NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Tamu Tak Diundang

Tangan Bu Sumini membeku beberapa sentimeter dari wajah Nadhira.

Seorang pria tinggi berdiri di ambang pintu kamar. Kemeja putihnya rapi tanpa satu lipatan pun, begitu bertolak belakang dengan dinding kusam dan pecahan gelas di lantai. Wajahnya datar. Hanya sorot matanya yang bergerak dari telapak Bu Sumini yang terangkat, pergelangan Nadhira yang memerah, lalu Alif yang gemetar dalam pelukan ibunya.

Di belakangnya ada pria lain membawa map hitam dan bingkisan berlogo Pradipta Group.

Bu Sumini buru-buru menurunkan tangan. "Pak Rayhan?"

Nama itu menarik satu potongan ingatan ke permukaan. Rayhan Pradipta, CEO Pradipta Group dan mantan atasan Hendra. Nadhira pernah melihat wajahnya dalam foto acara perusahaan, selalu berada di tengah barisan pejabat dengan ekspresi yang sama sulit dibaca.

Mengapa pria seperti itu datang ke rumah sempit ini?

Rayhan tidak menjawab pertanyaan Bu Sumini. "Apa yang terjadi?"

Suaranya tidak keras. Namun, dua tetangga yang mengintip dari ruang tengah langsung menyingkir dari pintu.

"Tidak ada apa-apa." Agus bergerak menutupi meja. "Ini urusan keluarga."

Pria di belakang Rayhan melirik pecahan gelas. "Urusan keluarga biasanya tidak membuat orang yang baru pulang dari IGD hampir dipukul lagi."

Agus menegang. "Anda siapa?"

"Gilang Mahendra." Ia tersenyum tipis tanpa kehangatan. "Asisten Pak Rayhan."

Bu Sumini mendadak mengusap dada. Matanya memerah dengan kecepatan yang mengagumkan.

"Pak Rayhan, untung Anda datang." Suaranya berubah parau. "Tolong nasihati menantu saya. Sejak Hendra meninggal, dia seperti bukan dirinya sendiri. Dia mau mengambil semua harta anak saya, membawa cucu saya pergi, bahkan barusan menendang meja untuk menyerang kami."

Nadhira tidak menyela. Ia hanya mengusap punggung Alif, merasakan napas bocah itu masih tersendat di lehernya.

Rayhan memandang lantai. Pecahan gelas tersebar menjauhi kaki meja, bukan mengarah kepada Bu Sumini. Ujung pulpen tergeletak dekat sandal Agus. Di meja, halaman tanda tangan pada surat kuasa masih terbuka.

"Kalau Ibu yang diserang," katanya, "mengapa tangan Ibu yang terangkat?"

Mulut Bu Sumini terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Agus menyambar, "Dia menghina Ibu saya. Saya hanya meminta dia menyelesaikan dokumen peninggalan adik saya."

"Dengan memegang tangannya?"

"Dia keras kepala."

"Itu bukan jawaban."

Tiga kalimat pendek tersebut membuat wajah Agus mengeras. Namun, ia tidak berani maju. Jas mahal memang tidak dikenakan Rayhan pagi itu, tetapi kewibawaan pria tersebut memenuhi kamar lebih kuat daripada ancaman apa pun yang sejak tadi dilontarkan Agus.

Nadhira menggeser Alif ke satu sisi pinggang. Gerakan itu membuat rusuknya nyeri. Ia menarik napas pelan, lalu menatap Rayhan.

"Maaf, Anda datang untuk apa?"

Pertanyaan itu membuat Gilang mengangkat alis. Mungkin ia mengira Nadhira akan langsung meminta perlindungan. Rayhan justru menatapnya lebih saksama.

"Perusahaan menerima laporan bahwa keluarga Hendra belum mendapat penjelasan lengkap mengenai santunan dan kepemilikan sahamnya," jawab Rayhan. "Saya datang untuk memastikan semuanya diterima pihak yang berhak."

Bu Sumini segera menyahut, "Saya ibunya. Berikan saja kepada saya. Nanti saya yang atur."

"Ahli waris tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat meminta."

Rayhan menoleh kepada Gilang. Sang asisten membuka map hitam dan mengeluarkan sebuah amplop tersegel.

"Data awal mencantumkan Nadhira sebagai istri sah dan Alif sebagai anak kandung Hendra," lanjut Rayhan. "Pembagian final harus melalui proses yang benar. Tidak boleh ada pengalihan sebelum hak tiap ahli waris diperiksa."

Nadhira merasakan tubuh Agus bergerak gelisah di dekat meja.

"Surat itu tidak ada hubungannya dengan perusahaan Anda," katanya.

"Kalau begitu, Anda tidak keberatan bila saya membacanya."

Agus langsung meraih dokumen. Nadhira lebih cepat. Ia mengambil dua lembar yang terlepas dari map cokelat, lalu menyodorkannya kepada Rayhan.

Ujung jemari mereka tidak bersentuhan. Rayhan menerima kertas itu dengan hati-hati, seolah memahami bahwa satu gerakan mendadak saja bisa membuat Alif kembali menangis.

Tatapannya bergerak dari judul surat sampai nama penerima kuasa. Semakin lama ia membaca, semakin dingin wajahnya.

"Gilang."

Gilang sudah mengeluarkan ponsel. Ia memotret halaman pertama dan halaman tanda tangan.

"Hei!" Agus hendak merebut kertas tersebut. "Kalian tidak boleh sembarangan mengambil foto dokumen keluarga!"

Rayhan hanya mengangkat mata. Langkah Agus berhenti sendiri.

"Dokumen ini meminta seorang perempuan yang baru mengalami cedera kepala menyerahkan seluruh wewenang atas saham mendiang suaminya," kata Rayhan. "Tidak ada penjelasan nilai saham, tidak ada saksi independen, dan tidak ada penasihat hukum untuk pihak yang memberi kuasa. Anda ingin menjelaskan bagian mana yang wajar?"

Agus mengepalkan tangan. "Hendra adik saya. Saya yang paling tahu usahanya."

"Kalau demikian, tunjukkan catatan kepemilikan dan selesaikan melalui notaris. Bukan di kamar orang sakit."

Bu Sumini mulai menangis. Kali ini ia benar-benar mengeluarkan air mata, meski tangisnya masih diarahkan ke ruang tengah agar para tetangga mendengar.

"Semua orang menuduh kami serakah. Padahal saya hanya menjaga peninggalan anak saya. Janda ini berubah sejak Hendra meninggal. Dia tidak menghormati saya lagi."

Alif mengangkat wajah dari bahu Nadhira. "Nenek dorong Mama."

Kalimatnya pendek dan cadel karena tangis, tetapi cukup jelas.

Ruangan kembali diam.

Bu Sumini menatap cucunya. "Alif, jangan bohong!"

Bocah itu tersentak dan segera menyembunyikan wajah.

Nadhira memeluknya lebih erat. "Jangan bentak anak saya."

Bu Sumini maju satu langkah. "Dia cucuku!"

Rayhan berpindah posisi. Hanya satu gerakan kecil, tetapi kini tubuhnya berada di antara Bu Sumini dan Nadhira.

"Anak itu ketakutan," katanya. "Mundur."

"Pak Rayhan tidak tahu sifat menantu saya."

"Saya tahu apa yang saya lihat saat masuk."

Bu Sumini menggigit bibir. Tatapannya berpindah antara Rayhan dan pintu, menghitung berapa banyak orang yang menyaksikan kegagalannya.

Gilang menutup map hitam. "Bu Nadhira perlu beristirahat. Kita bisa membahas dokumen perusahaan setelah kondisinya diperiksa kembali."

Itu pertama kalinya pagi ini seseorang menyebut kebutuhan Nadhira seolah hal tersebut penting.

Tenggorokannya mengencang. Ia menunduk dan pura-pura merapikan kaus Alif agar tak seorang pun melihat perubahan wajahnya.

Rayhan mengembalikan dua lembar surat kepadanya. "Simpan salinannya. Jangan tanda tangani dokumen apa pun sebelum dibaca orang yang memahami akibat hukumnya."

Nadhira mengangguk. "Saya mengerti."

"Kondisi Anda?"

"Masih pusing, tetapi saya sadar penuh."

Rayhan melirik lebam di pipinya. "Siapa yang membawa Anda ke IGD?"

"Tetangga."

"Bukan keluarga?"

Nadhira tidak menjawab. Keheningan itu sudah cukup.

Gilang berdeham kecil. "Ray, sebaiknya mereka keluar dulu."

Bu Sumini menoleh tajam ketika mendengar sapaan akrab itu, seakan baru sadar bahwa Gilang bukan sekadar staf yang bisa ia abaikan.

Rayhan menghadap Agus. "Bawa Bu Sumini keluar dari kamar. Sekarang."

"Ini rumah kami," protes Agus.

"Dan Nadhira baru saja menyatakan tidak mengizinkan kalian berada di kamarnya." Rayhan menyerahkan ponselnya kepada Gilang tanpa melepaskan tatapan. "Kalau Anda ingin polisi yang menjelaskan batasnya, kami bisa menelepon."

Agus menatap Nadhira dengan kebencian terbuka. "Kamu merasa menang karena berlindung di belakang orang kaya?"

Nadhira mendekap Alif dan menjawab tenang, "Saya hanya tidak membiarkan kamu memegang tangan saya lagi."

Bu Sumini masih ingin membantah, tetapi Agus menarik sikunya. Mereka keluar sambil membawa map cokelat. Dari ruang tengah terdengar Bu Sumini mengusir dua tetangga, disusul bunyi pintu depan dibanting.

Kesunyian yang tertinggal terasa asing.

Gilang meletakkan bingkisan perusahaan dan amplop santunan di atas meja. Kemudian ia mengambil sapu kecil di balik pintu dan mulai mengumpulkan pecahan gelas.

"Om bersihin," katanya kepada Alif. "Jangan turun dulu, ya. Tajam."

Alif tidak menjawab, tetapi matanya mengikuti gerakan Gilang. Tangisnya sudah berhenti.

Nadhira menatap Rayhan. "Terima kasih."

"Saya datang terlambat."

"Tetap saja Anda datang."

Ada jeda singkat. Untuk pertama kalinya, ketegasan di wajah Rayhan tampak retak oleh sesuatu yang tidak berhasil Nadhira baca. Mungkin rasa bersalah karena salah satu mantan karyawannya meninggalkan keluarga dalam keadaan seperti ini. Mungkin hanya tanggung jawab seorang pemimpin perusahaan.

Ia tidak mau menganggapnya lebih dari itu.

Setelah Gilang memastikan lantai aman, kedua pria tersebut bersiap pergi. Rayhan mengambil satu kartu nama dari dompetnya, membaliknya, lalu menulis nomor dengan tinta hitam.

Kartu itu diletakkannya di atas surat pulang IGD, tepat di samping tangan Nadhira.

"Kalau mereka datang lagi, hubungi nomor ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!