Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 JEJAK MASA LALU?
BAB 29
JEJAK MASA LALU
Pagi itu matahari bersinar cerah setelah hujan semalam.
Embun masih menempel di ujung daun, sementara udara terasa jauh lebih sejuk dari biasanya. Ahber berdiri di teras rumah sambil menyiram tanaman yang ditanam Layla beberapa bulan lalu.
"Papa... jangan lupa bunga yang ini."
Suara Layla terdengar dari balik pintu.
Gadis kecil itu berlari menghampiri dengan sandal kelincinya. Rambutnya masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur.
Ahber tersenyum kecil.
"Papa ingat."
Layla ikut berjongkok di samping pot bunga matahari yang mulai bermekaran.
"Nanti kalau bunganya besar, Layla mau kasih satu buat Raka."
"Kenapa?"
"Soalnya dia bilang bunga matahari itu selalu ngelihat matahari. Sama kayak sahabat yang selalu saling nyari."
Ahber terkekeh pelan.
"Raka pintar juga."
Layla mengangguk bangga.
"Iya. Dia yang bilang."
Mereka tertawa bersama.
Sudah lama rumah itu tidak terasa sehangat sekarang.
---
Menjelang siang, Ahber mengantar Layla ke tempat les menggambar.
Begitu mobil berhenti, Layla buru-buru turun sambil memeluk map gambarnya.
"Papa jemput jam empat ya."
"Pasti."
Layla mengacungkan jari kelingking.
"Janji."
Ahber mengaitkan jarinya.
"Janji."
Setelah memastikan putrinya masuk ke dalam gedung, Ahber melajukan mobil menuju kantor.
Hari itu pekerjaannya tidak terlalu padat. Beberapa berkas hanya perlu ditandatangani sebelum dikirim ke klien.
Namun entah kenapa pikirannya sulit fokus.
Bayangan pria bertopi hitam yang sekilas terlihat di taman kemarin terus muncul di kepalanya.
Padahal ia bahkan tidak melihat wajah pria itu dengan jelas.
Hanya sebuah firasat...
Firasat yang membuat dadanya terasa tidak tenang.
---
Di tempat lain...
Eskay baru saja selesai menghadiri rapat yayasan.
Ia berjalan menuju parkiran sambil memeriksa beberapa dokumen.
"Bu Eskay."
Salah seorang staf memanggilnya.
"Ini ada surat."
Eskay menerima amplop putih tanpa nama pengirim.
"Mungkin surat donatur?"
"Tidak tahu, Bu. Tadi ada seseorang yang menitipkannya di resepsionis."
Eskay mengangguk pelan.
"Nanti saya lihat."
Sesampainya di mobil, ia membuka amplop itu.
Di dalamnya hanya ada selembar foto lama.
Foto empat sahabat.
Ahber.
Eskay.
Dan dua pria lainnya.
Napas Eskay langsung tertahan.
Foto itu sama persis seperti yang selama ini ia simpan di rumah.
Bedanya...
Di bagian belakang foto terdapat tulisan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Kalian belum tahu semuanya."
Eskay langsung membalikkan foto itu berkali-kali.
Tidak ada tulisan lain.
Siapa yang mengirim ini?
Kenapa orang itu memiliki foto yang sama?
Tangannya mulai terasa dingin.
Tanpa sadar ia mengambil ponsel dan menghubungi Ahber.
"Halo?"
Suara Ahber terdengar tenang dari seberang.
"Ber..."
"Ada apa?"
Eskay ragu beberapa detik.
"Aku... dapat sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Bisa ketemu nanti?"
Nada suara Eskay yang tidak biasa membuat Ahber langsung mengangguk meski lawan bicaranya tidak bisa melihat.
"Nanti sore di taman."
"Baik."
Sambungan telepon pun berakhir.
---
Jam empat sore.
Layla sudah duduk di bangku kayu sambil menunggu Raka.
Hari itu ia sedang menggambar pesawat kertas yang dihiasi bunga matahari.
Tak lama kemudian Raka datang sambil membawa sekotak es krim.
"Aku bawa dua."
Layla langsung tersenyum lebar.
"Rasa cokelat?"
"Iya."
"Kamu memang sahabat terbaik."
Raka tertawa kecil.
"Kata Papa, sahabat harus berbagi."
Mereka duduk berdampingan menikmati es krim sambil sesekali menggambar.
Di bangku belakang, Ahber memperhatikan mereka dengan senyum tipis.
Beberapa menit kemudian mobil Eskay memasuki area parkir.
Namun berbeda dari biasanya.
Wajah perempuan itu terlihat lebih pucat.
Ia berjalan menghampiri Ahber tanpa banyak bicara.
"Kenapa?" tanya Ahber pelan.
Eskay menyerahkan amplop putih tadi.
"Coba lihat."
Ahber membuka isinya.
Begitu melihat foto itu, ekspresinya langsung berubah.
"Ini..."
"Aku juga kaget."
Ahber membalik foto tersebut.
Tatapannya berhenti pada tulisan di belakang.
Keningnya berkerut.
"Siapa yang kasih?"
"Aku tidak tahu."
Ahber menghela napas panjang.
"Lima belas tahun berlalu..."
"...tapi ternyata masih ada orang yang menyimpan semua ini."
Mereka sama-sama terdiam.
Suara tawa Layla dan Raka sesekali terdengar dari kejauhan, menjadi satu-satunya hal yang membuat suasana tidak terasa terlalu mencekam.
Ahber melipat kembali foto itu.
"Jangan kasih tahu anak-anak dulu."
Eskay mengangguk.
"Aku juga berpikir begitu."
"Kalau memang ada seseorang yang sengaja mengirim ini..."
"...berarti dia ingin kita mengingat sesuatu."
"Tapi apa?"
Ahber menggeleng pelan.
"Itu yang harus kita cari."
---
Matahari mulai tenggelam.
Langit berubah jingga.
Layla dan Raka berlari menghampiri sambil membawa gambar yang baru selesai mereka buat.
"Papa!"
"Lihat!"
Di atas kertas itu tergambar empat orang yang sedang duduk di bawah pohon angsana.
Di sudut kanan atas terdapat tulisan kecil dengan krayon biru.
"Sahabat tidak akan benar-benar hilang. Mereka hanya sedang mencari jalan untuk pulang."
Ahber memandangi gambar itu cukup lama.
Entah mengapa...
Kalimat sederhana yang ditulis dua anak kecil itu terasa begitu dalam.
Ia mengusap kepala Layla dan Raka bergantian.
"Bagus sekali."
Layla tersenyum bangga.
"Nanti kalau besar, kita tetap datang ke taman ini ya."
"Iya," sahut Raka mantap.
"Kita janji."
Ahber dan Eskay saling berpandangan.
Keduanya sama-sama tersenyum.
Namun jauh di dalam hati...
Mereka sadar bahwa kedamaian itu mungkin tidak akan bertahan lama.
Karena di suatu tempat yang tidak mereka ketahui...
Seseorang sedang mengawasi mereka.
Dan orang itu tampaknya sudah siap membuka kembali rahasia yang terkubur selama lima belas tahun.
BERSAMBUNG...
like + bunga biar semangat deh/Smile/