Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Pernikahan
Nathan baru saja mengenakan jas abu-abu gelap ketika seorang pelayan menghampirinya dengan langkah hati-hati.
"Tuan Muda, mobil sudah siap."
Nathan mengangguk singkat.
"Suruh Nyonya Muda datang ke ruang kerja."
"Baik, Tuan."
Tanpa berkata apa pun lagi, Nathan berbalik menuju ruang kerja pribadinya yang berada di lantai dasar. Ruangan itu didominasi warna hitam dan cokelat tua, dengan rak buku yang memenuhi salah satu sisi dinding. Di tengah ruangan berdiri meja kerja besar dari kayu jati yang tampak kokoh.
Nathan menarik sebuah map berwarna hitam dari dalam laci. Map itu sudah ia siapkan sejak semalam.
Tok...
Tok...
Pintu diketuk perlahan.
"Masuk."
Naomi membuka pintu dengan ragu. Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum berhenti pada Nathan yang berdiri membelakanginya di depan jendela.
"Anda memanggil saya?"
Nathan berbalik. Wajahnya kembali datar seperti biasa.
"Duduk."
Naomi menurut tanpa banyak bertanya. Ia duduk dengan posisi tegak di kursi yang berada tepat di depan meja kerja.
Nathan berjalan mendekat, lalu meletakkan map hitam itu di hadapan Naomi. "Baca."
Naomi menatap map tersebut beberapa detik sebelum membukanya perlahan. Di halaman pertama tertulis cukup jelas. Peraturan Pernikahan Nathan Wijaya dan Naomi.
Tatapan Naomi bergerak ke bawah. Poin pertama. Selama tinggal di Mansion Wijaya, Naomi tidak diperbolehkan ikut campur dalam urusan pribadi maupun pekerjaan Nathan Wijaya.
Naomi melanjutkan membaca. Poin kedua. Naomi tidak diperbolehkan memasuki kamar Leon tanpa izin darinya.
Tangannya berhenti sesaat. Ia teringat wajah dingin Leon pagi tadi. Meski begitu, Naomi tidak mengucapkan apa pun. Ia melanjutkan membaca.
Poin ketiga.
Naomi tidak diperbolehkan menggunakan nama keluarga Wijaya untuk kepentingan pribadi, bisnis, ataupun hubungan sosial.
Lalu... Tatapannya membeku pada poin berikutnya. Naomi tidak diperbolehkan berharap memiliki anak dari pernikahan ini.
Jantungnya seakan berdetak sedikit lebih pelan. Tanpa sadar jemarinya menggenggam ujung kertas. Tapi wajahnya tetap tenang.
Ia kembali membaca hingga halaman terakhir. Pernikahan ini hanya berlangsung di atas kertas. Tidak akan ada hubungan sebagai suami istri selain di depan keluarga maupun publik. Setelah tujuan pernikahan ini selesai, kedua belah pihak akan berpisah tanpa tuntutan apa pun.
Ruangan mendadak terasa begitu sunyi. Nathan menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Ada yang ingin ditanyakan?"
Naomi menutup map itu perlahan. "Tidak."
Nathan sedikit mengernyit. "Kau langsung setuju?"
Naomi mengangguk pelan. "Saya mengerti."
Jawaban itu justru membuat Nathan merasa aneh. Ia sudah membayangkan berbagai kemungkinan. Perempuan itu akan menangis ataupun marah bahkan memohon pun tidak dilakukan. Atau setidaknya mempertanyakan isi perjanjian tersebut.Dan perempuan di hadapannya justru menerimanya dengan begitu tenang.
"Jadi?"
"Saya akan mematuhinya."
Nathan mengangguk tipis. "Bagus."
Ia hendak mengambil kembali map itu ketika suara Naomi kembali terdengar.
"Tapi..."
Nathan menghentikan gerakannya.
"Saya juga punya satu syarat."
Alis Nathan langsung bertaut. "Syarat?"
Naomi menatapnya dengan tenang. Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu berlangsung, Naomi tidak menghindari sorot mata Nathan.
"Jangan pernah mengatur bagaimana saya memperlakukan orang lain."
Nathan terdiam. "Maksudmu?"
Naomi menarik napas pelan. "Saya tidak akan ikut campur urusan Anda. Saya juga tidak akan mencampuri pekerjaan, kehidupan pribadi, ataupun keputusan yang Anda ambil. Saya akan mematuhi semua aturan yang tertulis di dalam map ini."
"Tetapi... saya ingin tetap menjadi diri saya sendiri," imbuh Naomi.
Nathan masih memperhatikannya tanpa berkedip. Sementara Naomi melanjutkan dengan suara lembut.
"Kalau saya ingin memasakkan makanan untuk Leon, biarkan itu menjadi keputusan saya. Kalau saya ingin menghormati Tuan Besar atau membantu para pelayan, jangan melarang saya. Karena saya tidak melakukannya untuk mengambil hati siapa pun. Saya hanya tidak bisa berpura-pura tidak peduli."
Ruangan kembali sunyi. Nathan menatap perempuan itu cukup lama. Entah mengapa, ucapan Naomi terdengar sangat jujur. Bukan seperti kalimat yang sudah dipersiapkan.
Melainkan sesuatu yang benar-benar keluar dari hatinya.
Nathan akhirnya berkata pelan. "Kau sadar?Orang bisa salah paham dengan sikapmu."
Naomi tersenyum tipis. "Biarkan saja. Saya tidak bisa mengendalikan penilaian orang lain. Tapi saya masih bisa mengendalikan sikap saya sendiri."
Nathan kehilangan kata-kata. Selama ini, perempuan-perempuan yang mendekatinya selalu menginginkan sesuatu. Harta. Status. Kekuasaan dan nama besar keluarga Wijaya.
Sedangkan Naomi... Perempuan itu bahkan tidak meminta apa pun. Ia hanya meminta kebebasan untuk berbuat baik.
Nathan mengembuskan napas pelan "Baik. Saya tidak akan mencampuri itu."
Naomi mengangguk hormat. "Terima kasih."
Ia berdiri sambil menutup kembali map hitam tersebut. "Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya permisi."
Nathan hanya mengangguk. Naomi berjalan menuju pintu dengan langkah tenang. Namun ketika tangannya hampir menyentuh gagang pintu, Nathan kembali bersuara.
"Naomi."
Perempuan itu berhenti.
"Ya?"
Nathan menatap punggungnya. "Jangan terlalu berharap bisa mengubah Leon."
Naomi terdiam beberapa saat sebelum menjawab pelan. "Saya tidak pernah berniat mengubah siapa pun. Saya hanya ingin memastikan... setidaknya tidak ada lagi orang yang merasa sendirian ketika saya masih mampu menemani."
Nathan mendadak kehilangan kata-kata. Bibirnya yang semula hendak mengucapkan sesuatu kembali terkatup rapat.
Klik...
Pintu ruang kerja itu akhirnya tertutup perlahan, meninggalkan Nathan seorang diri dalam keheningan yang terasa ganjil. Nathan masih berdiri di tempatnya. Entah mengapa, perkataan Naomi terus terngiang di kepalanya.
Ia sempat mengira perempuan itu akan memanfaatkan pernikahan ini untuk memperoleh kehidupan mewah.
Namun kenyataannya justru sebaliknya. Naomi bahkan tidak menyinggung soal uang.
Ia tidak menginginkan status sebagai nyonya besar. Tidak pula berharap diperlakukan istimewa. Ia hanya ingin diberi kebebasan untuk memperlakukan orang lain dengan tulus.
Nathan menatap map hitam yang masih berada di atas meja. Semula ia mengira Naomi hanyalah gadis penurut yang akan menerima apa pun tanpa pendapat.
Nyatanya, ia keliru. Di balik sikapnya yang lembut, Naomi memiliki prinsip yang tidak mudah digoyahkan. Nathan menyandarkan tubuhnya ke kursi, sementara tatapannya masih terpaku ke arah pintu yang baru saja tertutup. Rupanya, wanita itu jauh lebih sulit dibaca daripada dugaannya.
Bersambung ....