Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 FIRA DISIDANG
SELAMAT MEMBACA !!!
"Apa benar, kamu sudah menampar kedua pipinya Sabrina?" tanya Pak Rektor.
Zhafira menegakkan tubuhnya, "Hmmm...Apa sudah ditanyakan kepada Sabrina, Pak? Kenapa dia sampai saya tampar, Pak Rektor?" tanya balik Fira kepada Rektornya, bukan maksud nggak sopan.
Rektor itu menatap wajahnya Sabrina, yang sedang duduk di sebelah Ayahnya. "Sa...saya juga nggak tau, Pak Rektor. Tiba-tiba ia lewat di depan saya, lalu menampar saya, Pak," jawab Sabrina pelan seperti korban beneran yang penuh kepura-puraannya.
"Kamu itu anak beasiswa, tapi tingkah lakumu itu tak patut untuk anak beasiswa!" seru Pak Robert sambil menatap sinis.
Fira tersenyum sedikit sambil menatap wajah Pak Robert. "Kalau boleh tau, bagaimana seharusnya sikap anak beasiswa? Apa harus diam saja, saat dibully? Apa harus diam saja saat harga dirinya diinjak-injak oleh orang yang tak bertanggung jawab. Tolong jelaskan, Pak Robert?" tanya Fira dengan tenang tanpa ada rasa ketakutan dalam hatinya.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu terdiam dengan jawaban yang disampaikannya. "Kalau ada yang mau saya diinjak-injak harga dirinya. Silahkan maju ke depan, katakan siapa yang mau diinjak-injak harga dirinya!" serunya lagi.
Pak Robert yang nggak terima jika ada yang membantahnya segera berucap lagi, "Tapi apa pantas yang lakukan itu, seorang mahasiswa tapi kelakuannya seperti preman. Kamu mau beasiswa kamu dicabut sekarang, Hah!" teriak Pak Robert sambil matanya merah menahan amarah.
"Anda saja marah, padahal saya belum menginjak-injak harga diri anda. Bagaimana dengan saya yang direndahkan oleh putri tersayangnya, Bapak itu. Saya mau tanya kepada Pak Rektor, Bapak dan Ibu Dosen yang berada di sini. Saya ini berusaha menutup aurat saya dengan menggunakan penutup kepala, lalu seketika penutup aurat saya di tarik hingga hampir lepas dan leher saya mengeluarkan darah akibat jarum yang menusuk leher saya. Apa saya harus diam saja, Bu?" tanya Fira kepada dua Dosen yang memakai hijab.
Sabrina panik, ia mulai nggak nyaman, tapi Ayahnya segera membelanya. " Tapi seharusnya nggak perlu kamu tampar!" teriak Pak Robert seperti orang kesetanan. Sementara Rektor dan lainnya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap rekannya.
"Terus saya haruskah berterima kasih kepada putri Bapak?" tanya Fira lagi masih dengan ketenangannya.
"Saya nggak terima putri saya diperlakukan seperti itu! Saya sendiri nggak pernah menamparnya. Kamu harus dikeluarkan dari kampus ini sekarang juga! Berani-beraninya anak penerima beasiswa punya sikap seperti preman main tangan. Tak pantas kamu mendapatkan beasiswa lagi!" seru Pak Robert.
Fira tanpa merasa takut, langsung menjawab, "Sudah bicaranya, Pak Robert? Apa kamu punya bukti jika saya menamparnya? Boleh Pak Robert kasih lihat kepada semua orang yang berada di sini. Jangan mengambil keputusan sepihak, Pak. Nggak apa-apa kok beasiswa saya dicabut, saya juga bisa pindah kampus dari sini yang nggak ada mahasiswa yang suka bully temannya," ucap Fira dengan menghela napasnya yang berat.
"Pak Rektor, apa saya boleh menunjukan video tentang kejadian hari ini. Jika nanti sesudah saya memperlihatkan video itu dianggap kalian saya yang salah. Saya bersedia dicabut beasiswanya tapi jika saya menampar Sabrina untuk pembelaan diri, saya juga akan menuntut permintaan maaf di depan teman-teman yang melihat kejadian tadi pagi," ucap Fira meminta izin untuk membuka video yang dikirimkan Reno teman kelasnya.
"HEI?! enak saja bicaramu! Kamu yang salah, kenapa putri saya yang harus minta maaf!" seru Pak Robert nggak terima.
"Begini, Pak Robert. Kita ini sebagai tenaga pengajar yang profesional, kita seharusnya memberikan kesempatan kepada siapapun untuk menjelaskan kejadian, menyampaikan pendapat, biar kesannya adil sebelum mengambil keputusan. Dari tadi perasaan saya, Pak Robert yang semangat untuk mengeluarkan Zhafira dari kampus ini. Apa Pak Robert ada masalah dengan Fira sebelumnya?!" tegur Pak Rektor yang melihat ketidakadilan di sini.
"Silahkan, Nak Fira! Di sana sudah tersambung layar proyektor, kamu bisa perlihatkan bukti video kejadian tadi pagi. Kami juga belum tau permasalahan seperti apa. Sampai-sampai kamu berurusan dengan anak Fakultas ekonomi!" perintah Pak Rektor.
Zhafira melangkah maju ke dekat layar proyektor, lalu menghubungkan hapenya dengan kabel usb yang terhubung langsung ke layar proyektor.
Video mulai diputar, di sana mulai terlihat Fira sedang berjalan dengan Tasya sahabatnya. Tiba-tiba dia dihadang oleh Sabrina dan ketiga teman-teman. Sabrina mengucapkan kata-kata yang bisa membuat Fira marah. Tapi Fira diam dan cuek saja, lalu saat dia mau berjalan menuju kelasnya. Kerudung Fira ditarik dengan keras ke belakang sehingga kepala Fira ikut tertarik ke belakang, jarum dilehernya menuju ke leher, darah segar mulai menetes di kerudungnya Fira.
Fira sangat marah, lalu berbalik tubuhnya langsung menampar kedua pipinya Sabrina.
"Itu...itu... pasti video editan!" teriak Sabrina mulai ketakutan.
Fira kembali duduk di kursinya tadi. "Kalau editan, kapan saya mengeditnya, sedangkan saya baru saja masuk kelas sudah langsung disuruh ke sini. Apa mau saya panggilkan teman-teman yang melihat kejadian ini. Banyak kok yang mau menjadi saksinya?" tantang Fira.
Tiba-tiba Bu Dosen yang pakai kerudung itu bersuara, "Mohon maaf ini, Pak Robert. Bukan maksud saya untuk membela siapapun, jika melihat kelakuannya Sabrina. Seandainya itu saya yang diperlakukan seperti itu, saya juga akan menampar Sabrina, kami ini berusaha menutup aurat tapi Sabrina ingin membukanya di mata umum. Itu sama saja seperti menelanjangi tubuh kami, Pak!" seru Bu Dosen itu.
Bu Dosen lainnya juga menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan rekannya. Pak Rektor juga setelah mengamati apa yang diputar di video ini, memang Sabrina yang salah.
"Bagaimana, Pak Robert. Apa masih ingin menuntut beasiswanya Zhafira dicabut, Pak?" tanyanya.
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar dan pintu langsung terbuka. "Silahkan dicabut beasiswanya anak saya, lagian beasiswa itu bukan beasiswa tidak mampu tapi beasiswa Pintar. Silahkan kalau mau dicabut tapi saya juga akan menuntut dan nggak terima anak saya direndahkan dan dilecehkan dimuka umum," ujar orang yang baru masuk ke dalam ruangan itu.
"Mama..!" seru Fira lirih, ini pasti kelakuan Zafran batinnya
"Silahkan duduk, Bu. Dan ada keperluan apa ya, Bu?" tanya Pak Rektor dengan sopan dan ramah.
"Perkenalkan nama saya Sintya, saya Mama angkatnya Zhafira Nayara Humaira, Pak, Bu. Saya dapat laporan bahwa putri saya sedang di sidang di ruangan ini. Jadi saya harus tau keputusan apa yang akan diambil pihak kampus atas ketidakadilan terhadap putri saya," jawab Bu Sintya.
Seluruh orang yang hadir tentu nggak asing lagi dengan sosok Bu Sintya. Beliau adalah istri dari pemilik perusahaan jasa desain paling besar di negeri ini.
Pak Robert mukanya langsung sedikit pucat, ternyata orang yang di belakang Fira nggak kaleng-kaleng. Apalagi kalau tau Fira sudah bersuamu dab suaminya itu Tuan muda dari keluarga Danendra, mungkin Pak Robert akan pingsan.
"Bagaimana, Pak Robert? Mau dilanjutkan atau berhenti dengan damai. Untuk beasiswa Fira masih tetap akan diberikan. karena satu Fira di sini membela diri, kedua karena beasiswa itu beasiswa pintar selagi nilai Fira masih bagus dan bisa mempertahankan pretasinya, maka beasiswa tetap akan diberikan kepadanya. Hmmm...satu lagi untuk kamu Sabrina, jika kamu masih membuat masalah lagi sama Fira. Pihak kampus akan memberikan sangsi!" tegas Pak Rektor.
Ia kemudian berucap lagi, "Pak Robert belajarlah untuk bersikap lebih obyektif, jangan karena Sabrina putri Bapak lalu kesalahannya dianggap wajar dan justru menyalahkan orang lain, Pak!" tegur keras Pak Rektor.
Seluruh orang terdiam mendengarkan ucapannya Pak Rektor. Sementara Sabrina mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Silahkan Sabrina untuk meminta maaf dulu, sebelum pertemuannya diakhiri!" perintah Pak Rektor.