Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.
Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.
Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.
Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
Asia menggelengkan kepala pelan, menyimpan pertanyaan itu dalam hati. Perhatiannya kemudian teralih pada noda kecokelatan yang menempel di pakaian anak tirinya.
"Jenny, kamu habis jatuh?" tanya Asia spontan, melangkah sedikit lebih dekat karena melihat beberapa bagian seragam Jenny tampak sangat kotor.
Mendengar suara Asia, gadis itu menoleh cepat. Tatapan matanya kembali menajam dan menusuk.
"Jangan urusi aku," ketus Jenny dingin, menolak mentah-mentah perhatian yang diberikan Asia sebelum akhirnya menuntun Nero masuk ke dalam kamar.
Akhirnya menuntun Nero masuk ke dalam kamar.
Pintu kamar kemudian tertutup rapat dengan suara klik yang tegas, meninggalkan Asia sendirian di lorong koridor.
Meski sudah diusir dan disuruh pergi, Asia belum juga menjauh dari tempatnya berdiri. Pandangannya masih tertuju pada daun pintu kayu di hadapannya. Pikirannya berputar. Ia teringat kembali visual seragam putih abu-abu milik Jenny yang ia lihat sekilas tadi.
Noda kotor di seragam Jenny terasa aneh. Itu bukan sekadar noda debu karena jatuh terpeleset yang biasanya hanya mengenai satu titik seperti lutut atau siku. Noda kecokelatan yang melekat di baju Jenny tampak acak, agak robek di bagian jahitan samping, dan terlihat seperti bekas tarikan yang dipaksakan.
Apa dia habis berkelahi? tebak Asia dalam hati.
Dada Asia mendadak berdesir cemas. Statusnya sebagai ibu tiri baru membuat posisinya sangat serba salah. Ia ingin mencari tahu lebih jauh, namun benteng permusuhan yang dibangun Jenny terlalu kokoh untuk ia dobrak saat ini. Akhirnya, Asia hanya bisa membuang napas berat, menyimpan kecurigaan itu rapat-rapat dalam benaknya sendiri, lalu melangkah turun ke lantai bawah untuk menyambut kepulangan Hugo.
***
Waktu terus berjalan hingga pukul 4 sore lebih Suara deru mobil dinas Hugo akhirnya terdengar memasuki halaman rumah, menandakan pria itu telah pulang dari kantor kodim.
Mobil dinas berhenti tepat di depan gerbang rumah. Gilang turun lebih dulu, membuka pintu belakang, lalu menurunkan kursi roda dari bagasi dengan gerakan cekatan yang sudah jadi rutinitas.
"Silakan, Kapten." Gilang membantu memindahkan Hugo dari jok mobil ke kursi roda, lalu mendorongnya perlahan sampai ke teras.
"Cukup sampai sini, Gilang. Terima kasih." Hugo mengunci roda begitu sampai di depan pintu.
Gilang mengangguk pelan. "Baik. Istirahat, Kapten. Besok saya jemput jam enam seperti biasa."
"Terima kasih, Gilang. Hati-hati di jalan."
Gilang tersenyum tipis, lalu berjalan kembali ke mobil. Sebelum masuk, ia berhenti sebentar. Memberi hormat. "Siap, Kapten. Selamat sore."
Mobil dinas berbalik arah, meninggalkan debu tipis di jalan setapak. Hugo mendorong kursi rodanya sendiri masuk rumah.
Asia yang mendengar deru mobil Hugo segera ke depan.
Asia sedikit menundukkan kepalanya dengan sopan, menyapa dengan sikap tubuh yang sangat santun.
"Selamat sore, Mas Hugo," sapa Asia. Nadanya terdengar sangat tertata rapat dan patuh, menunjukkan batasan yang jelas bahwa dia sangat menghormati posisi pria itu.
Hugo menghentikan kursi rodanya tepat di hadapan Asia. Dari posisi duduknya, tatapan mata pria itu tetap terasa mengintimidasi, dingin, dan menilai. Ia memperhatikan penampilan Asia sekilas, seolah sedang memastikan "istri kontraknya" ini menjalankan perannya dengan baik di rumah hari ini.
"Nero tidak membuat masalah?" tanya Hugo langsung tanpa basa-basi. Suaranya terdengar berat, datar, dan berwibawa.
Asia tersenyum tipis, tetap menjaga sikap hormatnya dengan berdiri tegak tanpa bersandar. "Enggak ada masalah, Mas. Semuanya aman."
Hugo hanya menatap Asia beberapa saat. Matanya menyipit sedikit, seakan menguji apakah wanita di depannya ini sedang berpura-pura tegar atau memang sanggup menghadapi tabiat anaknya yang sulit diatur selama dia berdinas di kodim.
"Mau langsung makan?" tanya Asia menawarkan diri sebelum pria itu sempat menekan tombol kursinya.
"Tidak. Aku mau istirahat dulu di kamar," jawab Hugo dingin, menolak dengan nada datar khasnya.
"Baiklah," sahut Asia patuh. Ia mundur satu langkah, berniat memberikan jalan bagi suaminya.
Namun, setelah beberapa detik hening, Hugo menghentikan gerakan kursi rodanya di ambang pintu lift. Ia kembali bicara tanpa menoleh, "Kalau memang makanannya sudah siap, aku akan makan dulu."
Asia sempat tertegun sejenak dengan perubahan keputusan pria itu, namun dengan cepat ia menguasai diri. "Ya. Aku sudah menyiapkan makanannya."
"Baiklah. Aku akan keluar setelah ganti pakaian," pungkas Hugo, lalu menekan tombol kursi hidrolik, meninggalkan Asia yang langsung bergegas menuju ke dapur untuk mempersiapkan meja makan.
Hugo membelokkan kursi rodanya ke kamar, menutup pintu pelan-pelan di belakangnya.
Seragam dinas loreng yang ia kenakan sejak pagi sudah lengket oleh keringat dan debu kantor. Ia mengunci roda kursi, lalu memulai ritual yang sudah ia hafal luar kepala.
Membungkuk untuk melepas sepatu bot dan menanggalkan celana dinasnya yang tebal membutuhkan usaha ekstra demi menjaga keseimbangan tubuhnya yang tak lagi sempurna.
Napasnya sempat memburu dan keringat dingin kembali membasahi keningnya akibat keletihan fisik. Namun, Hugo bersikeras menyelesaikan semuanya sendirian tanpa memanggil pelayan.
Butuh waktu yang jauh lebih lama dari orang biasa sampai kaos rumah dan celana pendek longgarnya akhirnya terpasang.
Ia menyandarkan punggung ke kursi, mengatur napas sejenak setelah berhasil menuntaskan semuanya secara mandiri. Satu-satunya hal yang masih benar-benar miliknya sendiri, bahkan di rumah yang sekarang katanya juga rumah orang lain.
Setelah merasa siap, Hugo membuka pintu kamar dan menggerakkan kembali kursi rodanya menuju ruang makan.
Hugo menggerakkan kursi rodanya memasuki ruang makan. Di atas meja, hidangan sudah tertata rapi dan hangat berkat Asia yang langsung bergegas ke dapur tadi. Namun, di meja makan itu sendiri, ia hanya mendapati Nyonya Malinda yang sedang duduk menunggu. Asia tampaknya masih sibuk di area dapur belakang.
Hugo menghentikan kursi rodanya di sisi meja, lalu mulai menyendok makanannya dalam diam. Ia makan sendirian dengan tenang, menikmati masakan Asia yang ternyata pas di lidahnya, sementara sang ibu menemani di sisinya.
Setelah menghabiskan setengah porsinya, Hugo meletakkan sendok sejenak. Sorot matanya yang tegas menatap Nyonya Malinda.
"Bagaimana anak-anak hari ini? Nero membuat masalah lagi?" tanya Hugo.
Nyonya Malinda tersenyum tipis, mengenang kejadian siang tadi. "Ajaibnya, tidak. Tadi siang Asia punya cara sendiri untuk membuat Nero menghabiskan makanannya tanpa membantah. Bocah itu bahkan kelihatan bangga memperlihatkan piring kosongnya ke Asia."
Hugo menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut namun ada rasa lega yang tersembunyi di balik wajah datarnya. "Lalu Jenny?"
Senyum di wajah Nyonya Malinda perlahan memudar, berganti helaan napas berat. "Jenny baru pulang jam tiga sore tadi. Seperti biasa, bentengnya masih terlalu tinggi. Dia langsung ketus saat Asia menawarkan makan. Oma sudah menegurnya agar bersikap lebih lembut, tapi dia bilang dia belum bisa menerima orang baru di sini."
Hugo hanya terdiam mendengarkan laporan dari ibunya. Pandangannya lurus menatap meja makan. Mencerna situasi rumah tangganya yang baru. Ia tahu jalan untuk menyatukan keluarga ini masih sangat panjang, terutama bagi Jenny yang masih menutup diri rapat-rapat.