nggak enak pak, di sini banyak yang kenal bapak, nanti jadi bahan gosip lagi," ucap Ayu.
Bhumi terkekeh, "Masa sih? ya sudah biarkan saja."
"Tuh Yu, pak Bhumi saja tidak keberatan, kalau digosipkan dengan pak Bhumi namanya anugrah," ledek Ajeng. Ayu melirik Ajeng sambil melotot.
"Pak Bhum ..."
"Mas ..." ucap Bhumi penuh penekanan.
"Ah ya, maaf, mas Bhumi mau pesan apa?" tanya Ayu lirih.
"Nggak, saya pesan sendiri saja." Bhumi beranjak dari tempat duduknya lalu memesan minuman saja karena sudah mendapatkan makanan dari kampus. Ia lalu kembali duduk di depan Ayu.
"Tadi waktu saya sedang jadi pembicara, sepertinya ada peserta yang tertidur," ucap Bhumi melirik Ayu sambil tersenyum.
"Eh bangun-bangun sembunyi lagi, memangnya kenapa?" sambung Bhumi.
"Nggak usah nyindir pak, langsung saja tanya ke saya, kenapa saya sampai tertidur. Ngantuk pak saya, masalah sembunyi itu karena saya kaget ternyata bapak dosen, maaf sekali ya pak," cerocos Ayu sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada tanda permintaan maafnya.
"Kok Pak lagi, nanti nggak saya maafkan lhoo."
"Hais, iya iya maafkan saya ya Mas Bhumi, nggak sopan sama mas dosen," ucap Ayu.
"Anggap saya temanmu, bukan dosenmu Yu."
"Temen nanti Demen gitu Pak?" ceplos Ajeng. Ia diam-diam memperhatikan interaksi antara Bhumi dan Ayu. Sepertinya salah satu dari mereka ada magnet ketertarikan sehingga obrolan mengalir begitu saja tanpa canggung.
Ayu menepuk lengan sahabatnya yang keceplosan tapi pasti sengaja, sedangkan Bhumi malah tersenyum mendengar ledekan teman Ayu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Eh bertemu lagi, kaya emak otor sama readers nih🤭Ditunggu 50 komentarnya, biar emak semangat.
jangan lupa like komen dan vote.
ehh jd halu 🤭