Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di lupakan!
Dua bulan setelah kematian Sabrina, kampus kembali berjalan dengan normal. Orang-orang pun seakan sudah melupakan kejadian itu. Bunuh dirinya Sabrina melompat dari gedung kampus bertingkat dua belas itu seperti tidak pernah terjadi.
Spanduk-spanduk acara mahasiswa kembali membentang megah di koridor, tawa riang kembali bergema di kafetaria, dan ubin pelataran tempat darah Sabrina pernah mengalir deras kini telah bersih mengilap.
Dan, kasus pun ditutup dengan Sabrina bunuh diri, yang praduganya adalah karena dia tidak sanggup berkuliah di tengah status sosial yang berbeda dengannya.
Narasi itu dibentuk begitu rapi dan cepat. Polisi merilis pernyataan resmi bahwa korban mengalami depresi berat akibat tekanan akademik dan ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan mahasiswa dari kalangan atas.
Sebuah alasan klasik yang mudah dicerna publik, sekaligus cara paling efektif untuk menghentikan penyelidikan lebih dalam.
Pengaruh dan jaringan kekuasaan para investor, bekerja dengan sangat bersih di balik layar, memastikan reputasi Universitas Artha Persada dan nama besar keluarga mereka tidak ternoda sedikit pun.
Bahkan, media pun tidak meliput kejadian itu. Ya, seperti Sabrina tidak pernah kuliah di sana.
Tidak ada artikel berita di portal online, tidak ada liputan koran lokal, apalagi tayangan di televisi. Jejak keberadaan mahasiswi beasiswa berprestasi itu seperti dihapus paksa dari ingatan kampus.
Namanya menghilang dari daftar absensi, biodatanya menguap dari sistem akademik, dan berkas kepulangannya ke kampung halaman diselesaikan tanpa riak. Sabrina benar-benar dijadikan bayangan yang tak pernah ada.
Namun, tidak bagi Julian.
Di saat seluruh isi kampus telah move on dan menganggap tragedi itu sebagai angin lalu, Julian justru terperangkap dalam penjara pikirannya sendiri.
Dua bulan berlalu, namun setiap kali ia melangkahi ubin pelataran utama, dadanya selalu sesak luar biasa. Wajah pucat, mata kosong, dan genangan darah dari kepala Sabrina yang hancur terus membayangi setiap detik hidupnya.
Bagi dunia luar, Sabrina hanyalah mahasiswi miskin yang menyerah. Namun bagi Julian, Sabrina adalah dosa besar dan rahasia kelam yang akan terus mencengkeram lehernya seumur hidup.
Lampu stroboskop kilat-kemilau menyambar-nyambar dalam kegelapan Noir club.
Dentuman bass yang berat dan intens bergetar hebat, memukul dada dan menggetarkan ubin tempat puluhan tubuh manusia bergoyang mengikuti irama musik electronic dance.
Udara di dalam ruangan itu begitu pekat, sarat akan aroma alkohol mahal, asap rokok, dan wewangian parfum yang menyengat.
Di salah satu meja VIP yang berada di sudut area, Rian, Fano, dan Adrian sedang menikmati malam mereka. Dua bulan setelah tragedi di kampus berlalu, kehidupan malam mereka telah kembali ke ritme semula, bebas, liar, dan seolah tak pernah tersentuh oleh duka.
Rian tampak paling menikmati suasana. Tubuhnya terombang-ambing mengikuti dentuman musik keras seraya menggerak-gerakkan gelas cocktail di tangannya hingga es batu di dalamnya berdenting nyaring.
Di sebelahnya, Fano terkekeh lebar sembari meminum minuman kerasnya langsung dari botol, sesekali bersorak memanggil penari di atas panggung utama.
Adrian ikut tertawa, menyesap minumannya, berusaha menenggelamkan rasa jenuh di tengah hingar-bingar lampu warna-warni yang membutakan.
Namun, efek dari beberapa sloki minuman beralkohol tinggi itu akhirnya membuat tumpukan cairan di kandung kemih Adrian menuntut pengeluaran.
"Gue ke toilet sebentar!" teriak Adrian tepat di telinga Rian, menyaingi raungan musik yang pekak.
Rian hanya mengacungkan jempolnya tanpa mengalihkan pandangan dari lantai dansa.
Adrian bangkit dari sofa empuk, melangkah gontai membelah lautan manusia yang saling bergesekan. Ia melewati batas lantai dansa yang riuh dan mulai memasuki koridor remang-remang yang mengarah ke area toilet belakang.
Semakin jauh ia melangkah, dentuman musik keras di luar perlahan berubah menjadi ketukan bass yang diredam oleh dinding kedap suara, meninggalkan gema teredam yang asing.
Lorong menuju toilet itu sepi, berdinding keramik hitam berkilat dengan pencahayaan neon remang berwarna biru tua. Suasana mendadak menjadi begitu lengang, sebuah kontras yang tajam dibanding keriuhan di luar.
Adrian berjalan pelan, namun tiba-tiba bulu kuduk di tengkuknya meremang hebat.
Ia memperlambat langkahnya. Di tengah gema samar dentuman musik dari luar, Adrian merasa seperti mendengar sesuatu. Bunyi ketukan langkah kaki tambahan di belakangnya.
Plak... plak...
Adrian menghentikan langkahnya secara mendadak. Langkah di belakangnya pun seketika terhenti.
Pria itu menelan ludah yang terasa kesat. Hawa dingin yang tidak wajar mendadak merayap naik menembus pakaian tebalnya.
Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap lurus ke arah lorong panjang yang kosong di belakangnya. Tidak ada siapapun. Hanya ada pantulan dirinya sendiri di keramik dinding yang mengilap, serta hembusan angin dari ventilasi pendingin udara.
"Perasaan gue aja kali, ya... efek minum," gumam Adrian pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai berpacu liar.
Ia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju pintu toilet. Namun, baru tiga langkah mengayun, rasa seperti sedang diawasi itu datang kembali, kali ini jauh lebih kuat dan intens.
Seolah-olah ada sepasang mata yang amat dingin sedang menatap tajam tepat di belakang kepalanya.
Di atas ubin keramik yang basah oleh genangan air tak dikenal, Adrian melihat sebuah bayangan remang terpantul samar di dinding depan pintu toilet.
Sosok bayangan berambut panjang yang terurai, berdiri tepat di sudut lorong gelap yang baru saja ia lewati.
Adrian menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menepis bayangan aneh di koridor tadi, lalu bergegas masuk ke dalam toilet.
Setelah menuntaskan hajatnya, ia langsung menuju deretan wastafel berdesain modern dengan cermin-cermin lebar berbingkai lampu LED remang.
Ia memutar kran. Air jernih mengalir deras membentur permukaan porselen putih. Adrian membungkukkan tubuhnya, menampung air dingin itu dengan kedua telapak tangan, lalu membasuh wajahnya berulang kali secara kasar.
Ia mengusap mukanya yang basah kuyup, lalu menghela napas panjang seraya menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Matanya merah dan sayu.
Adrian berusaha meyakinkan diri bahwa sensasi merinding tadi hanyalah ilusi akibat rasa kantuk yang teramat sangat. Selama beberapa hari terakhir, hidupnya terasa sangat menyiksa.
Ayahnya, seorang politikus senior berkulit tebal yang haus kekuasaan, memaksanya membaca tumpukan buku tata negara yang tebalnya membunuh akal sehat, tanpa jeda, demi mempersiapkan Adrian masuk ke dunia politik.
Ditambah lagi malam ini ia sudah meneguk terlalu banyak alkohol, jadi sangat wajar jika otak dan inderanya mulai memainkan trik-trik gila.
"Cuma efek alkohol, gila aja," gumam Adrian seraya terkekeh pelan pada dirinya sendiri.
Ia kembali menundukkan kepala, menampung air kran untuk membasuh wajahnya sekali lagi, berharap rasa segar bisa sepenuhnya mengembalikan kesadarannya.
Namun, saat air itu menyentuh kulit mukanya, rasa dingin yang membakar seketika berganti menjadi cairan pekat, kental, dan amat lengket.
Bau amis yang teramat tajam dan menyengat mendadak menusuk hidungnya secara brutal.
Adrian terperanjat hebat. Ia membuka matanya yang perih, dan saat melihat ke bawah, jantungnya seakan berhenti berdetak seketika.
Tangan yang menampung cairan itu kini bersimbah warna merah pekat yang membazir deras. Kran wastafel tidak lagi mengalirkan air jernih, melainkan semburan darah segar bernoda gumpalan-gumpalan hitam yang kental.
Porselen putih wastafel itu seketika penuh tergenang cairan merah pekat yang berbusa.