Kehidupan Alex anak seorang pengusaha ternama dan tekemuka yang hidup bebas dan tidak terarah.
Kehidupan Filece, yang merubah nama nya sendiri menjadi Zahra setelah menghadapi gelombang hidup di tengah keluarganya.
akan kah Alex dan Zahra bisa hidup bersama dengan bahagia atau malah sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ima alyanadira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-10
Sudah dua hari berlalu tanpa kehadiran Zahra di samping Alex.
Dan selama itu juga Alex berusaha keras mencari keberadaan Zahra, namun hingga kini Alex tidak bisa menjumpainya.
Untuk menghilangkan rasa sunyi nya Alex mengotak atik ponselnya sembarangan.
Hingga muncul di layar ponsel nya tawaran delivery.
Disana ia melihat postingan bakso, dengan seketika Alex teringat akan Zahra.
Alex memesan satu porsi bakso yang berukuran jumbo dengan sambal berlevel tinggi, karena Alex teringat akan perkataan Zahra yang mengatakan kalau makan pedas itu akan menghilangkan setres.
"Ahh pedas sekali". Keluh Alex ketika memakan bakso pesanan nya itu dengan mata berair dan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.
Sebelumnya Alex adalah seorang yang tidak menyukai makanan dengan cita rasa yang pedas, namun saat ini mungkin Alex sedang merindukan Zahra.
Alex jadi melakukan hal-hal yang dilakukan Zahra.
Setengah jam kemudian Alex mulai bolak balik BAB ke kamar mandi
"Ahhh sial, mengapa aku melakukan ini" Gerutu nya kesal sambil memengangi perutnya yang kini terasa sakit.
Hingga Alex sudah tidak lagi bertenaga karena dehidrasi.
Alex bergegas menaiki motor nya menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit dokter menganjurkan supaya Alex di rawat inap karena kondisinya yang sudah parah.
Dua hari Alex dirawat dirumah sakit itu dan kini ia telah pulih lagi seperti sedia kala.
Namun kini hari-hari Alex hanya di habiskan untuk bersenang-senang dengan teman-temannya untuk menghilangkan kehampaan jiwanya itu.
Kehidupan Alex kini semangkin tidak terarah lagi.
________
Sementara di apartemen Galih
"Felice,kak…" belum sempat Galih melanjutkan ucapan nya Zahra langsung menyela nya.
"Zahra kak, panggil aku Zahra saja!" Pinta Zahra
"Ouh, baiklah Zahra bagaimana kalau kamu mengajak kakak ke pesantren tempatmu belajar itu,karena kakak juga ingin belajar ilmu agama sepertimu." Ucap Galih malu-malu
"Ga usah malu kak, malah niat kakak itu sangat bagus dan mulia." Zahra menatap ramah Galih kakaknya.
Galih dan Zahra pun pada akhirnya memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren al-hidayah di mulai dari saat ini.
Dua bulan waktu berlalu.
"Uek uek uek."Zahra sepagi ini muntah hingga tiada henti
"Zahra, kamu sakit?." Cemas Aisyah
"Entahlah aku tidak mengerti, rasanya aku mual sekali." Jelas Zahra
"Masuk angin mungkin, mending kita kerumah sakit." Ajak Aisyah
Karena mual yang terasa amat sangat Zahra pun mengikuti saran dari Aisyah.
"Baiklah, tunggu disini ya! Aku akan bilang kepada kakakmu dan juga ustad Alfatih." Ucap Aisyah berlalu meninggalkan Zahra.
"Hhhmmm." Jawab Zahra lemas
"Zahra kamu kenapa." Tanya Galih khawatir ketika sudah tiba di kamar Zahra
"Ga tau kak, rasa nya tu aku pusing dan mual." Jelas Zahra
Ustad Alfatih memarkirkan mobilnya tepat di depan kamar santriwati untuk mempermudah Zahra agar tidak terlalu jauh berjalan.
Dengan sangat hati-hati Galih membantu Zahra berjalan masuk ke dalam mobil.
Setibanya di rumah sakit.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, saat ini ibu sedang hamil". Jelas Dokter itu mengulurkan tangan nya lantas tersenyum ramah.
Mendengar hal itu Zahra sangat terkejut dan acuh terhadap uluran tangan sang dokter, begitupun dengan semua yang ada disana,
Terlebih Aisyah dan Ustad Alfatih. Karena setau mereka Zahra belum menikah.
Disepanjang perjalanan pulang menuju pondok pesantren, semua nya diam, hanya keheningan di dalam mobil itu. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing
Tak terasa air mata Zahra mulai menetes, Aisyah yang melihat itu langsung memeluk Zahra untuk memberikan ketenangan
Dari kaca spion sesekali Ustad Alfatih melirik kepada mereka berdua dengan rasa iba kepada Zahra.
"Aisyah, hiks hiks." Tangis Zahra merangkul tubuh Aisyah erat
Aisyah pun tak dapat berkata apa-apa ia hanya mengelus pundak Zahra pelan.
Setibanya di kamar pondok.
"Maaf mengganggu, bisakah tinggal kan kami berdua, aku ingin berbicara kepada adikku." Pinta Galih mencairkan suasana
Aisyah pun mengangguk pelan, dan melepaskan rangkulan Zahra dari nya lalu ia bersama ustad Alfatih berlalu dari sana.
"Felic…,maksudnya Zahra, apa yang terjadi?bukankah kau mengatakan tidak mencintai Alex, lalu ada apa dengan semuanya ini?" Tanya Galih cemas
"Kakak, hiks hiks." Tangis Zahra pecah lagi lalu menghambur ke dalam pelukan Galih
"Zahra, katakan lah pada kakakmu ini, apa sebenarnya yang terjadi." Tanya Galih lagi
Dan Zahra pun menceritakan kejadian yang terjadi pada malam itu.
"Kurang AJAR." Geram Galih mengepal kan tangan nya
Galih pun melepaskan rangkulan Zahra, ia melangkah kan kaki nya dengan perasaan marah.
"Kakak." Zahra berlari mengejar Galih dan memeluknya dari belakang
"Jangan kak, semua ini bukan salahnya." Zahra yang tau akan pikiran sang kakak berusaha menghentikan nya
"Zahra, lepaskan! Aku akan memberinya pelajaran." Gertak Galih
"Jangan kak, aku mohon!, Tidak bisakah kau memenuhi keinginan adikmu ini." Pinta Zahra memelas karena melihat hal itu akhirnya Galih pun luluh
"Baiklah, kalau itu maumu, tapi biarkan aku memberi taunya, karena dia harus bertanggung jawab." Tutur Galih
"Beri aku waktu untuk berpikir kak." Pinta Zahra
"Hhmmm, baiklah jaga dirimu baik-baik, aku akan kembali ke asrama santri sekarang." Galih melangkah meninggalkan Zahra
Entah mengapa berita kehamilan Zahra kini tersebar luas di seluruh pondok pesantren itu, hingga menimbulkan gunjingan dan celaan kepada Zahra
"Lihat tuh!, Masa seorang santriwati hamil di luar nikah, dandanan saja yang syar'i tapi kelakuan nya ammmpun deh." Ujar seorang santriwati ketika berpapasan dengan Zahra
"Iya, mending seperti kita, kita ga memakai cadar dan hanya memakai kerudung, tapi kelakuan kita tidak sepertinya." Timpal yang lainnya
"Kalian kalau ga tau apa-apa jangan menyimpulkan ya!, Boleh jadi orang yang kalian bicarakan lebih mulia daripada kalian, semua tiada yang tau, hanya allah lah yang maha mengetahui, jadi kalian jangan mudah memvonis orang." Geram Aisyah melihat Zahra yang di pojok kan.
"Ya udah Zahra jangan dengarkan mereka ya, mari kita masuk ke kamar saja." Ajak Aisyah memeluk Zahra yang sudah mengeluarkan air mata.
Belum sempat mereka masuk kekamar, suara Ustad Alfatih tiba-tiba mengagetkan mereka.
"Eheeeemmm, Zahra bisakah kau ikut ke kantor sekarang." Ucap Ustad Alfatih tiba-tiba.
"Bisa Ustad." Ucap Zahra menghapus sisa air matanya seraya mengikuti langkah Ustad Alfatih.
"Zahra, kamu tau kan kenapa kamu saya panggil kesini?." Tanya Ustad Alfatih setibanya di kantor.
Zahra hanya menggelengkan kepala nya lalu menunduk.
"Begini, maaf sebelum nya jika aku lancang atau pun salah dalam berbicara, aku hanya ingin bilang,
Dengan kabar yang sedang hangat dibicarakan banyak orang saat ini, bolehkah aku membantumu, aku siap menjadi suamimu untuk menutup aibmu. Karena aku yakin kamu adalah perempuan baik dan soleha" Ucap Ustad Alfatih sedikit ragu dengan suara yang tercekat.
Mendengar hal itu membuat Zahra membolakan mata nya dengan sempurna. Karena ia tidak menyangka kalau Ustad Alfatih akan berkorban seperti itu untuk nya.
"Maaf Ustad" ucap Zahra pada akhirnya
"Maaf untuk apa?, Apa aku salah berucap." Tanya Ustad Alfatih risau
"Bukan Ustad, tapi aku minta maaf sekaligus berterima kasih banyak kepada Ustad karena sudah sangat baik kepadaku, dan juga aku minta maaf karena selama ini aku tidak memberitahukan Ustad bahwa sebenarnya aku ini sudah menikah, dan untuk apa yang terjadi padaku ini bukan lah aib Ustad." Jelas Zahra lirih dengan menahan genangan air di matanya yang sudah hampir tumpah.
Mendengar penuturan Zahra Ustad Alfatih merasa terkejut sekaligus kecewa.
Karena selama ini, diam-diam ustad Alfatih menaruh rasa pada Zahra, namun tidak berani untuk mengatakannya.
"Maaf, saya tidak tau." Lirih Ustad Alfatih
"Aku yang seharus nya yang minta maaf ustad karena selama ini aku selalu merepotkan ustad."
"Jadi dimana suami kamu sekarang?, akan lebih baik disaat sekarang ini, kau bersamanya."
Mendengar itu, air mata yang tadinya berusaha ditahan Zahra, kini luruh berderai.
"Apa aku salah berbicara." Tanya Ustad Alfatih bingung.
"Tidak Ustad, hanya saja takdirku lah yang salah."
"Jangan menyalahkan takdir Zahra, itu tidak baik. Allah ti…," belum sempat Ustad Alfatih meneruskan.
"Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya kan Ustad." Sambung Zahra.
"Aku hidup di tengah-tengah keluarga yang broken home, lalu aku dibiarkan hidup bebas tak ada yang memperdulikan, dan kini aku mempunyai suami yang tak mencintaiku." Apakah aku sanggup untuk menjalaninya Ustad?" Tangis Zahra
"Bersabarlah Zahra, sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar. Aku tidak bisa mencampuri urusan keluargamu, tapi nasehat ku kembali lah pada suamimu, perbanyak berdo'a kepada Allah, karena do'a itu adalah senjata ampuh seorang mukmin. Ya sudah sebaiknya untuk sekarang ini kamu kembali ke kamarmu dan beristirahatlah!"