NovelToon NovelToon
MY HOT KILLER LECTURER

MY HOT KILLER LECTURER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."

Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.

Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.

Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANG-BAYANG YANG MENGGANGGU

Malam telah larut ketika sedan mewah milik Arga Dirgantara memasuki pelataran parkir mansion megahnya. Jarum jam dinding di dasbor mobil menunjukkan pukul sebelas malam. Tubuh tegap pria berusia 30 tahun itu terasa teramat lelah. Kepalanya masih dipenuhi oleh tumpukan berkas perusahaan, laporan bursa efek yang fluktuatif, dan yang paling parah kilasan mata bulat penuh amarah milik Queen saat gadis itu membanting pintu kelasnya tadi siang.

Arga menghela napas berat, mematikan mesin mobil, lalu keluar sambil membawa tas kerja kulitnya. Langkah kaki panjangnya terasa terseret saat menaiki tangga menuju lantai dua, tempat kamar utamanya berada. Rumah besar ini selalu terasa seperti sangkar yang dingin dan mati bagi Arga, tempat di mana ia dipaksa mengenakan topeng menantu dan suami teladan demi kelangsungan bisnis keluarganya.

Begitu jemari kokohnya memutar kenop pintu ek tebal kamar tidur mereka, suasana di dalam ruangan langsung terasa berbeda.

Lampu utama kamar sengaja dimatikan, digantikan oleh temaram lampu tidur berwarna kuning hangat di sudut ruangan. Udara kamar yang biasanya netral kini dipenuhi oleh aroma parfum melati campuran mawar yang pekat dan menyengat aroma yang sangat Arga kenali sebagai parfum milik istrinya, Keysha.

Arga melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada sesosok wanita yang tengah duduk di tepi ranjang king size.

Keysha malam itu tampil sangat berbeda dari biasanya. Ia mengenakan lingerie sutra tipis berwarna merah menyala yang sangat minim, memperlihatkan sebagian besar kulit tubuhnya. Rambut panjangnya sengaja ditata sedikit berantakan namun seksi, jatuh melewati bahunya. Ketika menyadari kedatangan Arga, Keysha langsung berdiri. Sepasang matanya yang biasanya memancarkan binar manipulatif kini dipoles dengan tatapan sayu yang penuh godaan.

"Kamu baru pulang, Mas?" suara Keysha terdengar mendayu-dayu, sangat manja saat ia melangkah mendekat ke arah suaminya.

Arga berdiri mematung di tempatnya, meletakkan tas kerjanya di atas meja samping tanpa ekspresi. "Ada apa, Keysha? Kenapa belum tidur?" tanya Arga, suaranya datar dan dingin, perisai esnya otomatis aktif setiap kali berhadapan dengan wanita ini.

Keysha tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah hingga mengikis jarak di antara mereka, lalu dengan berani melingkarkan kedua lengan lentiknya di pinggang tegap Arga. Tubuh halusnya yang hanya terbalut kain tipis sengaja ditempelkan pada dada bidang Arga yang masih terbungkus kemeja kerja.

"Aku merindukanmu, Mas. Belakangan ini kamu selalu dingin dan cuek sama aku," bisik Keysha, mendongak menatap rahang tegas Arga dengan tatapan memohon. "Aku tahu aku punya banyak salah di masa lalu. Tapi anak di dalam rahimku ini... bagaimanapun juga butuh kehadiran seorang ayah yang hangat. Tolong, jangan hukum aku dengan kediamanmu seperti ini terus, Mas. Malam ini... biarkan aku melayanimu sebagai seorang istri yang sesungguhnya."

Keysha mulai terisak kecil, memoles akting andalannya dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Sandiwara yang selalu berhasil meluluhkan hati orang tua Arga.

Arga menatap wajah istrinya di bawah remang lampu. Rasa muak, benci, dan ingatan tentang bagaimana wanita ini mentransfer uangnya untuk pacar rahasianya sempat bergejolak di dada Arga. Namun, di sisi lain, Arga adalah seorang pria dewasa normal. Sudah berbulan-bulan ia menahan gairah kelelakiannya karena menolak menyentuh Keysha yang telah menodai kesucian pernikahan mereka. Malam ini, melihat lekuk tubuh wanita yang secara sah adalah istrinya, ditambah dengan rasa lelah yang luar biasa, benteng pertahanan akal sehat Arga mulai retak karena kebutuhan biologisnya yang menuntut pelampiasan.

Mungkin... mungkin ini saatnya aku melampiaskan semuanya, pikir Arga, suaranya di dalam hati terdengar putus asa.

Arga tidak menepis tangan Keysha lagi. Pria itu menarik napas dalam-dalam, membiarkan insting jantannya mengambil alih. Dengan gerakan yang tiba-tiba, Arga mencengkeram pinggang Keysha, menarik wanita itu semakin rapat ke dalam dekapannya.

"Kamu yakin dengan apa yang kamu minta, Keysha?" suara bariton Arga memberat, berubah menjadi serak dan sensual, menandakan gairahnya mulai tersulut.

Keysha tersenyum puas di dalam hatinya, mengira strateginya untuk mengunci hati dan harta Arga telah berhasil. "Iya, Mas... miliki aku malam ini," bisiknya manja.

Tanpa membuang waktu lagi, Arga langsung membungkuk dan menyatukan bibir mereka. Ia mulai mencumbui Keysha dengan intensitas yang tinggi. Arga melepaskan jas kerjanya dengan kasar, membiarkannya jatuh ke lantai, sementara tangannya yang lain mulai meraba lekuk tubuh Keysha di balik kain lingerie sutra merah tersebut. Gairah yang lama terpendam di dalam diri pria berusia 30 tahun itu meledak, menuntut penyaluran yang instan dari kepenatan hidupnya.

Arga menggiring tubuh Keysha menuju ranjang, menjatuhkan tubuh mereka bersamaan di atas seprei satin yang lembut. Kecupan Arga beralih turun ke rahang dan leher Keysha, menghirup aroma tubuh wanita itu, berusaha membawa dirinya larut semakin dalam ke dalam suasana panas malam itu.

Namun, tepat saat gairahnya berada di ambang batas dan cumbuan mereka semakin brutal... sebuah anomali besar terjadi di dalam otak Arga.

Saat hidungnya menghirup aroma parfum melati milik Keysha, entah bagaimana saraf kognitifnya justru menolak aroma tersebut. Pikirannya mendadak berputar secara radikal, melemparkannya kembali pada memori siang tadi di ruang kelas yang sepi. Di dalam kepalanya, aroma melati itu mendadak berganti menjadi aroma parfum manis vanila dan buah beri yang sangat pekat.

Arga memejamkan mata, mencoba mengusir ilusi tersebut. Namun, bayangan itu justru semakin nyata.

Di balik kegelapan matanya yang terpejam, wajah Keysha yang sedang ia cumbui mendadak buram, lalu bertransformasi sepenuhnya menjadi wajah baby face milik Queen. Ia melihat dengan sangat jelas sepasang mata bulat milik mahasiswinya itu yang menatapnya dengan binar nakal, berani, dan menantang. Ia seolah kembali merasakan bibir manis Queen yang basah, ranum, dan digigit dengan liar seperti semalam di club. Bahkan, erangan manja Queen yang berbisik, "Suatu hari nanti aku sendiri yang akan menghancurkan dinding es Bapak..." terdengar begitu nyata berdengung di rongga telinganya.

Bayang-bayang kebar-baran Queen merasuki seluruh indra Arga, mengacaukan fokus dan fantasi kelelakiannya. Sentuhan tangan Keysha di punggungnya mendadak terasa hambar, digantikan oleh delusi sentuhan jemari lentik Queen yang meraba dadanya dengan penuh provokasi.

Arga tersentak hebat di atas tubuh istrinya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena gairah pada wanita di bawahnya, melainkan karena rasa bersalah dan keterkejutan yang luar biasa atas apa yang baru saja terlintas di pikirannya. Bagaimana bisa wajah mahasiswanya yang baru berusia 20 tahun itu menginvasi ranjang pernikahannya sendiri?!

Keysha yang merasakan suaminya mendadak menegang dan menghentikan cumbuannya, membuka mata dengan bingung. "Mas... Mas Arga? Kenapa berhenti? Ada yang salah?" tanya Keysha dengan nada manja yang terengah-engah, mencoba menarik kembali leher Arga untuk menciumnya.

Mendengar suara Keysha, Arga bagai disiram oleh satu ember air es. Realitas menghantamnya telak. Wajah di depannya adalah Keysha istri manipulatif yang mengandung anak pria lain bukan Queen, gadis cegil yang siang tadi ia usir dengan kejam. Kontras itu membuat gairah yang semalam membakar tubuh Arga mendadak menguap tanpa sisa, menyisakan rasa dingin dan kekosongan yang hambar di dalam dadanya. Kejantanan Arga yang tadinya menegang langsung mengendur seketika.

Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, Arga menjauhkan tubuh tegapnya dari atas tubuh Keysha. Ia bangkit berdiri dari ranjang, membelakangi istrinya dengan napas yang memburu ngos-ngosan.

"Mas? Kenapa?" Keysha ikut bangkit, duduk di tepi ranjang dengan wajah yang dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus kecewa yang mendalam. "Kenapa kamu mendadak begini?"

Arga memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Rahangnya mengeras, mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Rasa bersalah karena telah membayangkan wanita lain saat menyentuh istrinya bercampur dengan rasa muak pada dirinya sendiri karena sempat goyah oleh pesona Queen.

"Aku lelah, Keysha," ucap Arga, suaranya kembali berubah menjadi sedingin es batu, kaku, dan tanpa bantahan. Ia berbalik memandang Keysha dengan sorot mata mati rasa yang membuat wanita itu menciut. "Pikiran saya sedang penuh dengan urusan perusahaan. Saya tidak bisa melanjutkan ini."

"Tapi, Mas... kita baru saja mulai! Apa kamu selelah itu sampai tidak bisa menyentuh ist—"

"Saya bilang cukup, Keysha!" potong Arga dengan suara baritonnya yang menekan, membuat Keysha langsung bungkam seribu bahasa.

Arga menyambar jubah tidurnya yang tergantung di dekat lemari, memakainya dengan gerakan kaku untuk menutupi tubuh bidangnya. Tanpa memandang Keysha yang menatapnya dengan pandangan terluka dan air mata yang kini benar-benar asli karena ego wanitanya yang jatuh, Arga melangkah lebar menuju pintu kamar mandi.

"Malam ini, tidurlah duluan. Saya akan tidur di ruang kerja," ucap Arga dingin sebelum membanting pintu kamar mandi dengan cukup keras.

Di dalam kamar mandi yang mewah, Arga menyalakan pancuran air dingin. Ia berdiri di bawah guyuran air es tanpa melepas pakaian badannya, membiarkan air membasahi kemeja kerja dan rambutnya. Pria berusia 30 tahun itu menumpukan kedua tangannya pada dinding wastafel, menunduk dengan napas yang terengah-engah.

Air dingin yang mengalir di wajahnya gagal meredakan detak jantungnya yang menggila. Di dalam kesunyian malam itu, Arga Dirgantara harus menerima kenyataan pahit yang menakutkan bagi prinsip hidupnya: meskipun ia telah menolak Queen dengan begitu kejam siang tadi di kampus, nyatanya pesona liar dan kebar-baran gadis berusia 20 tahun itu telah berhasil menembus dinding esnya, meracuni otaknya, dan bersarang di sana sebagai sebuah godaan rahasia yang paling berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!