Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Diri yang Berserakan
Pria bernama Rian itu segera melepas pelukan Gilang. Dia mendorong tubuh pemuda itu hingga jatuh terjengkang. Gilang meringis kesakitan ketika bokongnya mencium lantai.
“Siapa kamu, hah?!” berang Rian.
Gilang yang sedang dirasuki arwah Prisa segera bangkit. Dia kembali mendekati pria yang selama ini menjadi kekasih rahasianya.
“Abang galak banget, sih. Biasanya Abang nggak kayak gini,” suara Gilang terdengar merajuk. Gerak tubuhnya juga tampak gemulai.
Nilan yang ada di dekat pemuda itu hanya terbengong. Dia tahu jika tubuh Gilang dimasuki Prisa, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
“Dasar sinting. Gue nggak kenal elo!” suara Rian terdengar nyaring.
Apa yang terjadi pada Gilang dan Rian langsung menarik perhatian pengunjung yang melintas di dekat mereka.
Beberapa pengunjung berhenti untuk melihat apa yang terjadi. Di antaranya ada yang berbisik-bisik sambil menertawai tingkah Gilang.
Menjadi perhatian banyak orang tak ayal membuat Rian merasa malu. Pria itu bergegas pergi. Tak mau ditinggal begitu saja, Gilang langsung menyusul sambil berteriak memanggil Rian.
“Bang Rian, tunggu! Tunggu!”
Gilang mempercepat larinya lalu menahan lengan Rian. Dengan kedua tangannya dia memeluk erat lengan Rian. Langkahnya terseret saat Rian melanjutkan langkahnya.
“Bang Rian, tunggu. Jangan pergi!”
“Dasar gila!”
Gilang mempererat pelukannya sambil menyandarkan kepalanya di lengan Rian. Sekuat tenaga Rian mencoba lepas dari Gilang. Tangannya mendorong wajah Gilang, berharap pemuda itu melepaskan pelukannya.
Namun usahanya sia-sia. Gilang menempel erat seperti lintah. Saking kesalnya, Rian menghantamkan bogeman ke wajah Gilang. Pukulan kerasnya membuat pelukan Gilang terlepas. Bahkan hidung pemuda itu mengeluarkan darah.
Kesal dipukul oleh Rian, Gilang yang masih dirasuki Prisa mengusap darah di hidungnya lalu mendekati Rian lagi. Dia langsung menggigit lengan Rian.
“Aarrgghh!”
Rian memekik kesakitan saat gigi Gilang menancap di kulit lengannya. Pria itu kembali mendorong kepala Gilang.
Keributan itu menarik perhatian banyak pengunjung. Mereka mulai berkumpul mengerumuni keduanya. Melihat kerumunan pengunjung, petugas keamanan pun mendekat. Pria berseragam itu terkejut melihat adegan di depannya.
Secepatnya dia memisahkan Gilang dan Rian. Karena tenaga Gilang yang kuat, dia sampai meminta bantuan rekannya. Bergegas rekannya mendekat dan langsung membantu memisahkan dua orang itu.
“Dasar gila!” maki Rian yang berhasil lepas dari Gilang berkat bantuan satpam.
Pria itu hendak maju. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun. Dia ingin menghajar Gilang lagi.
Setali tiga uang, Gilang pun tampak marah. Prisa yang tengah merasuki Gilang merasa kecewa dan marah atas perlakuan Rian padanya. Dia berusaha melepaskan diri dari petugas yang sedang memeganginya.
“Sabar, Mas,” ujar sang petugas berusaha menenangkan Rian.
“Lepas! Biar gue hajar tuh orang!” geram Rian sambil berusaha lepas dari pegangan satpam itu.
“Keterlaluan kamu, Bang. Kamu bilang cinta sama aku, tapi kamu malah giniin aku!” pekik Gilang.
Teriakan Gilang terdengar jelas di telinga para pengunjung, termasuk dua petugas keamanan yang sedang memisahkan dua pria ini. Sontak keduanya saling berpandangan.
“Itu pacarnya, Mas?” tanya satpam yang memegangi Rian.
“Najis! Gue masih normal ya,” geram Rian.
“Tega kamu, Bang! Setelah apa yang kita lalui, bisa-bisanya kamu bilang gitu!”
“Kenal juga kagak. Beneran gila lo!”
Kedua petugas keamanan dibuat bingung dengan pertengkaran Gilang dan Rian. Apalagi keduanya berjenis kelamin laki-laki.
Pembicaraan mereka tentu saja membuat dua petugas keamanan itu dan para pengunjung yang menyaksikan mulai berpikiran liar.
“Lebih baik kalian ikut ke kantor, kita selesaikan secara baik-baik.”
Dibantu beberapa pengunjung pria, petugas keamanan itu membawa Gilang dan Rian menuju ruangan security. Keduanya didudukkan sedikit berjarak, agar tidak memicu pertengkaran lagi.
“Masnya benar nggak kenal dia?” tanya petugas keamanan pada Rian.
“Nggak, Pak. Sumpah!”
“Bohong. Dia itu pacar saya!” sangkal Gilang cepat.
“Eh gue masih normal, ya. Bangsat lo!”
“Abang teganya ngomong gitu, setelah apa yang kita lewati. Apa Abang lupa sudah berapa kali kita tidur bersama. Abang jahat” ujar Gilang alias Prisa berapi-api.
Sontak Rian langsung terdiam. Membayangkan dia tidur dan melakukan hubungan intim dengan Gilang seketika membuat bulu kuduknya berdiri. Bukan hanya Rian, petugas keamanan yang berada di ruangan yang sama juga ikut bergidik.
Kemarahan Prisa sekarang berubah menjadi tangisan. Bagaimana mungkin Rian melupakan momen indah mereka?
Mereka sudah menghabiskan waktu bersama selama dua tahun. Bahkan dia menuruti keinginan Rian untuk merahasiakan identitas pria itu dari teman-temannya.
“Jangan-jangan lo pasien rumah sakit jiwa yang kabur. Pak, tolong telepon polisi, suruh tangkap orang ini.”
“Jangan!” cegah Prisa cepat. “Abang benar-benar nggak ingat aku? Aku Prisa!”
Seketika Rian langsung bungkam. Wajahnya tampak terkejut. Kepalanya menggeleng pelan, bibirnya menggumamkan sesuatu dengan suara sangat pelan. “Nggak, nggak mungkin. Prisa sudah mati.”
Suara Rian sangat pelan dan artikulasinya tidak jelas hingga tidak terdengar jelas oleh para petugas keamanan yang berada di ruangan itu.
Namun tidak dengan Nilan. Hantu wanita itu bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Rian. Dia memperhatikan wajah Rian dengan seksama.
Raut wajahnya mengalami perubahan seketika. Matanya bergerak cepat ke kanan dan kiri. Gerak tubuhnya menunjukkan kegelisahan. Hal itu membuat Nilan curiga. Tiba-tiba saja dia berdiri.
“Saya nggak mau terlibat lagi dengannya. Saya mau pulang,” ujar Rian tiba-tiba. Emosinya seakan menguap begitu saja.
“Apa tidak jadi menghubungi polisi?”
“Tidak usah.”
Bergegas Rian meninggalkan ruangan tersebut. Sebelum melangkah keluar, dia menoleh pada Gilang. Cara pemuda itu melihatnya mengingatkannya akan Prisa. Secepatnya pria itu pergi tanpa melihat lagi ke belakang.
“Bang Rian! Bang Rian! AAAAA!!”
Prisa berteriak kencang lalu menangis tersedu. Para petugas keamanan saling berpandangan dengan wajah bingung. Tidak ada yang tahu harus berbuat apa.
Prisa yang berada di tubuh Gilang terus menangis sampai akhirnya arwah penasaran itu keluar dari tubuh Gilang.
Begitu arwah Prisa keluar dari tubuhnya, tubuh Gilang langsung kehilangan tenaga dan terkulai lemas. Pemuda itu jatuh pingsan. Buru-buru petugas keamanan memindahkannya ke sofa panjang.
Sepuluh menit kemudian akhirnya Gilang tersadar. Pemuda itu perlahan menegakkan tubuhnya. Rasa lelah menggerogotinya. Dia merasa seperti habis mengikuti lomba lari maraton.
“Aku di mana?” tanyanya sambil melihat sekeliling.
Seorang petugas keamanan mendekat sambil membawa sebotol air mineral lalu memberikannya pada Gilang.
“Minum dulu.”
“Terima kasih, Pak.”
Gilang menerima botol air mineral tersebut lalu meneguknya sampai habis setengah. Setelah keadaannya sedikit tenang, Gilang mulai bertanya. “Saya kok bisa ada di sini, Pak? Apa yang terjadi?”
Petugas itu terdiam sejenak, dia melihat pada rekannya lalu kembali menatap Gilang. Sikap pemuda di hadapannya ini berbeda seratus delapan puluh derajat.
“Kamu nggak ingat apa yang terjadi tadi?” tanya petugas itu hati-hati.
“Nggak, Pak. Emangnya ada apa?” tanya Gilang semakin bingung. Apalagi ketika dia menyadari petugas keamanan yang berada di ruangan ini melihatnya dengan tatapan aneh.
Salah seorang petugas kemudian menceritakan semua yang terjadi kepada Gilang. Semua yang disaksikan dan didengar petugas itu diceritakan pada Gilang tanpa ada yang terlewat.
Mulut Gilang sampai menganga mendengar cerita petugas keamanan itu. Wajah pemuda itu memerah saking malunya. Dia sudah bisa menebak kalau tadi arwah Prisa merasukinya.
Kampret emang si Prisa. Menjatuhkan harga diri gue aja. Gue jadi disangka kaum pelangi. Najis, rutuk Gilang dalam hati.
***
Gilang🤣
Ini penampakan Gilang versiku
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/