Selamat datang di kisah cinta rakyat jelata. Yang di tulis di pinggir kota. Tidak perlu mengkhayalkan yang serba wah. Karena ini hanya tulisan receh dari seorang rakyat jelata. Silahkan di baca dan nikmati! Barangkali nasib kita sama.
Alya Rahmawati (18 tahun) gadis manis, baik hati, dan rajin menabung. Demi cita-citanya yang mulia, dia bekerja sebagai petugas tiket di bus kota milik pemerintah kota Semarang.
Pertemuannya dengan seorang laki-laki bernama Gusti Agung Prasetyo (29 tahun) yaitu laki-laki mapan, salah satu Direktur utama di PT. Asia Maju Abadi membuat gadis itu ragu. Haruskah dia membuka kisah cinta baru atau bertahan terbelenggu dengan kisah masa lalunya bersama Mas Rudi (21 tahun) yang entah tiada ujung dan kejelasannya.
Akan aku buktikan kalau cintaku tidak pernah salah. Aku akan tetap menunggu~Alya Rahmawati
Jika ucapan adalah doa, maka setiap hari aku akan berucap, bahwa kamu adalah jodohku~Gusti Agung Prasetyo
Biarkan aku egois untuk memilikimu. Karena hanya aku yang berhak untuk itu~Rudi Setiawan
Bagaimana kisah mereka bergulir, jatuh bangun Alya mengejar cita-citanya, konflik internal didalam lingkungan kerja, dan perjuangan Gusti mendapatkan cinta Alya.
Mampukah Alya lepas dari belenggu kisah masa lalunya bersama mas Rudi???
.
.
.
.
❤️❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifa Mukherjee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9: Dasar Mucikari
Senja menyapa, membuat siapa saja ingin menikmatinya. Sekedar duduk santai di depan rumah sambil ngeteh melepas penat setelah beraktivitas seharian. Atau sekedar jalan- jalan sore bersama istri dan anak. Menjadi rutinitas masyarakat sekitar komplek perumahan elit itu di sore hari.
Hari ini Gusti memilih pulang lebih awal. Selesai menyegarkan diri dan berganti baju.
Dia berjalan duduk di balkon kamarnya. Menatap senja yang seakan menyimpan beribu rahasia. Di pandangnya layar pipih yang dia pegang. Berfikir alasan apa yang bisa di gunakan untuk mendekati gadis pujaannya. Dan tepat sekali, uang kembalian pembelian tiket tempo hari, mungkin bisa membantu dia untuk melancarkan aksinya.
Menekan tombol calling....
Tut...Tut...Tut... Tersambung.
Tapi belum ada jawaban. Dia coba ulangi lagi.
Tut...Tut...Tut...
Tersambung tapi kenapa tidak diangkat? Gumam Gusti.
Klunting...
Satu notifikasi pesan masuk dilayar pipih Gusti.
[Siapa?]
[ Boleh calling aja?]
[ Males, ga kenal]
[ Makanya biar kenal😊]
[ Ndak minat🙄]
Calling....Tut...Tut...Tut...
Di seberang sana Alya terpaksa mengangkat telfon dari nomer yang tidak dia kenal.
" Holla... selamat sore ada yang bisa di bantu?" Suaranya menirukan customer servis dari salah satu operator seluler.
Tersenyum geli, hati Gusti berdesir bahagia walau hanya mendengar suaranya.
" Sore mbak, ini saya yang tempo hari beli tiket bayar pakai uang seratus ribu, ingat? hehe..."
" Oh masnya, maaf mas dari kemarin saya juga nyari mas tapi ga pernah ketemu. Masnya dapat nomer saya dari mana?"
Katanya kemarin ga perlu dikembalikan, sekarang diminta juga kan. Sok banget si. Batin Alya.
" Dari temen kamu."
Siapa yang ngasih nomer aku ya?
" Baguslah mas, kapan kita bisa ketemu?"
Dia ngajak ketemuan langsung. Apa saat itu sebenarnya dia langsung tertarik sama aku? Batin Gusti percaya diri.
" Holla...masih dengarkan? Kita bisa ketemu kapan, aku juga merasa beban masih nyimpen uang kamu!"
Apa? Dia berfikir aku menagih uang kembalian. Memalukan! Terserah yang penting bisa ketemu dulu.
"Oh...kamu ada waktu kapan?"
" Hmmm... bagaimana besok siang jam 1 kita ketemu di Terminal Mangkang aja."
" Apa ga bisa bertemu di tempat lain?"
Dasar aneh, memangnya kita akan berkencan. Cuma mau mengembalikan uang kembalian saja kenapa harus nego tempat.
" Terminal saja ya, saya selesai pelayanan jadi bisa langsung ketemu." Memberikan alasan yang tepat.
" Baiklah, sampai jumpa."
" iya..." Mematikan telfon.
Merebahkan tubuhnya, Alya merasa kakinya pegal-pegal, seharian muter-muter pasar Johar. Dia hanya membeli 3 pasang kaos kaki saja. Bagaimana lagi dia kan ga niat beli apa-apa. Hanya menemani si Vita pucuk beli Ku***g.
Dasar kurang kerjaan. Hehe...
...***...
Pagi-pagi sebelum pelayanan di mulai. Di halte Terminal Mangkang terlihat ramai. Berkumpul para petugas tiketing dan driver yang masih mengantre menunggu gilirannya masing-masing untuk jalan.
" Eh...dasar ya kamu Ariyanto kentir! Bisa-bisanya kamu kasih nomerku ke calo bis malem." Marah-marah sambil memukuli lengan Ariyanto. Yang di pukul walaupun kesakitan tapi malah tertawa terbahak-bahak.
" Hahaha...ga papa kan lumayan dapat fans baru!" Bela Ariyanto.
" Lumayan dengkul kamu, emang aku cewek apaan? Kamu tau kan si Budi punya istri. Aku ga mau nanti kalau ada masalah." Masih terus memukuli Ariyanto.
" Ga masalah asal bisa main aman! Lagian kan lagi ngetren tu pelakor. Masak kamu ga mau ikutan!!!"
" Dasar mulut gila, teman macam apa kamu!"
" Hahaha ampun ta, tinggal blokir aja. Udah sakit semua lengan aku. Gila mukul pakai tangan yang gedenya kayak kaki gajah. Tega banget!"
" Kamu yang tega!" Plakkkkkkk....satu pukulan keras di lengan Aryanto mendarat keras mengakhiri amukan Vita Pucuk.
Alya dan petugas yang lain hanya tertawa dan geleng-geleng melihat pertengkaran mereka.
Tanpa Alya duga kalau dia juga salah satu korban berikutnya.
" Udah capek ributnya? kog berhenti?"
" Kenapa mau ikutan?" tanya Ariyanto.
" Ogah aku cinta damai boskuhhhh" jawab Alya
Tunggu giliranmu Al, bau-baunya laki-laki kemarin sudah tertarik sama kamu! Batin Ariyanto
" Ayok ayok berangkat, malah ngobrol aja!" Ajak pak driver.
" Let's to the go...let's go!" Sorak Alya.
Rutinitas mereka pun berjalan sebagai mana mestinya. Melaju membelah kemacetan kota.
Mengantarkan penumpang sampai tujuan masing-masing.
Setelah selesai pelayanan. Alya kembali ke halte menunggu laki-laki yang kemarin menelfonnya.
Ariyanto menyapa Alya lagi.
" Al, mau kemana?"
" Kepo!"
" Dasar cantik-cantik jutek. Pantes jomblo!" Ejek Ariyanto.
" Males ngomong sama kamu, unfaedah." Cuwek lebih memilih memainkan gawai nya. Ariyanto memilih menjauh dan melanjutkan pekerjaannya.
Sepuluh menit menunggu...
Kemana dia kog ga datang-datang?
Di seberang jalan Gusti turun dari mobilnya, menenteng dua kantong penuh cemilan dan minuman dingin. Yang sebelumnya dia beli di toko Mamamart depan pabriknya.
" Tinggal aja!"
" Siap bos!" Memilih menahan rasa penasaran nya daripada gajinya di potong.
Si bos kenapa kesini lagi ya, bawa makanan kayak kemarin lagi. Bodoh ah!
Berdiri diri di samping Alya. Gusti melepas maskernya. Alya masih asyik dengan gawai nya.
" Hai, udah nunggu lama ya?"
Mendongakkan kepala, Alya agak kaget. Baru kali ini Alya sadar kalau laki-laki yang di temuinya ternyata sangat tampan.
" Masnya yang mau ambil kembalian ya? Ini mas udah aku siapin uangnya." Mengulurkan sejumlah uang kembalian yang rapi terbungkus plastik.
Ariyanto tiba-tiba ikut nimbrung.
" Eh masnya kesini lagi. Al, ini masnya kemarin nyari kamu." Sok kenal sok dekat.
" Iya mas ini baru ketemu." Mengulurkan 2 botol soft drink kepada Ariyanto. " Di minum mas!" Tawarnya sopan.
" Ah...masnya repot-repot lagi kemarin aja belum habis di rumah." Mulutnya menolak tapi tangannya menerima.
Jangan bilang dia yang ngasih nomer hp ku. Dasar ga sopan. Awas aja! Apa maksudnya repot-repot? Jangan bilang dia kemarin di kasih sesuatu sama laki-laki ini. Terus ngasih nomer hp aku ke dia. Awas ya itu namanya memanfaatkan kesempatan berbau kecurangan. Dasar Ariyanto sepertinya dia berbakat menjadi Mucikari. Dasar Mucikari!!! ~ Alya
" Santai mas, aku juga makasih sudah dibantu."
Setelah mendapatkan softdrink Ariyanto menyingkir. Masih tahu diri dia.
" Ini mas di terima uang kembaliannya, maaf saya yang salah ga menyiapkan uang kembalian."
Duduk di samping Alya. Gusti memasang wajah serius. Bagaimana pun dia sudah bertekad mendekati gadis ini.
" Sebenarnya saya kesini bukan bermaksud meminta uang kembalian, tapi saya hanya ingin bertemu kamu. Bolehkah saya mengenal mbaknya lebih jauh? Perkenalkan nama saya Gusti Agung Prasetyo."
Tercekat sontak Alya merasa kaget. Bukan pertama kali ada penumpang yang mengajaknya berkenalan. Dia mengabaikannya. Tapi ini rasanya beda, seperti ada aura keseriusan, lebih dari kata mengenal sebagai teman. Dia laki-laki asing yang tampan dan sopan. Sepertinya dilihat dari penampilannya dia bukan sembarang orang. Baju, celana, sepatu yang dia pakai bukan barang murahan. Tapi kenapa saat itu dia tanya lowongan pekerjaan. Apa di berbohong? Apa dari awal memang dia hanya ingin mendekatiku? Apa aku siap membuka hati? Walau hanya sebatas mengenal rasanya sangat sulit. Berbagai pertanyaan muncul di benak Alya.
" Maksudnya?"
" Saya ingin berkenalan denganmu. Kita mungkin bisa berteman dulu?"
Menghela nafas, Alya belum siap untuk memberi harapan, walaupun sekedar berteman.
" Terima uang ini, saya rasa cukup disini saja!"
" Benarkah? Kukira kau gadis yang ramah ternyata kau sangat jutek ya!" Mengoda Alya.
" Itu hak saya mau bersikap bagaimana, ini uang anda saya permisi mau pulang!" Memaksa Gusti untuk menerima uangnya.
" Tunggu!" teriak Gusti.
Alya yang berdiri dan berjalan cepat meninggalkannya terpaksa berhenti.
" Bawa ini, aku sudah membelinya untukmu, kau tidak boleh menolak!"
" Tidak, terimakasih. Dan tidak usah repot-repot lagi!" Memilih berjalan dan meninggalkannya.
" Sial!!!"
Rasanya ingin membuang saja dua kantong makanan yang dia bawa. Kecewa tentu saja. Belum menyatakan cinta saja sudah di tolak. Belum juga mengenal tapi dia sudah memasang pagar pembatas yang mengerikan. Ternyata dia keras kepala juga. Memilih menyerahkan dua kantong makanan tadi kepada Ariyanto lagi. Untuk apa dibawa pulang. Memalukan.
" Mas ini di makan bareng temen-temennya aja ya!"
" Waduh mas banyak sekali ini, terimakasih ya mas!"
Menerima makanan itu dengan suka cita. Pemberian laki-laki yang sampai sekarang belum dia ketahui namanya. Tapi dia sudah paham maksud dan tujuan laki-laki di depannya.
_
_
_
_
_
_
_
_
Maju tak gentar, aku bertekad menulis demi ke aktifan otak aku! Bagi yang Sudi membaca saya ucapkan terimakasih ☺️☺️☺️☺️
Happy reading 😁
Otore kayak e tetangga satu kecamatan..
Krn di bab atas Ada tempat namanya Tlogosari...
Nuruti ego mulu tuch bocah..
Gedeg juga
OH Tuhan, otak itu apkh fungsinya?????
Tolol
Jangan Berlindung Dari kata anak berbakti klo km sendiri g mo Berjuang... Lemah
Gusti jg msh mau2nya di gituin
Kyk ga Ada cewex lain saja, Berjuang sudah tp klo sepihak yo bego namanya
Berjuang itu mesti 2 belah pihak klo Cmn sepihak yo ajur jum..
Bkn tdk mgk Dia akan gitu kelak..
Ya meski sdh ketebak klo gusti yg Sama alya, Cmn klo head to head rudi VS alya, kmd alya milih rudi ya jatuhnya oon...
Beberapa tahun g ngasih kbr, trs di mna letak tanggung jawabnya? Cowox kyk gini Pantesnya buang ke laut...