NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28: Panggilan Telepon Penuh Makian dari Mantan Kakak Ipar

Sore hari yang sunyi itu perlahan berganti menjadi malam yang dingin.

Setelah badai emosional di dalam kabin SUV di bawah pohon flamboyan mereda, Oliver membawa Viona dan Yoyo pulang ke mansion dengan ketenangan baru yang jauh lebih kokoh.

Di kamar tidur yang hangat, Viona sempat memandangi pantulan dirinya di cermin kamar mandi.

 Matanya memang masih menyisakan sedikit rona sembap, namun binar di dalam manik matanya kini telah berubah total.

Ada kekuatan, ada ketetapan hati, dan ada rasa memiliki yang tak tergoyahkan.

Yoyo sudah terlelap kembali di kamarnya setelah mandi air hangat dan meminum susu cokelatnya.

 Sementara itu, Oliver harus turun ke ruang kerja pribadinya di lantai satu untuk menghadiri rapat virtual mendadak dengan jajaran direksi regional mengenai percepatan akuisisi sisa aset keluarga Lin di distrik bisnis luar kota.

Viona duduk di sofa kecil di sudut kamarnya, mengenakan piyama satin panjang berwarna biru gelap yang lembut.

 Ia baru saja hendak menyesap teh kamomil hangatnya ketika ponselnya yang diletakkan di atas meja nakas tiba-tiba bergetar hebat.

Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah nomor baru yang tidak dikenal.

Namun, berbeda dengan siang-siang sebelumnya di mana ia mungkin akan merasa cemas atau ragu, Viona kini mengulurkan tangannya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo."

Hening sesaat.

Hanya terdengar suara helaan napas yang memburu, kasar, dan dipenuhi oleh dengki yang teramat pekat dari ujung saluran telepon.

Detik berikutnya, sebuah suara wanita yang melengking tinggi, tajam, dan sarat akan histeria langsung menghantam pendengaran

Viona tanpa basa-basi.

"Viona! Kau jalang sialan tidak tahu diri!"

Viona menjauhkan ponselnya beberapa sentimeter dari telinga, alisnya bertaut halus.

Suara melengking dan penuh kedengkian ini sangat familiar di telinganya. Itu adalah suara Rani Lin, mantan kakak iparnya—istri dari kakak laki-laki Adrian Lin.

Dulu, saat Viona masih menjadi menantu di keluarga Lin, Rani adalah orang yang paling sering memprovokasi Widya Lin untuk menyiksanya secara verbal.

 Rani adalah sosok wanita sosialita palsu yang selalu merasa tersaingi oleh kecantikan alami Viona, dan dia pula yang paling rajin memamerkan kehamilannya dulu hanya untuk mengejek Viona sebagai "wanita tidak berguna yang mandul."

"Rani,"

ucap Viona, suaranya terdengar begitu datar, tenang, dan dingin, sangat kontras dengan histeria yang meledak-ledak di ujung sana.

"Dari mana kau mendapatkan nomorku?"

"Tidak perlu tahu dari mana aku mendapatkan nomormu, perempuan pembawa sial!"

maki Rani, suaranya bergetar hebat karena amarah dan kepanikan yang luar biasa.

"Kau tahu apa yang baru saja terjadi pada suamiku?! Gara-gara mulut kotormu dan aduan gilamu pada Oliver, seluruh rekening bank suamiku dibekukan sore ini! Bisnis logistik yang kami rintis dengan susah payah diperiksa oleh kejaksaan atas tuduhan penggelapan pajak! Kami bahkan tidak bisa membayar uang sekolah internasional anak kami bulan ini!"

Rani menarik napas dengan rakus, suaranya terdengar semakin melengking liar di seberang telepon.

"Kau puas sekarang, hah?! Kau puas melihat kami hancur? Kau hanya sampah yang dulu kami tampung di rumah kami! Kalau bukan karena kebaikan keluarga Lin, kau sudah membusuk di jalanan setelah orang tuamu meninggal! Sekarang, setelah kau berhasil memanjat ke tempat tidur Oliver dan menjadi simpanan mahalnya, kau menggunakan kekuasaannya untuk menindas kami?!"

Viona mendengarkan setiap makian, setiap tuduhan kejam, dan setiap kata-kata kotor yang dilontarkan Rani dengan ekspresi wajah yang benar-benar tanpa emosi.

Jiwanya yang sekarang tidak lagi selemah dulu. Setiap kata-kata Rani bagaikan kerikil kecil yang dilemparkan ke permukaan danau yang membeku—tidak memberikan dampak atau retakan apa pun.

"Sudah selesai bicaranya, Rani?"

tanya Viona lembut, nadanya terdengar sangat meremehkan hingga membuat Rani di ujung telepon sesak napas karena geram.

"Viona! Kau—!"

"Dengar baik-baik, mantan kakak iparku yang terhormat,"

sela Viona, suaranya meninggi satu oktav namun tetap terjaga dalam wibawa yang sangat tenang dan mematikan.

"Pertama, saya tidak pernah meminta Oliver untuk menyentuh bisnis suamimu. Sanksi yang diterima suamimu sore ini adalah akibat langsung dari kebodohan Tante Sela dan Sherly yang dengan berani menghina putri Oliver di tempat umum tadi siang. Keluarga Lin tampaknya memang tidak pernah belajar dari kesalahan untuk menjaga lidah kalian."

Viona bangkit berdiri dari sofanya, melangkah perlahan menuju jendela besar kamarnya, menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca dengan tatapan dingin.

"Kedua, tentang 'kebaikan' keluarga Lin yang kau banggakan itu,"

lanjut Viona, setiap katanya ditekan dengan presisi yang tajam.

"Kalian tidak pernah menampung saya karena kebaikan. Kalian menjadikan saya pelayan tanpa gaji di rumah itu, memeras sisa tabungan mendiang orang tua saya untuk menutupi utang judi Adrian, dan menyiksa mental saya setiap hari. Jika ada yang harus membayar utang di sini, itu adalah kalian yang telah mencuri tiga tahun masa muda saya dengan cara yang sangat keji."

"Kau... kau berani memutarbalikkan fakta, jalang!"

jerit Rani, suaranya pecah oleh histeria.

"Kau hanya wanita mandul yang cacat! Oliver tidak akan pernah menikahimu secara sah! Dia hanya memanfaatkan tubuhmu dan kemampuanmu merawat anaknya! Begitu dia bosan, kau akan dicampakkan seperti sampah, persis seperti yang Adrian lakukan! Kau akan kembali menjadi gembel!"

"Apakah kau begitu yakin dengan ucapanmu, Rani?"

Bukan suara Viona yang menjawab makian Rani kali ini.

Sebuah suara pria yang sangat rendah, berat, dan membawa vibrasi ancaman yang teramat pekat tiba-tiba terdengar di dalam kamar.

Viona menoleh, mendapati Oliver sudah berdiri di ambang pintu penghubung kamar mandi yang terbuka.

 Pria itu tampaknya baru saja kembali dari ruang kerjanya dan mendengar bagian akhir dari panggilan telepon penuh makian tersebut.

Wajah tegap Oliver tampak sangat mengerikan.

 Rahangnya mengeras sempurna, dan sepasang mata elangnya berkilat dingin bagaikan mata pisau yang siap merobek mangsanya.

 Langkah kakinya yang berat bergerak cepat mendekati Viona.

Tanpa berkata apa-apa, Oliver merebut ponsel dari tangan Viona.

Ia tidak mendekatkan ponsel itu ke telinganya sendiri, melainkan menekan tombol speaker agar suara dinginnya terdengar jelas di kedua ujung saluran.

"Rani Lin," ucap Oliver.

Hanya dengan menyebut nama itu, atmosfer di dalam kamar tidur Viona seketika terasa turun hingga ke titik beku.

Di ujung telepon, suara napas histeris Rani seketika terhenti.

Keheningan yang mencekam mendadak merayap.

Rani tentu tahu betul siapa pemilik suara bariton yang teramat dominan dan mematikan ini.

"T-Tuan... Tuan Besar Oliver...?"

bisik Rani, suaranya seketika mencicit ketakutan, seluruh keberanian dan makian kasarnya menguap dalam hitungan detik.

"Kau baru saja menghabiskan lima menit berharga dalam hidupmu untuk memaki dan menghina istriku di dalam rumahku sendiri,"

ucap Oliver, suaranya begitu tenang namun membawa getaran otoritas mutlak yang sanggup meruntuhkan mental siapa pun yang mendengarnya.

"Dan kau menyebutnya sebagai simpanan?"

Oliver terkekeh rendah—sebuah suara dingin tanpa humor yang membuat bulu kuduk merinding.

"Dengar baik-baik, wanita bodoh. Viona adalah Nyonya Oliver yang sah. Setiap inci dari kekuasaanku, setiap sen dari kekayaanku, dan setiap nyawa dari pengawalku adalah miliknya untuk digunakan kapan saja ia mau. Jika dia ingin menghancurkan bisnismu hari ini, aku bahkan tidak perlu menunggu esok pagi untuk meratakannya dengan tanah."

"Tuan Oliver, tolong... saya... saya hanya emosi karena rekening kami dibekukan..."

mohon Rani, suaranya kini bergetar hebat, terdengar sangat menyedihkan dan ketakutan.

"Kami tidak punya uang untuk bayar sekolah anak kami... Tolong kasihanilah kami..."

"Kasihan?"

mata elang Oliver menyipit dingin, menatap Viona yang kini berdiri di sampingnya dengan pandangan yang melembut, sebelum kembali memproyeksikan suara sedingin es ke arah ponsel.

"Keluarga Lin tidak pernah mengenal kata kasihan saat menyiksa istriku selama tiga tahun di rumah kalian. Dan sekarang kau meminta belas kasihan dariku?"

Oliver menarik napas pendek, lalu memberikan vonis terakhirnya tanpa ampun.

"Sekretarisku baru saja menyelesaikan draf gugatan hukum atas pencemaran nama baik, pelecehan verbal, dan pemerasan yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga Lin yang tersisa.

Besok pagi, suamimu tidak hanya akan kehilangan bisnisnya, tetapi kalian berdua juga harus bersiap menghadapi tuntutan pidana dengan hukuman kurungan yang maksimal. Jangan pernah berani menghubungi istriku lagi, atau aku sendiri yang akan memastikan kalian membusuk di dalam sel."

"Pip."

Oliver langsung mematikan sambungan telepon tersebut dengan kasar, lalu melempar ponsel itu ke atas tempat tidur seolah benda itu baru saja disentuh oleh kuman yang menjijikkan.

Suasana kamar kembali hening, hanya menyisakan suara gemercik air hujan di luar jendela.

Oliver membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Viona.

 Kemarahan mengerikan yang baru saja ia tunjukkan kepada Rani seketika sirna tanpa bekas saat matanya menatap wajah cantik Viona.

Dengan gerakan yang teramat lembut dan posesif, Oliver menangkup kedua pipi Viona dengan tangannya yang besar dan hangat.

"Mengapa kau tidak langsung mematikan teleponnya saat dia mulai memaki, Viona?"

tanya Oliver, suaranya kini terdengar sangat rendah dan dipenuhi oleh rasa khawatir yang tulus.

"Kau tidak perlu mendengarkan satu patah kata pun dari sampah seperti mereka."

Viona mendongak, menatap lurus ke dalam mata elang Oliver yang kini dipenuhi oleh pantulan dirinya sendiri.

Sebuah senyuman manis, tenang, dan sangat damai terukir di bibirnya.

 Ia memegang pergelangan tangan Oliver, merasakan kehangatan yang mengalir dari sana.

"Aku sengaja mendengarkannya, Oliver," jawab Viona tulus, suaranya begitu lembut namun mantap.

"Aku ingin menguji diriku sendiri. Aku ingin tahu apakah kata-kata mereka masih memiliki kekuatan untuk membuatku takut atau cemas."

Viona menjeda kalimatnya, lalu menyandarkan pipinya pada telapak tangan hangat Oliver.

"Dan hasilnya... aku tidak merasakan apa-apa lagi. Hinaan Rani, kemarahan keluarga Lin... semuanya terasa sangat jauh dan tidak berarti bagiku sekarang. Karena aku tahu, di sini, di dalam rumah ini, aku memiliki dirimu dan Yoyo yang menjadi duniaku yang sesungguhnya. Aku tidak lagi peduli pada apa yang dikatakan dunia luar tentang diriku."

Mendengar pengakuan jujur dan matang dari bibir Viona, dada Oliver bergemuruh hebat oleh rasa bangga dan cinta yang membuncah.

 Ia menarik tubuh ramping Viona ke dalam dekapan hangatnya, melingkarkan kedua lengannya di sekitar pinggang wanita itu dengan sangat erat dan protektif.

"Kau telah tumbuh menjadi sangat kuat, Nyonya Oliver," bisik Oliver di sela-sela kecupan lembutnya di pelipis Viona.

"Tetapi ingatlah satu hal: sekuat apa pun dirimu, kau tidak pernah harus menghadapi badai itu sendirian. Aku adalah suamimu, pelindungmu, dan ksatria pribatumu. Setiap kali mereka mencoba mengeluarkan taring mereka padamu, aku yang akan mematahkannya sebelum mereka sempat menyentuh sehelai rambutmu."

Viona membalas dekapan Oliver dengan kehangatan yang sama, membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa aman yang mutlak di dalam pelukan sang tirani dingin.

 Panggilan telepon penuh makian dari Rani malam itu tidak berhasil merusak kedamaian mereka; sebaliknya, itu menjadi bukti nyata terakhir bahwa semua rantai masa lalu Viona telah hancur lebur tanpa sisa, digantikan oleh fondasi masa depan yang kokoh dan tak tergoyahkan bersama keluarga barunya yang utuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!