NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

keadaan yang belum pasti

Setelah selesai membayar semua belanjaan itu, terlihat beberapa kantong besar yang terisi penuh hingga terasa cukup berat untuk dibawa sendirian. Aku berusaha mengangkat dan membawanya keluar seorang diri, namun begitu aku melangkah menuju pintu keluar, sopir yang tadi menunggu di halaman parkir langsung berlari mendekat dengan sigap untuk membantuku. Meski aku sempat menolaknya dengan sopan dan berkata bahwa aku sanggup membawanya sendiri, ia tetap memungut semua kantong belanjaan itu satu per satu dan menyimpannya dengan sangat rapi ke dalam bagasi mobil.

Perjalanan pulang terasa tenang dan nyaman. Begitu mobil berhenti di halaman depan rumah, sopir itu kembali membantu membawakan semua kantong belanjaan itu masuk hingga ke ruang dapur dengan hati-hati. Setelah memastikan bahwa semua barang belanjaan itu sudah diletakkan dengan aman di atas meja dapur, ia kembali menundukkan kepalanya dengan hormat lalu beranjak pergi untuk kembali menunggu di tempat kendaraan diparkir.

Aku pun mulai memeriksa satu per satu barang yang kubeli itu, lalu menatanya dengan rapi dan teratur ke dalam lemari pendingin sesuai dengan jenisnya. Setelah semua tersusun dengan baik dan rapi, aku segera mulai menyiapkan segala sesuatu untuk memasak: pertama aku menanak nasi yang cukup banyak, kemudian aku mulai mengolah sayuran serta bahan-bahan segar yang baru saja kubeli itu menjadi beberapa jenis masakan sederhana namun penuh dengan rasa yang baik.

Saat melihat semua masakan itu mulai terhidang dengan rapi di atas meja makan, wajahku seketika bersinar terang dipenuhi senyum lebar yang tak sanggup kutahan lagi. Hatiku terasa begitu ringan, damai, dan penuh dengan harapan-harapan baru yang indah. Aku pun segera berjalan kembali menuju ruang dapur dengan semangat yang meluap, bersiap untuk menyiapkan segala sesuatu agar nanti saat waktunya tiba, hidangan ini bisa tersaji dengan hangat dan penuh ketulusan hati.

Saat aku sedang sibuk mengaduk masakan dan menyusun piring dengan rapi di ruang dapur, Fara baru saja terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sambil masih menguap lebar dan menutup mulutnya dengan sopan, ia melangkah perlahan menuruni anak tangga satu per satu. Begitu sampai di lantai bawah, matanya langsung tertuju pada ruang dapur yang sudah tampak sangat rapi, bersih, dan segala sesuatunya tertata dengan sangat baik. Ia pun segera mendekat ke arahku.

“Zara, maaf ya aku baru bangun sekarang. Sepertinya aku membuatmu terbebani harus mengurus semua pekerjaan rumah ini sendirian sejak pagi tadi,” ucapnya dengan nada bicara yang terdengar penuh rasa bersalah.

Aku hanya menggelengkan kepalaku perlahan sambil tersenyum lembut kepadanya. “Sama sekali tidak menjadi masalah, Kak Fara.”

Namun Fara kembali bertanya sambil menatapku lekat-lekat dengan penuh rasa ingin tahu. “Tapi kenapa ya, Zara? Kau terlihat sangat berseri-seri dan tampak begitu bahagia pagi ini. Apakah ada kabar gembira yang baru saja kau terima?”

Mendengar pertanyaan itu, aku seketika berhenti sejenak dari apa yang sedang kulakukan, lalu menoleh ke arahnya dengan senyum yang mekar lebar dan mata yang berbinar nyata memancarkan kebahagiaan. “Ah, benar sekali, Kak. Ini sungguh kabar yang sangat indah bagiku. Tadi… maksudku, Kak Adrian telah berkenan mengizinkanku untuk kembali melanjutkan sekolah dan menyelesaikan pendidikanku. Hanya dengan mendengar hal itu saja, rasanya hati ini terasa begitu ringan dan penuh dengan kebahagiaan yang tak sanggup kukatakan dengan kata-kata.”

Mendengar jawaban itu, seketika sebuah pemikiran melintas tajam di dalam benak Fara: Jadi benar semua dugaan yang selama ini ada di dalam pikiranku… ternyata dia benar-benar masih di bawah umur. Lalu apa sebenarnya alasan yang membuat Adrian bersedia menikah dengan gadis yang masih begitu muda dan belum mengetahui apa-apa tentang dunia ini?

Tanpa membiarkan pertanyaan itu terucap keluar, Fara segera melangkah mendekat untuk ikut membantuku merapikan piring serta gelas agar segala pekerjaan bisa selesai dengan lebih cepat. Setelah kami berdua selesai menikmati hidangan pagi itu bersama-sama, aku berniat naik ke kamar sejenak untuk bersiap-siap, namun baru saja kakiku mulai menaiki anak tangga, aku teringat sesuatu dan segera kembali turun tak lama kemudian.

Kini aku sudah berganti mengenakan gaun panjang yang terlihat lembut dan sangat anggun. Warnanya merupakan perpaduan halus antara ungu pucat dan biru samar, dengan corak yang terlukis persis seperti permukaan air danau yang tenang saat diterpa cahaya remang. Bagian leher serta pinggang gaun itu dihiasi lipatan kain yang halus dan renda berwarna krem, ditambah seutas tali berhias bunga-bunga kecil yang menjuntai lembut hingga ke bagian bawah. Ujung gaun itu tersusun dari beberapa lapis kain renda yang sangat lembut, sehingga setiap langkah yang kuambil terasa ringan dan tak berbunyi sama sekali.

Rencanaku hari ini adalah untuk pergi menjenguk keadaan Aslan di rumah sakit. Aku pun segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu, lalu perjalanan pun berangkat menuju ke sana. Begitu kendaraan berhenti di halaman depan rumah sakit, aku langsung melangkah tergesa masuk ke dalam bangunan itu, hatiku terasa penuh dengan rasa cemas dan kerinduan yang tak sabar ingin segera melihat keadaan adikku itu.

Sesampainya tepat di depan pintu ruang rawatnya, aku mendorong daun pintu itu perlahan-lahan lalu melangkah masuk ke dalam. Aslan masih terbaring diam di atas tempat tidurnya, wajahnya tampak sangat lemah di balik selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Aku pun duduk perlahan di tepi ranjang itu, menatap wajahnya dengan hati yang terasa sesak dan penuh kesedihan. Dalam hati aku sungguh-sungguh berdoa agar ia segera membuka matanya dan kembali tersenyum seperti biasanya, namun rasanya waktu berjalan begitu lambat seolah tak mau beranjak sama sekali.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan yang pelan di permukaan pintu ruangan itu. Seorang perawat melangkah masuk lalu mendekat ke arahku dengan sopan. “Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Nyonya… Bolehkah saya meminta Nyonya untuk hadir sebentar ke ruangan dokter? Ada hal penting yang ingin disampaikan secara langsung kepada Nyonya.”

Tanpa menunda waktu sedikit pun, aku segera bangkit dari tempat dudukku lalu mengikuti langkah perawat itu keluar dari ruangan. Tak lama kemudian kami pun sampai di depan ruangan dokter, dan aku segera melangkah masuk ke dalamnya.

“Mohon maaf Nyonya, saya akan menyampaikan keadaan yang sebenarnya apa adanya kepada Nyonya,” ucap dokter itu dengan nada yang penuh kehati-hatian namun tetap tegas. “Sampai saat ini, pasien masih berada dalam keadaan koma. Kami telah melakukan segala jenis pemeriksaan dan memberikan perawatan terbaik yang kami miliki, namun sejauh ini kami belum dapat memastikan kapan persisnya ia akan sadar kembali. Waktu pemulihannya sama sekali tidak dapat kami perkirakan—bisa saja berlangsung selama berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan lamanya. Belum ada satu pun orang yang mampu menjawab kapan tepatnya ia akan kembali membuka matanya.”

Mendengar penjelasan itu, rasanya seluruh darah di dalam tubuhku seolah berhenti mengalir sejenak. Aku menahan napas yang terasa berat, dan perlahan pandanganku mulai menjadi kabur seolah dunia di sekelilingku ikut meredup pelan-pelan.

“Apakah… apakah benar-benar tidak ada jalan lain atau cara apa pun yang bisa dilakukan?” tanyaku dengan suara yang hampir tak terdengar karena tercekik rasa sedih.

Dokter itu hanya menggelengkan kepalanya perlahan dengan penuh rasa simpati. “Kami akan tetap terus memantau perkembangannya setiap saat, dan senantiasa memberikan perawatan yang terbaik yang kami mampu berikan. Namun selebihnya, semuanya bergantung sepenuhnya pada ketahanan tubuh pasien itu sendiri serta kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.”

Aku pun kembali berjalan masuk ke dalam ruang rawat itu, lalu duduk kembali diam di kursi yang ada di samping tempat tidur Aslan. Mataku tak beralih sedikit pun dari wajah adikku yang masih terbaring tanpa bergerak. Aku hanya duduk termenung memandanginya, hatiku terasa penuh sesak namun tak ada satu pun pikiran yang dapat kususun dengan jelas di dalam kepalaku. Entah apa saja yang melintas di benakku saat itu, yang kurasakan hanyalah beban yang berat serta kekhawatiran yang tak henti-hentinya menyelimuti setiap sudut hati.

Ketika hari mulai gelap dan aku pun bersiap untuk pulang sambil menutup pintu ruangan itu dengan hati-hati, langkah kakiku tiba-tiba terhenti seketika di lorong rumah sakit. Tanpa sengaja, telingaku menangkap percakapan antara dua orang perawat yang sedang berjalan berpapasan di depanku.

1
Nur Tang
💪
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!