NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Ajakan sang Dewi untuk Turun Gunung

Semburat cahaya fajar pertama mulai membubung di ufuk timur, mengikis sisa-sisa kegelapan malam badai yang sempat mengamuk dahsyat di Gunung Han. Hujan lebat telah sepenuhnya reda, menyisakan tetesan air yang jatuh teratur dari ujung atap bambu pondok kayu. Kabut putih yang bergulung di antara batang-batang bambu besi tampak lebih tipis, membiarkan udara pagi yang dingin bertiup masuk membawa aroma tanah basah.

Di dalam kamar tidur utama, Shen Liya membuka sepasang matanya dengan sentakan pelan.

Kesadarannya langsung pulih seutuhnya, disusul oleh rasa cemas yang seketika menghantam dadanya. Ia buru-buru menyibakkan selimut tebalnya, lalu turun dari tempat tidur. Anehnya, seperti pagi-pagi sebelumnya di pondok ini, tubuhnya terasa sangat bugar dan bertenaga. Aliran meridian di tubuhnya mengalir dengan sangat lancar, seolah-olah seluruh sisa racun langit telah ditekan paksa oleh kekuatan yang tak terlihat.

Namun, Shen Liya tidak memiliki waktu untuk memikirkan keanehan tubuhnya. Ia segera melangkah menuju jendela kayu, membukanya perlahan, lalu memusatkan indra spiritual dewinya untuk memindai atmosfer di luar perisai hutan.

Riak energinya... berubah kacau, batin Shen Liya, alisnya yang anggun bertaut erat.

Meskipun lautan obor dari tiga sekte besar manusia fana di kaki gunung tidak lagi terlihat merapat, ia bisa merasakan bahwa sisa-sisa niat membunuh dan hawa keserakahan manusia di luar sana justru menjadi semakin tidak beraturan. Ada getaran kepanikan yang pekat dari arah perkemahan musuh, sebuah pertanda bahwa sesuatu yang buruk baru saja terjadi di malam badai semalam, yang justru akan memicu kemarahan yang lebih besar dari faksi-faksi serakah tersebut dalam waktu dekat.

Shen Liya tahu, perisai gaib Hutan Bambu Ungu ini tidak akan bisa menyembunyikan eksistensi mereka selamanya. Jika ribuan kultivator manusia dari Sekte Sembilan Pedang, Lembah Racun, dan Awan Darah memutuskan untuk membakar seluruh gunung ini demi memburu dirinya dan anaknya Gu Yu akibat hasutan jahat Ling Cang, maka pondok kedamaian ini akan runtuh menjadi abu.

Dan "Ah Jue" sang tabib fana yang dicintainya akan menjadi orang pertama yang mati demi melindunginya.

Tekad yang baru seketika mengeras di dalam hati sang Dewi. Ia tidak boleh egois. Jika bersembunyi di dalam hutan terpencil ini sudah tidak lagi aman, maka mereka harus mencari cara lain untuk bertahan hidup tanpa memancing pertumpahan darah di atas tanah pengasingan suaminya.

Shen Liya berbalik cepat, melangkah keluar dari dalam kamar tidur menuju ruang tengah pondok yang telah diterangi cahaya fajar yang remang-remang.

Di dekat tungku perapian, Gu Jue sedang berdiri membelakanginya. Pria itu mengenakan jubah rami abu-abu kasarnya yang bersih, lengannya digulung rapi hingga ke siku saat ia sedang menuangkan air hangat dari kuali tanah liat ke dalam sebuah teko keramik kecil.

Sosoknya tampak begitu kokoh, tenang, dan acuh tak acuh, seolah kepungan ribuan musuh di kaki gunung sama sekali tidak mampu mengusik ketegangan batinnya.

Melihat punggung tegap suaminya, air mata haru dan ketakutan kembali merebak di sudut mata indah Shen Liya.

Ia melangkah maju dengan cepat, memangkas jarak di antara mereka. Sebelum Gu Jue sempat berbalik sepenuhnya membawa teko keramik, Shen Liya telah mengulurkan kedua tangannya, meraih dan menggenggam erat pergelangan tangan kokoh Gu Jue dengan cengkeraman yang teramat erat.

Gu Jue menghentikan gerakannya.

Sepasang mata sehitam tintanya menurunkan pandangan, menatap lekat-lekat pada tangan kecil Shen Liya yang memegangnya dengan begitu gemetar, sebelum akhirnya beralih menatap lurus ke dalam manik mata istrinya yang dipenuhi oleh kabut kepanikan yang teramat pekat.

"Teh herbalmu baru saja akan kuseduh, Liya. Kenapa kau sudah melompat dari ranjang sepagi ini?" ujar Gu Jue, suaranya terdengar sangat rendah, datar, dan stabil—sebuah ketenangan konstan yang sengaja ia tunjukkan sebagai Ah Jue sang tabib mortal.

"Ah Jue... dengarkan aku," suara Shen Liya tercekat, bergetar hebat menahan emosi batin yang meluap-luap. Ia menengadah, menatap mata hitam suaminya dengan tatapan memohon yang teramat mendalam.

"Tempat ini... gubuk bambu ini sudah tidak aman lagi untuk kita. Musuh-musuh luar itu sudah mengendus keberadaan hutan ini. Cepat atau lambat, mereka akan meratakan tempat ini seutuhnya."

Gu Jue menyipitkan matanya sekilas, berpura-pura memasang ekspresi wajah yang mengeras karena terganggu (sebagai bagian dari sandiwara manusianya). "Lalu apa maumu? Kau ingin melarikan diri lagi dariku dan meninggalkan selendang sutramu seperti delapan tahun lalu?"

"Tidak! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi!" potong Shen Liya cepat, tangisnya pecah seketika mendengar kalimat tersebut. Ia mencengkeram lengan jubah rami Gu Jue dengan kedua tangannya, menarik tubuh tegap suaminya agar kian mendekat.

"Kali ini... aku ingin kita pergi bersama. Kita harus meninggalkan pondok kayu ini, Ah Jue. Mari kita bawa Yu'er turun gunung sekarang juga."

Gu Jue tertegun sejenak di bawah topeng manusianya. "Turun gunung?"

"Ya, turun gunung," angguk Shen Liya dengan tergesa-gesa, menyeka sisa air mata di pipinya.

"Tiga sekte besar manusia itu memburuku karena mereka mengira aku bersembunyi di pelosok hutan yang sepi. Jika kita terus bertahan di sini, kita akan menjadi target yang sangat mudah ditemukan. Tapi... jika kita pergi ke kota besar di bawah gunung, membaur di antara ribuan rakyat jelata fana, menyewa sebuah rumah halaman kecil, dan hidup normal seperti keluarga biasa... musuh-musuh itu tidak akan pernah menduga bahwa seorang dewi pelarian akan bersembunyi di tengah hiruk-pikuk keramaian kota manusia!"

Mendengar strategi pelarian yang diajukan oleh Shen Liya, seulas rasa geli sekaligus kehangatan yang asing mendadak menggelitik sanubari Mo Jue sang Raja Iblis.

Wanita langit ini benar-benar mengira dirinya adalah manusia mortal lemah yang butuh diselamatkan dari kepungan semut-semut fana di bawah sana.

Sifat suci dan protektif Shen Liya yang rela membuang kedamaian hutan demi menjaga nyawanya benar-benar menorehkan rasa sayang yang teramat pekat di dalam dadanya yang sedingin es abadi.

Sebenarnya, jika Mo Jue melepaskan satu saja jenderal perang Alam Kegelapan miliknya, tiga sekte besar di bawah gunung itu akan menjadi abu dalam waktu semalam. Namun, demi menjaga kelancaran sandiwara manusianya, agar Shen Liya bisa hidup tenang tanpa beban ketakutan akan status Raja Iblisnya, Gu Jue memilih untuk menyetujui ide tersebut.

Pindah ke kota fana juga terdengar seperti selingan petualangan keluarga yang cukup menarik baginya.

Gu Jue sengaja menghela napas panjang, memasang ekspresi wajah yang tampak ragu dan berat (akting manusia fana yang terpaksa mengalah).

"Kota di bawah gunung sangat bising, Liya. Aku tidak suka keramaian manusia," kata Gu Jue datar.

"Tapi jika gubuk bambu ini benar-benar akan membawa petaka bagi pertumbuhan Gu Yu... aku akan menuruti kemauanmu. Kita akan meninggalkan tempat ini fajar ini juga."

Mendengar persetujuan dari suaminya, rasa lega yang teramat besar seketika membungkus jiwa Shen Liya. Ia langsung menghambur maju, memeluk tubuh tegap Gu Jue erat-erat, menenggelamkan wajah cantiknya di dada bidang suaminya dengan seulas senyuman tulus yang akhirnya mekar sempurna.

"Terima kasih, Ah Jue... terima kasih," bisik Shen Liya penuh keharuan.

Pintu kamar tidur sebelah berderit pelan, dan Gu Yu kecil melangkah keluar dengan buntalan kain dan pedang kayu yang sudah terikat rapi di punggung jubah raminya.

Namun fajar ini, ada pemandangan yang berbeda di dalam dekapan tangan kecilnya.

Sesosok anak harimau putih kecil bergaris perak—Xiao Bai—sedang meringkuk tenang di dalam gendongan kain rami Gu Yu.

Sepasang mata biru kristal milik harimau kecil itu mengerjap pelan, menatap ke arah Gu Jue dengan tatapan patuh yang teramat dalam, mengingat sumpah sakral yang ditanamkan sang Raja Iblis ke dalam jiwanya kemarin fajar.

Bocah tujuh tahun itu ternyata sudah terbangun sejak tadi dan mengemasi barang-barangnya sendiri. Gu Yu dengan sangat teliti menyelipkan tubuh mungil Xiao Bai ke dalam celah anyaman keranjang pakaian raminya, membiarkan hanya kepala kecil sahabat bulunya yang menyembul keluar, menyamarkannya agar terlihat murni seperti anak kucing peliharaan biasa agar tidak memancing kecurigaan atau ketakutan penduduk kota fana di bawah gunung nanti.

"Aku sudah siap, Ibu. Barang-barang obat pria dingin ini juga sudah kumasukkan ke dalam keranjang, dan Xiao Bai juga berjanji tidak akan mengeong berisik sepanjang jalan," ujar Gu Yu kecil dengan nada tegas yang melampaui usianya, sembari menepuk pelan kepala anak harimau putihnya yang dibalas dengan suara cicitan manja.

Gu Jue melirik putranya dan harimau kecil tersebut, seulas senyuman tipis yang sangat tersembunyi terukir di bibirnya melihat persiapan matang sang pangeran kegelapan.

Ia melepaskan pelukannya dari Shen Liya, lalu mengambil alih keranjang beban obat yang berat dari tangan kecil Gu Yu.

Fajar itu, di bawah sapuan kabut Gunung Han yang perlahan memudar, tiga sesosok manusia rahasia bersama seekor harimau kecil melangkah keluar meninggalkan pelataran pondok kayu, berjalan menyusuri jalan setapak hutan menuju arah kota padat penduduk di bawah sana.

Shen Liya berjalan menggandeng erat tangan Gu Yu kecil dengan hati yang dipenuhi harapan baru tentang kehidupan membaur yang aman, tanpa pernah menyadari bahwa di balik kegelapan bayangan pohon bambu yang mereka tinggalkan, Pelindung Kanan Feng Wu telah bergerak senyap mengawal langkah keluarga kecil rajanya menuju babak petualangan baru di tengah hiruk-pikuk kota mortal manusia.

 

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!