Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 16 Rahasia Apa Yang Di Sembunyikan Om Bara Sih!|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Sepuluh menit setelah kelas usai, para mahasiswa mengalir keluar dalam kelompok-kelompok kecil, meninggalkan gumaman tentang materi pemasaran digital barusan. Namun, topik utama hari ini bukanlah tentang algoritma SEO, melainkan tentang pria di baris keempat yang baru saja mengusir Vina dengan ketegasan seorang algojo.
"Gila, orang itu galak tapi romantis banget sama Vina tadi."
"Tapi jujur, auranya mahal banget. Tegas pula!"
"Kira-kira sudah punya pacar belum, ya? Kalau belum, gua mau daftar jadi asisten pribadinya juga gapapa deh."
Gelak tawa genit itu perlahan memudar, ditelan oleh jarak koridor. Di dalam kelas yang kini lengang, keheningan merayap masuk, mengisi celah-celah di antara barisan kursi kosong.
Nana masih duduk di tempatnya. Jari-jarinya bergerak lambat memasukkan buku catatan ke dalam tasnya—sebuah usaha dirinya untuk menutupi tangannya yang masih sedikit gemetar akibat kejadian tadi.
Bara, yang masih duduk beberapa baris di belakang, memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu dengan tatapan yang tak terbaca.
"Nana, yuk!" Mika muncul di ambang pintu, satu kakinya sudah bersiap untuk lari ke kantin.
"Kantin, yuk! Gua udah laper banget gara-gara nahan napas pas drama tadi."
Nana menoleh sejenak, lalu melirik ke belakang—tepatnya ke arah Bara yang masih sibuk dengan laptopnya, atau setidaknya, terlihat sibuk.
"Kamu duluan saja, Ka. Ada yang mau aku tanyakan ke Ibu Siti dulu."
Mika mengerutkan kening. "Ibu Siti kan sudah keluar dari tadi, Na?"
Nana tertegun, otaknya mencari alasan secepat kilat. "Maksudku... aku mau menunggu beliau di ruang dosen. Ada tugas yang belum jelas tadi."
Mika mengangkat bahu, menyadari bahwa sahabatnya itu sedang mencari alasan untuk tetap tinggal.
"Oke deh. Nanti chat aku ya kalau kamu menyusul."
Pintu kelas akhirnya tertutup pelan dengan bunyi "klik."
Ruangan yang luas ini, kini mendadak terasa sempit, seolah oksigen di dalamnya telah diserap habis oleh keberadaan pria di baris keempat itu. Nana berdiri, mencengkeram tali tasnya erat-erat, meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan seorang predator.
Bara menutup laptopnya dengan bunyi "klik" yang agak keras. Ia bangkit, dan saat itulah jantungnya melakukan sesuatu yang tidak pernah diajarkan dalam buku strategi bisnis manapun: jantungnya berdegup kencang, menabrak tulang rusuknya dengan ritme yang liar.
"Sial," maki Bara dalam hati. Ia mencengkeram dadanya secara refleks.
"Apa-apaan ini? Kenapa rasanya seperti akan meledak?"
Nana, yang melihat gerakan itu, langsung membelalak panik. "Om? Om kenapa? Om sakit jantung?!"
Nana berlari kecil mendekatinya, wajahnya sudah pucat karena khawatir. "Ayo duduk dulu, Om! Aduh, jangan mati di sini, saya takut diintrogasi sama polisi!"
Melihat Nana yang panik dan nyaris berteriak memanggil bantuan, insting perlindungan diri Bara langsung mengambil alih. Dengan gerakan secepat kilat, ia menarik Nana mendekat dan membekap mulutnya dengan telapak tangan yang besar dan hangat.
"Diam," desis Bara, suaranya parau.
Waktu seolah berhenti berputar. Tubuh Nana membeku dalam dekapan tangan Bara. Punggungnya bersentuhan dengan meja, sementara wajah Bara hanya berjarak beberapa inci dari miliknya. Nana bisa merasakan hembusan napas Bara di keningnya, dan bau parfum Dior yang mahal merayapi indranya.
Wajah Nana memanas. Pipinya berubah semerah tomat yang matang. Nana menutup matanya rapat-rapat, jemarinya meremas lengan pakaian Bara secara tidak sadar. Di kepalanya, sebuah pikiran absurd tiba-tiba muncul.
Apakah dia akan menciumku? Oh Tuhan jangan selamatkan aku dari musibah yang sangat baik ini.
Bara menatap bibir Nana yang tertutup jemarinya, lalu beralih ke mata gadis itu yang terpejam dengan pasrah. Detak jantung Bara semakin tidak keruan.
Ia mulai memaki dirinya sendiri dalam hati. Kau kesini untuk informasi, Bara. Bukan untuk menjadi bajingan mesum.
Bara perlahan melepaskan bekapannya, namun tangannya tetap bertumpu di meja di sisi kepala Nana, mengurung gadis itu dalam ruang pribadinya.
"Aku tidak sedang serangan jantung," ucap Bara dengan nada yang dipaksakan tenang, meski suaranya masih sedikit berat. "Aku hanya... tidak suka keributan."
Nana membuka matanya perlahan, napasnya masih tersengal. "Tapi tadi Om pegang dada..."
"Lupakan," potong Bara cepat, mencoba memulihkan martabatnya. "Ikut aku. Aku ingin bicara denganmu."
"Tentang apa?" tanya Nana, suaranya kini hanya berupa bisikan yang bergetar.
"Tidak di sini." Bara menjauhkan tubuhnya, memberi ruang bagi Nana untuk bernapas kembali. Ia melangkah ke arah pintu dengan langkah yang tegap, meski dalam hati ia masih merutuki detak jantungnya yang tidak kompeten.
"Lalu di mana?"
Bara berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit dengan profil wajah yang tampak rupawan itu.
"Di tempat di mana tidak ada mahasiswa berisik yang akan bertanya apakah aku sudah punya pacar atau belum."
Bara menghela napas, teringat pesan Davian untuk membangun kepercayaan. Ia menelan ego-nya sejenak.
"Ikut saja. Aku tidak akan menculikmu. Terlalu banyak saksi di kampus ini."
Nana menatap punggung pria itu, lalu dengan perasaan yang masih campur aduk antara takut dan rasa penasaran yang menggelitiknya, ia mengangguk dan melangkah mengikuti Bara keluar.
"Kenapa diam saja?" tanya Bara tanpa menoleh.
"Masih... masih mengatur napas, Om," jawab Nana jujur, yang hanya dibalas dengan dengusan kecil oleh Bara yang menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirnya.
"Ayo."
...-Koridor - Lantai 3-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Bara melangkah dengan agak terburu-buru hampir seperti berlari, seolah trotoar kampus itu adalah area runway pribadinya. Di belakangnya, Nana setengah berlari, sepatu ketsnya beradu dengan lantai dalam irama yang kacau, mencoba mengimbangi langkah panjang pria yang tampak seperti baru saja keluar dari sampul majalah bisnis itu.
"Om, kita mau ke mana sih? Ini sudah hampir sampai ke lantai 2," Nana bertanya, napasnya mulai sedikit memburu.
Bara tidak menjawab. Ia terus melangkah dengan tatapan lurus ke depan, bahunya tetap tegak, membiarkan suaranya hanya menjadi angin lalu yang tersaring oleh udara panas siang itu.
"Om, aku belum makan siang, tahu. Kadar gula darahku bisa rendah kalau disuruh jalan jauh tanpa kepastian begini," keluh Nana lagi, kali ini dengan nada yang lebih menuntut.
Tetap hening. Bara seperti memiliki kemampuan luar biasa untuk mengabaikan gangguan frekuensi rendah dari Nana.
"Om, kalau cuma mau bicara, di kelas tadi juga bisa, kan? Atau di perpustakaan yang sepi?"
"Tidak," jawab Bara singkat, tanpa menoleh sedikit pun.
Nana mengerutkan kening, rasa penasarannya mulai bergesekan dengan rasa kesal. "Kenapa tidak?"
"Masih terlalu banyak mata. Aku tidak suka menjadi objek tontonan mahasiswa yang kurang kerjaan."
Nana mencibir, lalu mempercepat langkah hingga ia bisa berjalan bersisian dengan Bara. Ia menengadah, menatap profil samping wajah Bara yang tegas itu.
"Om mau bicara sesuatu yang rahasia banget, ya? Sampai-sampai harus sembunyi-sembunyi begini? Atau jangan-jangan... Om sebenarnya agen rahasia yang lagi menyamar jadi mahasiswa?"
Bara menghentikan langkahnya mendadak. Nana yang tidak siap hampir saja menabrak dada pria itu. Bara menoleh, menatap Nana dengan tatapan datar yang mengintimidasi.
"Iya. Penting sekali."
Nana menggumam pelan, nyaris seperti keluhan yang sengaja diperdengarkan. "Orang yang tidak suka basa-basi itu susah sekali diajak komunikasi, tahu tidak, Om. Rasanya seperti bicara dengan tembok beton."
"Aku tahu."
"Tapi tetap tidak mau mencoba sedikit lebih ramah?"
"Tidak."
Nana mengembuskan napas panjang, lalu tiba-tiba sebuah ide jahil melintas di kepalanya. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, sedikit memiringkan kepalanya dengan senyum yang sengaja dibuat-buat manis.
"Tapi Om tahu tidak? Justru sikap dingin Om ini yang bikin cewek-cewek di kelas tadi pada heboh. Om itu tipe 'mysterious cold guy' yang sering ada di novel-novel yang dibaca Mamaku. Apa jangan-jangan... Om memang sengaja begini biar aku tertarik?"
Langkah Bara terhenti lagi. Kali ini ia benar-benar berbalik menatap Nana sepenuhnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, nyaris tak terlihat—namun ada kilatan sarkasme di matanya.
"Kau pikir aku sedang menarik perhatianmu?" Bara maju satu langkah, membuat Nana refleks mundur. "Kau terlalu percaya diri, Nana. Kau itu sangat cerewet untuk ukuran orang yang tadi bahkan tidak berani membalas ucapan Vina."
Nana tersentak, wajahnya seketika memerah karena malu sekaligus kesal.
"Aku... aku bukan tidak berani! Aku hanya malas meladeni orang seperti dia!"
"Ada bedanya antara malas dan tidak punya nyali," balas Bara dingin, sambil kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. "Sekarang diam dan jalan. Sebentar lagi kita sampai."
Nana berdiri mematung sejenak, menatap punggung tegap itu dengan tinju yang terkepal disamping tubuhnya.
"Ih, bener-bener ya ini Om-Om satu! Awas saja nanti kalau aku sudah tahu rahasianya!"
Meskipun mengomel, Nana tetap melangkah mengikuti Bara bak anak ayam mengikuti induknya, entah mengapa dirinya malah masuk ke dalam gravitasi pria yang terasa jauh lebih berbahaya daripada ujian semester mana pun.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉