Arum memutuskan berhijrah, hidup dengan syari'at agamanya. Namun bukan hijrah namanya bila tanpa rintangan, suami yang dicintainya pergi untuk selamanya, berjuang keras menghidupi anaknya. Dan suatu ketika dia dikhitbah untuk menjadi madu. Bagaimakah ceritanya? Sanggupkah Arum menjadi madu?
Ini hanya fiksi ya, tidak ada kaitannya dengan cerita hidup siapapun. Happy reading 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berenang Bersama Anak-anak
" Alhamdulillah, Iya Mas." Ucap Arum sambil menerima dua ATM dari Ammar.
" Oh iya, karena Fitri tinggal di luar kota, dua pekan sekali aku akan mengunjungi Fitri, dan sebulan sekali, anak-anak menginap di sana." Ammar menjelaskan.
" Baik Mas, ehm itu sebulan sekali neneknya Rayhan dari abinya meminta Rayhan menginap di sana, bolehkan?" Ar meminta izin.
" Tentu saja boleh, liburan sekolah Rayhan juga bisa menginap di sana. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita ya.." Ammar menjawab.
" Iya Mas, aamiin." Arum mengamini.
" Kamu kok masih pakai jilbab di depan Mas?" Ammar terheran, Arum masih memakai jilbab di depannya, padahal mereka sudah sah menjadi suami istri.
" Iya Mas, maaf, pelan-pelan saja ya, kita belum terbiasa." Arum menjelaskan.
" Baiklah, terserah kamu saja kapan siapnya. Sekarang kita siap-siap berangkat yuk." Ammar mengajak Arum dan anak-anaknya berangkat ke hotel di daerah pegunungan dekat kotanya.
Di mobil, Arum pertama kalinya naik mobilnya Ammar dan pertama kalinya juga duduk di depan mendampingi Ammar yang menyetir. Anak-anak duduk di belakang. Sepanjang perjalanan mereka melantunkan hafalan-hafalan Al Qur'an mereka. Arum dan Ammar pun tersenyum bahagia mendengarnya.
Sesampainya di hotel, ternyata Ammar memesan dua kamar, satu untuk anak-anak, satu untuk dia dan Arum. Mereka segera naik menggunakan lift dan menuju kamar anak-anak dahulu. Sesampainya di kamar, anak-anak terheran.
" Abi, katanya kita mau berenang, kok malah ke sini?" Tanya Salman bingung. Kedua adiknya juga tak kalah bingung.
" Iya, kita berenang, di bawah sana, lihat itu dari balkon." Ammar menjawab.
Mereka segera keluar menuju balkon dan melihat ke bawah, mereka semua tersenyum senang disuguhi pemandangan yang indah di pegunungan itu, dan kolam renang yang dijanjikan Ammar juga ada di bawah gedung hotel tempat mereka menginap. Setelah melihat kolamnya ketiga krucil itu pun bersorak.
" Yeay berenang !!!" teriak ketiganya.
" Ayo kita turun." Kata Salman mengajak adik-adiknya.
" Sebentar Umma siapkan baju kalian." Kata Arum sambil memasukkan baju renang, baju ganti, dan perlengkapan mandi untuk suami dan anak-anak mereka. Dan setelah menutup resleting tasnya dia mengajak mereka turun.
" Dah siap, let's go kids!!" Seru Arum. Anak-anak pun kegirangan, mereka semua meninggalkan kamar itu, dan turun menuju area kolam renang.
Sesampainya di area kolam renang. Mereka berganti baju renang di ruang ganti. Salman dan Rayhan bersama Ammar di ruang ganti pria, sedangkan Hanna ditemani Arum di ruang ganti wanita.
Anak-anak sudah keluar ruang ganti dan masuk ke kolam anak-anak. Dan Arum mengawasi mereka dari tempat duduknya tadi yang berada di tepi kolam anak. Ketika dia sibuk mengawasi anak-anak. Matanya dikagetkan dengan sosok yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Tak lain adalah Ammar. Badannya tidak besar namun atletis, dadanya bidang, dan perutnya kotak-kotak bak roti sobek.
" Mas." Arum hanya bisa memanggilnya. Tetapi jantungnya berdetak tak karuan.
" Kamu jagain anak-anak ya, aku mau berenang di sana." Pesan Ammar sambil berdiri dan segera menuju kolam besar.
Arum tidak menyangka dia terpana melihat suaminya, dipuas-puaskan melihat, toh sudah halal. Sambil dia senyum-senyum sendiri. Dan berfikir, bagaimana caranya Ammar mendapatkan bentuk tubuh yang seperti itu, padahal dia terlalu sibuk bekerja dan merawat anaknya. Juga jauh dari istrinya. Iya karena tidak bisa menyalurkan hasratnya selama tiga tahun, Ammar mengalihkannya untuk olahraga sehingga bisa mendapatkan tubuh seperti itu.
Arum hanya bisa tersenyum dan tak henti-hentinya bersyukur. Mendapatkan keluarga baru, walau menjadi madu, dia berharap menjadi madu yang baik, melayani suaminya sebaik-baiknya, menghormati kakak madunya. Dan juga mengasuh anaknya dan anak suaminya.
Tidak terasa sudah satu jam anak-anak berenang. Ammar yang sudah selesai berenang, berjalan menghampiri Arum. Setelah Ammar sampai di depan Arum, Arum segera mengambil handuk putih besar dan menutup bagian atas tubuh Ammar, dia tidak rela karena sejak tadi ada beberapa pasang mata juga terpana pada Ammar.
Ammar tersenyum seakan faham istrinya cemburu. Anak-anak pun naik keluar kolam dan mereka mandi dan berganti pakaian di ruang ganti. Setelah selesai mereka segera naik ke kamar tepat kerika adzan Maghrib berkumandang.
Sesampainya di kamar anak-anak, mereka sholat berjamaah. Selepas sholat Maghrib mereka turun ke restoran di lantai dasar hotel itu. Anak-anak makan dengan lahap, begitu juga Ammar, terlihat lapar sekali. Lagi-lagi Arum tersenyum dan bersyukur bisa di tengah keluarga ini.
Setelah selesai makan mereka kembali ke atas, ke kamar anak-anak. Melaksanakan sholat Isya berjamaah. Dan selesai sholat anak-anak duduk di atas kasur melihat TV ditemani Ammar. Arum membereskan baju-baju yang tadi dipakai berenang, ia memeras sekenanya agar agak kering dan menjemurnya dibkamar mandi. Selesai menjemur Arum segera bergabung dengan mereka semua.
" Kalian capek ya?" Tanya Arum kepada anak-anak.
" Iya Mi ngantuk." Jawab Salman.
" Rayhan juga ngantuk." Rayhan ikut menjawab. Sedangkan Hanna gadis kecilnya sudah terlelap di tengah kakak-kakaknya.
" Bobok sama Umma dulu ya kalian, Abi mau mandi dulu ke kamar sebelah." Ammar pamit
" Iya Bi," Jawab Salman dan Rayhan.
" Tidurkan mereka dulu ya Dik, aku tunggu di kamar sebelah, ini kartunya." Kata Ammar sambil menyerahkan kartu kunci ke Arum. Dia sengaja meminta dua kartu untuk setiap kamar yang dipesannya.
" Iya Mas." Jawab Arum sambil menerima kartu itu. Ammar meninggalkan kamar itu dengan membawa koper berisi pakaiannya dan pakaian Arum.
" Kak Salman dan Mas Rayhan bobok ya sekarang." kata Arum sambil mematikan TV dengan remote control.
" Iya Mi." jawab mereka dengan lirih karena sudah sangat mengantuk.
" Kak Salman, sebagai kakak tertua, tolong jagain adik-adiknya ya, kalau ada apa-apa segera telpon Abi, ini HP Umma, Umma tinggal di sini.
" Baik Mi." Jawab Salman patuh. Sekitar sepuluh menit kemudian Salman dan Rayhan sudah terlelap dalam mimpi. Arum perlahan meninggalkan mereka. Sebenarnya dia ragu, tidur di sini saja atau pergi ke kamar sebelah. Tapi dia hanya mematuhi pesan suaminya tadi, akhirnya meninggalkan kamar anak-anaknya dan pindah ke kamar sebelah.
" Tiiit." Bunyi kunci pintu kamar setelah Arum menempelkan kartu kunci itu. Dan pintu pun terbuka. Dia masuk dan menutup pintu kembali.
" Assalamualaikum Mas." sapanya.
" Waalaikumusalam warahmatullahi wabarokatuh." jawab Ammar.
" Anak-anak sudah tidur?" Tanya Ammar.
" Sudah Mas." jawab Arum singkat. Melihat Ammar sudah mandi dan duduk di sofa dekat balkon Arum pun ingin segera mandi.
" Aku mandi dulu ya." Arum segera mengambil bajunya dari koper dan masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, dia seger melepas jilbabnya dan juga gamisnya. Sesungguhnya dia sangat lelah dan gerah seharian memakai gamis dan jilbab panjang. Dia mandi di bawah percikan shower, air hangat yang mengenai badannya terasa sangat nyaman dan menyegarkan tubuhnya lagi.
jangan lupa mampir ya ukh di karyaku juga ya, dan beri dukungan. sekalian boleh minta folback nya agar bisa berteman/Smile/
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
bisa berbagi....
sukses
semangat
mksh
mantap