NovelToon NovelToon
Kisah Tanpa Dirimu

Kisah Tanpa Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.

Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.

Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.

Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?

Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?

yuk simak....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sebatas hutang budi

Maara menyandarkan punggungnya dibalik pintu kamarnya.

Pikirannya melayang pada apa yang dia dengar secara tak sengaja barusan.

Revan menikahinya hanya demi menutupi kesalahan mamanya.

Ini jauh lebih menyakitkan baginya.

Tanpa sadar, Maara meraba perutnya.

Rahimnya tak lagi sempurna karena kecelakaan itu.

Kakinya bahkan tak sanggup menahan berat badannya sendiri.

"Ya Allah, ini terlalu berat... Kenapa beban ini Engkau tumpukan kepada hamba...? Kenapa semua orang menutupinya dariku?" batin Maara menangis.

Sementara diluar kamar, Revan terlihat beberapa kali melirik pintu kamar isterinya.

Ragu, rasa bersalah dan khawatir menjadi satu dalam hatinya.

Meski dia tidak menginginkan Maara namun sisi hatinya yang paling dalam mengerti arti tatapan mata gadis itu sebelum dia menghilang dibalik pintu kamarnya.

Revan menghela nafas panjang.

Bahunya ikut turun seiring helaan nafasnya.

Dengan segala keberanian dan membuang amarah serta gengsi yang selama ini merajai hati dan pikirannya, Revan akhirnya mengetuk pelan pintu kamar Maara.

"Maara... Kamu sudah tidur?" panggil Revan.

Revan menunggu jawaban dari si pemilik kamar.

Tak ada jawaban.

Revan mengetuk sekali lagi.

"Jika kamu belum tidur, bisa kita bicara sebentar" lanjut Revan.

Maara yang sebenarnya mendengar panggilan Revan diam menyimak.

Menimbang apa ia harus keluar atau pura-pura tidur.

"Kalau kamu udah tidur, besok saja kita bicara" ujar Revan lagi.

Ceklek...

Pintu kamar akhirnya dibuka oleh Maara.

Dia memberanikan diri menghadap Revan.

Revan tersentak karena melihat mata Maara yang merah.

Berbeda dari sebelumnya, kali ini jantung Revan terasa diremas kala melihat sisa-sisa airmata di sudut mata gadis itu.

"Apa yang mau mas Revan bicarakan?"

"Ou..." Revan tergagap sendiri.

Maara mengernyit.

"Kita bicara di meja makan" tunjuk Revan kearah meja makan.

Tanpa banyak protes, Maara mengikuti langkah Revan menuju ruang makan.

Keduanya duduk saling berhadapan.

"Kamu pasti sudah mendengar apa yang aku bicarakan barusan dengan sepupuku?" tanya Revan langsung tanpa basa-basi.

" Hmmm..."angguk Maara.

Revan menarik tangannya dan menyandarkan punggung.

Tatapannya terarah kepada Maara yang masih menunduk.

"Aku nggak akan menyangkalnya... Apa yang kamu dengar barusan memang begitu adanya" Revan menarik nafas sejenak lalu kembali bersuara.

"Aku menikahimu demi menyelamatkan mama dari tuntutan hukum akibat kelalaiannya dan juga karena sebuah tanggungjawab kami padamu... Karena kecelakaan itu telah menyebabkan salah satu organ paling penting bagimu yakni rahim mu jadi bermasalah... Aku minta maaf atas hal itu... Atas semua yang telah mama lakukan..."

Revan memperhatikan reaksi Maara.

Maara yang sejak tadi diam dan menunduk kini mulai berani membalas tatapan Revan.

"Apa rahimku diangkat dan setelahnya aku nggak bisa punya keturunan?" tanyanya lemah.

"Bukan diangkat... Rahimmu masih ada hanya saja jika kamu nekad memiliki anak, maka akan berakibat fatal bagimu dan juga calon bayimu kelak... Lagipula, aku juga tidak berniat memiliki anak denganmu... Seperti yang aku katakan sebelumnya jika aku menikahimu hanya sebatas tanggungjawab..." tegas Revan kembali pada dirinya semula.

Maara menggigit bibir bagian dalamnya. Menahan. diri agar tidak menangis dihadapan laki-laki ini. Wajar Maara bertanya hal itu mengingat dirinya juga sempat tak sadarkan diri cukup lama pasca kecelakaan dan siapapun baik dokter ataupun bu Mira tak memberitahu kondisi dirinya setelah sadar.

Dan setiap kali Maara mengeluh sakit pada perut bagian bawahnya, mereka selalu mengatakan hanya nyeri akibat terbentur dan akan sembuh dalam beberapa hari.

"Jangan selalu mengingatkanku akan hal itu...Aku tidak akan pernah lupa statusku..." Maara diam sejenak. Menarik nafas yang mendadak terasa sempit diparu-parunya.

"Baiknya mas Revan segera menceraikan aku sebelum kekasihmu pulang... Karena jika dia sudah berada disini maka akan sangat menyulitkan mu dan juga aku nantinya..." tegas Maara.

Revan seakan tersedak ludahnya sendiri saat mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Maara.

Gadis yang kemarin masih takut berbicara padanya, masih takut mengangkat wajah ketika bersitatap dengannya kini sedang meminta untuk mengakhiri pernikahan ini dengan suara lantang dan tegas.

"Tidak...!!!" tolak Revan.

Maara menaikkan sebelah alisnya "Kenapa? Bukankah mas Revan nggak menginginkannya...? Lalu apa alasanmu tidak ingin melepaskan pernikahan ini? Meskipun tanpa rahim yang sempurna aku juga ingin bahagia...."

Revan lagi-lagi tersentak dengan kalimat yang diucapkan Maara.

Ada sebuah ketidak ikhlasan dihatinya untuk melepas Maara.

Entah demi harga diri atau sebab lain.

Perhatian keduanya teralihkan pada dering ponsel Revan yang terletak diatas meja.

Nama dilayar sudah bisa membuat Maara berkecil hati.

"Angkatlah..!" Maara mendorong kursinya "Aku tunggu keputusan mu" ujarnya sebelum menghilang dibalik pintu kamar.

Revan mengusap kasar wajahnya.

Mengeram kesal.

...****************...

Langkah kaki Maara terasa berat seolah-olah ada beban tak terlihat setiap kali dia datang ke tempat ini.

Angin berhembus pelan diantara pepohonan, menimbulkan suara gemerisik yang lemah dan sendu seakan alam pun turut merasakan apa yang sedang gadis itu rasakan saat ini.

Didepannya, barisan batu nisan berjejer rapi, berwarna kelabu dan pucat dibawah langit yang mendung.

Sejak pembicaraan ia dan Revan kemarin sore, rasanya Maara begitu sulit menerima kenyataan yang ia alami.

Maara berlutut disalah satu makam, membiarkan rumput kering dan tanah basah menyentuh lututnya yang tertutupi gamis hitam yang ia kenakan.

Tangannya gemetar saat menyentuh permukaan batu nisan yang dingin.

Jari-jarinya bergerak pelan mengikuti lekuk nama yang tertera disana.

Diatas batu nisan berwarna hitam itu tertulis nama Ratmi binti Suyatno.

Nama indah itu adalah nama ibu Maara.

Ibu yang meninggalkannya dalam sebuah kecelakaan yang disebabkan oleh orang yang kini menjadi bagian dari dirinya.

Ada rasa marah dan kesal yang bergejolak dalam hati Maara.

Marah yang tak dapat dirinya utarakan.

Gadis itu menunduk dalam.

Bahunya bergetar karena isakan yang tertahan.

Airmata yang sejak tadi ditahannya jatuh bak air sungai mengalir, membasahi kedua pipinya.

Dia tak menangis keras, hanya sebuah isakan yang siapapun orang yang mendengarnya akan tahu betapa bersedihnya Maara.

"Ibu... Maara rindu..."

"Kenapa ibu harus pergi begitu cepat..?"

"Andai ibu disini, Maara tidak akan bernasib seperti ini... Maafkan Maara bu... Maara bersalah.."

Maara meremas dadanya yang tertutup hijab lebar berwarna mocca.

Hatinya remuk redam.

Antara benci dan juga cinta yang diam-diam telah bersemayam didalam hatinya.

Rasa cinta yang tak pernah dia rencanakan sebelumnya kini hadir dengan pongah dan berkuasa dalam dadanya.

...****************...

"Bos... Anda mau saya temani?" tanya pak Dadan, supir pribadi Kenan.

"Tunggu di parkiran saja pak... Saya nggak lama...." ujar Kenan menolak halus.

Pak Dadan tak lagi memaksa.

Dia tahu, majikannya ini perlu waktu sendiri.

Hari ini tepat tujuh tahun lalu, adalah hari kepergian istri tercintanya setelah melahirkan Loli, buah cinta mereka.

Dipemakaman umum, Kenan berjalan dengan sebuah rangkaian bunga lily putih ditangannya.

Ini adalah bunga kesukaan Gayatri, istrinya, ibunda dari Lolita putri tunggalnya.

Setelah berdoa sebentar, Kenan segera meninggalkan area pemakaman karena dirinya harus menghadiri sebuah rapat penting disebuah perusahaan yang menunjuknya sebagai penasehat hukum.

Namun, langkah Kenan terhenti.

Matanya mengenali siluet gadis yang begitu familiar baginya akhir-akhir ini.

Tanpa disengaja, kaki Kenan mengikutinya hingga berhenti disalah satu blok pemakaman berjarak tiga blok dari makam Gayatri.

Cukup lama dia berdiri disana tanpa berniat menggangu kekhusukan gadis yang tak lain adalah Maara.

Cepat-cepat Kenan bersembunyi dibalik pohon kamboja ketika menyadari Maara telah bergerak hendak meninggalkan area makam.

Begitu Maara pergi, entah kenapa Kenan justru berjalan kearah makam dimana tadi Maara duduk bersimpuh.

Ada bisikan kecil didalam hatinya yang mengarahkan kakinya untuk sekedar mengintip nama yang tertulis diatas nisan.

"Ratmi binti Suyatna..." gumam Kenan.

Kepala Kenan tertoleh kebelakang mencari sosok Maara yang tak lagi tampak.

"Apa dia ibu mu Maara?" gumam Kenan lagi.

"Ishhh.... Kamu terlalu banyak ikut campur Kenan..." Kenan menepuk jidatnya sendiri.

Dia lalu pergi meninggalkan area makam.

Meski mobil yang dia tumpangi telah menjauh dari makam, namun nyatanya isi pikiran Kenan tetap tertinggal disana.

Mengingat betapa bersedihnya wajah Maara yang tak sengaja ia lihat.

Kenan tanpa sadar telah berkali-kali menghela nafas berat.

"Apa ada yang mengganggu pikiran anda bos?"tanya pak Dadan melirik dari spion tengah.

Kenan balas menatap pak Dadan.

" Pak.. kalau saya nikah lagi, kira-kira Loli marah nggak ya?"

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!