Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Situasi Tak Menguntungkan
Titik-titik embun masih menggantung di ujung rerumputan hijau pekarangan warga. Semburat jingga dari ufuk timur merayap perlahan, mengusir kabut yang tersisa.
Di luar sana, rutinitas mulai berdetak. Suara sapu lidi bergesekan dengan tanah terdengar bersahutan. Beberapa tetangga sudah memanggul cangkul menuju ladang, menyambut hari baru dengan sisa-sisa tenaga yang mereka miliki.
Namun, kedamaian pagi itu tak sepenuhnya terasa di dalam sebuah rumah kayu sederhana milik Joe. Pria paruh baya itu sudah terjaga sejak fajar, berdiri di ruang depan sibuk merapikan perlengkapan berburunya untuk masuk ke hutan.
Di kamar yang hanya dibatasi sekat usang, Bellinda memutar tubuh di atas kasur kapuknya yang keras. Tidurnya terusik oleh denting logam pisau dan derit lantai beton dari luar.
Niatnya untuk bangkit dan menyeduhkan air hangat untuk sang suami urung terjadi. Tiba-tiba saja, udara di kamarnya seolah menipis. Dadanya terasa menyempit bak diikat tali tambang, membuatnya tak punya sisa tenaga sekadar untuk duduk.
Rasa gatal yang menyengat tiba-tiba merambati tenggorokannya. Detik berikutnya, batuk keras merobek kesunyian kamarnya.
Tubuh Bellinda terguncang hebat. Punggungnya melengkung menahan perih, dan saat ia menutup mulutnya, cairan kental kemerahan berbau anyir sudah menggenangi telapak tangannya.
Di luar, pergerakan Joe yang tengah menyelipkan pisau kecil ke pinggang seketika terhenti. Mendengar suara batuk yang tak wajar itu, jantungnya berdegup kencang. Ia setengah berlari menerobos masuk ke kamar istrinya.
Matanya langsung tertuju pada noda merah pekat yang menetes dari sela jemari Bellinda. Napas Joe tercekat. Dengan panik, tangannya menyambar botol obat usang di atas meja nakas.
"Sayang...," panggilnya, suaranya bergetar parau saat menyodorkan obat itu. "Jangan paksa tubuh kamu buat bangun, aku nggak mau kamu kenapa-napa."
Tangan Bellinda yang berlumuran darah itu bergetar hebat saat mencoba meraih obat dari suaminya. Telinganya menangkap kepanikan Joe, tapi tubuhnya menolak untuk pasrah. Terus berbaring dengan napas tersengal justru membuat kepalanya berdenyut nyeri bak ditusuk jarum.
Bellinda bukanlah wanita bermental tempe, terlepas dari raga yang kini digerogoti penyakit ganas. Begitu ia berhasil menelan pil itu, ia menggelengkan kepalanya pelan namun pasti, menolak untuk terus terbaring seperti orang cacat.
"Tidak bisa!" tegasnya dengan suara parau, menahan gejolak di tenggorokannya. "Aku tidak mau jadi beban buat kalian semuanya, aku akan melakukan sesuatu."
Joe membuang napas kasar. Ia tahu betul sifat keras kepala itu adalah warisan murni dari mendiang ibu mertuanya. Sempat ia merenung mencari celah agar istrinya mau menurut, namun rasa pasrah akhirnya menang. Berdebat dengan Bellinda saat ini hanya akan memperburuk keadaannya.
Di ruangan yang tak jauh dari sana, kegaduhan itu sukses menarik Cate dari alam mimpi. Gadis itu berjalan gontai keluar kamar, langkahnya masih sedikit sempoyongan sambil mengucek mata merah delimanya yang dipenuhi kantuk.
Baru setengah jalan, sayup-sayup ia mendengar suara ayahnya yang melarang Bellinda untuk bangun. Rasa kantuknya seketika menguap. Cate mempercepat langkahnya.
Begitu ia tiba di ambang pintu kamar orang tuanya tanpa tirai itu, matanya langsung melebar sempurna. Pandangannya terkunci pada satu titik. Telapak tangan ibunya yang basah oleh darah segar.
"Ibu," panggilnya, nadanya bergetar panik. Ia langsung menghambur masuk, berlutut di sisi ranjang. "Ibu kenapa?"
Dua pasang mata orang tuanya serempak menoleh ke arah sumber suara. Baru saja Bellinda membuka mulut untuk menenangkan, Joe memotong dengan cepat, mengambil alih pembicaraan agar istrinya tak membuang tenaga.
"Ibumu tidak apa-apa, Nak," jawabnya dengan nada yang dibuat setenang mungkin. "Dia hanya sedikit kecapekan."
'Kecapekan?' Alasan murahan itu sama sekali tak masuk akal di kepala Cate. Instingnya menjerit, ada sebuah rahasia gelap yang sengaja ayahnya tutupi.
"Kalau tidak apa-apa, kenapa ada darah di tangan Ibu?"
Seketika, ruangan itu ditelan keheningan absolut. Pertanyaan telak dari Cate membuat Joe dan Bellinda saling melempar pandangan penuh arti.
Tembok rahasia yang selama ini mereka jaga rapat mulai retak. Mereka sadar tak bisa terus berbohong, tapi membeberkan kondisi Bellinda sama saja dengan menghancurkan dunia Cate.
Melihat orang tuanya hanya diam membisu, Cate bangkit berdiri. Sepasang mata merahnya mulai berkaca-kaca, menahan genangan air mata yang siap tumpah.
"Ayah... tolong katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu. Kenapa di tangan Ibu ada darah?"
"Itu...," jawab Joe ragu, membiarkan kalimatnya menggantung canggung di udara. Ia membuang muka, menghindari tatapan menusuk putrinya, tangannya tanpa sadar menggaruk pipi kanannya yang sama sekali tak gatal—sebuah kebiasaan lama saat ia sedang kebingungan. Pandangannya hanya berani menatap lantai beton usang di bawah kakinya.
"Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" cecar Cate lagi, suaranya naik satu oktaf.
Joe tak tahan lagi. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya sejenak.
Saat kelopak matanya terbuka, pandangannya langsung mencari manik mata Bellinda. Di atas kasur, dua pasang mata suami-istri itu saling beradu argumen lewat isyarat bisu.
Akhirnya, Bellinda memberikan satu anggukan samar. Sebuah lampu hijau bagi Joe untuk membongkar semuanya.
Menerima sinyal tersebut, Joe kembali menatap putrinya. Bahunya menurun lesu. Dengan nada berat yang dipenuhi penyesalan mendalam, ia memecah kebisuan.
"Sebenarnya... Ibu kamu mengidap penyakit radang paru-paru akut."
Bagaikan disambar petir di siang bolong, lutut Cate mendadak lemas. Ia nyaris jatuh lunglai membentur lantai, beruntung sebelah tangannya dengan cepat bertumpu pada pinggiran meja kayu di dekatnya. Wajah gadis itu memucat.
"Sejak kapan?" tanyanya cepat, suaranya kini benar-benar pecah dan bergetar. "Sejak kapan Ibu mengidap penyakit seperti itu?"
Joe baru saja menarik napas untuk menjawab, namun kali ini Bellinda yang mendahuluinya.
"Sejak kamu masih kecil."
Sembari mengucapkan kalimat menyakitkan itu, tangan kanan Bellinda mencengkeram erat dada kirinya, sementara tangan kirinya mengepal kuat menutupi belahan bibirnya. Urat-urat di lehernya menonjol. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menahan dorongan batuk mematikan yang kembali meronta minta dikeluarkan.
Melihat istrinya menahan sakit, Joe refleks mencondongkan tubuh, bermaksud mengusap punggung wanita itu. Namun, pergerakannya dihentikan seketika.
Tangan kanan Bellinda terangkat cepat ke udara, kelima jarinya terbuka lebar menghadap dada Joe—sebuah perintah absolut tanpa kata agar sang suami tetap diam di tempat dan tak mencampuri usahanya menahan diri.
Setelah gelombang sakit itu sedikit mereda, Bellinda mengatur kembali tempo napasnya. Ia tidak mau Cate makin histeris.
Dengan gerakan yang sengaja dibuat seluwes mungkin, tangan kirinya menepuk pelan ruang kosong di sisi kasur, meminta putrinya mendekat.
Tanpa banyak bicara, Cate menurut. Ia melangkah gontai dan menjatuhkan diri duduk di sisi ibunya.
Bellinda memutar posisi duduknya menghadap Cate. Tangan kasarnya yang hangat terangkat, menyentuh lembut sisi pipi putrinya, menyelipkan helaian rambut merah pendek yang berantakan ke belakang telinga.
"Sayang, kamu tidak usah khawatirkan Ibu," tuturnya dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Ibu baik-baik saja, kok."
Namun, kalimat penenang itu justru terasa seperti racun di telinga Cate. Ia tak bodoh. Ia tahu persis, radang paru-paru akut bukan sekadar batuk pilek biasa yang bisa diremehkan.
Batinnya menjerit marah karena ketidakberdayaannya. Ia ingin menyembuhkan ibunya detik ini juga, namun otaknya buntu mencari cara.
Tak membiarkan keheningan menguasai, Bellinda segera melanjutkan ucapannya.
"Berkat Ayahmu yang cepat tanggap, batuk dan sesak napas Ibu sudah agak mendingan. Maaf sudah mengkhawatirkan kalian berdua."
Di sudut ruangan, setiap kata bergetar yang keluar dari mulut istrinya menghantam telak harga diri Joe. Setitik air bening lolos dari pelupuk mata kuningnya.
Pria itu diam-diam menangis. Ia dikuasai rasa tak berguna yang luar biasa. Hanya ini yang mampu ia lakukan. Membeli obat penekan rasa sakit dari hasil buruan yang tak menentu, tanpa pernah sanggup membawa wanita yang dicintainya ke klinik sungguhan.
Di sisi kasur, kedua tangan Cate terkepal kuat di atas paha. Buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras seiring dengan gigi yang menggigit kuat bibir bawahnya sendiri. Ia sudah mencapai batas toleransi emosinya.
Tanpa aba-aba, Cate menyentak bangkit dari duduknya. Sebelum Joe atau Bellinda sempat menahannya, gadis itu membalikkan badan dan berlari keluar ruangan bagai orang kesetanan.
Di ambang pintu, Joe dan Bellinda hanya bisa bertukar pandang penuh kegetiran. Mereka sangat memahami kehancuran batin Cate, namun mereka memilih membiarkannya pergi, memberi ruang bagi putrinya untuk menumpahkan segalanya.
Di luar sana, kaki Cate terus berlari membelah jalanan desa. Air matanya akhirnya jebol tanpa suara, mengalir deras membasahi kedua pipinya.
Angin pagi menerpa wajahnya yang sembap. Ia tak peduli pada tatapan aneh beberapa warga yang mematung melihatnya. Kepalanya seolah baru saja dijatuhi batu raksasa, menghancurkan kewarasannya.
Sementara itu, di dalam kamar yang kini terasa kelewat sepi, Joe memberi isyarat pamit pada Bellinda dalam diam. Ia tak punya kemewahan untuk meratapi nasib.
Sebagai satu-satunya pilar keluarga, ia harus menelan kesedihannya dan masuk ke dalam hutan lebat itu sekarang juga. Jika ia tidak berburu, istri dan anaknya tak akan makan.
Ia menghela napas panjang dan membalikkan badan. Namun, tepat ketika ujung sepatunya hendak melewati ambang pintu keluar, pergerakannya terhenti total.
Indera pendengarannya menangkap sebuah gerakan aneh, disusul suara decitan lirih dari arah ruang keluarga di belakangnya.