Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Perjanjian Baru di Atas Kertas Kontrak
Sangkar Emas Menteng
Nadine mencoba menundukkan wajahnya, menghindari tatapan intens Kyle yang seolah mampu menembus pertahanan dinding esnya dengan mudah.
Sikap defensif ini sebenarnya adalah hal yang paling tidak ingin ia tunjukkan, terutama di hadapan pria yang selalu mengincar setiap titik kelemahannya.
Namun, keheningan di antara mereka berdua justru membuat pandangan menuntut itu terasa semakin sulit untuk diabaikan begitu saja.
Apakah Nadine benar-benar berpikir bahwa dengan menghindari kontak mata, ia bisa menyelamatkan dirinya dari dominasi pria ini?
Tentu saja tidak, karena Kyle bukanlah tipe orang yang akan membiarkan lawan bicaranya lolos dari jeratan intimidasi sesederhana itu.
"Jika Anda hanya ingin membahas masalah keamanan, silakan berikan draf tertulisnya besok pagi di ruang kerja, jangan mengunci saya di dalam kamar seperti ini."
Suara Nadine terdengar cukup tegas, meskipun ia harus berjuang keras menahan getaran gugup yang mulai merayap di dadanya.
Sangat konyol jika mereka harus membahas urusan operasional bisnis di tempat privat yang seharusnya tidak tersentuh oleh ego pekerjaan masing-masing.
Ia berharap ancaman formalitas pekerjaan ini bisa membuat sang suami sedikit mundur dan memberinya ruang gerak yang layak.
Bagaimanapun juga, profesionalisme adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa untuk melindungi harga dirinya yang mulai terusik.
Kyle tidak membiarkan Nadine pergi begitu saja, ia justru memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan secara sengaja.
Tindakan fisik yang tiba-tiba ini sontak menghentikan aliran pikiran Nadine yang sedang menyusun rencana pelarian berikutnya.
Kedekatan ini terasa begitu intim, memaksa Nadine untuk menyadari keberadaan fisik suaminya yang begitu kokoh dan tak tergoyahkan.
Sungguh sebuah taktik yang luar biasa, dirancang khusus untuk mengacaukan konsentrasi terbaik yang dimiliki oleh seorang wanita mandiri.
Pria itu tampaknya sangat menikmati reaksi terkejut yang tertangkap jelas di dalam sepasang manik mata istrinya.
"Saya lebih suka membahasnya di tempat yang tenang, di mana tidak ada gangguan dari urusan angka-angka yang selalu Anda utamakan."
Kata-kata itu meluncur dengan intonasi yang sangat lambat, terdengar seperti sebuah peringatan halus sekaligus ejekan yang disamarkan dengan rapi.
Kyle seolah ingin menegaskan bahwa dunia Nadine yang penuh dengan perhitungan nominal tidak akan pernah berlaku di dalam kamar tidur mereka.
Apakah pria ini memang berniat menyingkirkan semua topeng profesionalisme yang selama ini menjadi perisai andalan Nadine?
Sikap keras kepala sang suami benar-benar mulai memancing kemarahan yang sejak tadi berusaha diredam dengan logika dingin.
"Tempat ini bukanlah ruang diskusi profesional, Pak Kyle, silakan segera menyingkir atau saya akan menelepon tim hukum saya sekarang juga."
Panggilan formal yang kembali disuarakan oleh Nadine bertujuan untuk menarik garis batas yang jelas di antara status hubungan mereka.
Nadine bahkan sudah meraba saku pakaiannya, bersiap menunjukkan bahwa ancaman tentang pengacara pribadinya bukan sekadar gertakan kosong.
Ia tahu bahwa menggunakan jalur hukum adalah satu-satunya cara rasional untuk menghadapi pria yang tidak mengenal kata kompromi ini.
Namun, apakah gertakan itu akan mempan pada sosok yang memegang kendali penuh atas kehidupan mereka berdua saat ini?
Kyle tertawa pelan, sebuah suara bariton yang terdengar sangat langka dan penuh dengan kesan jahil di telinga Nadine.
Itu bukanlah tawa kemenangan yang meremehkan, melainkan sebuah respons murni atas kelucuan dari keputusasaan sang istri.
Suara rendah tersebut terdengar begitu mengintimidasi, sekaligus menciptakan getaran asing yang merayap di sepanjang saraf punggung Nadine.
Sangat menjengkelkan melihat bagaimana pria ini bisa tetap tenang dan santai di tengah badai kemarahan yang sedang membakar diri Nadine.
"Tim hukum Anda tidak akan bisa melakukan apa pun di dalam rumah saya, Nadine, karena di sini hukum yang berlaku adalah hasil kesepakatan kita berdua."
Pernyataan penuh percaya diri itu terlontar begitu saja, menghancurkan seluruh rencana pertahanan hukum yang baru saja disusun di dalam kepala Nadine.
Kyle mengingatkan secara tidak langsung tentang isi perjanjian pernikahan mereka yang memang memberikan wewenang besar bagi sang kepala keluarga.
Tidak ada satu pun pengacara di luar sana yang cukup bodoh untuk mencampuri urusan rumah tangga dari seorang penguasa bisnis sekelas dirinya.
Kenyataan pahit itu menghantam kesadaran Nadine, memperjelas posisi hukumnya yang ternyata sangat lemah di bawah atap kediaman ini.
(Dia benar-benar semakin licik, dia menggunakan wewenang pemilik rumah untuk mengintimidasi saya di setiap kesempatan.)
Nadine mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menyadari posisi tawarnya yang terus merosot tajam di hadapan suaminya sendiri.
||||
Nadine mencoba menggeser tubuhnya ke samping, namun pergerakannya langsung diblokir kembali oleh posisi tangan Kyle yang sangat presisi.
Refleks pria itu begitu mengagumkan, seolah ia sudah bisa membaca setiap sudut arah pelarian yang akan diambil oleh sang istri.
Dengan satu gerakan efisien, tubuh kekar Kyle kembali menutup sela sempit yang hendak dimanfaatkan oleh Nadine untuk menyelinap pergi.
Kurungan fisik ini terasa begitu nyata, membuat Nadine menyadari perbedaan kekuatan yang sangat kontras di antara mereka berdua.
Setiap upaya untuk menghindar hanya akan membuat posisi tubuh mereka menjadi semakin rapat dan berbahaya bagi ketenangan hatinya.
"Apa yang sebenarnya Anda inginkan, Pak Kyle? Jika ini tentang uang, saya bisa memberikan kompensasi ekstra untuk pengamanan tambahan tersebut."
Pertanyaan itu terlontar sebagai bentuk keputusasaan, sebuah upaya terakhir untuk membawa kembali perundingan ini ke ranah bisnis yang dinilainya lebih adil.
Nadine berpikir bahwa setiap pria di dunia ini, sekaya apa pun mereka, pasti memiliki titik harga yang bisa dinegosiasikan dengan nominal angka.
Jika masalah ini bisa diselesaikan dengan beberapa digit angka di atas kertas, maka ia akan dengan senang hati membayar harga kebebasannya sendiri.
Namun, ia tampaknya lupa bahwa pria di hadapannya bukanlah tipe pebisnis biasa yang bisa dibeli dengan mudah menggunakan aset materi.
Kyle menatap Nadine dengan sorot mata yang mendadak serius, membuang jauh-jauh kesan bercanda yang sempat ia tunjukkan tadi.
Kehangatan tipis yang sempat muncul dari tawanya beberapa detik lalu menguap tanpa bekas, digantikan oleh ekspresi kaku yang sangat familier.
Sorot matanya kini begitu menusuk, menyiratkan kekecewaan mendalam atas cara Nadine yang selalu menilai segala sesuatu berdasarkan uang semata.
Perubahan dinamika emosi ini membuat atmosfer di sekitar mereka langsung terasa begitu tegang dan berat untuk dihadapi oleh Nadine.
Mengapa pria ini harus terlihat terluka hanya karena dirinya menawarkan kompensasi finansial yang sangat logis dalam dunia bisnis?
"Saya tidak menginginkan uang Anda, Nadine, saya hanya menginginkan kepastian bahwa Anda tidak akan lagi menempatkan diri Anda dalam risiko demi ego masa lalu."
Suara Kyle terdengar sangat tegas, tanpa ada sedikit pun celah untuk ditawar atau dinegosiasikan ulang oleh pihak mana pun.
Kalimat tersebut menghantam tepat pada sasaran, menelanjangi motif tersembunyi yang selama ini Nadine bungkus dengan alasan profesionalitas kerja.
Sangat menjengkelkan ketika menyadari bahwa pria ini mampu melihat ke dalam lubang terdalam dari jiwanya yang selalu coba ia sembunyikan.
Kyle tampaknya sudah sangat lelah melihat keras kepalanya sang istri yang selalu mengabaikan keselamatan diri sendiri demi sebuah pembuktian diri.
"Ego saya tidak ada hubungannya dengan Heyden, saya hanya ingin menyelesaikan masalah yang menjadi tanggung jawab saya sendiri."
Nadine langsung menyahut dengan nada defensif, tidak ingin nama dari masa lalunya itu dijadikan senjata untuk menyudutkan posisinya sekarang.
Penyebutan nama itu seolah-olah membuka kembali luka lama yang selama ini sudah ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan kesibukan kerja.
Ia merasa sangat tersinggung karena Kyle menganggap keputusannya yang berisiko ini hanya didasari oleh emosi masa lalu terhadap pria lain.
Apakah suaminya ini tidak bisa melihat bahwa ia hanya ingin menjadi sosok mandiri yang bertanggung jawab atas konsekuensi tindakannya sendiri?
Kyle menghela napas panjang, lalu perlahan menjauhkan wajahnya dan memberikan ruang bagi Nadine untuk bernapas dengan lebih lega.
Pria itu sepertinya menyadari bahwa tekanan fisik yang terlalu intens hanya akan membuat pertahanan Nadine semakin mengeras seperti batu.
Dengan menurunkan sedikit tensi ketegangan, ia memberikan kesempatan bagi logika dingin istrinya untuk kembali bekerja secara objektif.
Meskipun begitu, jarak aman yang tercipta ini sama sekali tidak mengurangi wibawa dominan yang terus dipancarkan oleh sosok sang suami.
"Mulai malam ini, setiap keputusan yang menyangkut keamanan pribadi Anda harus disetujui oleh saya terlebih dahulu sebelum Anda melangkah keluar dari gerbang Menteng."
Dekret otoriter ini diucapkan dengan sangat tenang, namun memiliki dampak yang setara dengan sebuah vonis pengadilan yang tidak bisa dibanding.
Bagi Nadine, ini adalah sebuah pembatasan mutlak terhadap ruang gerak pribadinya yang selama ini tidak pernah diintervensi oleh siapa pun.
Gerbang kediaman mewah di kawasan Menteng itu kini bukan lagi sekadar batas fisik, melainkan simbol dari sangkar emas yang baru saja dikunci dari luar.
Aturan baru ini jelas akan mempersulit Nadine untuk bergerak bebas menemui relasi bisnisnya tanpa sepengetahuan sang suami.
Nadine memutar bola matanya dengan kesal, meskipun ia sadar bahwa argumen pria itu memang didasarkan pada logika keamanan yang cukup masuk akal.
Otak analitisnya harus mengakui bahwa berada di bawah perlindungan penuh dari jaringan keamanan Kyle adalah pilihan paling rasional saat ini.
Namun, mengakui kebenaran argumen musuhnya adalah hal yang sangat melukai harga diri tingginya sebagai seorang profesional independen.
(Sangat kaku, sangat otoriter, dan sangat merusak sistem otonomi kerja saya yang sudah berjalan dengan sangat baik.)
Keluhan batin itu terus bergema di dalam kepalanya, meratapi hilangnya kebebasan mutlak yang selama ini ia perjuangkan dengan susah payah.
Bagaimana ia bisa menjalankan bisnisnya dengan efisien jika setiap langkah taktisnya harus melalui meja birokrasi pribadi dari suaminya sendiri?
Kyle benar-benar telah menyusup ke dalam setiap aspek kehidupannya, merusak keteraturan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
"Dan jika saya tidak menyetujui aturan otoriter baru yang Anda buat ini?"
Nadine mengangkat dagunya tinggi-tinggi, mencoba melempar tantangan terakhir untuk menguji batas kesabaran dari sang penguasa rumah.
Ia ingin melihat apakah pria es ini benar-benar memiliki rencana cadangan untuk memaksakan kehendak pribadinya jika ia menolak keras.
"Maka saya akan membekukan seluruh dana operasional rumah tangga yang Anda kelola hingga Anda bersedia menandatangani amandemen kontrak tersebut."
Ancaman itu dijatuhkan dengan nada yang sangat datar, seolah-olah ia hanya sedang membacakan keputusan rapat pemegang saham yang biasa saja.
Kyle tahu persis bahwa memotong aliran dana operasional adalah cara tercepat untuk melumpuhkan seluruh pergerakan taktis dari yayasan sosial Nadine.
Pria itu tidak perlu melakukan kekerasan fisik, cukup dengan memutar tombol kendali keuangan untuk membuat sang istri berlutut tanpa daya.
Ini adalah sebuah langkah skakmat yang sangat dingin, dieksekusi dengan ketenangan khas seorang penguasa pasar modal papan atas.
Nadine ternganga tidak percaya mendengar ancaman yang paling mematikan bagi seluruh kestabilan finansial pribadinya.
Bibirnya sedikit terbuka tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri dari serangan finansial yang begitu telak ini.
Seluruh rencana cadangan yang telah ia siapkan mendadak hancur berkeping-keping di hadapan realitas kekuasaan kapital yang dimiliki oleh suaminya.
(Dia benar-benar tahu bagaimana cara menyerang titik kelemahan saya dengan tingkat presisi yang sangat menyakitkan.)
Menyerang sistem pendanaan adalah taktik yang sangat efektif, terutama bagi seorang wanita yang menjunjung tinggi kemandirian seperti dirinya.
Setiap langkah defensif yang ia coba lakukan selalu berujung pada jalan buntu yang sudah diprediksi sebelumnya oleh otak brilian Kyle.
Kyle tersenyum penuh kemenangan, merasa sangat puas karena sekali lagi berhasil menaklukkan keras kepalanya sang istri di depan meja perundingan.
Senyuman tipis itu terlihat begitu menyebalkan di mata Nadine, menunjukkan dominasi tanpa batas dari seorang pemenang sejati.
Bagi Kyle, menaklukkan keliaran istrinya adalah sebuah seni tersendiri yang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi dan kalkulasi yang sangat matang.
Nadine terpaksa mengangguk pelan, menyadari bahwa ia tidak memiliki pilihan lain selain tunduk pada aturan baru yang diciptakan oleh suaminya.
Gerakan kepalanya yang sangat lambat itu terasa seperti sebuah kekalahan terbesar dalam sejarah kehidupan pribadi maupun karier profesionalnya.
Pria es itu benar-benar master dalam memainkan emosi Nadine, menggunakan uang sebagai umpan sekaligus penjara bagi wanita yang paling ia inginkan untuk tetap berada di sisinya.