"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REALITAS PAGI HARI
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden tipis sebuah apartemen mewah, menjatuhkan seberkas cahaya keemasan tepat di atas ranjang king size. Alunan bising klakson kendaraan dari jalanan ibu kota lamat-lamat terdengar, menandakan kehidupan kota Jakarta telah kembali bergulir.
Di atas ranjang, Arga Dirgantara perlahan membuka sepasang matanya. Detik pertama kesadarannya kembali, sebuah rasa pening yang teramat hebat langsung menghantam pangkal kepalanya. Arga mengerang rendah, memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut seperti dipukul oleh gada besi. Efek dari lima belas sloki wiski dan alkohol pekat semalam menyisakan rasa mual di perut dan kekosongan di dalam kepalanya.
Namun, rasa pening itu mendadak menguap digantikan oleh sengatan keterkejutan yang luar biasa saat indra perabaannya menyadari sesuatu.
Arga menolehkan kepalanya ke samping. Kamar ini berukuran luas, namun desain interiornya didominasi warna pastel, sangat berbeda dengan kamar utamanya di mansion yang bernuansa gelap dan kaku. Ini bukan kamarnya. Ini bukan rumahnya.
Dan yang paling membuat jantung Arga seolah berhenti berdetak adalah sesosok tubuh yang saat ini tengah tertidur lelap di dalam pelukannya. Kulit selembut sutra menempel langsung pada dada bidangnya. Ketika Arga perlahan-lahan menyibak sedikit selimut tebal bermotif floral yang menutupi mereka, matanya melebar sempurna.
Keduanya berada dalam keadaan telanjang bulat. Tanpa sehelai benang pun.
Napas Arga memburu ngos-ngosan. Keringat dingin mendadak keluar dari pori-pori kulitnya meskipun pendingin ruangan menyala cukup dingin. Memori semalam perlahan-lahan berputar di otaknya bagai potongan film yang rusak kemarahan pada Keysha, pelariannya ke club malam, sebuah pesan singkat yang ia balas secara nekat, dan keputusasaan yang membuatnya mengemudikan mobil ke sebuah tempat.
Arga menelan salivanya dengan susah payah. Dengan jemari yang sedikit bergetar, ia mengangkat tangannya dan perlahan membelai wajah wanita yang masih terpejam di sebelahnya. Ia menyingkirkan beberapa helai rambut bergelombang yang menutupi wajah itu, ingin memastikan dengan mata kepala sendiri siapakah wanita yang telah ia tiduri dan ia renggut kesuciannya semalam di bawah pengaruh alkohol.
Begitu wajah itu terekspos sepenuhnya di bawah cahaya pagi, Arga mematung.
Queen.
Gadis cegil berusia 20 tahun itu sedang mendengkur halus, wajah baby face-nya tampak begitu damai dengan sisa-sisa rona merah di pipinya. Arga menurunkan pandangannya ke atas seprai satin putih di bawah mereka, dan matanya menangkap setitik noda merah yang telah mengering sebuah bukti otentik bahwa semalam, ia telah merebut keperawanan mahasiswinya sendiri dengan cara yang teramat brutal dan penuh tuntutan.
Rasa bersalah yang teramat besar langsung menghantam dada Arga. Sebagai seorang pria dewasa berusia 30 tahun yang menjunjung tinggi harga diri, melakukan hal sejauh ini dengan seorang gadis belia di luar ikatan pernikahan adalah sebuah dosa besar yang mencoreng prinsip hidupnya. Arga menarik tangannya kembali dengan cepat, mengutuk dirinya sendiri di dalam hati.
Sentuhan lembut di wajahnya ternyata mengusik tidur lelap Queen. Bulu mata lentik gadis itu bergetar pelan, sebelum akhirnya sepasang mata bulatnya terbuka seutuhnya, menatap langsung ke arah netra elang Arga yang sedang dipenuhi oleh kabut kepanikan dan rasa bersalah.
Arga sudah bersiap untuk skenario terburuk. Pria itu mengira Queen akan langsung menjerit ketakutan, menatapnya dengan pandangan penuh rasa sesal, kecewa, lalu menangis tersedu-sedu seperti wanita pada umumnya yang kesuciannya diambil secara paksa oleh seorang pria yang sedang mabuk parah. Arga bahkan sudah menyusun kata-kata di dalam kepalanya untuk meminta maaf dan bertanggung jawab.
Namun, Queen adalah pengecualian dari segala kewajaran di dunia ini.
Alih-alih menangis, sudut bibir ranum Queen perlahan-lahan terangkat, membentuk sebuah senyuman manis tak berdosa yang teramat ceria. Ia mendongak, menatap Arga dengan binar mata nakal yang sama sekali tidak meredup.
"Selamat pagi, Pak Arga ganteng..." suara Queen terdengar parau khas orang baru bangun tidur, namun nadanya teramat manja.
Sebelum Arga sempat merespons, Queen dengan berani memajukan wajah manisnya, menegakkan tubuhnya sedikit, lalu langsung mencium bibir kokoh Arga dengan sebuah kecupan singkat yang basah.
Cup.
Arga tersentak mundur, menatap mahasiswinya itu dengan tatapan tidak percaya. "Queen... kamu..."
Tanpa memedulikan keterkejutan sang dosen killer, Queen dengan gerakan yang teramat santai menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh seksinya. Di depan mata kepala Arga yang melebar, Queen turun dari ranjang tanpa rasa malu sedikit pun meskipun tubuhnya yang seksi bak gitar spanyol itu terekspos sepenuhnya di bawah sinar matahari pagi. Sifat bar-bar miliknya bener-bener berada di tingkat yang tidak terjangkau oleh nalar sehat Arga.
Queen berjalan memutari ranjang, memunguti satu per satu pakaiannya yang berserakan di atas lantai berkarpet bulu akibat keganasan malam tadi mulai dari tanktop hitam hingga celana pendek satinnya. Dengan gerakan yang teramat santai, ia mulai memakai pakaiannya kembali tepat di depan Arga yang masih duduk mematung di atas kasur dengan selimut yang menutupi bagian pinggang ke bawah.
Arga yang melihat pemandangan vulgar di depannya langsung mengalihkan pandangannya ke arah dinding samping, wajah tegasnya mendadak terasa memanas karena malu dan kikuk. Pria berusia 30 tahun itu berdehem keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah jatuh berceceran.
"Ehem!" Arga berdehem kencang, suaranya terdengar kaku dan canggung. "Queen... ganti pakaianmu di ruang lain. Apa kamu tidak punya rasa malu? Jangan biarkan saya melihatmu seperti ini."
Queen yang sedang membetulkan letak tali tanktop hitamnya menoleh, lalu meledakkan tawa renyah yang terdengar sangat seksi dan menyebalkan di telinga Arga. Gadis cegil itu melangkah mendekati tepi ranjang, berkacak pinggang menatap dosennya yang mendadak salah tingkah.
"Kenapa harus malu, Pak? Bapak aja udah melihat dan menikmati semuanya tadi malam," jawab Queen dengan nada bar-bar yang teramat santai, sama sekali tidak merasa terbebani atas hilangnya mahkota berharganya. Ia justru mengedipkan sebelah matanya yang manis ke arah Arga. "Lagian, semalam itu... Bapak hot banget tahu gak. Badan aja yang kaku kayak es batu, tapi kalau di atas ranjang ternyata bapak-bapak usia tiga puluh tahun ini liar juga ya, sampai bikin aku ngos-ngosan semalaman."
"Queen! Jaga bicaramu!" potong Arga dengan suara baritonnya yang menekan, mencoba menyembunyikan rasa malu yang luar biasa mendengar testimoni frontal dari mahasiswanya sendiri. Rahangnya mengeras rapat, menolak mengakui bahwa di dalam lubuk hatinya, ada percikan gairah kecil yang kembali tersulut melihat keliaran gadis itu.
Setelah selesai merapikan pakaian minimnya, Queen kembali naik ke atas ranjang dengan gerakan lincah. Sebelum Arga sempat menghindar, Queen sudah mencondongkan tubuhnya, menangkup kedua rahang tegas Arga dengan jemari lentiknya yang hangat, lalu kembali mencium bibir Arga dengan lumatan kecil yang manis selama beberapa detik sebelum melepaskannya.
"Sekarang, bersihkan diri Bapak dulu ya di kamar mandi. Di dalam udah aku siapin handuk baru kok," ucap Queen dengan senyum merekah indah di wajah baby face-nya. Ia mengusap pipi kaku Arga dengan ibu jarinya lembut. "Aku mau ke dapur dulu, mau masak untuk sarapan kita pagi ini... Beb."
Mendengar panggilan 'Beb' yang meluncur begitu saja dari bibir bar-bar Queen, Arga hanya bisa memejamkan matanya pasrah. Begitu Queen turun dari ranjang dan melangkah keluar kamar menuju dapur dengan senandung kecil yang riang, Arga mengembuskan napas panjang yang teramat berat, menjatuhkan kembali tubuh tegapnya ke atas bantal. Pria itu menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk hebat.
Pernikahannya dengan Keysha mungkin telah hancur karena pengkhianatan wanita itu, namun pagi ini, di dalam unit apartemen ini, Arga Dirgantara tahu bahwa hidupnya telah resmi terikat dalam jeratan manis seorang mahasiswi cegil yang tidak akan pernah melepaskannya lagi. Dinding esnya telah runtuh seutuhnya, berganti menjadi labirin tak berujung yang diciptakan oleh Queen.