Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Fajar kembali menyingsing di atas Sekte Hutan Bambu. Kabut tipis masih menyelimuti lereng gunung ketika dentangan lonceng pagi menggema ke seluruh penjuru sekte. Seperti biasanya, para murid mulai berkumpul di lapangan utama untuk menjalani latihan pagi, sementara para pelayan telah lebih dahulu memulai pekerjaan mereka.
Di salah satu kamar kayu sederhana, Yan Kai perlahan membuka matanya. Ia mengembuskan napas panjang. Malam sebelumnya terasa seperti mimpi, namun ketika ia merasakan aliran hangat yang berputar di dalam dantiannya, ia tahu semuanya benar-benar nyata.
Ia telah menjadi seorang kultivator.
Meski baru berada di Ranah Pengumpulan Qi Tahap Menengah, perubahan yang dibawa oleh kultivasi pertamanya sangatlah besar. Tubuhnya terasa lebih ringan, pendengarannya menjadi lebih tajam, bahkan penglihatannya terasa jauh lebih jernih dibanding sebelumnya.
Yan Kai mengepalkan tangannya perlahan, merasakan tenaga yang belum pernah ia miliki sebelumnya mengalir di setiap ototnya.
Namun ia tidak larut dalam kegembiraan. Masih ada banyak pekerjaan yang menunggunya. Ia mengenakan pakaian pelayannya seperti biasa, memanggul sapu bambu, lalu berjalan menuju halaman sekte.
Baru beberapa langkah keluar dari tempat tinggal para pelayan, beberapa murid luar yang sedang lewat mendadak menghentikan langkah mereka.
"Itu... bukankah dia Yan Kai?"
"Kenapa dia berubah seperti itu?"
Tatapan mereka dipenuhi keterkejutan. Pemuda yang biasanya selalu tampak lusuh dengan wajah penuh luka kini terlihat jauh berbeda—kulitnya bersih, wajahnya segar, rambut hitamnya tampak rapi dan berkilau. Meski masih mengenakan pakaian pelayan yang sama, penampilannya kini jauh lebih enak dipandang.
"Dia jadi lebih tampan... bagaimana bisa?"
"Apa dia diam-diam memakai pil kecantikan?"
"Hahaha, mana mungkin pelayan miskin seperti dia mampu membeli pil?"
Bisik-bisik mulai terdengar di mana-mana. Yan Kai tentu mendengarnya, namun kali ini ia hanya tersenyum tipis. Ia tidak lagi terlalu memedulikan ucapan mereka.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya menyapu halaman dan membersihkan beberapa ruangan, Yan Kai kembali memanggul dua ember kayu. Hari ini ia kembali mendapat tugas mengambil air dari mata air di kaki gunung.
Saat melewati lapangan latihan utama, puluhan murid luar sedang berlatih mengayunkan pedang. Di tengah mereka berdiri Ji Hao. Saat pandangannya tanpa sengaja jatuh kepada Yan Kai, alisnya langsung berkerut.
"Itu... si sampah?"
Ji Hao memicingkan mata, memperhatikan Yan Kai dari ujung kepala hingga kaki. "Apa yang terjadi padanya? Kenapa tiba-tiba berubah seperti itu?" Semakin dipandang, semakin timbul rasa tidak senang di dalam hatinya. Selama ini Yan Kai selalu tampak menyedihkan, namun sekarang, entah mengapa, penampilannya justru membuat Ji Hao merasa terganggu.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung melangkah menghampiri Yan Kai bersama Ai Ling dan beberapa pengikutnya. Mereka menghadang jalan setapak yang hendak dilewati Yan Kai. Yan Kai pun berhenti, tatapannya tenang.
Ji Hao menyeringai sinis. "Aku kira siapa. Ternyata pelayan sampah."
Biasanya, setiap kali bertemu Ji Hao, Yan Kai akan langsung menundukkan kepala dan memberi salam dengan gugup. Namun hari ini ia hanya berdiri diam, tatapannya tetap lurus. Tidak ada rasa takut. Tidak ada kepanikan.
Perubahan sikap itu langsung membuat wajah Ji Hao menggelap. "Apa? Berani sekali kau tidak memberi hormat kepadaku."
Yan Kai menjawab dengan tenang. "Aku masih membawa pekerjaan. Kalau tidak ada urusan, izinkan aku lewat."
Mendengar jawaban itu, seluruh murid yang berada di sekitar langsung tercengang.
"Itu benar-benar Yan Kai?"
"Dia berani bicara seperti itu?"
Ji Hao tertawa dingin. "Luar biasa. Baru berubah sedikit, kau sudah lupa siapa dirimu?"
Tanpa peringatan, tinju Ji Hao langsung melesat ke arah perut Yan Kai. "Kalau begitu, biar kuingatkan!"
Namun tepat sebelum tinju itu mengenai tubuhnya...
Plak!
Yan Kai mengangkat tangan kirinya. Dengan satu gerakan sederhana, ia menangkap kepalan Ji Hao.
"Apa?!"
Ji Hao membelalakkan mata. Tangannya tidak dapat bergerak sedikit pun. Cengkeraman Yan Kai terasa seperti besi—semakin ia berusaha menarik tangannya, semakin kuat tekanan yang ia rasakan.
Yan Kai memandangnya dengan tenang. "Aku tidak ingin bertengkar. Tolong menyingkir."
Ji Hao langsung memerah karena marah. "Kurang ajar!" Ia akhirnya berhasil menarik tangannya, rasa nyeri masih terasa hingga pergelangan tangannya. Bagaimana mungkin seorang pelayan mampu memiliki tenaga sebesar itu? Amarahnya langsung meluap. "Kalian! Hajar dia!"
Empat orang pengikut Ji Hao langsung maju bersamaan. Mereka semua merupakan murid luar yang telah mencapai Ranah Pengumpulan Qi Tahap Awal—meski belum terlalu kuat, mereka jauh berada di atas orang biasa.
"Habisi dia!"
Keempatnya menyerang dari arah yang berbeda—tinju, tendangan, siku, semuanya mengarah ke tubuh Yan Kai. Namun begitu mereka bergerak, Yan Kai justru merasa dunia di sekitarnya melambat.
"Kenapa... pergerakan mereka... terlihat sangat lambat?"
Ia tidak sempat memikirkan alasannya. Secara naluriah tubuhnya bergerak.
Swish!
Ia memiringkan kepala. Sebuah tinju meleset hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Tubuhnya kemudian berputar ringan, tendangan dari samping hanya mengenai udara kosong. Tak berhenti di situ, Yan Kai mengangkat lengannya.
Pak!
Sebuah pukulan berhasil ia tangkis dengan mudah. Lalu ia melangkah setengah langkah ke belakang—serangan terakhir kembali gagal mengenainya.
Seluruh rangkaian gerakan itu berlangsung sangat alami, seolah tubuhnya telah mengetahui apa yang harus dilakukan. Empat murid luar itu langsung membeku.
"Bagaimana mungkin?"
"Dia menghindari semuanya?"
"Sejak kapan pelayan itu bisa bertarung?"
Bahkan murid-murid lain yang sedang berlatih mulai menghentikan aktivitas mereka, tatapan mereka dipenuhi keterkejutan.
Ji Hao sendiri mengepalkan tangannya erat. "Dasar sampah... aku tahu sekarang. Kau pasti menyembunyikan sesuatu!" Tatapannya berubah penuh amarah. "Jangan main-main lagi! Gunakan Qi kalian! Habisi dia!"
Mendengar perintah itu, keempat murid luar langsung mengedarkan energi spiritual mereka.
Wuuung!
Aura tipis mulai menyelimuti tubuh mereka. Kecepatan mereka meningkat drastis—tinju yang sebelumnya masih dapat dilihat dengan jelas kini berubah menjadi bayangan-bayangan cepat.
Mata Yan Kai sedikit membesar. "Mereka... lebih cepat."
Brak!
Sebuah pukulan menghantam bahunya. Sebelum sempat menyeimbangkan tubuh sebuah tendangan mengenai pinggangnya. Yan Kai mundur beberapa langkah. Belum sempat bernapas, dua serangan lagi menghantam dadanya secara beruntun.
Buk! Buk!
Tubuhnya terdorong hingga beberapa meter ke belakang. Meski tidak mengalami luka serius berkat tubuhnya yang telah jauh lebih kuat dari sebelumnya, rasa nyeri tetap menjalar ke seluruh tubuhnya.
Yan Kai mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya tetap tenang. Namun kini ia menyadari satu hal—pertarungan antara kultivator tidak sesederhana yang ia bayangkan.