Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.
Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!
kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Mungkinkah ?
Malam perlahan kembali menyelimuti Kota Yunfeng. Cahaya matahari yang sebelumnya memenuhi langit kini telah berganti dengan sinar rembulan keperakan yang menggantung tinggi di angkasa, sementara ribuan lampu kristal yang dipasang di sepanjang jalan utama menyala hampir bersamaan, memancarkan cahaya lembut yang membuat seluruh kota tampak seperti negeri di atas awan.
Keramaian justru semakin meningkat dibanding siang hari.
Para kultivator dari berbagai wilayah memenuhi jalanan, sebagian memasuki rumah lelang yang baru saja dibuka, sebagian lagi memenuhi restoran, rumah teh, hingga pasar malam yang menjual berbagai sumber daya kultivasi. Aroma obat-obatan spiritual, daging monster roh panggang, serta dupa penenang jiwa bercampur menjadi satu, menciptakan suasana khas kota para kultivator yang sangat berbeda dengan dunia asal Nova.
Di lantai dua Penginapan Awan Abadi, Nova berdiri sendirian di balkon kamarnya sambil memandangi pemandangan Kota Yunfeng yang masih dipenuhi aktivitas. Tatapannya tenang, tetapi pikirannya terus bekerja menyusun langkah berikutnya.
Ia tidak mungkin selamanya bergantung kepada rombongan Lin Xue, cepat atau lambat, mereka akan berpisah.
Sebelum itu terjadi, ia harus memperoleh sebanyak mungkin informasi mengenai Planet Galastos, mulai dari peta wilayah, kekuatan-kekuatan besar yang menguasai setiap kawasan, hingga berbagai berita mengenai kejadian-kejadian besar yang mungkin berkaitan dengan keberadaan Zira.
"Besok..." gumam Nova pelan.
"Aku harus mulai mencari Aula Informasi."
Di dalam lautan jiwa, Tian Long menganggukkan kepala pelan.
"Itu keputusan yang tepat."
"Selain Aula Informasi, kau juga perlu mengunjungi pasar kultivator."
Nova sedikit mengernyit. "Untuk membeli sesuatu?"
"Bukan."
Naga Suci Primordial itu tersenyum tipis.
"Untuk mengetahui nilai sebenarnya dari sumber daya yang kau miliki."
Nova langsung memahami maksudnya. Selama ini ia hanya mengetahui bahwa Batu Roh, Kristal Energi Primordial, maupun berbagai harta warisan Batara Agung sangat berharga.
Namun seberapa berharganya di Planet Galastos... Ia sama sekali belum mengetahuinya.
Kalau sampai ia mengeluarkan benda yang terlalu berharga di depan umum, bukan tidak mungkin seluruh Kota Yunfeng akan berubah menjadi medan perburuan terhadap dirinya.
Memikirkan hal itu, Nova hanya menghela napas pelan.
"Aku benar-benar harus lebih berhati-hati."
***
Sementara itu, di kediaman megah Keluarga Bai yang berdiri di pusat Kota Yunfeng, suasana jauh berbeda.
Di dalam sebuah aula luas yang dipenuhi ukiran naga dan burung phoenix, beberapa tetua keluarga tengah duduk mengelilingi sebuah meja panjang dari batu giok putih.
Di ujung meja, duduk seorang pria paruh baya berwajah tegas dengan jubah putih keemasan yang memancarkan wibawa luar biasa.
Dialah Bai Zhenghong, Patriark Keluarga Bai sekaligus salah satu tokoh paling berpengaruh di Kota Yunfeng.
Seorang pria berpakaian hitam berlutut hormat di hadapannya.
"Patriark."
"Laporan mengenai pemuda bernama Nova telah selesai kami kumpulkan."
Bai Zhenghong membuka matanya perlahan.
"Bicaralah."
"Pemuda itu memasuki Kota Yunfeng bersama kelompok pengembara Lin Xue."
"Kultivasinya berada pada Ranah Mortal Langit Bintang Satu Awal."
"Namun..."
Utusan itu berhenti sejenak.
"Namun apa?"
"Ia mampu membunuh Monster Bayangan Bertulang Besi hanya dengan dua ayunan pedang."
Ruangan itu langsung dipenuhi keheningan. Beberapa tetua saling berpandangan.
"Itu mustahil."
"Sangat mustahil."
"Sekalipun seorang jenius sekte besar, melompati tiga tingkatan bukan perkara mudah."
Pria berpakaian hitam itu kembali melanjutkan.
"Selain itu..."
"Tetua Xu dari Paviliun Awan Langit bahkan menawarkan sebuah janji kepada pemuda tersebut."
Kali ini bahkan Bai Zhenghong sedikit mengangkat alisnya.
"Tetua Xu?"
"Ya."
"Beliau mengakui bakat pemuda itu secara langsung."
Patriark Keluarga Bai perlahan mengetukkan jarinya ke atas meja.
Sorot matanya berubah semakin dalam.
"Cukup menarik."
Salah seorang tetua yang duduk di sisi kanan segera bertanya.
"Apakah Patriark ingin mengundangnya?"
Bai Zhenghong tidak langsung menjawab. Beberapa saat kemudian, senyum tipis akhirnya muncul di sudut bibirnya.
"Tidak usah terburu-buru."
"Orang seperti itu..."
"Tidak bisa didekati dengan cara biasa."
Pada saat yang sama, di halaman belakang kediaman keluarga tersebut, Bai Qingxue sedang berlatih pedang seorang diri.
Setiap ayunan pedangnya menciptakan jejak energi dingin yang membelah udara, membuat dedaunan di sekitarnya perlahan berubah menjadi kristal es sebelum akhirnya hancur menjadi serpihan-serpihan kecil.
Namun gerakannya yang biasanya sempurna malam itu tampak sedikit kacau. Beberapa kali pikirannya kembali mengingat sosok Nova.
Hal itu membuat ayunan pedangnya kehilangan ritme.
"Tidak fokus seperti ini bukan dirimu."
Suara lembut terdengar dari belakang. Bai Qingxue segera menghentikan pedangnya lalu menoleh.
"Ayah."
Bai Zhenghong berjalan perlahan menghampirinya sambil tersenyum tipis.
"Kau sedang memikirkan pemuda yang menyelamatkan Kota Yunfeng itu?"
Wajah Bai Qingxue sedikit memerah.
"Ayah..."
Pria paruh baya itu hanya tertawa pelan.
"Sudah lama Ayah tidak melihatmu kehilangan konsentrasi saat berlatih."
Bai Qingxue menundukkan pandangannya beberapa saat sebelum akhirnya berkata jujur.
"Aku hanya merasa..."
"Pemuda itu berbeda."
Bai Zhenghong menganggukkan kepala perlahan.
"Perasaanmu tidak salah."
"Karena bahkan Ayah pun tidak mampu melihat asal-usulnya."
Tatapan Bai Qingxue sedikit berubah.
"Benarkah?"
"Ya."
"Dan justru orang-orang seperti itulah yang biasanya akan mengubah arah sejarah."
Angin malam kembali berembus pelan melewati halaman keluarga Bai.
***
Sementara itu, tidak jauh dari sana, Nova yang sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya mulai menjadi perhatian banyak kekuatan besar, masih berdiri menikmati suasana malam Kota Yunfeng.
Baginya, hari esok hanyalah awal dari pencarian panjang.
Namun bagi takdir... Hari esok akan menjadi awal dari pertemuan-pertemuan baru yang perlahan menyeret namanya ke dalam pusaran besar dunia kultivasi Planet Galastos.
Keesokan paginya, ketika sinar mentari baru saja muncul di balik pegunungan yang mengelilingi Kota Yunfeng, seluruh kota telah kembali dipenuhi kesibukan. Jalan-jalan utama yang semalam masih diterangi lampu kristal kini kembali ramai oleh para kultivator, pedagang, serta kereta spiritual yang berlalu-lalang tanpa henti.
Suara tawar-menawar dari pasar kultivator terdengar bersahut-sahutan, berpadu dengan dentingan palu dari bengkel pandai besi spiritual yang tengah menempa senjata, menciptakan suasana hidup yang memperlihatkan betapa makmurnya kota tersebut.
Di ruang makan Penginapan Awan Abadi, Nova duduk bersama rombongan Lin Xue menikmati sarapan sederhana. Tentu saja, sebagian besar makanan yang tersaji berasal dari bahan-bahan spiritual, sementara semangkuk mi instan buatan Nova kembali menjadi incaran Yan Mei yang sejak pagi sudah duduk di sampingnya dengan senyum lebar.
"Aku masih tidak percaya makanan dari duniamu bisa membuatku ketagihan seperti ini," keluh Yan Mei sambil menyeruput kuah hangat hingga tandas. "Kalau suatu hari kau membuka kedai makanan di Kota Yunfeng, aku yakin kau bisa lebih kaya daripada para alkemis."
Gu Shen yang duduk di seberangnya mengangguk mantap. "Aku setuju. Bahkan daging monster roh yang mahal belum tentu bisa mengalahkan rasa makanan ini."
Nova hanya tertawa kecil mendengar pujian mereka. Suasana yang semula canggung kini terasa jauh lebih akrab dibanding saat pertama kali mereka bertemu di hutan spiritual.
Meskipun demikian, Lin Xue tetap mempertahankan sikap tenangnya. Sesekali wanita itu melirik Nova, seolah masih berusaha memahami siapa sebenarnya pemuda misterius yang kini duduk bersama mereka.
Setelah sarapan selesai, Lin Xue meletakkan cangkir tehnya sebelum berkata, "Hari ini kami akan menjual beberapa bahan monster roh hasil perjalanan sebelumnya, lalu membeli persediaan pil dan jimat untuk misi berikutnya. Kalau kau ingin mencari Aula Informasi atau membeli peta Planet Galastos, kami bisa mengantarmu sampai kawasan pusat kota."
Nova menganggukkan kepala tanpa ragu. "Terima kasih. Itu memang tujuan utamaku."
Di dalam lautan jiwa, Tian Long tersenyum tipis.
"Perhatikan baik-baik semua yang kau lihat nanti. Dunia kultivasi bukan hanya tentang bertarung. Informasi sering kali jauh lebih berharga daripada kekuatan."
Nova memahami maksud ucapan itu. Selama berada di Bumi, ia selalu bergerak berdasarkan petunjuk Zira maupun Tian Long. Namun kini ia berada di dunia yang benar-benar asing. Setiap keputusan harus dipikirkan matang-matang agar tidak terjerumus ke dalam masalah yang belum mampu ia hadapi.
Tak lama kemudian, rombongan itu meninggalkan penginapan dan berjalan menuju kawasan pusat Kota Yunfeng. Semakin dekat ke pusat kota, semakin megah bangunan-bangunan yang berdiri di sepanjang jalan. Paviliun-paviliun besar menjulang tinggi, sementara berbagai bendera sekte berkibar di atas atap-atap bangunan, menunjukkan pengaruh masing-masing kekuatan.
Namun ketika mereka baru saja melewati sebuah persimpangan utama...
Langkah Nova perlahan terhenti, entah mengapa, dadanya tiba-tiba berdenyut pelan.
Bukan karena bahaya, bukan pula karena aura seorang ahli. Melainkan sebuah perasaan yang sangat familiar.
Ia menoleh perlahan ke arah keramaian di seberang jalan. Di antara ratusan orang yang berlalu-lalang, sesosok wanita berjubah putih tampak berjalan perlahan sebelum menghilang memasuki sebuah paviliun besar.
Nova tidak sempat melihat wajahnya dengan jelas.
Namun entah mengapa... Aura yang terpancar dari sosok itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
"Mustahil..."
gumam Nova lirih.
Di dalam lautan jiwa, Tian Long yang semula tenang tiba-tiba membuka kedua matanya lebar.
"Anak kecil..."
"Jangan bilang..."
Tatapan Nova masih terpaku ke arah paviliun megah itu.
Sementara di atas gerbang bangunan tersebut, sebuah plakat batu giok memancarkan cahaya keemasan dengan tiga huruf besar yang membuat pupil Nova perlahan mengecil.
Paviliun Seribu Ramalan. Dan pada saat yang sama... Sosok berjubah putih itu perlahan menoleh ke belakang.