Aila. Seorang gadis muda yatim piatu ... Yang harus menghadapi dilema dengan dua pilihan sulit dalam hidupnya.
Aila di hadapkan dengan sebuah perjodohan dengan CEO muda kaya raya, Fakhri ... Putra sahabat karib Almarhumah Ibunya. Namun sebuah rintangan besar ada di depan Aila, jika Ia memilih Fakhri, lantaran sudah ada sosok Naira yang telah menempati lebih dulu ruang di hati Fakhri.
Sementara di sisi lain ada Ardan, seorang sahabat yang diam-diam menaruh rasa pada Aila.
Siapa kiranya yang akan dipilih Aila sebagai jodohnya?
Siapa yang akan dijadikan Aila sebagai pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VirentaNita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertolongan Ardan
'Plok plok plok'
Aila dan Naira beserta semua staf karyawan refleks menoleh ke arah seseorang yang tengah berdiri tegak sembari bertepuk tangan.
"Ardan ...." lirih bibir Aila bergumam. Seakan tak percaya dengan yang dilihatnya sekarang.
Ardan berada di perusahaan yang sama dengannya. Berdiri tak jauh darinya yang kemudian melangkah mendekat.
"Actingmu bagus sekali Naira!" ucap Ardan. Semakin dekat.
"Siapa kamu, beraninya mengancamku!" bentak Naira.
"Lihat ini ...."
Ardan mengambil phonsel dari dalam sakunya, lalu mulai memutar video yang baru saja direkamnya tadi.
Tentang dirinya yang mempermalukan Aila di depan semua staf karyawannya.
"Kamu!" geram Naira. Tertahan.
Sempat direbutnya benda layar pipih di tangan Ardan namun tak berhasil.
"Jadi bagaimana?"
"Haruskah ku perlihatkan rekaman video ini pada Mas Fakhri!"
Ardan memasukkan kembali phonsel miliknya ke dalam saku celananya. Agar tak dapat diambil oleh Naira. Sembari memberi peringatan tegas pada gadis itu.
"Siapa kamu? Beraninya mengancamku!" sentak Naira. Marah.
"Maafkan Aku yang belum sempat memperkenalkan diri ... Aku Ardan sahabat Aila yang juga sekaligus saudara sepupu Mas Fakhri, suamimu!"
Naira terkesiap mendengar penjelasan dari Ardan. Jadi dia lah saudara sepupu yang pernah diceritakan Fakhri padanya.
Ardan!
Sosok yang kini tengah membela Aila mati-matian.
Kedua tangan Aila mengepal erat. Merasa tersudutkan, kini ganti Naira lah yang tengah dipermalukan di depan umum oleh Ardan.
Naira merasa terpojok, tak ada satu pun orang yang membelanya. Bahkan semua anggota keluarga Fakhri turut membela Aila dan menyalahkannya.
Membuat kebencian di hatinya pada Aila semakin dalam.
Meski Ia tahu jika Aila tidak bersalah, Aila pun terpaksa karena keadaan. Tapi Naira terlanjur membencinya. Karena rasa iri pada gadis yang di anggapnya sempurna itu.
"Naira ... Kamu tahu persis bagaimana keadaan yang terjadi sebenarnya,"
"Jadi akan terlihat sangat bodoh jika kamu menyalahkan Aila,"
"Cukup Ardan! Kamu tak berhak ikut campur dalam hal ini!" Naira memotong ucapan Ardan. Cepat.
Naira takut jika lelaki itu akan mengatakan dan membongkar semua kekurangan dan kejahatannya di depan umum.
Ia takut semua orang mengetahui dan berubah menghinanya karena kekurangannya sebagai wanita tak sempurna.
"Buka mata hatimu Nai, kamu bisa hidup lebih baik tanpa rasa iri dan benci," timpal Aila.
"Lebih baik kamu bilang?"
"Apanya yang lebih baik Ai?"
"Kamu bisa mengatakannya dengan mudah karena kamu tak mengalaminya sendiri!"
"Kamu tidak tahu bagaimana sakitnya saat hidupmu tak lagi dianggap berguna dan hanya dianggap bagai benalu!"
"Bahkan semua orang yang menyayangimu perlahan berbalik membencimu!"
"Kamu tidak tahu kan, Ai?"
Mata Naira mulai berkaca-kaca. Sekuat tenaga Ia berusaha menahan tangis di depan semua orang. Lantaran semakin banyak orang yang berkerumun menonoton perdebatannya dengan Aila juga Ardan.
"Sudahlah Aila, percuma saja berbicara dengan wanita tak punya hati sepertinya ...."
"Sebaiknya biarkan saja dia,"
"Lebih bagus jika dia mau merenungi kesalahannya!"
Ardan menarik pergelangan tangan Aila. Mengajak gadis itu pergi meninggalkan Naira yang masih terlihat syok karena kegagalan rencananya akibat kemunculan Ardan yang tak terduga.
Sesaat Naira mulai risih. Ketika semua staf yang tadi mendengar dan melihat iba padanya. Kini perlahan menjauh sembari berbisik di belakangnya.
Hingga membuatnya tak tahan lagi lebih lama berada di sana yang kemudian melangkah pergi.
*-*-*
Aila diam saja, tanpa banyak bertanya diikutinya Ardan yang membawanya ke sebuah restoran untuk makan siang.
"Kamu pasti belum makan siang bukan?"
"Makanlah yang banyak, tenagamu pasti banyak terkuras tadi."
Ardan berbicara sembari matanya melihat beberapa daftar menu yang ada di restoran.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?"
Aila sama sekali tak menyentuh buku daftar menu di hadapannya. Kedua matanya justru mengawasi Ardan dengan tatapan penuh tanya.
"Untuk apa lagi? Tentu saja karena mengikutimu!" terang Ardan. Tanpa beban.
"Ardan, Aku serius!" gertak Aila.
Ardan meletakkan kembali buku daftar menu yang sedari tadi dibolak baliknya. Kemudian menatap Aila. Intens.
"Aku juga serius, Aila!"
"Keputusanmu membuatku khawatir ... Dan lihatlah, dugaanku benar bukan?"
"Menurutmu apa yang akan terjadi tadi jika saja Aku tidak datang?"
"Nenek lampir itu sudah pasti mempermalukanmu habis-habisan di depan semua karyawan!"
Aila tersenyum getir dengan hati yang mengiyakan ucapan Ardan.
Sejujurnya tadi Ia memang merasa bingung, bagaimana cara menghadapi fitnahan Naira padanya.
Bahkan tadi Aila hampir saja kehilangan kendali, ingin menghina balik Naira.
Sekuat tenaga pula Aila tadi menahan diri untuk tak menampar istri Fakhri itu.
Bagaimanapun juga Aila tak ingin mengacaukan hari pertamanya bekerja dan memberikan kesan buruk pada karyawan di kantor.
Kehadiran Ardan yang tepat waktu bagai angin penyejuk baginya. Bukan hanya sekedar memberi solusi. Namun juga ketenangan dan kenyamanan.
"Pikirkanlah lagi Ai?"
"Tidak akan mudah bagimu untuk melawan wanita licik seperti Naira!"
Ucapan Ardan kembali membuat Aila tertegun. Diam memikirkan sesuatu. Namun berapa kalipun Ia mencoba memikirkannya, keputusannya tetap sama.
Tak dapat menolak permintaan Erna!
"Jadi ... Berapa hari kamu akan tinggal di kota ini?" tanya Aila. Sengaja mengubah topik pembicaraan.
"Berapa hari?"
"Aku ikut pindah Ai, sepertimu yang akan menetap di kota ini, begitu pun denganku,"
"Sudah ku bilangkan ... Jika Aku akan mengikutimu!"
Kedua mata Aila terbelalak lebar mendengar pernyataan Ardan. Dia sama sekali tak menyangka jika sahabatnya itu akan berbuat demikian jauh demi dirinya.
"Terima kasih, kamu memang sahabat terbaikku."
Ardan tersenyum getir mendengar ucapan terima kasih Aila. Menyadari jika posisinya di hati Aila hanyalah sebatas sahabat. Tak lebih.
"Tapi ... Apa kamu juga akan bekerja di perusahaan Fakhri?" tanya Aila. Penasaran.
"Yups! Kedatanganku kemari hari ini adalah untuk melamar pekerjaan dan tentu saja ... Aku pun mendapatkan bagianku dengan mudah,"
"Aku akan bekerja mulai besok pagi."
Sepintas senyum lebar tersungging di bibir Aila. Tak dapat dipungkirinya jika Ia sangat merasa senang lantaran Ardan takkan berada jauh darinya.
Itu artinya Aila takkan sendirian lagi...
Aila takkan kesepian berada di kota baru. Ada Ardan yang bisa menjadi teman bicara sekaligus teman berkeluh kesah.
"Dan kamu ... Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Ardan.
"Rencana?"
Aila mengernyit heran. Tak mengerti dengan maksud perkataan sahabatnya itu.
"Ayolah Ai, kamu akan menempuh perjalanan sulit setelah ini dengan lika liku hidup yang ... Kamu pahamkan maksudku!"
"Semua itu bukan tanpa rencana yang jelas bukan?"
"Aila ... Seseorang yang akan menjadi sainganmu nanti adalah wanita berotak licik,"
"Apapu pasti akan dilakukannya demi mencapai tujuannya!"
"Akan sulit bagimu bertahan tanpa rencana,"
"Karena bisa saja ... Suatu saat nanti Naira akan menfitnahmu lagi ...."
Aila terdiam sembari menundukkan kepalanya dalam. Apa yang dikatakan Ardan adalah benar ... Ia bahkan tak membuat pertimbangan matang terlebih dulu.
Karena Aila sama sekali tak menyangka jika Naira akan berbuat sedemikian buruk padanya.
Awalnya Aila menyangka jika Naira memang setuju dari hatinya. Seperti yang dikatakan Erna saat mengiba padanya agar bersedia menjadi istri kedua Fakhri.
seru pas diawal aja cerita dipologami, ini kan ganti cerita masak cuma dikit doank episodenya...
uda lama nggu akhirnya cm gini doank
Udh q boom like juga,
Jangan lupa mampir novelku yang lain
Love revenge, Obsesi
Tinggalin jejak juga 👍👍
Nuhun 🙏
mampir juga donk ke crt aku..
WHEN KAMA MEET SUTRA
aq tgg ya ka 🤗
ngk sabar nungguin kelanjutann kisah fahri dan aila