Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hembusan Napas Pertama
Suara monitor ECG yang semula beritme monoton kini berubah menjadi nada-nada pendek yang saling memburu. Adrian tidak berani bernapas. Sepasang matanya yang selama sebulan ini redup oleh keputusasaan, kini melebar sempurna, mengunci setiap pergerakan sekecil apa pun di wajah Kirana.
Kedutan di jemari Kirana terasa semakin nyata. Jemari yang kurus itu perlahan mencoba menekuk, meremas balik telapak tangan Adrian yang besar dengan sisa tenaga yang teramat rapuh.
"Kirana... ini aku. Buka matamu," bisik Adrian, suaranya yang biasa terdengar berat dan penuh perintah kini bergetar hebat oleh riak harapan yang membubung tinggi.
Di bawah masker oksigen yang transparan, bibir pucat Kirana tampak bergerak sedikit. Alisnya yang hitam melengkung tipis, berkerut menahan rasa pening yang luar biasa yang mendadak menghantam kesadarannya. Kelopak mata bulat itu bergetar beberapa kali, berjuang melawan beratnya tidur panjang yang mengurungnya selama tiga puluh hari.
Perlahan... sangat perlahan...
Celah kecil terbuka, menampilkan binar mata bulat yang selama ini dirindukan Adrian. Kilatan cerdas di dalam manik mata itu masih ada, meski kini tampak sayu dan kebingungan akibat cahaya lampu ruangan yang menusuk retinanya.
"D... dokter! Hendra! Panggil dokter sekarang!!!" teriak Adrian lantang ke arah pintu kaca, meruntuhkan keheningan koridor lantai lima dalam sekejap.
Hendra yang berjaga di luar langsung tersentak dan mendorong pintu, disusul oleh tim medis yang berlarian masuk dengan membawa peralatan darurat. Adrian terpaksa melepaskan genggaman tangannya untuk memberikan ruang bagi dokter kepala yang langsung memeriksa refleks cahaya pada pupil mata Kirana.
Kirana mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya. Hal pertama yang berhasil ditangkap oleh fokus matanya bukan langit-langit putih rumah sakit, melainkan sosok pria yang berdiri tegang di ujung ranjang. Pria dengan pakaian yang sedikit kusut, rambut berantakan, dan gurat kelelahan yang pekat—namun menatapnya dengan intensitas yang sanggup melelehkan gunung es terdalam.
Dokter kepala perlahan melepas masker oksigen besar dari wajah Kirana, menggantinya dengan selang yang lebih kecil di hidungnya. "Nona Kirana... Anda bisa mendengar suara saya? Jika bisa, silakan angguk atau gerakkan tangan Anda."
Kirana tidak mengangguk pada dokter. Pandangan matanya yang sayu tetap terkunci pada Adrian. Dengan tenggorokan yang terasa kering seperti padang pasir, ia memaksakan sebuah suara lirih keluar dari celah bibirnya.
"T-Tuan Muda... yang... menggemaskan..."
Sebuah bisikan yang sangat lemah, namun bagi Adrian, itu adalah melodi paling indah yang mengakhiri musim dingin di dalam jiwanya.
Setelah serangkaian pemeriksaan cepat, dokter kepala berbalik menghadap Adrian dengan senyuman lega yang amat tulus. "Ini adalah keajaiban, Tuan Muda Arseto. Fungsi neurologisnya pulih dengan sangat cepat. Masa kritis dan komanya telah selesai sepenuhnya. Sekarang dia hanya perlu fokus pada pemulihan fisik dan bekas luka operasinya."
"Keluar," perintah Adrian pendek, matanya tidak sekalipun beralih dari Kirana. "Semua keluar."
Dokter, Hendra, dan para perawat segera mengosongkan ruangan dengan langkah tenang, tahu bahwa momen ini sepenuhnya milik sang penguasa dunia bawah dan pelayan pribadinya. Hendra sempat memberikan anggukan hormat pada Kirana sebelum menutup pintu kaca rapat-rapat.
Ruangan kembali sunyi, namun kali ini sunyi yang hangat dan melegakan.
Adrian melangkah mendekati sisi ranjang dengan perlahan, seolah takut jika langkah kakinya yang berat akan membuat ilusi di depannya ini menghilang. Ia kembali duduk di kursi kayu, meraih tangan Kirana dan membawanya ke pipinya yang kini ditumbuhi janggut tipis.
Kirana merasakan kasarnya janggut Adrian di telapak tangannya, namun yang membuat hatinya bergetar adalah kehangatan yang menjalar dari kulit pria itu. Sifat beraninya yang sempat tertidur selama sebulan, kini perlahan meletup kembali di balik tubuhnya yang lemas.
"Anda... tidak bercukur, Tuan Muda?" bisik Kirana, suaranya masih serak namun ada nada manja yang renyah di dalamnya. "Penampilan Anda... seperti singa yang tersesat di hutan."
Adrian tidak membalas ejekan itu dengan kata-kata ketus seperti biasanya. Dinding keangkuhannya telah runtuh sepenuhnya di lantai semen pabrik tua dan di koridor rumah sakit ini. Pria itu justru menundukkan kepalanya dalam-dalam di atas tangan Kirana, dan untuk kedua kalinya, sebutir air mata hangat menetes dari sudut matanya, membasahi jemari sang pelayan.
Kirana tertegun. Melihat air mata seorang Adrian Arseto—pria yang namanya ditakuti di seluruh penjuru kota—membuat dadanya dipenuhi oleh rasa hangat yang membuncah. Obsesi dan kesetiaannya kini telah terbayar lunas.
"Jangan menangis, Tuan Adrian..." ujar Kirana lembut, jarinya bergerak perlahan mengusap air mata di pipi sang majikan. "Saya di sini. Saya tidak akan pergi ke mana-mana."
Adrian mendongak, menatap mata bulat Kirana dengan tatapan posesif yang mutlak. "Kau membuatku terjebak dalam neraka penantian selama satu bulan, Kirana. Jangan pernah... jangan pernah berani melakukan hal bodoh seperti itu lagi demi melindungiku."
---
Sore harinya, suasana di dalam ruang ICU terasa jauh lebih hidup. Ibu Maya datang membawa bubur halus dan teh hangat khusus untuk pemulihan. Wanita tua itu menangis bahagia memeluk Kirana, sebelum akhirnya pamit pulang setelah ditatap dengan pandangan "beri kami waktu" oleh Adrian.
Kirana mencoba bersandar pada bantal yang telah ditinggikan oleh Adrian. Setiap kali ia menggerakkan tubuh bagian kirinya, rasa perih yang tajam dari bekas tusukan pisau Tasya masih terasa, membuatnya sedikit meringis.
"Jangan banyak bergerak," tegur Adrian, dengan telaten menyuapkan satu sendok bubur hangat ke mulut Kirana. Tangannya yang biasa memegang senjata taktis kini terlihat sangat luwes memegang sendok kecil.
Kirana menerima suapan itu dengan senyuman manis. "Bubur ini hambar sekali, Tuan Muda. Saya merindukan masakan dapur Bukit Permai... dan saya merindukan aroma kopi jahe Anda."
"Kau baru saja bangun dari koma satu bulan, Kirana. Berhenti memikirkan kopi atau pekerjaan dapur," ketus Adrian, namun ia tetap meniup bubur di sendok sebelum menyuapkannya lagi. "Mulai hari ini, kau tidak akan menyentuh pekerjaan pelayan apa pun di rumah itu sampai kau sembuh total."
"Lalu apa tugas saya, Tuan Muda?" tanya Kirana, matanya berkedip nakal. "Bukankah posisi saya adalah pelayan pribadi khusus Anda?"
Adrian meletakkan mangkuk bubur di meja samping, lalu memajukan tubuhnya, mengunci pandangan Kirana dalam jarak yang sangat dekat. Aroma maskulin pria itu kembali mendominasi indra penciuman Kirana, membuat jantung gadis itu berdegup kencang.
"Tugasmu hanya satu, Kirana," bisik Adrian rendah, suaranya sarat akan komitmen yang mendalam dan tidak bisa diganggu gugat. "Tetaplah hidup di sampingku, menjadi satu-satunya orang yang boleh lancang menantang egoku. Dunia bawah mungkin penuh dengan musuh yang mengincarku, tapi selama kau berada di dalam jangkauan tanganku... aku akan memastikan tidak ada satu pun peluru atau bilah pisau yang bisa menyentuh apron putihmu lagi."
Kirana melebarkan senyumnya, sebuah lengkungan bibir yang penuh kemenangan sejati. Ia mengulurkan tangannya yang bebas, menyentuh kerah kemeja Adrian, menarik pria itu sedikit lebih dekat.
"Perjanjian yang sangat menggiurkan, Tuan Muda Adrian yang penuh otoritas," sahut Kirana manja. "Saya menerima tugas itu dengan senang hati."
Di balik dinding kaca ruang ICU, di bawah langit senja kota Metropolitan yang mulai meremang, babak baru kehidupan mereka berdua telah resmi dimulai.