Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?
Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.
Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.
Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.
Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.
Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Kecil, Harapan yang Besar
Mobil yang dikendarai Satria perlahan memasuki sebuah kompleks perumahan yang asri dan tenang. Di sepanjang jalan, pepohonan rindang berjajar rapi menaungi aspal, sementara beberapa anak kecil tampak asyik bermain sepeda di depan pagar rumah masing-masing.
Naira menempelkan wajahnya dekat kaca, memperhatikan pemandangan di luar jendela dengan binar mata kagum. "Kompleksnya nyaman sekali, Mas," puji Naira polos.
Satria mengangguk kecil, sesekali melirik spion tengah. "Iya, aku memang sengaja mencari lingkungan yang tidak terlalu bising agar kita bisa istirahat dengan tenang setelah pulang kerja."
Beberapa meter kemudian, mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah minimalis satu lantai berpagar besi putih. Satria memutar kunci, mematikan mesin mobil.
"Kita sudah sampai," ucap Satria sambil menoleh ke arah istrinya.
Naira segera membuka pintu lalu turun dari mobil. Matanya langsung menyapu seluruh wujud bangunan sederhana di hadapannya. Rumah itu memang tidak terlalu besar. Cat dindingnya berwarna putih gading, berpadu serasi dengan kusen jendela kayu berwarna cokelat muda. Halaman depannya cukup luas untuk memarkirkan satu mobil, dihiasi taman kecil dengan beberapa tanaman hijau yang tampak dipangkas rapi. Di sisi teras, terdapat dua kursi rotan dan sebuah meja kayu bundar yang mungil.
Rumah itu terlihat begitu bersih, bersahaja, dan sangat mengundang siapa pun untuk masuk.
Satria ikut turun dari mobil, mengembuskan napas panjang seolah sedang melepaskan segumpal beban di dadanya. Ia berjalan mendekati Naira yang masih terpaku.
"Naira," panggil Satria pelan.
"Iya, Mas?" Naira menoleh, mendapati suaminya sedang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebuah gestur canggung yang sangat jarang pria itu lakukan.
"Aku... aku mau minta maaf sebelumnya," ucap Satria, nadanya mendadak berubah agak kaku.
Dahi Naira berkerut halus, ia menatap suaminya bingung. "Minta maaf? Untuk apa, Mas?"
"Rumah ini kecil," tutur Satria, mengalihkan pandangannya menatap fasad bangunan di depan mereka. "Aku bukan seorang CEO perusahaan besar, bukan juga pengusaha sukses yang kaya raya. Aku hanya seorang PNS biasa di kecamatan. Jadi... baru rumah sederhana seperti ini yang sanggup kuberikan untukmu."
Ada nada ragu yang terselip dalam suara berat Satria, seolah-olah ia sangat khawatir jika perempuan di sampingnya ini akan merasa kecewa dengan realita yang ada.
Namun, ketakutan Satria langsung buyar saat melihat Naira justru mengulas senyuman yang sangat hangat, bahkan mata perempuan itu menyipit indah.
"Mas Satria," panggil Naira lembut, melangkah satu pijakan lebih dekat.
"Hm? Kenapa?" Satria menatap istrinya kembali.
"Aku menikah dengan Mas, bukan dengan ukuran rumahnya," ujar Naira dengan nada suara yang begitu tulus tanpa beban.
Satria seketika terdiam, tenggorokannya mendadak kelu mendengarnya.
Naira mengalihkan pandangannya kembali ke arah rumah, memandangi pintu kayunya dengan binar penuh penghargaan. "Rumah ini mungkin memang sederhana. Tapi setiap sudutnya dibangun murni dari hasil cucuran keringat dan kerja keras Mas selama lima tahun ini. Bagiku, itu jauh lebih mewah dan berharga daripada istana besar yang didapat tanpa perjuangan."
Satria menatap lekat wajah istrinya selama beberapa saat. Entah mengapa, untaian kalimat bersahaja dari Naira barusan seperti aliran air hangat yang langsung menyiram dan menyejukkan seluruh sudut hatinya yang sempat cemas.
"Terima kasih, Naira," bisik Satria tulus.
Naira menggeleng pelan, senyumnya tidak luntur. "Justru aku yang harus berterima kasih kepada Mas."
Satria merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbahan kulit. "Ini, ambillah," ucapnya, menyodorkan benda itu.
Naira mengulurkan tangan dan menerima benda logam tersebut. "Kunci rumah kita?"
"Iya," jawab Satria dengan anggukan mantap. "Mulai detik ini, rumah ini resmi menjadi rumahmu juga."
Naira menggenggam erat kunci tersebut di dalam kepalan tangannya. Ada sebuah perasaan haru sekaligus tanggung jawab baru yang sulit dijelaskan merayap di dadanya saat logam dingin itu menyentuh kulitnya.
Klik.
Pintu utama terbuka perlahan setelah Satria memutar anak kuncinya. Ruangan pertama yang menyambut mereka adalah sebuah ruang tamu minimalis yang tertata apik. Sebuah sofa empuk berwarna abu-abu gelap, meja kayu kecil, televisi yang terpasang di dinding, serta sebuah rak buku tinggi di sudut ruangan tampak sudah siap sedia.
Tepat di samping area itu, dibatasi oleh sekat kayu tipis, terdapat ruang makan mungil dengan meja berkursi empat. Sementara di bagian belakang, sebuah dapur bersih bergaya modern minimalis melengkapi rumah tersebut. Walau belum sepenuhnya padat, semua perabotan dasar sudah tertata rapi pada tempatnya.
"Kulkas, mesin cuci, kompor, dan beberapa keperluan lainnya untuk dapur sudah aku siapkan sebelum pernikahan dan di bantu oleh ayah," jelas Satria sambil berjalan mengekor di belakang Naira. "Nanti kalau kamu merasa ada yang kurang, kita bisa beli dan rapikan pelan-pelan."
Naira mengangguk-angguk kecil, jemarinya mengusap permukaan meja makan yang bersih tanpa debu. "Rumah ini sangat nyaman, Mas. Aku suka sekali."
"Syukurlah kalau kamu menyukainya," sahut Satria merasa lega.
Mereka kemudian melangkah bagian tengah rumah, menuju area kamar tidur. Saat berdiri di depan sebuah pintu kamar yang terbuka, Naira mendadak memperlambat langkahnya. Matanya menatap ke dalam kamar utama tersebut. Di sana terdapat satu tempat tidur berukuran besar yang sudah dilapisi seprai rapi, sebuah lemari pakaian, dan meja rias.
Seketika, suasana di antara mereka mendadak berubah agak canggung. Naira meremas jemarinya sendiri, teringat akan kesepakatan malam pertama mereka di rumah ibunya. Di rumah ini, mereka hanya tinggal berdua, dan keberadaan satu kasur besar itu tanpa sadar membuat dadanya kembali berdebar gugup.
Satria yang menyadari perubahan ekspresi dan kegelisahan istrinya langsung tanggap. Ia ikut menatap kasur besar itu, lalu menoleh ke arah Naira dengan pandangan menenangkan.
"Naira," panggil Satria lembut.
"Iya, Mas?" Naira mendongak, mencoba menyembunyikan rasa canggungnya.
Satria menunjuk ke sebuah pintu kayu lain yang tertutup di ujung lorong. "Rumah ini sebenarnya memiliki dua kamar tidur. Tapi... kamar yang satunya lagi belum sempat aku renovasi ataupun aku isi dengan perabotan apa pun."
Naira mengikuti arah pandang Satria dengan dahi berkerut.
"Karena semalam kita sudah sepakat untuk menjalani hubungan ini pelan-pelan..." Satria kembali menatap Naira penuh rasa hormat. "...aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman atau tertekan di rumah baru kita. Jadi, kamu tempati saja kamar utama yang sudah lengkap ini."
Naira tersentak kecil, matanya membelalak kaget. "Lho, lalu Mas Satria tidur di mana?"
"Aku akan tidur di kamar sebelah," jawab Satria santai, sambil mengulas senyum tipis. "Meskipun belum diisi kasur atau lemari, ruangannya sudah bersih, kok. Aku tinggal menggelar kasur lipat atau tikar di sana."
Mendengar penuturan suaminya yang begitu peka, menghormati privasinya, bahkan rela mengalah tidur di kamar kosong yang belum direnovasi demi menjaga kesepakatan mereka, Naira seketika membisu. Dadanya bergemuruh oleh rasa haru yang luar biasa, sementara pelupuk matanya mulai basah.
"Mas Satria..." bisik Naira, suaranya sedikit bergetar karena tidak enak hati. "Apa tidak apa-apa? Kamar itu kan belum direnovasi..."
Satria tersenyum hangat, lalu mengulurkan tangannya untuk menepuk pelan puncak kepala Naira yang terbalut hijab. "Sama sekali tidak apa-apa, Naira. Aku ini laki-laki, tidur di mana saja jadi. Bagiku, yang paling penting adalah kamu bisa merasa aman dan nyaman tinggal di sini tanpa merasa terpaksa."
Naira membalas senyuman itu dengan sangat manis, menyeka sudut matanya yang sedikit berair. Detik itu juga, Naira semakin yakin bahwa suami yang dikirimkan Tuhan untuknya adalah pria yang sangat mulia. Rumah sederhana ini tidak hanya kokoh dibangun dari tumpukan semen dan batu bata, melainkan dari rasa hormat, kesabaran yang luar biasa, serta pengertian yang tulus.
Dan di dalam rumah kecil penuh harapan inilah, lembaran kisah nyata mereka sebagai sepasang suami istri... akan resmi dimulai.
Bersambung