Dika Nugraha seorang CEO di sebuah perusahaan besar. Saat ini dia sudah berusia 30 tahun namun dia belum juga mau untuk menikah. Karena sebuah kecelakaan dia mengalami kelumpuhan dan harus duduk di kursi roda.
Pak Nugraha sebagai papah Dika merasa kasihan pada putra nya itu. Akhir nya dia membeli gadis bernama Nisa Putri Surya yang masih berusia 19 tahun untuk Dika nikahi.
Dika di beri minuman oleh sang papah agar dia berhubungan badan dengan Nisa.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Tetap setia di sini😊😊😊
Terima kasih banyak 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diyah nur arroyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Nisa memanyunkan bibir nya yang mungil itu ke arah Dika karena staf toko ganti memanggil nya nyonya.
Dika tersenyum dengan menaikkan sebelah alis nya ke Nisa. Nisa menggebrak gebrakkan kaki nya ke lantai untuk protes ke Dika.
Setelah membeli ponsel. Nis dan Dika mulai berkeliling lagi. Kini Nisa masuk ke dalam toko buku.
"Mau cari apa sih kok masuk ke sini?" Tanya Dika.
"Mau cari resep kue. Aku mau jualan kue" Jawab Nisa.
"Jualan di mana?" Tanya Dika penasaran.
"Karena aku sudah punya ponsel. Aku mau jualan lewat online saja " Jawab Nisa.
"Kamu nggak capek? Kamu kan harus ngurusin aku juga. Belum lagi masak untuk makan kita" Ucap Dika.
"Enggak papa. Kalau kita jalani nya dengan senyuman semua nya akan terasa ringan" Jelas Nisa dengan berkeliling rak rak buku.
"Nah ini buku nya" Ucap Nisa.
Nisa membuka buka buku yang dia pilih. Dia mengambil beberapa buku yang berbeda untul membuat kue.
"Sudah yuk" Ucap Nisa.
"Sudah cuma ini buku nya?" Tanya Dika.
"Iya sudah ini sudah cukup kok" Jawab Nisa.
"Jangan lupa suami kamu ini kaya. Kamu nggak perlu menghemat" Ucap Dika.
"Iya aku tau suami ku itu kaya raya. Tapi ini sudah cukup" Jawab Nisa mendorong kursi roda Dika ke arah kasir.
Nisa memberikan buku yang ia pilih ke kasir. Kasir toko terus mencuri pandang pada Dika. Walaupun Dika duduk di kursi roda. Tapi banyak gadis gadis yang terus menatap ketampanan nya.
"Sudah cuma ini saja?" Tanya kasir.
"Iya mbak sudah cukup" Jawab Nisa sopan.
Nisa menatap aneh ke petugas kasir. Dia mengikuti arah pandangan sang kasir. Nisa menganggul anggukkan kepala nya ketika dia tau arah pandangan petugas kasir ke Dika.
"Mbak mau kenalan sama dia?" Bisik Nisa pada petugas kasir.
Wajah petugas kasir seketika memerah karena tertangkap basah memandang Dika.
"Sudah nggak usah malu. Saya tau kok" Imbuh Nisa.
Dika yang melihat gelagat aneh pada Nisa mulai curiga. Dika lebih mendekar ke Nisa. Dika menarik tangan Nisa dan akhir nya Nisa duduk di pangkuan nya.
"Kenapa istri ku ini sangat menggemaskan sekali?" Ucap Dika sedikit keras.
Petugas kasir yang mendengar menjadi salah tingkah karena ketahuan oleh istri nya kalau dia sedang mencuri pandang pada suami nya.
"Jangan macam macam Nisa. Kamu tidak ingin kan aku mencium mu di depan banyak orang?" Ancam Dika.
Nisa berdiri dari pangkuan Dika. Dia marah dengan ancaman Dika barusan.
"Sini uang nya" Ucap Nisa jutek.
Dika merogoh saku nya lalu mengeluarkan kartu hitam yang ia miliki.
"Nih" Ucap Dika.
Nisa menerima kartu tersebut lalu memberikan nya pada petugas kasir. Petugas kasir terkejut dengan kartu yang di berikan Nisa.
"Maaf tapi toko kami tidak bisa melakukan pembayaran dengan kartu ini" Ucap petugas kasir.
"Kenapa tidak bisa?" Tanya Nisa.
"Pakai ini saja kalau begitu" Ucap Dika memberikan kartu lain nya.
"Baik" Jawab petugas kasir.
Nisa menerima kembali kartu hitam nya. Dia membolak balikkan kartu nya tapi tidak ada yang aneh dengan kartu tersebut.
"Nih kartu nya." Ucap Nisa mengembalikan kartu milik Dika.
"Buat kamu saja" Ucap Dika.
"Nggak mau. Kartu nggak bisa di pakai mau buat apa?" Ucap Nisa cetus.
"Silahkan buku nya. Terima kasih sudah berbelanja di toko kami" Ucap penjaga kasir.
Nisa menerima buku nya dan juga kartu milik Dika. Nisa mengembalikan lagi kartu milik Dika.
"Ada yang perlu kamu beli lagi?" Tanya Dika.
"Emmm ada sih. Tapi malu kalau pergi nya sama mas Dika" Jawab Nisa.
"Kenapa malu?" Tanya Dika penasaran.
Nisa menunjuk ke sebuah toko yang di isi oleh barang barang kusus wanita dengan dekorasi pink.
"Oh. Nih kamu beli saja aku tunggu di sini" Ucap Dika menyerahkan kartu pada Nisa.
"Makasih ya mas" Ucap Nisa tersenyum girang.
"Iya. Beli sebanyak yang kamu butuh kan. Kamu tidak usah takut suami mu ini bakal bangkrut" Ucap Dika.
"Iya iya aku tau" Jawab Nisa.
Nisa berjalan masuk ke dalam toko. Sedangkan Dika terus memantau Nisa dari luar toko.
Cukup lama Nisa berada di dalam toko. Dika masih tenang menunggu Nisa keluar. Namun terdengar suara ledakan dari dalam toko.
Dika yang terkejut dengan suara ledakan tersebut mulai panik. Tanpa dia sadari dia ingin berdiri dari kursi roda nya.
Namun Huda yang berada di belakang nya menahan Dika untuk berdiri.
"Biar saya saja yang masuk mencari non Nisa. Anda tetap di sini" Ucap Huda.
"Iya. Cepat cari dia Huda" Ucap Dika khawatir.
Huda mengangguk lalu masuk ke dalam toko tersebut. Banyak orang orang yang panik dan berlari berhamburan. Dika terus meremasi jemari nya karena Huda tidak kunjung keluar dari dalam toko.
"Anda harus keluar dari sini sekarang pak" Ucap satpam pusat perbelanjaan tersebut.
"Tidak jangan istri saya masih ada di dalam" Tolak Dika.
"Tapi di sini sangat berbahaya pak. Anda harus keluar dulu dari sini" Ucap satpam.
"Saya bilang tidak. Lepaskan tangan mu dari lursi roda ku" Teriak Dika marah besar dengan satpam tersebut.
Namun satpam tetap ingin membawa Dika keluar dari pusat peebelanjaan tersebut. Dika ingin sekali marah dan memukul satpam tersebut namun dia mendengar suara Nisa.
"Mas Dika" Panggil Nisa lirih.
Dika melihat ke arah belakang. Satpam melepaskan kursi roda Dika. Nisa berlari ke dalam pelukan Dika dan menangis.
"Kamu tidak apa apa kan? Ada yang luka tidak?" Tanya Dika khawatir.
Nisa menggeleng tapi dia terus menangis tidak menjawab pertanyaan Dika. Dika melepaskan pelukan lalu memegang wajah Nisa lembut.
"Beneran nggak ada yang luka kan?" Tanya Dika.
Nisa lagi lagi menangis. Dika kembali memeluk Nisa erat.
"Lebih baik kita keluar dulu dari sini" Ucap Huda.
"Iya ayo kita keluar" Jawab Dika.
Dika menggandeng tangan Nisa sedang kan Huda yang mendorong kursi roda Dika. Dika merasakan gemetaran Nisa. Dia mengusap lembut punggung tangan Nisa.
"Kita sudah aman sekarang" Ucap Dika untuk menenangkan Nisa.
Dika di bantu Huda masuk ke dalam mobil. Sedangkan Nisa sudah berada di dalam mobil lebih dulu.
"Sayang tenang lah. Kita aman sekarang" Ucap Dika.
Nisa yang ketakutan kembali memeluk Dika. Dika merasakan seluruh tubuh Nisa yang bergemetar hebat.
"Kita ke rumah sakit Huda" Ucap Dika.
"Enggak. Aku nggak mau" Tolak Nisa.
"Tapi kamu perlu di periksa Nisa" Ucap Dika.
"Enggak aku nggak mau mas. Aku takut" Ucap Nisa menangis.
"Lebih baik Nisa di periksa di rumah saja" Usul Huda.
"Ya sudah kita pulang sekarang ok?" Tanya Dika lembut.
Nisa mengangguk lemas. Dika terus memeluk Nisa erat. Dia telah melihat sisi lemah Nisa sekarang. Seorang gadis kecil yang melihat jelas teror bom tepat di depan mata nya.
# selamat membaca ya kak
# terima kasih banyak
😊😊😊🙏🙏🙏