Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario
Kepanikan Aris yang meluap-luap di ruang kerjaku pagi tadi meninggalkan keheningan yang begitu memuaskan. Namun, aku tahu permainan ini harus dimainkan dengan sangat rapi. Aku tidak boleh terburu-buru melepaskan topengku di hadapan Aris. Biarkan dia percaya bahwa aku adalah istri bucin yang saat ini sedang berjuang setengah mati melobi dewan komisaris, sementara kenyataannya, akulah yang memegang kendali penuh atas tali jerat di lehernya.
Pukul lima sore, aku sengaja pulang lebih awal. Langkah kakiku saat memasuki rumah terasa begitu ringan. Di ruang tengah, Mama Rahma sedang duduk gelisah di sofa, bolak-balik melihat layar ponselnya yang tak kunjung berhenti berdering dari telepon Jessica maupun teman-teman sosialitanya.
"Tita! Kamu sudah pulang, Sayang?" seru Mama Rahma begitu melihatku.
Wajahnya yang biasa dihiasi senyum penuh manipulasi kini tampak tegang dan cemas. "Aris mana? Tadi dia telepon Mama sambil marah-marah dan panik luar biasa. Dia bilang ada masalah besar di restorannya? Kamu tahu ada apa?"
Aku membuang napas panjang, memasang raut wajah yang sangat lelah, lesu, dan sarat akan beban batin. Aku mendekati Mama Rahma lalu duduk di sampingnya dengan bahu yang merosot.
"Mama... Tita benar-benar bingung dan merasa bersalah," kataku dengan suara yang kubuat agak bergetar. "Ini semua gara-gara proses audit internal di perusahaan Tita. Pihak auditor dan dewan komisaris menemukan bahwa jaminan dana Glowinc Group di restoran Mas Aris tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Mereka memutus jaminan itu secara sepihak pagi ini, Ma."
Mama Rahma membelalakkan matanya, memegangi dadanya yang tampak cemas dan terkejut. "Maksud kamu... jaminan restoran Aris dicabut?! Lalu bagaimana dengan nasib bisnis anak Mama?"
"Tita sudah memohon-mohon sampai menangis di depan dewan komisaris, Ma. Tita bilang Mas Aris itu suami Tita, tapi mereka tetap tegas," dustaku dengan raut wajah yang begitu memelas. "Satu-satunya cara agar perusahaan Tita bisa menyuntikkan dana empat miliar untuk menyelamatkan bisnis Mas Aris adalah dengan melakukan akuisisi. Mas Aris tadi sudah menandatanganinya, tapi... proses pencairan dananya harus melewati audit fisik selama dua minggu."
"Dua minggu?!" suara Mama Rahma melengking tajam. "Aris bilang suplier bahan baku menagih ratusan juta hari ini! Kalau menunggu dua minggu, restorannya bisa bangkrut, Tita! Kenapa kamu tidak pakai uang pribadi kamu saja untuk menutupi utangnya Aris dulu?"
Aku menatap Mama Rahma dengan mata berkaca-kaca, menggelengkan kepala dengan pelan. "Uang di rekening pribadi Tita juga sedang diaudit dan dibekukan sementara oleh pihak bank untuk pemeriksaan pajak, Ma. Tita sama sekali tidak bisa mengeluarkan uang tunai di atas sepuluh juta dalam minggu ini. Tita benar-benar minta maaf, Ma... Tita merasa gagal menjadi istri yang bisa membantu suami."
Melihat raut wajahku yang tampak sangat terpukul dan penuh rasa bersalah, Mama Rahma langsung terbungkam. Dia tidak bisa memarahiku karena di matanya, aku hanyalah seorang istri yang menjadi 'korban' aturan ketat perusahaan.
Cklek.
Pintu depan terbuka kasar. Aris melangkah masuk dengan tubuh yang layu. Kemejanya kusut, wajahnya pucat pasi, dan lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas. Ia menatapku dengan pandangan campur aduk antara marah, kecewa, namun sekaligus sangat bergantung padaku.
"Aris! Bagaimana restorannya, Nak?" buru-buru Mama Rahma berdiri dan menghampiri anaknya.
Aris menghela napas berat, melirikku sejenak sebelum menatap ibunya. "Suplier menyegel pengiriman bahan baku untuk tiga hari ke depan, Bu. Tiga cabang restoran terpaksa tutup sementara mulai malam ini karena tidak ada bahan baku. Aris... Aris bingung harus cari pinjaman uang ke mana lagi."
Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapanku yang sedang duduk di sofa. Aris memegang kedua tanganku, menatapku dengan mata yang memerah penuh keputusasaan.
"Tita... tolong Mas, Sayang," bisik Aris dengan suara parau yang amat sangat menyedihkan. "Mas tahu kamu sedang ditekan oleh dewan komisaris dan pihak pajak. Tapi tolong... usahakan pencairan dana empat miliar itu bisa cair besok. Kalau tidak, reputasi Aris Kitchen yang Mas bangun dari nol akan hancur berantakan."
Aku mengusap kepala suamiku dengan gerakan lembut yang tampak sangat perhatian, menyembunyikan senyum kejam di balik mataku yang tampak sembab.
"Mas... percaya sama aku, ya? Malam ini aku akan kembali memeriksa dokumen keuangan pribadi. Aku akan coba bicara lagi dengan pengacaraku besok pagi agar ada dana talangan yang bisa dicairkan lebih cepat," jawabku dengan nada penuh janji manis yang palsu. "Kamu jangan panik, ya? Aku tidak akan membiarkan suamiku hancur."
Aris menggenggam tanganku erat-erat, mencium punggung tanganku dengan deru napas yang lega. "Terima kasih, Tita... kamu memang istri terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk Mas."
Istri terbaik yang akan mengirimmu ke jurang kehancuran termewah, Mas, bisikku di dalam hati.
Di tengah momen kepalsuan yang melingkupi ruang tengah itu, ponsel pribadi milik Aris yang tergeletak di atas meja mendadak berdering nyaring. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama kontak yang disamarkannya sebagai "Klien Properti".
Namun, bukan hanya sekadar telepon biasa. Pesan obrolan bertubi-tubi menyusul masuk dan muncul di pop-up layar yang kebetulan bisa kubaca dengan sangat jelas dari posisiku duduk.
Klien Properti (Larasati):
"Mas! Kenapa kartu kredit yang Mas kasih mendadak nggak bisa dipakai di rumah sakit?! Aku kan mau bayar biaya pemeriksaan kandungan dan vitamin bulan ini! Uang sewa apartemen yang jatuh tempo besok juga belum Mas transfer! Jangan sepelekan calon anak kita ya, Mas! Kalau malam ini Mas nggak kirim uang, aku bakal samperin Mas ke rumah!"
Aku melirik pesan itu dengan tatapan dingin yang teramat sangat. Aris yang menyadari layar ponselnya menyala langsung menyambar benda itu dengan gerakan panik, mematikannya seketika, dan menyimpannya ke dalam saku celananya dengan wajah yang makin memutih seperti kertas.
"S-siapa yang telepon jam segini, Aris?" tanya Mama Rahma penasaran.
"Cuma... cuma klien properti, Ma. Urusan pekerjaan yang tidak penting," jawab Aris terbata-bata, menyapu keringat dingin yang mulai menetes di pelipisnya. Ia melirikku dengan cemas, takut jika aku sempat membaca pesan ancaman dari istri sirinya itu.
Aku menyunggingkan senyum polos, seolah sama sekali tidak melihat deretan pesan bernada ancaman di ponselnya tadi.
"Kenapa tidak diangkat, Mas? Siapa tahu urusan penting," kataku dengan suara yang sangat tenang. "Kalau urusan pekerjaan, kamu selesaikan saja dulu. Kamu pasti lelah sekali hari ini."
"N-nggak usah, Sayang. Ini benar-benar tidak penting," Aris buru-buru berdiri, mengelak dari tatapanku. "Mas mau mandi dulu ke kamar bawah. Kepala Mas rasanya mau pecah."
Aku memperhatikan punggung Aris yang berjalan terburu-buru menuju kamar tamu lantai bawah. Di dalam hatinya saat ini, dia tidak hanya dikejar oleh ancaman utang tiga miliar dan kebangkrutan lima cabang restorannya, tetapi juga mulai dikejar oleh tuntutan istri siri mudanya yang gila harta.
Rantai masalah yang kubuat secara sistematis kini mulai saling bertabrakan, menciptakan kekacauan sempurna di dalam hidup Aris Pratama.
Aku kembali menyandarkan punggungku di sofa, menyilangkan kaki dengan anggun, lalu mengambil cangkir teh hangat yang disajikan Bi Sumi. Aku menyesapnya perlahan, menikmati rasa manis yang menjalar di tenggorokanku.
Nikmati kepanikanmu malam ini, Aris. Karena besok, ketika Larasati benar-benar nekat mendatangi kantor atau rumah ini untuk menuntut uangnya, aku akan memastikan kalian bertiga saling menghancurkan satu sama lain.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣